Orang Kampung Merasa Kota

Anak-anak muda ini punya tempat nongkrong baru. Di mal mereka serasa gaya dan maju.
Setidaknya ada tiga pusat perbelanjaan baru di kampung saya. Dua di antaranya bertitel plasa, sementara yang satu adalah mal. Yang terakhir ini merupakan yang pertama… dalam pengertian pusat perbelanjaan layaknya yang ada di kota-kota lain. Hmm… ketinggalan banget yak :p

Itu pun baru softopening. Banyak ruang masih tertutup triplek dengan tulisan under construction, atau sejenis itulah. Baru ada satu deptstore besar yang beroperasi, sebuah gerai fastfood berlabel terkenal, dan beberapa tenant lokal yang mulai gelar dagangan. Foodcourt belum rampung, begitu pun bioskop – sesuatu yang dinanti-nanti banyak orang di kampung saya setelah kematian era bioskop tahun 90-an.

Suasana di salah satu pusat perbelanjaan yang baru saja buka. (Foto: Arif Subekti)Tumbuhnya beberapa pusat perbelanjaan ini praktis mengubah gaya hidup sebagian besar orang di kampung saya, terutama anak-anak muda. Paling tidak ada tempat untuk keluyuran, sekadar tengok-tengok barang atau cuci mata. Beberapa keluarga tampak mendorong troli yang tak berisi kecuali anak balita mereka yang berdiri sambil girang tertawa-tawa. Sepertinya hanya sebagian kecil yang benar-benar berbelanja.

Dulu, seorang kawan yang berkunjung ke kampung saya bertanya; “di sini, anak muda biasanya ngumpul di mana?” Saya tak bisa segera memberi jawaban. Kampung saya tak punya alun-alun, tempat di mana anak muda biasa nongkrong menghabiskan sore. Juga tak ada taman kota yang bisa jadi tempat bercengkerama (eh, orang kampung kok ngomongin taman kota hehe…). Hebatnya, meski tidak punya taman dan alun-alun, di kampung saya ada tempat dugem yang lengkap. Mulai pub dengan liveband sampai diskotek yang tak pernah sepi pengunjung. Dijamin tidak kalah dengan hiburan di kota sekelas Jakarta.

Karena itu, setelah berpikir sejenak, pertanyaan kawan itu saya jawab sekenanya. Saya bilang, anak muda kampung ini nongkrongnya ya di tempat-tempat dugem itu. Memangnya mau nongkrong di mana lagi? Sebagian memang menghabiskan sore dengan berkendara keliling kampung; membentuk kelompok-kelompok konvoi yang memacetkan jalan. Sebagian lagi memilih kebut-kebutan. Tetapi, lebih banyak yang menunggu malam untuk berdugem ria.

Seorang ibu bersama anaknya berbelanja di salah satu pusat perbelanjaan. (Foto: Arif Subekti)Pada bulan puasa tahun-tahun sebelumnya, karena tempat dugem harus tutup semua sementara pusat perbelanjaan pun tak ada, anak-anak muda itu nongkrong di pasar-pasar wadai (pasar kue) tradisional sambil menunggu waktu berbuka. Tahun ini, ketika mal dan plasa bertumbuhan, saya melihat terjadi pergeseran. Anak-anak muda itu killing time sambil (seolah-olah) berbelanja; memadati lorong-lorong tempat barang dipajang.

Bagi sebagian orang kampung, pusat perbelanjaan bukan saja menawarkan barang dengan label diskon dan nafsu untuk menjadi konsumtif, tetapi juga sedikit gaya hidup. Bau kampung pun ditanggalkan. Pakaian dibikin “kekota-kotaan”. Meski berangkat dari rumah berkelompok menumpang kelotok (perahu bermesin), sampai di mal gayanya seperti anak muda kota yang modern; modis sekaligus borju. Sayangnya, logat bicara tak bisa menyembunyikan kepura-puraan mereka.

Kultur pasti berubah. Ikon modernitas seperti pusat-pusat perbelanjaan betapapun akan menawarkan mimpi mengenai hidup yang lebih maju dan gaya, hingga pada saatnya nanti saya tak lagi harus mengaku orang kampung. Muncul keberanian untuk lebih pede memperkenalkan diri sebagai anak kota dari Kalimantan. ***

Like & Share

9 Comments on “Orang Kampung Merasa Kota”

  1. Apa harus mal/plasa untuk bisa menjadikan tempat patokan buat nongkrong?

    Kalo di jakarta sih biasanya patokanya adalah warung kakilima, tempat jualan roti bakar, pedagang kaki lima deh.
    Mal/plasa mah tempat ngadem 🙂

  2. Yang lebih unik di kampungku bro. kawan saya, bahkan satu kelas dengan saya sewaktu SD, mendadak gak bisa bahasa jawa, karena selama tiga bulan berada di Jakarta. unik kan…? hi hi hi…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.