Diagonalism, Miringlah Sesekali…

Diagonal dari pantai, horison dan langit.

Saya tak pernah belajar teori fotografi. Tak pula punya pengalaman ikut kelas foto. Kursus, apalagi. Hobi motret disalurkan dengan keisengan yang sungguh-sungguh. Kalau keisengan yang sungguh-sungguh saja bisa membawa hasil, gimana keseriusan yang sungguh-sungguh, ya…?

Ah, tapi ini bukan cerita tentang serius atau iseng. Akhir pekan kemarin, saya kembali ke Kotabaru, sebuah kabupaten di ujung selatan Kalsel. Sebagian besar penduduk kabupaten ini tinggal di Pulau Laut, sebuah pulau kecil yang menyendiri di pojok bawah pulau Kalimantan yang raksasa. Salah satu yang menarik di pulau ini adalah pantainya.

Diagonal dari sebuah bangunan bertingkat di dekat Masjidil Haram.Maka, selesai sebuah urusan, saya langsung melarikan diri ke pantai, yang jaraknya tak kurang 15 kilometer dari pusat kota. Di Kotabaru, tak ada yang lebih menarik selain minum air kelapa sambil menyantap pisang goreng di pinggir pantai. Hari menjelang petang, suasana meremang dengan langit biru gelap sisa-sisa siang. Tak ada pemandangan sunset karena matahari tenggelam di sebelah samping.

Saya mengeluarkan kamera, membidik beberapa frame yang ternyata tak begitu menarik. Pantai sepi, dengan ombak tipis dan tanpa matahari, benar-benar objek mentah yang membuat kamera seolah tak berarti. Saya hampir memasukkan kembali kamera ke dalam saku celana ketika tiba-tiba terpikir untuk meng-capture bidang lapang pantai, air laut dan horison pembatas air dan langit, menjadi komposisi diagonal.

Sudut-sudut horison diposisikan persis di ujung-ujung view finder, sehingga tercipta garis melintang tegas di tengah frame dari sudut atas ke sudut bawah. Hasilnya? Tengoklah foto di atas, setidaknya ada 4 lapis warna untuk setiap frame diagonal; hitam dari daratan yang gelap, biru air laut, putih kebiruan untuk horison dan gradasi warna biru tua ke biru muda untuk langit. Maaf, saya tak tahu harus disebut apa ketika 4 foto diagonal itu saya rangkai menjadi lekuk-lekuk segitiga hehehe.

Kreativitas adalah kunci fotografi. Begitu konon kata orang-orang yang jago motret. Saya sendiri lebih sering melakukan percobaan-percobaan, maklum sekarang kamera digital memberi keleluasaan untuk motret sesuka hati. Dulu, ketika masih pakai kamera SLR dengan film negatif jatah kantor, eksperimen foto tak bisa segila era digital. Cuma orang-orang berduit, yang berkemampuan menghabiskan puluhan rol film untuk sebuah sesi pemotretan, yang bisa suka-suka bikin percobaan.

Ihwal foto diagonal, ini bukanlah yang pertama. Saya pernah juga motret bangunan hotel di dekat Masjidil Haram dengan frame miring sehingga membentuk diagonal. Menjadi menarik karena ada pembeda yang tegas antara warna bangunan hotel dengan langit Arab yang biru. Sepintas seperti biasa saja. Tetapi perhatikanlah bahwa positioning sudut kiri atas dan kanan bawah pada foto itu membentuk garis diagonal yang –ternyata— berlekuk-lekuk sehingga sebenarnya tak lagi bisa disebut sebagai garis.

Begitulah. Di kesempatan lain, ketika sedang santai di rumah, saya memotret resleting celana tigaperempat yang sedang saya pakai. Juga dengan komposisi diagonal.

Karena hidup tak harus selalu normal, bukan? Kadangkala kita perlu kemiringan-kemiringan – asal nggak keterusan.

Like & Share

One Comment on “Diagonalism, Miringlah Sesekali…”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.