Membincang Senja

Kembali lagi ke kisah tentang Negeri Senja. Setiap hari, ketika senja tiba, saya selalu mencari matahari. Menatap langit yang senantiasa berubah warna. Senja kemarin dengan senja hari ini tentu saja berbeda. Nyaris sulit menemukan senja yang serupa. Semua tergantung kondisi cuaca, pergerakan awan, juga posisi rotasi bumi kepada matahari.

Dalam banyak kesempatan saya bersyukur bisa memotret senja. Meskipun kadang-kadang tanpa objek atau foreground yang menarik untuk dijadikan siluet. Hanya matahari dan langit saja. Betapa menyendiri matahari di kejauhan. Itulah sebabnya banyak fotografer memberi “teman” kepada matahari supaya dalam bingkai-bingkai gambar ia tidak kesepian.

Senja paling baik adalah senja yang tiba sesaat setelah hujan. Airmata langit itu seperti membasuh senja sehingga menjadi benderang. Matahari menembus lensa-lensa kamera tanpa halangan. Di situlah biasanya muncul perpaduan warna-warna yang tak terduga. Lukisan alam yang maha dahsyat anugerah Sang Maha Melukiskan.

Senja juga akan baik dilihat dari mana saja. Sore-sore dari atas bukit kita bisa melihat permukaan bumi seperti menopang cakrawala. Menjelang malam di pinggir pantai langit seolah cahaya yang keluar dari dalam samudera. Di kampung-kampung dan permukiman, senja menyelinap dari balik dinding-dinding rumah. Di kota yang padat dan sibuk, siluet gedung-gedung bisa menampilkan sebuah romantisme. Bahkan di balik jendela pesawat, senja adalah pemandangan terbaik.

Sayangnya, banyak senja kita lewatkan karena kesibukan – atau karena memang tak peduli. Padahal keindahan senja hanya tersuguh beberapa saat saja. Setiap detik warna akan berubah, dan kita bisa kehilangan kesempatan. Manusia kemudian hanya bisa membuat senja berhenti dalam bingkai-bingkai foto; memasung matahari dan langit dalam kekakuan ruang persegi empat.

Tidak semua senja menarik, memang. Ada beberapa senja yang kelabu. Matahari sore telah terbenam sebelum waktunya. Dibenam oleh gumpalan awan di sepanjang horison. Banyak senja juga kehilangan makna di kota di mana langit adalah polusi. Bahkan siang hari pun cahaya matahari tak kuasa menembusnya.

Mari nikmati hidup. Seperti senja yang tak pernah berhenti bercerita.

Like & Share

One Comment on “Membincang Senja”

  1. Kadang2 pekerjaan membuat saya larut hingga melewatkan langit senja. Beranjak dari ruangan kantor biasanya langit sudah gelap. Padahal sebelum bekerja saya penikmat alam. Waktu sadar hal ini, saya jadi merasa sangat kehilangan. Akhirnya, tiap sore selalu saya sempatkan menikmati sore (17.30-18.30) gobrol diluar dgn teman2. Kerapkali berbekal Olympus Mju 780, berlatar langit senja saya abadikan ekspresi sumringah teman2 yg akan pulang kembali bersama keluarganya setelah lelah seharian kerja.
    Setelahnya, jika ada pekerjaan yang belum selesai akan saya lanjutkan dengan hati lebih ringan karena 1 moment indah ciptaan Tuhan tdk terlewatkan begitu saja.
    Sore terindah saya adalah saat saya masih bertugas di Pedalaman Kalimantan Tengah.
    Hutan, Bukit, Sungai, kabut, embun, serangga, bahkan kepulan debu dari truck hauling Batubara jadi pemandangan indah yang membuat saya betah bekerja per 3 bulan tanpa libur. Saya menuai banyak inspirasi dan koleksi foto selama di sana.
    Saat ini saya bekerja di daerah yang lebih “kota” (hanya 3 jam dari Banjarmasin).
    Ada rasa kehilangan yang bikin kangen jika ingat tempat tugas lama, tapi sekarang pemandangan larik-larik Pohon Karet, rimbunnya Kelapa Sawit dan tongkang di laut cukup mengobati kangen saya.   

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.