Sapi, Semeri dan “Topat Petikal”

Sekadar Catatan Mudik Lebaran (2)

…catatan sebelumnya

Selain menikmati pantai sambil memesan ikan bakar, kami juga sempat menengok peternakan sapi milik kakek Safa dan Afif. Ada kebiasaan di masyarakat Sumbawa untuk menghadiahi ternak kepada cucu. Safa yang sudah pernah ke Sumbawa waktu lebaran tahun 2003, sudah lebih dulu punya seekor sapi betina. Sapi yang dinamai Yuli (duh… maaf untuk yang bernama Yuli hehehe) itu kini tengah bunting. Diperkirakan Yuli akan melahirkan pada bulan Juli tahun depan.

Nah, kunjungan ke peternakan kali ini diutamakan untuk “serah-terima” sapi yang dihadiahkan kepada Afif. Si kecil diberi kakeknya seekor sapi betina yang baru berumur 5 bulan. “Nanti kalau Afif ke Sumbawa lagi, sapinya sudah besar,” begitu si kakek berkata dengan gembira sambil terus menggendong Afif. Selepas pensiun dari TNI, mertua saya memang menghabiskan waktunya untuk berternak di kampung.

Anak-anak gembira sekali. Maklum, di Kalimantan, meskipun juga banyak peternakan sapi, kami tak pernah sekali pun menengok. Safa dan Afif seperti berjumpa dunia baru yang menarik. Dunia yang selama ini tak mereka temukan di kompleks perumahan kami yang sibuk, cuek dan jauh dari persahabatan dengan alam.

Perjalanan melelahkan dari Kalimantan ke Nusa Tenggara membuat anak-anak tidur lebih cepat. Malam lebaran, setelah bermanja-manja dengan kakek-nenek mereka, Safa dan Afif langsung terlelap. Seakan hendak menunjukkan “kekompakan”, dalam keadaan tidur pun mereka bergandengan tangan.

Yang lain pun segera menyusul tidur. Cengkerama harus diakhiri karena pagi-pagi semua mesti bangun untuk salat Ied di masjid dekat rumah. Suasana kampung membuat tidur kami malam itu nyenyak sekali. Saya, yang juga lelah, baru terbangun ketika Safa dan Afif sudah siap ke masjid dengan baju koko yang membuat mereka lebih tua dari umurnya. Suasana di masjid juga menggembirakan.

Sepulang dari masjid, seperti juga kebiasaan keluarga-keluarga muslim lain, kami saling bermaafan. Anak-anak kecil ramai datang ke rumah untuk bersilaturahmi sambil menanti salam tempel. Semua tertawa. Teringat kelakuan masa kecil yang juga suka berkunjung dari rumah ke rumah pada saat lebaran untuk dapat angpao.

Keluarga datang silih berganti. Kami baru bisa melakukan kunjungan balasan pada siang hari. Itu pun hanya ke keluarga di dekat rumah. Kunjungan ke keluarga yang lebih jauh akan dilakukan pada lebaran hari kedua.

***

Tanpa bermaksud menghindari tamu, sore hari saya mengajak istri jalan-jalan. Bukan ke kota, tapi ke daerah pelosok, sekadar untuk melihat-lihat kehidupan masyarakat di salah satu sudut Indonesia. Saya akhirnya nyasar ke dusun bernama Semeri, sebuah desa ode (desa kecil) yang berpenduduk tak lebih dari 50 keluarga. Orangnya ramah-ramah dan senang sekali ketika dipotret. Mereka juga merayakan lebaran, meskipun tanpa baju baru dan kemewahan jamuan.Untuk sampai ke Semeri harus melewati jalan berbatu perbukitan. Kebun-kebun penduduk di sisi kiri dan kanan jalan tampak kering kerontang. Ketika di Kalimantan kami diguyur hujan setiap hari, orang-orang di sini sudah lama tak bertemu mata air langit. Untungnya ada irigasi yang sedikit membantu mengairi kebun dan meminumi ternak.Rumah-rumah di dusun ini masih dibangun dengan pola peladang di hutan-hutan, yakni dengan panggung setinggi orang dewasa. Bagian bawah (kolong) rumah jadi tempat menyimpan kayu bakar dan peralatan berladang. Untuk ukuran hidup seperti orang kota, hidup mereka memang tampak miskin. Namun melihat cara bicara yang penuh semangat dan cahaya wajah yang menyejukkan, saya tahu mereka semua bahagia.

***

Dari Semeri kami langsung pulang menuju rumah karena hari mulai gelap. Malamnya, saya menikmati satu lagi kekayaan tradisi Sumbawa, yakni berkumpulnya orang kampung di rumah untuk membantu membuat topat petikal, semacam jajanan dari beras dan ketan yang dimasak di dalam cangkang dari daun lontar. Jajanan ini akan dipakai pada acara adat “potong bulu” untuk Safa dan Afif. Prosesi ritual memotong rambut untuk keberkahan kedua anak kami, insya Allah.Melihat keramaian gotong royong ini, pikiran saya melayang ke egoisme perkotaan, yang jangankan saling bantu ketika tetangga punya hajat, bahkan saling mengenal pun kadang tidak.

(2 Syawal 1426, masih dari kampung Raberas, Sumbawa Besar Nusa Tenggara Barat)

[bersambung ke Sebuah Ritual Bernama Gunting Bulu]

Like & Share

6 Comments on “Sapi, Semeri dan “Topat Petikal””

  1. Yth pak Erwin,

    maaf saya mengambil foto anak tidur berdua dari tempat bapak, untuk tugas sekolah anak yang yang kelas 1 SD. Dia diminta gurunya membawa gambar / foto tidur nyaman. Foto tersebut tidak akan dipublikasikan lebih lanjut kok. Dan saya save file gambarnya dengan menyertakan alamat web bapak. Semoga bapak mengijinkan.

    Terima kasih.

  2. Hi, you need to is it possible explain to me personally the reason why does one come up with of which because i am not really content induce post do not notice wherever can you wat to arrive referring to this particular?? separate variety the idea there are a beneficial blog! Oh in close proximity to neglect your sitemap seriously isn’t functioning. Gives thanks Jonh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.