“Mungkin Perjumpaan Itu di Akhirat Kelak”

Tak ada satu orang Aceh pun yang lolos dari musibah. Meski selamat dari maut, sebagian besar yang hidup pasti kehilangan keluarga.
SETIAP berjumpa orang Aceh, pertanyaan yang selalu saya ajukan adalah: di mana posisinya saat terjadi bencana? Setelah itu baru saya tanya bagaimana nasib keluarga. Hasilnya, tak seorang pun yang saya jumpai di Aceh bebas dari musibah. Semua mengaku kehilangan saudara, keluarga, kerabat, juga kawan sepermainan.

Bencana maha dahsyat itu memang hampir memusnahkan semuanya. Mereka yang selamat pun percaya pada keyakinan bahwa keselamatan itu terjadi hanya karena mukjizat Allah. “Kalau mengingat bagaimana tingginya air, saya hampir tak percaya masih bisa selamat,” cerita Jamaluddin. Saat kejadian, ia berada di halaman gedung Kodam Iskandar Muda, di pusat kota Banda Aceh. “Saya selamat karena sempat memanjat ke lantai dua,” katanya.

Meski selamat, bukan berarti Jamal tak berduka. Puluhan kerabatnya kini tak jelas berada di mana. Ia yang sehari-hari bekerja di Lhokseumawe akhirnya hanya bisa pasrah. “Kami ikhlaskan. Insya Allah ini jalan terbaik yang dikehendaki Allah.”

Jamal tidak sendiri. Ratusan ribu orang Aceh lain sekarang kehilangan keluarganya. Ketika berkunjung ke sebuah pusat pertokoan di kawasan Neusu, Aceh Besar, kami singgah ke sebuah toko yang menjual kaset dan CD. Dua anak muda menjaga toko itu. Setelah memilih CD lagu Aceh yang kebetulan tersedia, tawar menawar pun terjadi. Di tengah tawar menawar itu seorang kawan bertanya: “bagaimana nasib keluargamu?”.

Dua anak muda penjaga toko itu lantas bercerita, bahwa seluruh keluarganya telah hilang. “Sekarang saya bersama sepupu saya ini, tinggal berdua saja. Orangtua kami entah di mana. Rumah kami hancur. Harta yang tersisa tinggal toko ini saja,” Irvan, salah seorang dari dua anak muda itu membuka cerita.

Pertokoan di Neusu memang selamat dari badai tsunami, karena posisinya yang berada di kawasan lebih tinggi. Sekarang, Irvan dan sepupunya tinggal di toko itu, yang menjadi tempat berlindung sekaligus modal untuk terus hidup. Mereka sudah tak berani berharap orangtuanya selamat.

“Kalau ada izin Allah, insya Allah kami berjumpa. Bila tidak, mungkin perjumpaan itu di akhirat kelak,” katanya. Cerita Irvan dan sepupunya membuat tawar-menawar CD lagu Aceh terhenti. Kami memutuskan langsung membeli dengan harga yang ditawarkan.

Sayid Ahmad, orang Aceh lain yang saya jumpai, mengaku kehilangan sedikitnya 30 orang keluarga dekat. Yang ia maksud dekat adalah keluarga dari saudara-saudara kandung (keponakan), saudara dari orangtua (paman/bibi) dan para sepupu. “Keluarga saya sendiri selamat. Istri dan anak-anak alhamdulillah tidak menjadi korban. Tetapi keluarga dekat lain telah hilang,” katanya.

Ketika mengitari kawasan Ulelheu, Johni Pospos, pemandu lokal rombongan RBP di Banda Aceh dengan lirih mengungkap kesedihannya. “Sampai sekarang, saya belum berjumpa dengan seorang pun teman di Ulelheu ini. Tak tahu apa mereka selamat atau bagaimana. Banyak sekali teman saya di sini, kalau 50 orang saja lebih. Sampai sekarang tak satu pun saya jumpa,” katanya.

Cerita Johni seolah dibenarkan oleh pemandangan yang kami lihat kemudian. Di sebuah masjid yang masih berdiri kokoh di bibir pantai Ulelheu, tampak sebuah papan bertuliskan angka: “Jumlah penduduk 4.437, yang selamat 407 orang.” Bayangkan, ke mana 4 ribuan orang yang lain?

Terjangan gelombang pasang tsunami memang mengakibatkan kerusakan yang sangat dahsyat. Menurut cerita, gelombang pasang tidak datang sekali saja. Seperti juga gelombang di pantai, gelombang tsunami datang bolak-balik. Datang pertama dengan tinggi melebihi pohon kelapa. Sampai di batas daratan tertinggi, air bah itu terseret kembali ke laut, tentu saja bersama benda-benda yang hanyut. Dalam hitungan beberapa menit, gelombang kembali datang, lantas balik terseret lagi. Begitu terus-menerus sampai akhirnya air benar-benar surut dan kembali ke posisi semula.

Cerita duka tentang korban bencana Aceh memang tak ada habisnya. Di pos-pos pengungsian, rumah sakit, kantor pemerintah dan bandara, kertas-kertas berisi foto mencari orang hilang tertempel di segala sudut. Koran harian yang terbit di Aceh pun memuat berkolom-kolom iklan mencari orang hilang. Radio-radio lokal yang sempat kami dengar juga menyiarkan pengumuman pencarian orang.

Meski semakin hari kemungkinan bisa bertemu semakin tipis, semangat orang-orang Aceh untuk mencari sanak keluarga tak pernah pupus. Sekuat semangat mereka untuk kembali membangun Aceh yang porak-poranda. (bersambung)

Like & Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.