<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Windede dot Com &#187; Pintu</title>
	<atom:link href="http://windede.com/tag/pintu/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://windede.com</link>
	<description>...:::sekadar sebuah kumpulan catatan:::...</description>
	<lastBuildDate>Fri, 02 Jan 2009 05:04:47 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Ritual Bulan Suci</title>
		<link>http://windede.com/2008/09/05/ritual-bulan-suci/</link>
		<comments>http://windede.com/2008/09/05/ritual-bulan-suci/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Sep 2008 05:42:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>windede</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Absen]]></category>
		<category><![CDATA[Bibit]]></category>
		<category><![CDATA[Daya]]></category>
		<category><![CDATA[Entah]]></category>
		<category><![CDATA[Karena]]></category>
		<category><![CDATA[Kejahatan]]></category>
		<category><![CDATA[korupsi]]></category>
		<category><![CDATA[Lantas]]></category>
		<category><![CDATA[Lolos]]></category>
		<category><![CDATA[Malaikat]]></category>
		<category><![CDATA[Munajat]]></category>
		<category><![CDATA[Pahala]]></category>
		<category><![CDATA[Pembunuhan]]></category>
		<category><![CDATA[Pintu]]></category>
		<category><![CDATA[Razia]]></category>
		<category><![CDATA[Saja]]></category>
		<category><![CDATA[Sembunyi]]></category>
		<category><![CDATA[Setan]]></category>
		<category><![CDATA[Surga]]></category>
		<category><![CDATA[Tiba]]></category>
		<category><![CDATA[Tipu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://windede.com/2007/09/19/ritual-bulan-suci/</guid>
		<description><![CDATA[ 
RAMADAN tiba. Bulan di mana segala berkah dilimpahkan bersama pintu-pintu surga yang dibuka, pahala dilipatgandakan, kebaikan-kebaikan tercurah dan kejahatan dihalang-halangi. Inilah bulan di mana malaikat-malaikat berdatangan lebih banyak, mendekat di sekeliling kita, mengamini setiap munajat dan doa, menjaminkan ijabah bagi segala nazar dan asa. 
Di saat komuni setan-iblis tak berdaya karena terbelenggu dalam kerangkeng, lantas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> <img width="442" src="http://img.photobucket.com/albums/v413/windede/puasa.jpg" alt="Foto: Tahrir/Kaltim Post" height="244" title="Foto: Tahrir/Kaltim Post" /></p>
<p><strong>RAMADAN </strong>tiba. Bulan di mana segala berkah dilimpahkan bersama pintu-pintu surga yang dibuka, pahala dilipatgandakan, kebaikan-kebaikan tercurah dan kejahatan dihalang-halangi. Inilah bulan di mana malaikat-malaikat berdatangan lebih banyak, mendekat di sekeliling kita, mengamini setiap munajat dan doa, menjaminkan ijabah bagi segala nazar dan asa. </p>
<p>Di saat komuni setan-iblis tak berdaya karena terbelenggu dalam kerangkeng, lantas absen mengganggu hidup manusia, bisakah kita berderap tegap pada jalan yang benar, setidaknya untuk sebulan ini saja? <em>Wallahu’alam</em>. Jangan-jangan masih saja ada bibit kejahatan yang tersisa, dan itu ternyata bukan disebabkan oleh godaan setan-iblis, melainkan justru datang dari bakat “kesetaniblisan” diri kita sendiri. <span id="more-223"></span></p>
<p>Sebuah berita mengundang tawa. Dalam tayangan kriminal televisi swasta, seorang tersangka pembunuhan membela diri di hadapan polisi. Dia bilang, pembunuhan itu memang benar terjadi. Tetapi spontan dan di luar kendali kesadaran. “Saya seperti kerasukan iblis.”</p>
<p>Berita lain tak kalah uniknya. Seorang tersangka pencabulan anak di bawah umur, menyebut perbuatannya itu dia lakukan karena godaan si setan laknat bin terkutuk. “Saya khilaf. Terlalu mudah mengikuti rayuan setan.” Duh, andai saja bisa diberi hak jawab, mungkin si setan akan berkata dengan lantang; “kamu yang cabul kok aku yang disalahkan.”</p>
<p>Sekarang Ramadan. Meski ada jaminan setan-iblis dibelenggu, kriminal tetap merajalela. Kejahatan masih saja terjadi. Televisi dan koran-koran seperti tak kehabisan bahan menayangkan berita jenis ini. Tentu saja juga korupsi, kebohongan-kebohongan, kemunafikan dan tipu-daya.</p>
<p>Bisa jadi memang ada setan-iblis yang “lolos” saat “razia” menjelang Ramadan, entah sembunyi ketika mau dimasukkan kerangkeng atau melarikan diri setelahnya. Tetapi kemungkinan terbesarnya adalah ini; manusia diberi hati dan pikiran, di mana menjadi baik atau buruk adalah pilihan. Tak peduli bulan apa pun juga, sebab iblis dan setan sebenarnya provokator saja.</p>
<p align="center">***</p>
<p>Di saat pelajaran paling berharga dalam ibadah puasa adalah menahan hawa nafsu, kita justru disuguhi pemandangan sebaliknya; dibandingkan hari biasa, Ramadan mengundang lebih banyak orang memadati pasar, mal dan plaza, berbelanja macam-macam kebutuhan, memborong bertroli-troli barang dan menghabiskan bergepok uang. Haruskah, untuk urusan semacam ini, kita lagi-lagi menyalahkan setan?</p>
<p>Peradaban membuat manusia menjadi semakin konsumtif. Ukuran kekhusyukan ibadah puasa bukan lagi pada seberapa seseorang bersikap prihatin dan meresapi makna lapar-dahaga, sebagai bentuk solidaritas atas betapa banyak orang di tempat lain harus berpuasa sepanjang tahun karena dibelit kemiskinan, tetapi malah pada kualitas menu sahur dan varian makanan di waktu berbuka.</p>
<p>Itu lantas membuat puasa menjadi semacam wisata kuliner dalam bentuknya yang lain. Perubahan siklus makan harian dari pagi-siang-malam menjadi dini hari dan petang. Kualitas makanan harus ditingkatkan sebab kuantitasnya berkurang. Dan itu berarti tambahan anggaran belanja rumah tangga, karena di saat berbuka harus ada dua-tiga jenis kudapan, sepoci teh hangat, segelas es campur, dawet atau kopyor, juga sekeranjang buah-buahan – sesuatu yang pada hari-hari biasa kerap tak terlalu dirisaukan.</p>
<p>Repotnya, di tengah konsumsi dan belanja yang meningkat berlipat-lipat itu, produktivitas justru menurun. Jam kerja pegawai negeri dikurangi, dengan alasan butuh waktu untuk menyiapkan saat berbuka puasa, seperti halnya perlu bangun lebih telat karena sahur dan salat subuh telah memotong jatah istirahat. Hidup seolah berubah. Banyak orang menjadi manja – tentu untuk menghindar menyebutnya menjadi malas.</p>
<p>Masjid-masjid penuh orang tidur selepas zuhur. Bangun ketika azan asar mengumandang, salat berjamaah, lantas tidur lagi sampai menjelang berbuka. Meski tidurnya orang berpuasa adalah ibadah, ada pahala yang lebih besar lagi, tentu saja, bagi orang-orang yang tetap beraktivitas memakmurkan bumi di tengah shaum-nya yang suci.</p>
<p>Gang-gang permukiman dipadati cengkerama bocah-bocah bermain petasan. Remaja-remaja sibuk dengan permainan kekanak hingga menjelang tengah malam. Maklum besok jam masuk sekolah ditoleransi molor hingga satu jam. Pemuda-pemuda nongkrong main kartu sambil menunggu sahur. Sebagian yang lain menunggang motor kebut-kebutan di jalanan.</p>
<p align="center">***</p>
<p>Ramadan, pada akhirnya, juga menjustifikasi sebuah kebijakan aneh pemerintah kita. Inilah saat di mana tempat-tempat hiburan malam harus berhenti beroperasi. Tutup pintu bagi tamu atas nama apa yang disebut sebagai “menghormati orang yang melaksanakan ibadah puasa”. Tempat-tempat itu dicap sebagai tak layak, berbau maksiat dan harus dihentikan untuk sementara. Nanti, setelah Ramadan lewat dan para pendoa berharap kembali menjadi fitrah sesuci bayi, bau maksiat ini dipersilakan ditebar lagi.</p>
<p>Lalu di mana logikanya? Bukankah maksiat tetap saja maksiat, entah Ramadan atau bukan! Betapa lucunya pemerintah kita membuat kebijakan izin beroperasi bagi hiburan malam di 11 bulan dalam setahun dan menutupnya satu bulan selama Ramadan. Apakah karena 11 bulan yang lain itu bukan bulan suci, lantas tempat maksiat dipersilakan beroperasi?</p>
<p>Padahal, kalau dipikir-pikir, justru di saat Ramadan inilah seharusnya tempat hiburan malam, yang disebut berbau maksiat itu, dibiarkan buka. Kalau perlu malah dibuka selebar-lebarnya. Sekadar untuk memastikan bahwa apabila ada manusia yang dugem ke sana, mereka datang bukan karena godaan iblis atau setan. Mereka datang atas kemauan pribadi dan godaan diri sendiri. Sebab iblis dan setan kan sedang terbelenggu dalam kerangkeng <em>hehehe</em>.</p>
<p>Yang jadi soal bukanlah kebijakan menutup tempat hiburan malam di saat Ramadan. Tetapi kebijakan membiarkannya buka di saat bukan Ramadan. Kalau tempat-tempat itu diyakini berbau maksiat, apa pemerintah memang hanya ingin menyelamatkan warganya dari perbuatan dosa di saat Ramadan saja? Lantas membiarkan maksiat merajalela di 11 bulan berikutnya? Memangnya, larangan berbuat maksiat hanya ketika Ramadan, sehingga selepas bulan suci, hawa nafsu boleh diumbar lagi?</p>
<p>Sikap manusia memang kerap unik. Selama puasa, dalam perbincangan sehari-hari, sering kita dengar ungkapan, misalnya, “nggak boleh bohong ya, lagi puasa kan?”. Atau sebuah iklan televisi di mana seorang anak kecil berkata pada ibunya; “Mama, orang puasa kan harus sabar ya, Ma.” Padahal, puasa atau tidak puasa, kita tetap saja tak boleh bohong. Puasa atau tidak puasa, kita ya mesti sabar.</p>
<p align="center">***</p>
<p>Ramadan berulang setiap tahun bersama macam-macam keunikan. Orang-orang mendadak gemar makan <em>wadai </em>(kue/kudapan) dan pasar <em>wadai </em>pun bertebaran di setiap sudut kota. Masjid-masjid dan musala tiba-tiba penuh dengan jamaah meskipun biasanya hanya di awal-awal dan dijamin terus berkurang menjelang lebaran. Anak-anak yatim kebanjiran hadiah dan panti-panti asuhan kewalahan menerima order acara buka puasa bersama. Ustaz-ustaz sibuk memenuhi undangan mengisi kultum di kampung-kampung.</p>
<p>Para politikus menggelar acara di sekretariat partai, berbagi takjil dan makanan buka puasa sembari menitip pesan-pesan politik. Pejabat-pejabat <em>roadshow </em>safari Ramadan hingga ke pelosok-pelosok dengan senyum dibuat-buat seolah bebas masalah dan ahli ibadah. Para saudagar kaya bikin acara buka puasa di <em>ballroom </em>hotel yang suasananya lebih mirip pesta makan malam bertitel gala dinner.</p>
<p>Tempat-tempat belanja menabur diskon gede-gedean. Jauh sebelum Lebaran, iming-iming harga murah membuat banyak yang <em>ngiler </em>lantas mengutang dengan harapan dua pekan ke depan bisa dibayar dengan jatah THR. Kampanye produk menghubungkan semua promosi dengan keajaiban puasa; iklan-iklan televisi, reklame-reklame di jalan raya dan brosur-brosur penganjur hedonisme yang tercecer di depan rumah-rumah kita.</p>
<p>Ramadan akhirnya disambut bukan saja sebagai bulan penuh magfirah, tetapi juga ritual yang tak melulu berhubungan dengan religi; ada kepentingan politik, juga bisnis, yang bagi banyak pihak justru semakin membuktikan bahwa sang <em>holy month</em> memang benar-benar penuh berkah.</p>
<p>Selamat menikmati indahnya puasa. Selamat berjuang menuju fitrah. Maaf lahir batin. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://windede.com/2008/09/05/ritual-bulan-suci/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Robekan Kitab Pembungkus Putu</title>
		<link>http://windede.com/2008/07/11/robekan-kitab-pembungkus-putu/</link>
		<comments>http://windede.com/2008/07/11/robekan-kitab-pembungkus-putu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Jul 2008 13:41:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>windede</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemplasi]]></category>
		<category><![CDATA[Alamat]]></category>
		<category><![CDATA[buku telepon]]></category>
		<category><![CDATA[Dandang]]></category>
		<category><![CDATA[Demam]]></category>
		<category><![CDATA[Detik]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia Hari Ini]]></category>
		<category><![CDATA[Google]]></category>
		<category><![CDATA[Hangat]]></category>
		<category><![CDATA[Hening]]></category>
		<category><![CDATA[informasi]]></category>
		<category><![CDATA[Istri]]></category>
		<category><![CDATA[Kira Kira]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab]]></category>
		<category><![CDATA[Kue]]></category>
		<category><![CDATA[Mana Mana]]></category>
		<category><![CDATA[Masih Ada]]></category>
		<category><![CDATA[mesin pencari]]></category>
		<category><![CDATA[Nomor Telepon]]></category>
		<category><![CDATA[Pintu]]></category>
		<category><![CDATA[Ponsel]]></category>
		<category><![CDATA[Suling]]></category>
		<category><![CDATA[yellow pages]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://windede.com/?p=258</guid>
		<description><![CDATA[
INI bukan soal kue putu, yang dijajakan keliling kampung dengan suara khas suling panjang dari uap dandang pengukus itu. Kue hijau bertabur parutan kelapa ini hanya menjadi semacam pengingat betapa peradaban manusia terus berubah, berganti wajah, bermetamorfosis. Bukan karena lezatnya rasa kue itu, namun karena bungkusnya yang unik.
Suatu malam, yang dingin sehabis hujan, suling panjang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://www.windede.com/images/yellow1.jpg" alt="Pembungkus kue putu itu..." width="442" height="243" /></p>
<p><strong>INI </strong>bukan soal kue putu, yang dijajakan keliling kampung dengan suara khas suling panjang dari uap dandang pengukus itu. Kue hijau bertabur parutan kelapa ini hanya menjadi semacam pengingat betapa peradaban manusia terus berubah, berganti wajah, bermetamorfosis. Bukan karena lezatnya rasa kue itu, namun karena bungkusnya yang unik.</p>
<p>Suatu malam, yang dingin sehabis hujan, suling panjang dari dandang penjaja putu memecah hening suasana rumah. Istri bergegas membuka pintu dan memanggil penjaja kue beraroma harum ini. “Enak nih mengudap yang hangat-hangat.” Setelah menunggu sesaat, empat potong kue bergula merah itu terhidang di atas meja. <span id="more-258"></span></p>
<p><img class="alignleft" style="float: left;" src="http://www.windede.com/images/yellow3.jpg" alt="Informasi dari pembungkus kue putu..." />Yang bikin surprised memang bukan rasanya, sebab kue putu ya di mana-mana seperti itulah. Bungkusnya itu yang bikin geleng-geleng kepala: robekan halaman Yellow Pages, kitab sakti pemberi informasi alamat dan nomor telepon. Buku telepon? Seberapa penting benda ini di zaman gegap gempita internet sekarang?</p>
<p>Dulu, ya kira-kira 10 tahun lalu, setiap rumah dan kantor yang punya telepon pasti berlangganan (atau dilanggani gratis) buku telepon. Sekarang, benda ini masih ada, tapi tingkat ketergantungan kita kepadanya sudah semakin berkurang. Kitab berkertas kuning ini masih bisa diandalkan untuk mencari informasi apa saja. Dari nomor telepon pribadi sampai perusahaan, yang disusun dengan indeks berdasarkan kategori-kategori. Tapi, Yellow Pages bukan satu-satunya referensi. Pilihan lain sudah banyak, lebih praktis pula.</p>
<p>Iklan-iklan spesifik dan segmented yang dulu hanya bisa dilihat di Yellow Pages, kini sudah mampir langsung ke ponsel-ponsel pribadi, menyelinap di antara lembar tagihan bulanan kartu kredit, atau tersebar di web-web korporat di internet. Kalau mau yang lebih praktis kita bisa telepon layanan informasi, cukup beberapa detik untuk sekadar mendapatkan nomor telepon dan alamat.</p>
<p>Konon, Yellow Pages pula yang menginspirasi Larry dan Sergey membangun mesin pencari Google, yang kini sudah jadi demam peradaban dunia hari ini. Seluruh penduduk bumi telah mengandalkan Google untuk memperoleh informasi tentang apapun, siapapun, kapanpun, di mana pun, sepanjang punya koneksi internet.</p>
<p><img class="alignright" style="float: right;" src="http://www.windede.com/images/yellow2.jpg" alt="Yellow Pages online versi Indonesia." width="200" height="71" />Di Amerika, tempat Google berasal, Yellow Pages sudah beralih layanan ke versi online, itupun sekadar untuk melayani orang yang perlu tambahan mesin pencarian di luar Google. Orang semakin lelah dengan fisik kertas, juga kerepotan membalik-balik halaman. Di Indonesia, buku telepon digital sudah pula ada, tapi tampaknya belum cukup populer.</p>
<p>Banyak yang mengajarkan bahwa hakekat hidup adalah pencarian jawaban. Itu sebabnya mesin-mesin “pencari jawaban” diciptakan sejak zaman dulu. Dari sekadar petuah bijak para resi, buku-buku ilmu pengetahuan, perpustakaan, hingga bank data dan gudang-gudang pengarsipan. Begitu banyak misteri, pertanyaan demi pertanyaan, yang harus selalu dijawab meski sekadar untuk memuaskan rasa ingin tahu.</p>
<p>Tentu menyedihkan melihat fakta bahwa lembaran buku telepon yang berisi informasi berharga akhirnya hanya menjadi pembungkus kue, meski boleh jadi ini juga dirobek dari kitab lama yang sudah kedaluarsa. Lagi pula, nasib serupa bukan hanya dialami Yellow Pages. Dari pasar-pasar tradisional, pedagang sayur dan penjaja kue, kita kerap mendapatkan bungkus dari kertas lain yang tak kalah berharganya. Dari lembaran skripsi mahasiswa sampai copy faktur pajak perusahaan ternama.</p>
<p>Ketika masih bekerja di koran harian di Kalimantan, saya pernah ditegur seorang kerabat, karena suatu hari koran yang saya tangani memuat gambar seorang ulama besar yang jadi panutan semua orang di kampung kami. Kerabat ini bilang, jangan lagi memuat gambar si ulama di koran, karena tak ada yang tahu kertas koran itu kelak akan diperlakukan seperti apa. “Bisa jadi lap lantai yang dikencingi bayi, bungkus kacang, atau diinjak-injak, padahal di situ ada gambar orang yang dihormati.”</p>
<p>Saya membatin, repot juga ya jadi ulama, sampai gambarnya di koran pun harus dijaga dari perlakuan menjadi bungkus atau lap. <img src='http://windede.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  <img src='http://windede.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Kembali ke soal pencarian jawaban, di tengah beragam kemudahan peradaban, pertanyaan-pertanyaan takkan pernah habis, meski tersedia sedemikian besar database jawaban di jagat maya. Ya. Bukankah setiap jawaban sesungguhnya adalah pertanyaan baru? Itu sebabnya informasi bisa tersedia bukan hanya di web-web mesin pencari internet, tetapi juga di tempat-tempat tak terduga; termasuk bungkus kue yang seolah tak berharga. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://windede.com/2008/07/11/robekan-kitab-pembungkus-putu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
