<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Windede dot Com &#187; Fajar</title>
	<atom:link href="http://windede.com/tag/fajar/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://windede.com</link>
	<description>...:::sekadar sebuah kumpulan catatan:::...</description>
	<lastBuildDate>Fri, 02 Jan 2009 05:04:47 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Sedia, Toilet Khusus Waria</title>
		<link>http://windede.com/2008/09/02/ramai-operasi-kelamin-ada-toilet-khusus-waria/</link>
		<comments>http://windede.com/2008/09/02/ramai-operasi-kelamin-ada-toilet-khusus-waria/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Sep 2008 05:24:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>windede</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manusia]]></category>
		<category><![CDATA[Ada Toilet]]></category>
		<category><![CDATA[Aduhai]]></category>
		<category><![CDATA[Banci]]></category>
		<category><![CDATA[Fajar]]></category>
		<category><![CDATA[Fitri]]></category>
		<category><![CDATA[Gajah]]></category>
		<category><![CDATA[Kasat]]></category>
		<category><![CDATA[Khas]]></category>
		<category><![CDATA[Langsing Bergaya]]></category>
		<category><![CDATA[Mana Mana]]></category>
		<category><![CDATA[Miss Tiffany]]></category>
		<category><![CDATA[Mr Wei]]></category>
		<category><![CDATA[Nasihat]]></category>
		<category><![CDATA[Operasi Kelamin]]></category>
		<category><![CDATA[Pekan]]></category>
		<category><![CDATA[Penampilan]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[Ratu Waria]]></category>
		<category><![CDATA[Sosok]]></category>
		<category><![CDATA[Tebak]]></category>
		<category><![CDATA[Transeksual]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita Cantik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://windede.com/?p=293</guid>
		<description><![CDATA[
Transeksual menjadi isu penting di Thailand. Jumlah orang dengan problem identitas kelamin terus meningkat. Inilah bangsa di mana kaum waria mendapat tempat istimewa, sampai-sampai ajang Miss Tiffany Universe (Ratu Waria Sejagat) digelar rutin setiap tahun di Negeri Gajah Putih. 
SELALU ada nasihat agar berhati-hati bila melihat wanita cantik di Bangkok atau Pattaya. Sebab kita bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="" src="http://www.windede.com/images/cong1.jpg" title="Gaya waria di Pattaya, tampak belakang." class="alignnone" width="442" height="223" /></p>
<p><em>Transeksual menjadi isu penting di Thailand. Jumlah orang dengan problem identitas kelamin terus meningkat. Inilah bangsa di mana kaum waria mendapat tempat istimewa, sampai-sampai ajang Miss Tiffany Universe (Ratu Waria Sejagat) digelar rutin setiap tahun di Negeri Gajah Putih. </em></p>
<p><strong>SELALU </strong>ada nasihat agar berhati-hati bila melihat wanita cantik di Bangkok atau Pattaya. Sebab kita bisa tertipu, yang cantik itu ternyata wanita palsu. Di Thailand, waria memang ada di mana-mana, rata-rata cantik dan bertubuh aduhai; putih bersih, langsing, bergaya kemayu dan suaranya menyerupai wanita sungguhan. <span id="more-293"></span></p>
<p>Selama trip di Bangkok dan Pattaya pekan lalu itu, saya bersama kawan seperjalanan, Ogi Fajar Nuzuli dan Fitri Zamzam sering main tebak-tebakan. “Asli atau palsu…,” kata Dewa, sapaan akrab Fitri Zamzam, di saat sesosok bertubuh gemulai lewat di hadapan kami. </p>
<p>“Palsu…” kata saya.</p>
<p>“Belum tentu,” seloroh Ogi. Biasanya, setelah itu, kami lalu tertawa bersama.</p>
<p>Mengenakan gaun terusan warna terang pas badan, pendek sebatas paha dan seksi memperlihatkan tonjolan yang penuh di bagian dada, sosok itu secara kasat mata adalah wanita. Semua syarat untuk disebut perempuan telah terpenuhi; caranya berjalan, bentuk lekuk tubuh, dan suaranya. Tetapi… “Itu banci. Pasti banci…,” kata Mr. Wei, sopir mobil carteran yang menemani kami. </p>
<p><img alt="" src="http://www.windede.com/images/cong2.jpg" title="Foto candid waria di Pattaya." class="alignleft" width="200" height="338" />Begitu sering melihat orang dengan penampilan semacam ini, kami bahkan hampir sampai pada kesimpulan, bahwa semakin cantik dan seksi, semakin patut dicurigai orang itu adalah waria. Sebab kebanyakan wanita Thailand (yang asli) justru tampak innocent, bentuk wajah dan air mukanya natural, khas Asia. Cara paling mudah membedakan waria dengan wanita adalah gaya kemayu waria biasanya berlebihan. </p>
<p>Waria memang mendapat tempat istimewa di Thailand. Di lingkungan pekerjaan pun, mereka sering memperoleh posisi kelas satu. Di sebuah restoran seafood di pinggir pantai Pattaya, misalnya, kami mendapati kenyataan bahwa para waria berada di garda depan pelayanan tamu. Mereka bertugas membawa daftar menu, mencatat pesanan, menuangkan air mineral ke gelas, lalu bertanya apakah masih ada pesanan yang kurang. </p>
<p>Urusan membawa nampan berisi makanan dilakukan oleh pegawai pria. Koki-koki di dapur pun pria. Nah, selesai makan, barulah pegawai wanita datang. Kaum hawa kebagian tugas merapikan piring-piring kotor dan membersihkan meja. Juga mengepel lantai yang tercecer kuah atau cairan bekas makanan. Pegawai waria datang kembali setelah itu, membawakan kertas tagihan dengan senyum yang khas, membereskan pembayaran dan menyerahkan uang kembalian, lalu melepas tamu di depan pintu dengan mengatakan “sawasdee…”, ucapan salam khas Thailand. </p>
<p>Kaum waria juga tampil dalam atraksi-atraksi hiburan yang populer, semacam kabaret dan opera, yang digelar setiap malam di banyak tempat di Bangkok dan Pattaya. Kami tak sempat menyaksikan salah satunya, tetapi dari brosur-brosur dan tawaran yang kami terima, memang kabaret seperti Alcazar Show di Pattaya diperankan oleh para waria. Mereka menyanyi, menari, dan bermain drama. </p>
<p>Kebebasan memilih orientasi seksual membuat praktik operasi kelamin ramai di Thailand. Departemen Kesehatan negeri itu sampai kewalahan membendung animo masyarakat yang hendak ganti kelamin, operasi organ tubuh agar dari maskulin menjadi feminin. Hingga akhirnya baru-baru ini dikeluarkan peraturan bahwa praktik operasi kelamin dilarang bagi siapapun yang hendak melakukannya, bila tak ada alasan kesehatan dan psikologis yang memadai. Artinya, perlu serangkaian tes kesehatan, juga tes psikologis, bahwa operasi kelamin itu memang menjadi satu-satunya pilihan bagi masa depan orang yang hendak operasi.</p>
<p><img alt="" src="http://www.windede.com/images/cong3.jpg" title="Waria jadi pekerja utama, yang wanita tukang bersih-bersih." class="alignnone" width="442" height="216" /></p>
<p>Mengingat banyaknya problem transeksual semacam ini, di sejumlah area publik akhirnya disediakan toilet khusus waria. Termasuk di gedung-gedung sekolah dan universitas. Ini masuk akal mengingat kaum waria merasa tidak nyaman bila harus masuk toilet pria, yang biasanya berisi jejeran urinoir di mana orang bisa buang air bersebelahan tempat, tetapi juga sekaligus tidak leluasa masuk toilet wanita karena betapapun secara genital organ mereka adalah pria. </p>
<p>Sayangnya kami tak sempat menjumpai satu pun toilet waria ini, sekadar hendak tahu kira-kira bagaimana pengelola gedung menggambarkan ikon waria, karena selama ini yang lazim ada hanya ikon orang pakai rok untuk menandai toilet wanita, dan ikon orang bertopi untuk menandai toilet pria. Kami juga tak bisa memastikan apakah yang disediakan di dalam toilet waria tersebut adalah urinoir atau kloset duduk. </p>
<p>“Sepertinya Ryan Jombang akan betah kalau tinggal di Thailand,” celetuk Ogi, menyebut nama tersangka pembunuhan berantai asal Jombang yang sedang jadi berita hangat di media-media Indonesia saat ini. Kami tertawa sekaligus miris, mengingat isu transeksual di negara kita ternyata juga masih jadi problem serius yang belum ada jalan keluarnya. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://windede.com/2008/09/02/ramai-operasi-kelamin-ada-toilet-khusus-waria/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gajah Berpakaian, Cewek Telanjang</title>
		<link>http://windede.com/2008/08/25/gajah-berpakaian-cewek-telanjang/</link>
		<comments>http://windede.com/2008/08/25/gajah-berpakaian-cewek-telanjang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Aug 2008 06:58:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>windede</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Agama Buddha]]></category>
		<category><![CDATA[Cewek Telanjang]]></category>
		<category><![CDATA[Cocok]]></category>
		<category><![CDATA[Fajar]]></category>
		<category><![CDATA[Fitri]]></category>
		<category><![CDATA[Gajah]]></category>
		<category><![CDATA[Hiburan Malam]]></category>
		<category><![CDATA[Istana]]></category>
		<category><![CDATA[Kuil]]></category>
		<category><![CDATA[Niat]]></category>
		<category><![CDATA[Patung Buddha]]></category>
		<category><![CDATA[Posisi]]></category>
		<category><![CDATA[Reclining Buddha]]></category>
		<category><![CDATA[Religius]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa Rupa]]></category>
		<category><![CDATA[Sarapan Pagi]]></category>
		<category><![CDATA[Tak Biasa]]></category>
		<category><![CDATA[Wat Pho]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[Zamzam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://windede.com/?p=289</guid>
		<description><![CDATA[
Thailand menawarkan rupa-rupa wisata. Dari yang religius seperti ziarah pemeluk Buddha ke kuil-kuil tua di kawasan Chao Pharaya, sampai gempita hiburan malam di sudut-sudut remang kota Pattaya. Atraksi binatang pasti mengasyikkan untuk keluarga. Bagaimana dengan show manusia, yang suguhannya sungguh tak biasa?
SABTU pagi yang cerah di Bangkok. Setelah tidur nyenyak di ketinggian lantai 46 Hotel [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="" src="http://www.windede.com/images/bang1.jpg" title="Atraksi gajah" class="alignnone" width="442" height="239" /></p>
<p><em>Thailand menawarkan rupa-rupa wisata. Dari yang religius seperti ziarah pemeluk Buddha ke kuil-kuil tua di kawasan Chao Pharaya, sampai gempita hiburan malam di sudut-sudut remang kota Pattaya. Atraksi binatang pasti mengasyikkan untuk keluarga. Bagaimana dengan show manusia, yang suguhannya sungguh tak biasa?</em></p>
<p><strong>SABTU</strong> pagi yang cerah di Bangkok. Setelah tidur nyenyak di ketinggian lantai 46 Hotel Baiyoke Sky, kemudian sarapan pagi di lantai 78, saya bersama dua rekan, Ogi Fajar Nuzuli dan Fitri Zamzam langsung meluncur ke kawasan Grand Palace, istana besar Raja Thailand yang melegenda. </p>
<p>Tetapi mengingat waktu tak cukup leluasa karena harus segera menuju Pattaya, kami hanya melihat-lihat dari luar pagar istana, lalu menyeberang ke Wat Pho, kuil tua tempat patung Buddha raksasa yang lokasinya persis berseberangan dengan istana raja. The Temple of the Reclining Buddha ini juga biasa disebut Sleeping Buddha, karena posisi Buddha yang berbaring dengan tangan menyangga kepala.<span id="more-289"></span> </p>
<p>Seperti halnya Grand Palace, di Wat Pho pengunjung membeludak. Hawa panas kota Bangkok tak mengurungkan niat wisatawan menikmati situs sejarah penting bagi umat Buddha tersebut. Dibangun tahun 1788, Wat Pho bukan saja tempat tujuan wisata penting di Thailand, tetapi juga pusat berbagai kegiatan agama Buddha.</p>
<p>Meski terbuka bagi orang asing yang bukan pemeluk Buddha, pengelola Wat Pho tetap memberlakukan aturan: tidak boleh bercelana pendek ketika di dalam kuil, harus melepas alas kaki, dan tidak berisik. Arus pengunjung dibuat memutar, masuk dari arah kepala Buddha, menyusuri bangunan kuil sampai di bagian kaki, lalu berbalik arah. Di ujung dekat pintu keluar, diletakkan berjejer wadah dari tembaga, berbentuk seperti kendi, tempat pengunjung memasukkan koin keberuntungan. Semangkuk koin dibeli seharga 20 baht.</p>
<p>Wat Pho hanyalah satu dari sekian banyak pilihan tempat yang bisa dikunjungi di Bangkok. Tempat semacam ini cocok untuk wisata keluarga, atau wisata sejarah dan pendidikan bagi siswa-siswa sekolah yang sedang studi banding. Di luar itu, ada beragam pilihan; dari yang terang sampai gelap, putih sampai hitam.</p>
<p><img alt="" src="http://www.windede.com/images/bang2.jpg" title="Suasana malam di Pattaya" class="alignleft" width="200" height="299" />Itulah yang akhirnya kami temukan di Pattaya. Setelah setengah hari berkeliling Bangkok, kami meluncur ke kota pantai di pinggir Teluk Thailand itu. Melaju dengan Volvo sewaan di highway selebar landasan pacu pesawat, tidur pulas sepanjang perjalanan, dan terbangun setelah tiba di halaman Hotel Royal Century Pattaya. Beres urusan check in, kami langsung menuju pantai untuk mencari makan siang.</p>
<p>Suasana Pattaya mirip Bali, tapi tak semeriah Pulau Dewata. Dari tempat kami berdiri di Central Beach Pattaya, hanya tampak beberapa turis berjemur, memandang ke pantai berpasir warna kelabu. Ada orang-orang yang sedang main jet ski, tak terlihat yang bermain papan selancar (surfing) karena ombak tak cukup tinggi. Memang, panjang garis pantainya mungkin dua kali pantai Kuta. Tetapi, mungkin bisa subjektif juga, saya merasa Bali masih lebih istimewa.</p>
<p>Sorenya, boleh jadi karena kelelahan, kami mengurung diri di kamar hotel saja, tidur sampai tengah malam. Terjaga pukul 23.30 dan baru sadar kami sedang berada di Pattaya, yang kerap disebut pusat hiburan malam Asia, pada sebuah malam Minggu yang syahdu. &#8220;Ayo jalan. Ini malam Minggu, dan kita sedang di Pattaya,&#8221; kata saya.</p>
<p>Maka, kami pun bergegas. Hal pertama yang ingin kami lakukan adalah mencari makan malam. Hotel tempat kami menginap berada di pusat keramaian. Malam itu, jalanan kota Pattaya masih sangat padat. Pesta seperti baru sedang dimulai. Dentuman musik menggema dari lorong-lorong bar dan kafe. Wanita-wanita berpakaian seksi lalu-lalang. Mulai tercium aroma kemesuman; aliran bir dan wine, celetukan genit gadis-gadis penjaja cinta, tegur sapa orang-orang berbahasa lokal yang sulit dimengerti tapi bisa dengan mudah dipahami maksudnya.</p>
<p>Kami berhenti di sebuah kedai, satu-satunya tempat yang terang benderang di tengah keremangan pub dan bar di sekeliling. Saya memesan sup tom yam, khas Thailand, Fitri Zamzam makan stik daging sapi dengan kentang goreng crispy, sementara Ogi melahap sandwich isi tuna. Di tengah dinner yang ditingkahi kebisingan musik dari pub di sekitar itu, kami bertiga membincangkan suasana hiburan malam Pattaya yang ternyata lebih cenderung mengarah pada wisata syahwat itu.</p>
<p>&#8220;Ini namanya prostitusi di tengah kota,&#8221; kata Ogi. </p>
<p>Kami akhirnya menuntaskan makan malam itu dengan sebuah kesimpulan: Pattaya menawarkan wisata syahwat untuk menarik wisatawan, namun faktanya wanita pekerja seks berkeliaran lebih banyak daripada tamu yang datang. Entah memang sedang sepi, atau wisata model ini sudah kurang diminati.</p>
<p>Kami kemudian berjalan berkeliling, menyusuri lorong-lorong lokasi hiburan, dari arena biliar, live music, hingga panggung joget. Sampai terhenti di sebuah tempat di mana dua orang berkemeja rapi dan dasi kupu-kupu mencegat kami. &#8220;Lady show, just one hundred baht,&#8221; kata salah seorang di antara mereka. Di tangannya ada brosur bergambar siluet tubuh perempuan tanpa busana. Di pintu masuk tertempel gambar larangan memotret dan larangan anak di bawah umur untuk masuk. </p>
<p>Seratus baht! Hanya Rp30 ribu bila dirupiahkan. Harga yang terlalu murah untuk hiburan di mana pengunjung bisa menyaksikan para penari wanita tanpa busana melenggak-lenggok. Kami minta izin menengok sebentar ke dalam, sekadar hendak memastikan bahwa hiburan model ini memang benar-benar ada. Dan, ternyata memang benar-benar ada! Para pria berdasi kupu-kupu itu tidak sedang bercanda, apalagi berbohong. Beberapa wanita tampak menari erotis dengan tubuh yang telanjang, di tengah tatapan mata sejumlah pria. Setelah proses &#8220;numpang menengok&#8221; itu, Ogi memberi kode agar kami berlalu. </p>
<p>Pengalaman malam itu membuat kami terkekeh dan saling menertawakan saat perjalanan pulang menuju hotel. Bagaimana mungkin manusia menyaksikan manusia lain dalam keadaan seperti itu. Lebih gila lagi, ada pula tawaran live show persenggamaan: dengan 8 ribu baht (lebih kurang Rp2,5 juta), pengunjung bisa menyaksikan aksi hubungan seksual sepasang manusia. Benar-benar show manusia dalam pengertian sesungguhnya. Selain membayar sejumlah uang, syaratnya hanya ada dua: tidak boleh memotret dan sudah berumur lebih 18 tahun. </p>
<p><img alt="" src="http://www.windede.com/images/bang3.jpg" title="Seorang pengunjung digendong gajah" class="alignnone" width="442" height="217" /></p>
<p>Ini bertolak belakang dengan apa yang kami saksikan keesokan harinya. Di sebuah taman botani yang asri, ada harimau, orangutan, macan, juga gajah yang jinak-jinak dan bisa diajak foto bareng. Di taman itu pula kami menyaksikan atraksi gajah yang unik-unik. Binatang berbelalai dengan tubuh raksasa itu bermain bola kaki, bola basket, bowling, juga melukis dan berjoget. Gajah-gajah itu juga menampilkan atraksi melangkahi tubuh para tamu (dan semua selamat tanpa ada yang terinjak), menggendong dengan belalai, dan memijat. </p>
<p>Lantas, yang membuat kami geleng-geleng kepala adalah fakta ini: gajah-gajah itu diberi pakaian lengkap, menutupi &#8220;aurat&#8221; mereka. Sungguh pelajaran berharga dari kaum binatang yang mestinya disadari para cewek penari telanjang semalam.  Bila untuk menyaksikan wanita-wanita telanjang di tempat hiburan malam cukup dengan 100 baht per orang, maka gajah-gajah itu justru jual mahal; untuk tiket terusan masuk taman botani dan include biaya transport dari hotel, kami harus merogoh kocek 650 baht per orang. (<strong>bersambung</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://windede.com/2008/08/25/gajah-berpakaian-cewek-telanjang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
