<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Windede dot Com &#187; Detik</title>
	<atom:link href="http://windede.com/tag/detik/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://windede.com</link>
	<description>...:::sekadar sebuah kumpulan catatan:::...</description>
	<lastBuildDate>Fri, 02 Jan 2009 05:04:47 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Google, 080808, dan Olimpiade Beijing 2008</title>
		<link>http://windede.com/2008/08/08/google-080808-dan-olimpiade-beijing-2008/</link>
		<comments>http://windede.com/2008/08/08/google-080808-dan-olimpiade-beijing-2008/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Aug 2008 18:14:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>windede</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[080808]]></category>
		<category><![CDATA[090909]]></category>
		<category><![CDATA[888]]></category>
		<category><![CDATA[Agustus]]></category>
		<category><![CDATA[Awan]]></category>
		<category><![CDATA[Beijing 2008]]></category>
		<category><![CDATA[Bumi]]></category>
		<category><![CDATA[Cantik]]></category>
		<category><![CDATA[Demam]]></category>
		<category><![CDATA[Detik]]></category>
		<category><![CDATA[Google]]></category>
		<category><![CDATA[Keramat]]></category>
		<category><![CDATA[Momen]]></category>
		<category><![CDATA[Olimpiade]]></category>
		<category><![CDATA[Operasi Caesar]]></category>
		<category><![CDATA[Pasangan Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[Persalinan]]></category>
		<category><![CDATA[Pesta]]></category>
		<category><![CDATA[Ribu]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun Depan]]></category>
		<category><![CDATA[Tirai]]></category>
		<category><![CDATA[Triple Seven]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://windede.com/?p=264</guid>
		<description><![CDATA[
SELALU ada cara menyambut hari penting. Di saat dunia demam angka cantik 080808 (delapan agustus dua ribu delapan), dan China tengah gegap gempita oleh Olimpiade Beijing 2008 yang dibuka tepat pukul 8, tanggal 8, bulan 8, tahun 08, Google pun menghias halaman depannya dengan new doodle, sebuah logo mengapresiasi olimpiade di negeri tirai bambu. 
Tentu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="" src="http://www.windede.com/images/beijing.jpg" title="Logo Olimpiade Beijing 2008" class="alignnone" width="442" height="126" /></p>
<p><strong>SELALU</strong> ada cara menyambut hari penting. Di saat dunia demam angka cantik 080808 (delapan agustus dua ribu delapan), dan China tengah gegap gempita oleh Olimpiade Beijing 2008 yang dibuka tepat pukul 8, tanggal 8, bulan 8, tahun 08, Google pun menghias halaman depannya dengan new doodle, sebuah logo mengapresiasi olimpiade di negeri tirai bambu. </p>
<p><img alt="" src="http://www.windede.com/images/google.gif" title="Doodle yang tampil di Google.COM pada 080808" class="alignleft" width="286" height="128" />Tentu ini bukan hal baru. Sudah tradisi bagi Google memajang logo kreasi mereka (orang-orang Google menyebut logo kreasi itu sebagai “doodle”), di saat momen-momen istimewa berlangsung. Dari hari bersejarah, hari kelahiran tokoh, masa liburan, sampai peringatan semacam hari bumi atau juga mother day. Silakan lihat <a href="http://www.google.com/holidaylogos.html">di sini</a> untuk menengok-nengok sebagian doodle yang pernah ditampilkan Google. <span id="more-264"></span></p>
<p>Tetapi kombinasi angka 080808 memang hanya akan terjadi sekali seumur zaman. Seperti halnya tahun lalu orang heboh dengan triple seven di mana <a href="http://windede.com/2007/07/07/sekadar-mengenang-777/" >777 menjadi angka keramat</a>, atau juga tahun depan di mana kombinasi angkanya bakal lebih dahsyat lagi: 090909, maka banyak yang mencari cara agar pada tanggal berangka unik tersebut ada kenangan yang tertoreh. </p>
<p>Bahkan panitia Olimpiade Musim Panas pun sampai memilih 080808 untuk acara pembukaan. Sesuatu yang telah disiapkan bertahun-tahun, termasuk usaha menciptakan teknologi memindah awan agar pada saat pembukaan pesta olahraga dunia yang kali ini bertajuk One World One Dream itu tak turun hujan. Huh, andai saja mereka mengerti konsep pawang hujan seperti tradisi di negeri kita. </p>
<p>Di berbagai sudut bumi para ibu yang sekarang tengah hamil tua berdoa agar anaknya lahir tepat ketika almanak berada di angka 080808. Kalau nasib baik bisa tepat waktu. Bila tidak, ya bisa lebih cepat atau malah terlewat, sehingga kombinasi angkanya menjadi 070808 atau 090808. Yang punya duit cukup bahkan rela mempercepat persalinan dengan operasi caesar. </p>
<p>Pasangan-pasangan muda mencocokkan tanggal pernikahan, kalau perlu ijab kabul di saat jam menunjuk pukul 08 lewat 08 detik di tanggal 08 bulan 08 tahun 2008, sehingga kombinasi angkanya akan menjadi 080808080808. Penghulu kebanjiran order, sementara KUA harus mengatur supaya semua bisa terlayani dengan baik. </p>
<p>Semalam, seorang kawan mengirim pesan lewat YM: minta tolong dicarikan sebanyak-banyaknya koran dari penerbitan yang berbeda, khusus edisi tanggal 8 bulan 8 tahun 2008. Koran-koran itu bukan untuk dijual kiloan ke pasar, tetapi untuk hadiah kepada keponakannya yang sedang diatur agar lahir persis pada tanggal 8 bulan 8 tahun 2008. </p>
<p>“Anaknya adikku akan lahir tanggal 8 Agustus 2008, dan aku mau kasih kado koran edisi 080808. Nanti, kalau sudah besar, orangtuanya akan memperlihatkan koran-koran itu, dan si anak pasti bangga karena dia bisa tahu peristiwa apa saja yang terjadi saat tanggal kelahirannya,” si kawan berargumen. Saya mengiyakan, berjanji mencari koran pada tanggal tersebut sedapatnya. </p>
<p><img alt="" src="http://www.windede.com/images/080808.jpg" title="Angka keramat 080808" class="alignnone" width="442" height="182" /></p>
<p>Siapapun hendak menoreh sejarah, tinggal bagaimana caranya dan dalam bentuk apa. Pada kehidupan pribadi kita, sejarah hidup adalah apa yang bagi kita bisa terkenang sepanjang masa. Angka-angka kerap bisa mewakili kenangan itu. Ada banyak orang yang bahkan bisa hapal detil tanggal kapan dia pertama masuk sekolah, pertama dapat pacar, pertama melamar wanita, pertama punya anak dan sebagainya. Lalu banyak orang lagi yang yakin punya nomor hoki, nomor-nomor keberuntungan di mana nasib baik selalu berpihak kepadanya dan selalu saja terhubung dengan nomor-nomor itu. </p>
<p>Berapa  nomor hoki Anda? Punya rencana apa menyambut 080808 tahun ini atau 090909 tahun depan?</p>
<p>Saya tak punya nomor hoki. Tidak punya rencana apa-apa di tanggal 080808 atau kelak 0090909 atau bahkan 101010 (mudah-mudahan panjang umur). Satu-satunya yang saya lakukan sebagai penanda angka-angka cantik itu hanyalah membuat posting di blog ini. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://windede.com/2008/08/08/google-080808-dan-olimpiade-beijing-2008/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Robekan Kitab Pembungkus Putu</title>
		<link>http://windede.com/2008/07/11/robekan-kitab-pembungkus-putu/</link>
		<comments>http://windede.com/2008/07/11/robekan-kitab-pembungkus-putu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Jul 2008 13:41:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>windede</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemplasi]]></category>
		<category><![CDATA[Alamat]]></category>
		<category><![CDATA[buku telepon]]></category>
		<category><![CDATA[Dandang]]></category>
		<category><![CDATA[Demam]]></category>
		<category><![CDATA[Detik]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia Hari Ini]]></category>
		<category><![CDATA[Google]]></category>
		<category><![CDATA[Hangat]]></category>
		<category><![CDATA[Hening]]></category>
		<category><![CDATA[informasi]]></category>
		<category><![CDATA[Istri]]></category>
		<category><![CDATA[Kira Kira]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab]]></category>
		<category><![CDATA[Kue]]></category>
		<category><![CDATA[Mana Mana]]></category>
		<category><![CDATA[Masih Ada]]></category>
		<category><![CDATA[mesin pencari]]></category>
		<category><![CDATA[Nomor Telepon]]></category>
		<category><![CDATA[Pintu]]></category>
		<category><![CDATA[Ponsel]]></category>
		<category><![CDATA[Suling]]></category>
		<category><![CDATA[yellow pages]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://windede.com/?p=258</guid>
		<description><![CDATA[
INI bukan soal kue putu, yang dijajakan keliling kampung dengan suara khas suling panjang dari uap dandang pengukus itu. Kue hijau bertabur parutan kelapa ini hanya menjadi semacam pengingat betapa peradaban manusia terus berubah, berganti wajah, bermetamorfosis. Bukan karena lezatnya rasa kue itu, namun karena bungkusnya yang unik.
Suatu malam, yang dingin sehabis hujan, suling panjang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://www.windede.com/images/yellow1.jpg" alt="Pembungkus kue putu itu..." width="442" height="243" /></p>
<p><strong>INI </strong>bukan soal kue putu, yang dijajakan keliling kampung dengan suara khas suling panjang dari uap dandang pengukus itu. Kue hijau bertabur parutan kelapa ini hanya menjadi semacam pengingat betapa peradaban manusia terus berubah, berganti wajah, bermetamorfosis. Bukan karena lezatnya rasa kue itu, namun karena bungkusnya yang unik.</p>
<p>Suatu malam, yang dingin sehabis hujan, suling panjang dari dandang penjaja putu memecah hening suasana rumah. Istri bergegas membuka pintu dan memanggil penjaja kue beraroma harum ini. “Enak nih mengudap yang hangat-hangat.” Setelah menunggu sesaat, empat potong kue bergula merah itu terhidang di atas meja. <span id="more-258"></span></p>
<p><img class="alignleft" style="float: left;" src="http://www.windede.com/images/yellow3.jpg" alt="Informasi dari pembungkus kue putu..." />Yang bikin surprised memang bukan rasanya, sebab kue putu ya di mana-mana seperti itulah. Bungkusnya itu yang bikin geleng-geleng kepala: robekan halaman Yellow Pages, kitab sakti pemberi informasi alamat dan nomor telepon. Buku telepon? Seberapa penting benda ini di zaman gegap gempita internet sekarang?</p>
<p>Dulu, ya kira-kira 10 tahun lalu, setiap rumah dan kantor yang punya telepon pasti berlangganan (atau dilanggani gratis) buku telepon. Sekarang, benda ini masih ada, tapi tingkat ketergantungan kita kepadanya sudah semakin berkurang. Kitab berkertas kuning ini masih bisa diandalkan untuk mencari informasi apa saja. Dari nomor telepon pribadi sampai perusahaan, yang disusun dengan indeks berdasarkan kategori-kategori. Tapi, Yellow Pages bukan satu-satunya referensi. Pilihan lain sudah banyak, lebih praktis pula.</p>
<p>Iklan-iklan spesifik dan segmented yang dulu hanya bisa dilihat di Yellow Pages, kini sudah mampir langsung ke ponsel-ponsel pribadi, menyelinap di antara lembar tagihan bulanan kartu kredit, atau tersebar di web-web korporat di internet. Kalau mau yang lebih praktis kita bisa telepon layanan informasi, cukup beberapa detik untuk sekadar mendapatkan nomor telepon dan alamat.</p>
<p>Konon, Yellow Pages pula yang menginspirasi Larry dan Sergey membangun mesin pencari Google, yang kini sudah jadi demam peradaban dunia hari ini. Seluruh penduduk bumi telah mengandalkan Google untuk memperoleh informasi tentang apapun, siapapun, kapanpun, di mana pun, sepanjang punya koneksi internet.</p>
<p><img class="alignright" style="float: right;" src="http://www.windede.com/images/yellow2.jpg" alt="Yellow Pages online versi Indonesia." width="200" height="71" />Di Amerika, tempat Google berasal, Yellow Pages sudah beralih layanan ke versi online, itupun sekadar untuk melayani orang yang perlu tambahan mesin pencarian di luar Google. Orang semakin lelah dengan fisik kertas, juga kerepotan membalik-balik halaman. Di Indonesia, buku telepon digital sudah pula ada, tapi tampaknya belum cukup populer.</p>
<p>Banyak yang mengajarkan bahwa hakekat hidup adalah pencarian jawaban. Itu sebabnya mesin-mesin “pencari jawaban” diciptakan sejak zaman dulu. Dari sekadar petuah bijak para resi, buku-buku ilmu pengetahuan, perpustakaan, hingga bank data dan gudang-gudang pengarsipan. Begitu banyak misteri, pertanyaan demi pertanyaan, yang harus selalu dijawab meski sekadar untuk memuaskan rasa ingin tahu.</p>
<p>Tentu menyedihkan melihat fakta bahwa lembaran buku telepon yang berisi informasi berharga akhirnya hanya menjadi pembungkus kue, meski boleh jadi ini juga dirobek dari kitab lama yang sudah kedaluarsa. Lagi pula, nasib serupa bukan hanya dialami Yellow Pages. Dari pasar-pasar tradisional, pedagang sayur dan penjaja kue, kita kerap mendapatkan bungkus dari kertas lain yang tak kalah berharganya. Dari lembaran skripsi mahasiswa sampai copy faktur pajak perusahaan ternama.</p>
<p>Ketika masih bekerja di koran harian di Kalimantan, saya pernah ditegur seorang kerabat, karena suatu hari koran yang saya tangani memuat gambar seorang ulama besar yang jadi panutan semua orang di kampung kami. Kerabat ini bilang, jangan lagi memuat gambar si ulama di koran, karena tak ada yang tahu kertas koran itu kelak akan diperlakukan seperti apa. “Bisa jadi lap lantai yang dikencingi bayi, bungkus kacang, atau diinjak-injak, padahal di situ ada gambar orang yang dihormati.”</p>
<p>Saya membatin, repot juga ya jadi ulama, sampai gambarnya di koran pun harus dijaga dari perlakuan menjadi bungkus atau lap. <img src='http://windede.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  <img src='http://windede.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Kembali ke soal pencarian jawaban, di tengah beragam kemudahan peradaban, pertanyaan-pertanyaan takkan pernah habis, meski tersedia sedemikian besar database jawaban di jagat maya. Ya. Bukankah setiap jawaban sesungguhnya adalah pertanyaan baru? Itu sebabnya informasi bisa tersedia bukan hanya di web-web mesin pencari internet, tetapi juga di tempat-tempat tak terduga; termasuk bungkus kue yang seolah tak berharga. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://windede.com/2008/07/11/robekan-kitab-pembungkus-putu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Korban Asap Berburu Udara</title>
		<link>http://windede.com/2006/11/18/korban-asap-berburu-udara/</link>
		<comments>http://windede.com/2006/11/18/korban-asap-berburu-udara/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Nov 2006 06:49:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>windede</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Alami]]></category>
		<category><![CDATA[Bandara Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[Bukit Barisan]]></category>
		<category><![CDATA[Detik]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung Kerinci]]></category>
		<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[Imun]]></category>
		<category><![CDATA[Jambi]]></category>
		<category><![CDATA[Kawan]]></category>
		<category><![CDATA[Martabak]]></category>
		<category><![CDATA[Meninggal Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Muara]]></category>
		<category><![CDATA[Padang]]></category>
		<category><![CDATA[Pengalaman Pertama]]></category>
		<category><![CDATA[Pesawat]]></category>
		<category><![CDATA[Polusi]]></category>
		<category><![CDATA[Pulang Kampung]]></category>
		<category><![CDATA[Sejuk]]></category>
		<category><![CDATA[Soekarno Hatta]]></category>
		<category><![CDATA[Sumatera Barat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://windede.com/2006/11/18/korban-asap-berburu-udara/</guid>
		<description><![CDATA[
Berbulan-bulan menghirup udara kotor penuh asap adalah sebuah persoalan. Saya tidak yakin akan baik-baik saja bila memeriksa paru-paru, meskipun, ternyata, bakat asma saya tidak kambuh dengan serbuan asap itu. Entah apakah asmanya yang sembuh, atau udara kotor memang telah membuat saya imun. Yang pasti, saya sangat merindukan udara bersih, sejuk, bebas polusi.
Maka, ketika pekan lalu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="Pemandangan alam di pinggir jalan utama Muara Labuh." title="Pemandangan alam di pinggir jalan utama Muara Labuh." src="http://img.photobucket.com/albums/v413/windede/padang1.jpg" /></p>
<p>Berbulan-bulan menghirup udara kotor penuh asap adalah sebuah persoalan. Saya tidak yakin akan baik-baik saja bila memeriksa paru-paru, meskipun, ternyata, bakat asma saya tidak kambuh dengan serbuan asap itu. Entah apakah asmanya yang sembuh, atau udara kotor memang telah membuat saya imun. Yang pasti, saya sangat merindukan udara bersih, sejuk, bebas polusi.</p>
<p><img align="left" alt="Kali berbatu di Padang Aro." title="Kali berbatu di Padang Aro." src="http://img.photobucket.com/albums/v413/windede/padang3.jpg" />Maka, ketika pekan lalu seorang kawan harus pulang kampung ke Muara Labuh, Sumatera Barat, karena saudaranya meninggal dunia, saya langsung setuju begitu diajak. Apalagi si kawan memang berpromosi mengenai kampungnya yang masih alami; berada di kawasan Bukit Barisan dengan hutan yang masih perawan.</p>
<p>Dari Banjarbaru, perjalanan harus tertunda karena sejak pagi bandara tertutup kabut asap. Baru bisa terbang setelah pukul 17.00, ketika angin laut meniup asap, menjauhkannya dari daratan. Kami mendarat di Soekarno-Hatta ketika langit sudah gelap. Langsung <em>hunting</em> tiket ke Padang. Tersisa satu <em>flight </em>dan itu pun kursi telah penuh. Kesabaran menunggu dan sedikit usaha membuahkan dua kursi mahal di detik-detik sebelum pesawat berangkat. Malam itu juga, kami tiba di Padang.</p>
<p>Ini adalah kunjungan saya ke tiga kalinya ke Padang. Tahun 1998, bersama tim jurnalis LPDS Jakarta saya singgah ke Padang setelah melakukan trip dari Jambi ke Sungai Penuh, sebuah kota kecil di kaki Gunung Kerinci. Kali kedua tahun 2005, sepulang dari Banda Aceh, hanya transit sebentar di Bandara Tabing. Kunjungan ketiga ini menjadi pengalaman pertama merasakan Bandara Minangkabau yang mewah itu.</p>
<p>Setelah singgah di sebuah kedai untuk bersantap malam, dengan menu Sate Padang dan Martabak, kami langsung meluncur ke Muara Labuh dengan men-carter taksi bandara. Perjalanan harus ditempuh 3 jam dengan kondisi jalan berkelok-kelok. Tak ada yang terlalu menarik untuk dinikmati karena kegelapan malam menyembunyikan keindahan alam. Toh, kami tak bisa tidur. Sepanjang jalan mengobrol saja.</p>
<p><img align="right" alt="Air terjun di bawah jembatan kota Sangir." title="Air terjun di bawah jembatan kota Sangir." src="http://img.photobucket.com/albums/v413/windede/padang2.jpg" />Tiba di Muara Labuh pukul 3 subuh. Kawan saya langsung larut dalam duka bersama keluarga. Saya memilih beristirahat. Esoknya, prosesi pemakaman dan lain-lain dilakukan. Saya ikuti semua, sampai akhirnya semua selesai dan dimulailah perburuan ke lembah dan lereng Bukit Barisan yang memanjang dari Sumatera Barat hingga Jambi. Perburuan udara segar yang di kampung saya sedang mahal sekali.</p>
<p>Benar, hutan di kawasan ini relatif masih baik. Memang sesekali tampak lewat truk tronton mengangkut kayu gelondongan. Tetapi konon baru berlangsung dua tahun terakhir, ketika kebijakan mengenai HPH diperlonggar untuk kawasan hutan tertentu di luar area cagar alam. Selebihnya, di kiri-kanan sepanjang jalan adalah bukit-bukit hijau dengan hutan pohon besar. Sesuatu yang sudah sulit saya jumpai di Kalimantan.</p>
<p><span id="more-180"></span></p>
<p>Ketika pergi ke daerah Sangir, kota kecil di utara Muara Labuh, saya sempat takjub menjumpai sebuah air terjun di pinggir jalan. Posisinya berada di bawah jembatan yang membentang di atas kali berbatu. Penduduk setempat tampak lalu-lalang tanpa menoleh, seolah keindahan alam itu telah menjadi hal biasa bagi mereka. Padahal, buat saya, ini sebuah keajaiban.<br />
Saya juga menemukan keajaiban lain ketika dalam perjalanan pulang dari Muara Labuh menuju Padang, singgah ke dua danau yang posisinya berdampingan. Yakni Danau Di Ate dan Danau Di Bawa (Danau Di Atas dan Danau Di Bawah), yang berada di kawasan Bungo Tanjung, Alahan Panjang.<br />
Menurut <a title="West-Sumatera.Com" target="_blank" href="http://www.west-sumatera.com">West-sumatera.com</a>, meski berdekatan, kedua danau ini tak saling berhubungan. Air dari Danau Di Atas tidak mengalir ke Danau Di Bawah. Begitu pula sebaliknya. Danau Di Atas termasuk kategori danau yang dangkal, di mana kedalamannya hanya 44 m. Sedangkan Danau Di Bawah diperkirakan kedalamannya mencapai 884 m. Bahkan penduduk setempat tidak berani menggunakan perahu sampai ke tengah danau.</p>
<p><a target="_blank" title="Inilah Danau Di Bawah. Klik untuk ukuran foto yang lebih besar." href="http://img.photobucket.com/albums/v413/windede/danau.jpg"><img src="http://img.photobucket.com/albums/v413/windede/danau-small.jpg" /></a></p>
<p>Danau Di Bawah memiliki misteri yang unik, karena samapai saat ini belum diketahui ke mana air danau yang sejuk ini dialirkan. Hal ini masuk akal mengingat tidak ada sungai besar yang berhulu di Danau ini. Berbeda dengan Air Danau Di Atas yang merupakan hulu sungai Batanghari yang mengalir membelah Pulau Sumatera dan bermuara di Selat Malaka. Sebagian penduduk percaya bahwa air Danau Di Bawah mengalir melewati sungai di bawah tanah yang muncul di daerah Jambi. Namun belum ada penelitian ilmiah berkaitan dengan kepercayaan tersebut.</p>
<p>Bayangkanlah satu situasi berikut; Anda berdiri di sebuah bukit. Memandang ke Utara terhampar Danau Di Atas yang airnya biru tenang. Menoleh ke Barat ada puncak Gunung Talang yang tertutup awan. Setelah itu tengoklah ke Timur, betapa indah panorama Danau Di Bawah dengan latar belakang pegunungan Bukit Barisan. Kalau Anda sudah membayangkan dan merasakan betapa nyamannya, maka, saya harus bilang; saya sudah mengalaminya sendiri dalam wujud yang nyata. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://windede.com/2006/11/18/korban-asap-berburu-udara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
