<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="WordPress/2.5.1" -->
<rss version="0.92">
<channel>
	<title>Windede dot Com</title>
	<link>http://windede.com</link>
	<description>...:::sekadar sebuah kumpulan catatan:::...</description>
	<lastBuildDate>Sat, 19 Jul 2008 14:33:34 +0000</lastBuildDate>
	<docs>http://backend.userland.com/rss092</docs>
	<language>en</language>
	
	<item>
		<title>PON dan Ikthiar Sejarah Kemewahan</title>
		<description><![CDATA[
MEGAH dan gegap gempita. Pekan Olahraga Nasional (PON) XVII di Kaltim benar-benar menoreh sejarah. Bukan sekadar sejarah untuk pertama kalinya PON digelar di Bumi Kalimantan, tetapi juga sejarah terkurasnya lebih dari Rp4,5 triliun dana pembangunan sebuah provinsi untuk “pesta” yang habis dalam dua pekan. Acara pembukaan dan penutupannya, dengan langit penuh kembang api, menghabiskan biaya [...]]]></description>
		<link>http://windede.com/2008/07/19/pon-dan-ikthiar-sejarah-kemewahan/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Robekan Kitab Pembungkus Putu</title>
		<description><![CDATA[
INI bukan soal kue putu, yang dijajakan keliling kampung dengan suara khas suling panjang dari uap dandang pengukus itu. Kue hijau bertabur parutan kelapa ini hanya menjadi semacam pengingat betapa peradaban manusia terus berubah, berganti wajah, bermetamorfosis. Bukan karena lezatnya rasa kue itu, namun karena bungkusnya yang unik.
Suatu malam, yang dingin sehabis hujan, suling panjang [...]]]></description>
		<link>http://windede.com/2008/07/11/robekan-kitab-pembungkus-putu/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Sesat Budaya Disiplin Kita</title>
		<description><![CDATA[Lagi-lagi Indonesia: aturan dibuat untuk dilanggar. 

MENGAPA olahraga selalu menjadi tontonan menarik? Sesungguhnya karena keteraturan dalam permainan. Bayangkanlah sepakbola tanpa aturan; jumlah bola bisa lebih dari satu, banyaknya pemain tak perlu dibatasi, gawang boleh berada di mana saja, dan itu artinya wasit tiada berguna. Sepakbola semacam itu pasti tak ada menariknya.
Di jalan raya, keteraturan adalah [...]]]></description>
		<link>http://windede.com/2008/06/23/sesat-budaya-disiplin-kita/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Menikmati “Indonesia” yang Lain</title>
		<description><![CDATA[
SILAKAN ribut soal kenaikan harga BBM, kontroversi Ahmadiyah dan SKB menteri, atau juga FPI beserta pasukannya – dan tentu saja sang panglima yang sempat buron lalu akhirnya menyerahkan diri. Ributlah terus dan berdebatlah terus, karena ternyata tak semua orang pusing dengan hal itu.
Seperti suatu malam di sebuah sudut di kawasan Kemang, Jakarta, anak-anak muda asyik [...]]]></description>
		<link>http://windede.com/2008/06/11/menikmati-indonesia-yang-lain/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Elite</title>
		<description><![CDATA[Apa sesungguhnya yang diperbuat kaum elite, pejabat-pejabat negara, tokoh publik, dan juga orang-orang politik, bagi rakyat yang selama ini selalu mereka sebut sebagai “yang harus dilayani dan diperjuangkan”? Bukankah orang-orang sok hebat itu sebenarnya lebih sibuk dengan urusan mereka sendiri?


INI sungguh pertanyaan paling basic, di luar setumpuk pertanyaan lain terkait komitmen dan janji para penyelenggara [...]]]></description>
		<link>http://windede.com/2008/06/07/elite/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Blog Mat Kodak, Asli Punya&#8230;</title>
		<description><![CDATA[
Bermula dari SMS lucu-lucuan, lalu email cerita kocak, maka lahirlah blog baru dari tokoh yang samasekali bukan baru di dunia tulis-menulis, apalagi potret-memotret. Siapa tak kenal legenda fotografi Indonesia ini, yang popularitas nama aslinya sama dahsyat dengan nama aliasnya: Mat Kodak.
Dialah Ed Zoelverdi, pria nyentrik dengan multi talenta di bidang jurnalistik: penulis hebat, fotografer kawakan, [...]]]></description>
		<link>http://windede.com/2008/06/02/blog-mat-kodak-asli-punya/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Teori Lupa dan Adaptasi Kita</title>
		<description><![CDATA[
Banyak orang mungkin lupa, 10 tahun yang lalu, harga bensin masih Rp1.200. Seribu dua ratus rupiah, kawan. Pada masa sekarang, buat bayar ongkos parkir pun sudah nggak dapat lagi. Kalau belanja di mini market, duit segitu malah kerap dikonversi menjadi sebutir permen sebagai pengganti koin kembalian. Harga solar lebih murah lagi, hanya separonya, dan karena [...]]]></description>
		<link>http://windede.com/2008/05/23/teori-lupa-dan-adaptasi-kita/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Parade Miskin</title>
		<description><![CDATA[Inilah negeri di mana semua yang serba paradoks menjadi lazim; orang-orang hidup miskin di atas tanah mereka yang kaya. 

HARGA BBM bakal naik lagi. “Tak lebih dari 30 persen,” kata petinggi republik. Masih jauh rencana itu. Belum begitu jelas kapan bermula. Tetapi semua sudah panik begitu rupa. Pasar merespon cepat: harga-harga kebutuhan pokok melonjak, seolah [...]]]></description>
		<link>http://windede.com/2008/05/11/parade-miskin/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Bisnis Korupsi dan Komisi Sana-Sini</title>
		<description><![CDATA[
Lagi-lagi wakil rakyat. Betapa memuakkan sebenarnya membincang orang-orang politik yang kebanyakan berhati busuk itu. Mereka merebut kursi dengan jiwa serakah penuh intrik dan tipu daya. Setelah berhasil duduk, korupsinya lebih dominan dibandingkan pemenuhan kewajiban yang labelnya begitu mulia: pengabdian. 
Ah, hari gini, mengabdi untuk nusa bangsa? Kok ya kita ini masih saja percaya. Dalam balutan [...]]]></description>
		<link>http://windede.com/2008/04/11/bisnis-korupsi-dan-komisi-sana-sini/</link>
			</item>
	<item>
		<title>Fitna dan Ketololan Ketakberdayaan Kita</title>
		<description><![CDATA[
Sudah nonton film Fitna? Kalau sudah, marahlah, karena siapapun pantas marah menyaksikan film jahat yang super-tendensius itu. Tapi kalau belum, dengan alasan apa marah-marah?
Saya melihat ada gejala yang aneh, ketika virus marah-marah melanda seluruh negeri sementara sumber kemarahannya (ternyata) belum jelas benar. Orang-orang ribut dengan film dokumenter yang dibuat Geert Wilders, tetapi (lagi-lagi ternyata) belum [...]]]></description>
		<link>http://windede.com/2008/04/07/fitna-dan-ketololan-ketakberdayaan-kita/</link>
			</item>
</channel>
</rss>
