<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>Windede dot Com</title>
	<atom:link href="http://windede.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://windede.com</link>
	<description>...:::sekadar sebuah kumpulan catatan:::...</description>
	<pubDate>Fri, 02 Jan 2009 05:04:47 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Waktu Berlalu Menyisakan Bau</title>
		<link>http://windede.com/2008/12/31/waktu-berlalu-menyisakan-bau/</link>
		<comments>http://windede.com/2008/12/31/waktu-berlalu-menyisakan-bau/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 31 Dec 2008 16:59:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>windede</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[General]]></category>

		<category><![CDATA[Almanak]]></category>

		<category><![CDATA[Array]]></category>

		<category><![CDATA[Belantara]]></category>

		<category><![CDATA[Gono]]></category>

		<category><![CDATA[Heboh]]></category>

		<category><![CDATA[Hijrah]]></category>

		<category><![CDATA[Istri]]></category>

		<category><![CDATA[Jeda]]></category>

		<category><![CDATA[Jombang]]></category>

		<category><![CDATA[Kalimantan]]></category>

		<category><![CDATA[Kawin Cerai]]></category>

		<category><![CDATA[Konflik]]></category>

		<category><![CDATA[Lembar]]></category>

		<category><![CDATA[Matahari]]></category>

		<category><![CDATA[Membangun Rumah]]></category>

		<category><![CDATA[Menikmati]]></category>

		<category><![CDATA[Olimpiade]]></category>

		<category><![CDATA[Orang Minang]]></category>

		<category><![CDATA[Peradaban]]></category>

		<category><![CDATA[Rumah Idaman]]></category>

		<category><![CDATA[Selamat Tahun Baru]]></category>

		<category><![CDATA[tahun baru]]></category>

		<category><![CDATA[Tahun Hijrah]]></category>

		<category><![CDATA[Warna]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://windede.com/?p=344</guid>
		<description><![CDATA[AKHIRNYA, tibalah pengujung tahun 2008. Seperti angin, waktu berlalu menyisakan bau. Apa yang masih terbaui dari 365 hari perjalanan hidupmu sepanjang tahun ini?
Politik dan ekonomi jadi tema utama 2008, meski juga diselingi sesekali urusan olahraga seperti PON dan Olimpiade, yang cukup menjadi jeda keruwetan informasi. Kriminal tingkat tinggi seperti kasus Ryan Jombang, heboh artis yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="" src="http://www.wondercliparts.com/holidays/new_year/graphics/new_year_graphics_a1.gif" title="Tahun Baru" class="alignleft" width="320" height="320" />AKHIRNYA, tibalah pengujung tahun 2008. Seperti angin, waktu berlalu menyisakan bau. Apa yang masih terbaui dari 365 hari perjalanan hidupmu sepanjang tahun ini?</p>
<p>Politik dan ekonomi jadi tema utama 2008, meski juga diselingi sesekali urusan olahraga seperti PON dan Olimpiade, yang cukup menjadi jeda keruwetan informasi. Kriminal tingkat tinggi seperti kasus Ryan Jombang, heboh artis yang masih soal kawin-cerai dan harta gono-gini, juga perdebatan agama dan konflik wilayah yang tak kunjung usai. </p>
<p>Bagi saya pribadi, inilah tahun penuh penentuan, baik bagi hidup saat ini maupun masa depan. Inilah tahun hijrah dari kampung di Kalimantan ke belantara kota Jakarta. Inilah pula momen penanda menjadi kepala keluarga sesungguhnya: pelan-pelan membangun rumah idaman untuk anak-istri, setelah 12 tahun bekerja dan separo di antaranya hidup bersama keluarga di rumah kontrakan jatah kantor &#8212; kalau yang separo lagi di awal-awal kerja tak perlu dihitung, karena masih bujang.</p>
<p>Pergantian tahun memang hanyalah matematika almanak di mana setiap lembar kalender kemarin harus diganti kalender baru. Matahari yang terbit 2009 masih matahari yang itu-itu juga. Pagi, siang, sore, malam, masihlah juga seperti yang sudah-sudah. Seorang kawan orang Minang malah bilang: ayam berkokok atau tidak berkokok, matahari tetap akan terbit. Jadi, tahun berganti atau tidak, hidup memang harus dijalani.</p>
<p>Selamat tahun baru, selamat menikmati dunia dan peradaban yang semakin penuh warna. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://windede.com/2008/12/31/waktu-berlalu-menyisakan-bau/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Google Translate, Lagi-lagi Google</title>
		<link>http://windede.com/2008/11/26/google-translate-lagi-lagi-google/</link>
		<comments>http://windede.com/2008/11/26/google-translate-lagi-lagi-google/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Nov 2008 10:11:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>windede</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog Vaganza]]></category>

		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>

		<category><![CDATA[Asyik]]></category>

		<category><![CDATA[Bahasa Arab]]></category>

		<category><![CDATA[Copy Paste]]></category>

		<category><![CDATA[Ganda]]></category>

		<category><![CDATA[Google]]></category>

		<category><![CDATA[Hasil]]></category>

		<category><![CDATA[Ilmu Pengetahuan]]></category>

		<category><![CDATA[Kadang Kadang]]></category>

		<category><![CDATA[Malah]]></category>

		<category><![CDATA[Mesin]]></category>

		<category><![CDATA[Penerjemah]]></category>

		<category><![CDATA[Penerjemahan]]></category>

		<category><![CDATA[Pengguna Internet]]></category>

		<category><![CDATA[Pengguna Komputer]]></category>

		<category><![CDATA[Rujukan]]></category>

		<category><![CDATA[Saking]]></category>

		<category><![CDATA[Selama]]></category>

		<category><![CDATA[Senang]]></category>

		<category><![CDATA[Suka]]></category>

		<category><![CDATA[Transtool]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://windede.com/?p=315</guid>
		<description><![CDATA[
Kemajuan ilmu pengetahuan tak hanya membuat manusia hidup dalam kemudahan, tetapi juga (cenderung) menjadi malas. 
Dan, Google menambah “kemalasan” para pengguna internet dengan fitur baru; web terjemahan bahasa, Google Translate. Cukup ketik alamat web yang dituju, tak peduli bahasa apa aslinya web itu, bisa dibaca dengan bahasa apa yang kita suka. 
Selama ini pengguna komputer [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="" src="http://img.photobucket.com/albums/v413/windede/gog3.jpg" title="Tampilan halaman Google Translate" class="alignnone" width="442" height="273" /></p>
<p><em>Kemajuan ilmu pengetahuan tak hanya membuat manusia hidup dalam kemudahan, tetapi juga (cenderung) menjadi malas. </em></p>
<p>Dan, Google menambah “kemalasan” para pengguna internet dengan fitur baru; web terjemahan bahasa, <a href="http://translate.google.com">Google Translate</a>. Cukup ketik alamat web yang dituju, tak peduli bahasa apa aslinya web itu, bisa dibaca dengan bahasa apa yang kita suka. </p>
<p>Selama ini pengguna komputer mengenal Transtool, aplikasi penerjemah yang lazim dipakai sebagai mesin pembantu penerjemahan. Harus copy-paste teks yang hendak diterjemahkan ke aplikasi ini untuk memperoleh hasilnya. Itupun dengan hasil terjemahan yang super-berantakan. Kadang-kadang malah tak bisa dipakai jadi rujukan, saking melencengnya.</p>
<p>Hasil terjemahan Google Translate juga tidak (belum) sempurna. Maklum, sepandai-pandai mesin bekerja, ia tetaplah mesin. Tidak punya “rasa bahasa” samasekali. Untuk kosakata yang tidak standar, si mesin akan menyerah dan tetap menampilkan sebagaimana aslinya. Sementara kata dengan arti ganda bisa menghasilkan terjemahan yang multitafsir pula. Tetapi yang istimewa adalah Google Translate bisa menerjemahkan langsung sebuah web tanpa harus kita copy-paste teks-nya. Si mesin dengan otomatis men-<em>translate</em> seluruh teks di dalam web sehingga blog berbahasa Indonesia bisa menjadi blog berbahasa Inggris dibuatnya.</p>
<p><img alt="" src="http://img.photobucket.com/albums/v413/windede/gog2.jpg" title="Blog windede dalam bahasa Arab hehehe..." class="alignleft" width="200" height="592" />Untuk sekadar bersenang-senang mesin ini juga asyik. Tengoklah bagaimana jadinya blog Anda bila tampil dalam bahasa Arab, China atau Rusia. Atau betapa sok pandainya kita ketika di waktu senggang asyik membaca-baca web berbahasa asing, tanpa harus dipusingkan dengan keasingan bahasa itu karena sang penerjemah ajaib menampilkannya di hadapan kita dengan bahasa yang kita mengerti. </p>
<p>Inilah dahsyatnya ilmu pengetahuan. Penemuan-penemuan teknologi terbaru kerap melampaui akal manusia kebanyakan. Di bidang apapun dan di tengah ketidakmungkinan seperti apapun. Siapa menyangka hari ini kita bisa ngobrol dengan sesama manusia di belahan bumi mana saja, <em>realtime </em>tanpa jeda. Sesuatu yang dulu dimimpikan pun tidak oleh manusia dengan peradaban berkirim surat lewat bantuan burung merpati. </p>
<p>Siapa mengira hari ini kita bisa pergi ke pulau terjauh hanya dalam hitungan jam, menembus batas negara dan perbedaan waktu, jauh lebih cepat dari apa yang pernah dilakoni manusia yang pada peradabannya dulu telah menganggap istimewa bepergian dengan kereta kuda.</p>
<p>Hidup memang jadi lebih mudah, meski dalam beberapa hal membuat kita menjadi malas. Untuk apa repot menerjemahkan kata demi kata, kalau ada mesin yang bisa mengerjakannya dalam hitungan satu kali klik, dan kita tinggal merapikan sedikit di beberapa bagian bila memerlukannya.</p>
<p>Dulu, untuk janji bertemu kawan, kita bisa bikin appointment yang detil, di mana bertemu, jam berapa dan menit ke berapa, lalu demi tepat waktu tiba di tempat yang disepakati sepuluh menit sebelumnya. Sekarang, meski sudah janjian, kita masih sibuk pakai SMS; “di mana posisi?”, lalu si kawan menjawab, “masih otw,” dan kita dengan sok kelebihan pulsa menjawab lagi, “ok deh…”</p>
<p>Di awal-awal mengenal internet, saya bangga sekali bisa berselancar dengan modem besar men-dial up nomor ISP dari komputer kantor. Karena di satu kantor dengan penghuni lebih dari 20 orang hanya ada satu komputer yang berfasilitas modem, maka aktivitas browsing dan berkirim-kirim email harus dilakukan bergantian. Itupun setelah semua urusan kantor yang berhubungan dengan internet selesai.</p>
<p>Sekarang, bukan saja tak pernah lagi bersentuhan dengan komputer desktop (PC), laptop pun sudah lebih sering tersimpan di <em>backpack </em>karena semua kebutuhan berinternet sudah terpenuhi oleh gadget di genggaman tangan – yang lantas menghasilkan kemalasan lain lagi: malas meng-update blog ini karena malas buka laptop, dan lebih gemar ber-<em>mobile blogging</em> dengan posting cukup satu dua kalimat pendek. </p>
<p><img alt="" src="http://img.photobucket.com/albums/v413/windede/gog.jpg" title="Windede dot Com dalam bahasa Mandarin. " class="alignnone" width="442" height="232" /></p>
<p>Google, ya, lagi-lagi Google. Raksasa internet dari Sillicon Valey ini benar-benar menguasai sebagian besar hidup masyarakat dunia di jagat maya. Boleh periksa fitur apa yang Anda perlu, semua tersedia. Hanya dengan satu ID kita bisa menikmati semua layanan gratis: google earth, google desktop, google hosted, google doc, google calendar, dan perangkat kerja lengkap di google apps. Mau koleksi foto? Google punya Picasa. Mau beriklan atau cari duit dari iklan? Ada google ads. Mau email tanpa batas? Ada google mail. Ah, jadi seperti promosi google nih. Pendek cerita, inilah zaman baru peradaban manusia, di mana segala hal jadi lebih mudah. </p>
<p>Masalahnya, apa dengan segala macam kemudahan era modern ini hidup komuni manusia menjadi lebih baik? Mudah-mudahan saja. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://windede.com/2008/11/26/google-translate-lagi-lagi-google/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Menyepi di Tengah Hiruk-pikuk</title>
		<link>http://windede.com/2008/10/24/menyepi-di-tengah-hiruk-pikuk/</link>
		<comments>http://windede.com/2008/10/24/menyepi-di-tengah-hiruk-pikuk/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Oct 2008 09:00:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>windede</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Blog Vaganza]]></category>

		<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<category><![CDATA[Asyik]]></category>

		<category><![CDATA[Buntu]]></category>

		<category><![CDATA[Cerdas]]></category>

		<category><![CDATA[Gondrong]]></category>

		<category><![CDATA[Iya]]></category>

		<category><![CDATA[Kalah]]></category>

		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<category><![CDATA[Lantas]]></category>

		<category><![CDATA[Larut]]></category>

		<category><![CDATA[Otak]]></category>

		<category><![CDATA[Pekerjaan]]></category>

		<category><![CDATA[Puasa]]></category>

		<category><![CDATA[Rambut]]></category>

		<category><![CDATA[Safa]]></category>

		<category><![CDATA[Saja]]></category>

		<category><![CDATA[Saya]]></category>

		<category><![CDATA[Sering]]></category>

		<category><![CDATA[Tiba]]></category>

		<category><![CDATA[Tidur]]></category>

		<category><![CDATA[Urusan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://windede.com/?p=303</guid>
		<description><![CDATA[
KOK menghilang, ke mana saja? Seorang kawan, tiba-tiba, mengingatkan saya betapa sudah cukup lama blog ini tak tersentuh. Sesekali masih saya kunjungi, tetapi lebih sering tidak. Sibuk? Mungkin iya. Lebih tepatnya sok sibuk.
Beberapa waktu belakangan saya memang larut dalam pekerjaan baru di Jakarta, lantas setiap lepas semua urusan pekerjaan itu, menghabiskan waktu di rumah saja [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="" src="http://www.windede.com/images/fafif.jpg" title="Safa dan Afif" class="alignnone" width="442" height="210" /></p>
<p><strong>KOK</strong> menghilang, ke mana saja? Seorang kawan, tiba-tiba, mengingatkan saya betapa sudah cukup lama blog ini tak tersentuh. Sesekali masih saya kunjungi, tetapi lebih sering tidak. Sibuk? Mungkin iya. Lebih tepatnya sok sibuk.</p>
<p>Beberapa waktu belakangan saya memang larut dalam pekerjaan baru di Jakarta, lantas setiap lepas semua urusan pekerjaan itu, menghabiskan waktu di rumah saja bersama keluarga. Selama Ramadan lalu saja nyaris sebulan penuh berbuka puasa bersama keluarga. Seingat saya hanya dua kali buka puasa di luar, itupun untuk sebuah undangan yang tak mungkin tak dihadiri. Selebihnya, saya benar-benar jadi orang rumahan. </p>
<p>Mestinya, dengan lebih banyak ngendon di rumah justru membuat aktivitas menulis di blog jadi lebih produktif. Tetapi entah kenapa itu tak terjadi. Selain membaca buku (duh, rasanya akhir-akhir ini puas sekali baca buku tiap hari), waktu memang dihabiskan untuk bercengkerama bersama istri dan anak-anak. Dan, tidur tentu saja hehehe. Padahal koneksi internet tersedia 24 jam. Di kantor, di rumah, juga di jalan. Mungkin ini yang disebut sindrom kemalasan. Untuk tak menyebutnya sebagai bosan.</p>
<p>Bosan ngeblog? Ah mestinya sih tak boleh terjadi. Tapi siapapun yang berurusan dengan makhluk bernama blog pasti pernah masuk dalam siklus kemalasan itu. Saya saja sudah merasakannya berkali-kali. Kelewat sering malah. </p>
<p>Memang ada sesuatu yang hilang. Karena sebulan lebih tidak menulis, otak jadi rada buntu juga hahaha. Makanya, posting kali ini biarlah yang ringan-ringan saja. Mungkin tentang anak-anak saya yang sekarang tumbuh besar dan semakin asyik dengan dunianya.</p>
<p><img alt="" src="http://www.windede.com/images/fafif3.jpg" title="Safa dan Afif naik kuda di Lembang, Bandung. " class="alignnone" width="442" height="313" /></p>
<p>Safa, si sulung, makin cerdas saja. Sudah pandai membaca dan berhitung. Juga menggambar, dan tentu saja main games. Sayang umurnya yang baru 5 tahun pada periode ajaran baru lalu membuat dia ditolak masuk SD. Rambut Safa baru saja dipotong pendek, setelah 5 tahun dibiarkan gondrong. Lucu juga karena terbiasa melihat dia berambut panjang. </p>
<p>Afif, anak saya yang nomor dua, tak kalah pandai. Membaca dan behitungnya semakin lancar. Juga mengaji. Afif sudah Iqro 3 dan Safa sudah Iqro 4. Si ganteng ini gemar sekali menyanyi. Mamanya bilang mungkin bakat artis abahnya yang tak kesampaian menurun ke dia hahaha. Syukurlah kalau begitu, karena bakat si abah sebenarnya masih dan terus ada, hanya tak tersalur saja. </p>
<p><img alt="" src="http://www.windede.com/images/alvar.jpg" title="Juve Alvaro, jagoan paling bungsu. " class="alignleft" width="200" height="317" />Si bungsu, Alva, sudah 11 bulan sekarang. Sebentar lagi ultah pertama. Giginya sudah 5, mulai belajar jalan dan ngocehnya bikin rumah tak pernah sepi. Kalau sudah main, dua abangnya jadi bulan-bulanan, dan, hebatnya, si abang mau saja. Seolah mengerti bahwa Alva masih bayi. </p>
<p>Bayangkanlah sekarang. Betapa ramai rumah kami. Tiga jagoan itu sungguh membuat hiruk-pikuk Jakarta tak menggoda saya untuk sering-sering keluar rumah. Apalagi, karena belum cukup sering beredar di jagat pergaulan orang kota, saya memang belum punya banyak kawan di metropolitan ini. Beda sekali dengan kehidupan saat di Banjarmasin atau Balikpapan, di mana tiada hari tanpa gaul dengan kawan-kawan. Lucunya, sekarang saya lebih sering keluar rumah justru kalau kawan-kawan dari Banjarmasin atau Balikpapan itu berkunjung ke Jakarta.</p>
<p>Selebihnya, hanya menikmati obrolan dengan blogger yang saya kenal. Sesekali ketemu <a href="http://www.pakde.com">pakde</a>, <a href="http://www.blogombal.org">paman</a>, atau <a href="http://www.edzoelverdi.com">babeh</a>. Itu pun belum tentu sebulan sekali, karena orang-orang yang saya sebut itu juga bukan sembarang orang yang bisa diajak nongkrong sewaktu-waktu. Harus atur waktu agar dapat jatah ketemu di tengah kesibukan mereka yang bejibun itu. </p>
<p>Yeah, hidup memang tidak selalu harus hiruk-pikuk, bukan?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://windede.com/2008/10/24/menyepi-di-tengah-hiruk-pikuk/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Ritual Bulan Suci</title>
		<link>http://windede.com/2008/09/05/ritual-bulan-suci/</link>
		<comments>http://windede.com/2008/09/05/ritual-bulan-suci/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Sep 2008 05:42:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>windede</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Esai]]></category>

		<category><![CDATA[Absen]]></category>

		<category><![CDATA[Bibit]]></category>

		<category><![CDATA[Daya]]></category>

		<category><![CDATA[Entah]]></category>

		<category><![CDATA[Karena]]></category>

		<category><![CDATA[Kejahatan]]></category>

		<category><![CDATA[korupsi]]></category>

		<category><![CDATA[Lantas]]></category>

		<category><![CDATA[Lolos]]></category>

		<category><![CDATA[Malaikat]]></category>

		<category><![CDATA[Munajat]]></category>

		<category><![CDATA[Pahala]]></category>

		<category><![CDATA[Pembunuhan]]></category>

		<category><![CDATA[Pintu]]></category>

		<category><![CDATA[Razia]]></category>

		<category><![CDATA[Saja]]></category>

		<category><![CDATA[Sembunyi]]></category>

		<category><![CDATA[Setan]]></category>

		<category><![CDATA[Surga]]></category>

		<category><![CDATA[Tiba]]></category>

		<category><![CDATA[Tipu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://windede.com/2007/09/19/ritual-bulan-suci/</guid>
		<description><![CDATA[ 
RAMADAN tiba. Bulan di mana segala berkah dilimpahkan bersama pintu-pintu surga yang dibuka, pahala dilipatgandakan, kebaikan-kebaikan tercurah dan kejahatan dihalang-halangi. Inilah bulan di mana malaikat-malaikat berdatangan lebih banyak, mendekat di sekeliling kita, mengamini setiap munajat dan doa, menjaminkan ijabah bagi segala nazar dan asa. 
Di saat komuni setan-iblis tak berdaya karena terbelenggu dalam kerangkeng, lantas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> <img width="442" src="http://img.photobucket.com/albums/v413/windede/puasa.jpg" alt="Foto: Tahrir/Kaltim Post" height="244" title="Foto: Tahrir/Kaltim Post" /></p>
<p><strong>RAMADAN </strong>tiba. Bulan di mana segala berkah dilimpahkan bersama pintu-pintu surga yang dibuka, pahala dilipatgandakan, kebaikan-kebaikan tercurah dan kejahatan dihalang-halangi. Inilah bulan di mana malaikat-malaikat berdatangan lebih banyak, mendekat di sekeliling kita, mengamini setiap munajat dan doa, menjaminkan ijabah bagi segala nazar dan asa. </p>
<p>Di saat komuni setan-iblis tak berdaya karena terbelenggu dalam kerangkeng, lantas absen mengganggu hidup manusia, bisakah kita berderap tegap pada jalan yang benar, setidaknya untuk sebulan ini saja? <em>Wallahu’alam</em>. Jangan-jangan masih saja ada bibit kejahatan yang tersisa, dan itu ternyata bukan disebabkan oleh godaan setan-iblis, melainkan justru datang dari bakat “kesetaniblisan” diri kita sendiri. <span id="more-223"></span></p>
<p>Sebuah berita mengundang tawa. Dalam tayangan kriminal televisi swasta, seorang tersangka pembunuhan membela diri di hadapan polisi. Dia bilang, pembunuhan itu memang benar terjadi. Tetapi spontan dan di luar kendali kesadaran. “Saya seperti kerasukan iblis.”</p>
<p>Berita lain tak kalah uniknya. Seorang tersangka pencabulan anak di bawah umur, menyebut perbuatannya itu dia lakukan karena godaan si setan laknat bin terkutuk. “Saya khilaf. Terlalu mudah mengikuti rayuan setan.” Duh, andai saja bisa diberi hak jawab, mungkin si setan akan berkata dengan lantang; “kamu yang cabul kok aku yang disalahkan.”</p>
<p>Sekarang Ramadan. Meski ada jaminan setan-iblis dibelenggu, kriminal tetap merajalela. Kejahatan masih saja terjadi. Televisi dan koran-koran seperti tak kehabisan bahan menayangkan berita jenis ini. Tentu saja juga korupsi, kebohongan-kebohongan, kemunafikan dan tipu-daya.</p>
<p>Bisa jadi memang ada setan-iblis yang “lolos” saat “razia” menjelang Ramadan, entah sembunyi ketika mau dimasukkan kerangkeng atau melarikan diri setelahnya. Tetapi kemungkinan terbesarnya adalah ini; manusia diberi hati dan pikiran, di mana menjadi baik atau buruk adalah pilihan. Tak peduli bulan apa pun juga, sebab iblis dan setan sebenarnya provokator saja.</p>
<p align="center">***</p>
<p>Di saat pelajaran paling berharga dalam ibadah puasa adalah menahan hawa nafsu, kita justru disuguhi pemandangan sebaliknya; dibandingkan hari biasa, Ramadan mengundang lebih banyak orang memadati pasar, mal dan plaza, berbelanja macam-macam kebutuhan, memborong bertroli-troli barang dan menghabiskan bergepok uang. Haruskah, untuk urusan semacam ini, kita lagi-lagi menyalahkan setan?</p>
<p>Peradaban membuat manusia menjadi semakin konsumtif. Ukuran kekhusyukan ibadah puasa bukan lagi pada seberapa seseorang bersikap prihatin dan meresapi makna lapar-dahaga, sebagai bentuk solidaritas atas betapa banyak orang di tempat lain harus berpuasa sepanjang tahun karena dibelit kemiskinan, tetapi malah pada kualitas menu sahur dan varian makanan di waktu berbuka.</p>
<p>Itu lantas membuat puasa menjadi semacam wisata kuliner dalam bentuknya yang lain. Perubahan siklus makan harian dari pagi-siang-malam menjadi dini hari dan petang. Kualitas makanan harus ditingkatkan sebab kuantitasnya berkurang. Dan itu berarti tambahan anggaran belanja rumah tangga, karena di saat berbuka harus ada dua-tiga jenis kudapan, sepoci teh hangat, segelas es campur, dawet atau kopyor, juga sekeranjang buah-buahan – sesuatu yang pada hari-hari biasa kerap tak terlalu dirisaukan.</p>
<p>Repotnya, di tengah konsumsi dan belanja yang meningkat berlipat-lipat itu, produktivitas justru menurun. Jam kerja pegawai negeri dikurangi, dengan alasan butuh waktu untuk menyiapkan saat berbuka puasa, seperti halnya perlu bangun lebih telat karena sahur dan salat subuh telah memotong jatah istirahat. Hidup seolah berubah. Banyak orang menjadi manja – tentu untuk menghindar menyebutnya menjadi malas.</p>
<p>Masjid-masjid penuh orang tidur selepas zuhur. Bangun ketika azan asar mengumandang, salat berjamaah, lantas tidur lagi sampai menjelang berbuka. Meski tidurnya orang berpuasa adalah ibadah, ada pahala yang lebih besar lagi, tentu saja, bagi orang-orang yang tetap beraktivitas memakmurkan bumi di tengah shaum-nya yang suci.</p>
<p>Gang-gang permukiman dipadati cengkerama bocah-bocah bermain petasan. Remaja-remaja sibuk dengan permainan kekanak hingga menjelang tengah malam. Maklum besok jam masuk sekolah ditoleransi molor hingga satu jam. Pemuda-pemuda nongkrong main kartu sambil menunggu sahur. Sebagian yang lain menunggang motor kebut-kebutan di jalanan.</p>
<p align="center">***</p>
<p>Ramadan, pada akhirnya, juga menjustifikasi sebuah kebijakan aneh pemerintah kita. Inilah saat di mana tempat-tempat hiburan malam harus berhenti beroperasi. Tutup pintu bagi tamu atas nama apa yang disebut sebagai “menghormati orang yang melaksanakan ibadah puasa”. Tempat-tempat itu dicap sebagai tak layak, berbau maksiat dan harus dihentikan untuk sementara. Nanti, setelah Ramadan lewat dan para pendoa berharap kembali menjadi fitrah sesuci bayi, bau maksiat ini dipersilakan ditebar lagi.</p>
<p>Lalu di mana logikanya? Bukankah maksiat tetap saja maksiat, entah Ramadan atau bukan! Betapa lucunya pemerintah kita membuat kebijakan izin beroperasi bagi hiburan malam di 11 bulan dalam setahun dan menutupnya satu bulan selama Ramadan. Apakah karena 11 bulan yang lain itu bukan bulan suci, lantas tempat maksiat dipersilakan beroperasi?</p>
<p>Padahal, kalau dipikir-pikir, justru di saat Ramadan inilah seharusnya tempat hiburan malam, yang disebut berbau maksiat itu, dibiarkan buka. Kalau perlu malah dibuka selebar-lebarnya. Sekadar untuk memastikan bahwa apabila ada manusia yang dugem ke sana, mereka datang bukan karena godaan iblis atau setan. Mereka datang atas kemauan pribadi dan godaan diri sendiri. Sebab iblis dan setan kan sedang terbelenggu dalam kerangkeng <em>hehehe</em>.</p>
<p>Yang jadi soal bukanlah kebijakan menutup tempat hiburan malam di saat Ramadan. Tetapi kebijakan membiarkannya buka di saat bukan Ramadan. Kalau tempat-tempat itu diyakini berbau maksiat, apa pemerintah memang hanya ingin menyelamatkan warganya dari perbuatan dosa di saat Ramadan saja? Lantas membiarkan maksiat merajalela di 11 bulan berikutnya? Memangnya, larangan berbuat maksiat hanya ketika Ramadan, sehingga selepas bulan suci, hawa nafsu boleh diumbar lagi?</p>
<p>Sikap manusia memang kerap unik. Selama puasa, dalam perbincangan sehari-hari, sering kita dengar ungkapan, misalnya, “nggak boleh bohong ya, lagi puasa kan?”. Atau sebuah iklan televisi di mana seorang anak kecil berkata pada ibunya; “Mama, orang puasa kan harus sabar ya, Ma.” Padahal, puasa atau tidak puasa, kita tetap saja tak boleh bohong. Puasa atau tidak puasa, kita ya mesti sabar.</p>
<p align="center">***</p>
<p>Ramadan berulang setiap tahun bersama macam-macam keunikan. Orang-orang mendadak gemar makan <em>wadai </em>(kue/kudapan) dan pasar <em>wadai </em>pun bertebaran di setiap sudut kota. Masjid-masjid dan musala tiba-tiba penuh dengan jamaah meskipun biasanya hanya di awal-awal dan dijamin terus berkurang menjelang lebaran. Anak-anak yatim kebanjiran hadiah dan panti-panti asuhan kewalahan menerima order acara buka puasa bersama. Ustaz-ustaz sibuk memenuhi undangan mengisi kultum di kampung-kampung.</p>
<p>Para politikus menggelar acara di sekretariat partai, berbagi takjil dan makanan buka puasa sembari menitip pesan-pesan politik. Pejabat-pejabat <em>roadshow </em>safari Ramadan hingga ke pelosok-pelosok dengan senyum dibuat-buat seolah bebas masalah dan ahli ibadah. Para saudagar kaya bikin acara buka puasa di <em>ballroom </em>hotel yang suasananya lebih mirip pesta makan malam bertitel gala dinner.</p>
<p>Tempat-tempat belanja menabur diskon gede-gedean. Jauh sebelum Lebaran, iming-iming harga murah membuat banyak yang <em>ngiler </em>lantas mengutang dengan harapan dua pekan ke depan bisa dibayar dengan jatah THR. Kampanye produk menghubungkan semua promosi dengan keajaiban puasa; iklan-iklan televisi, reklame-reklame di jalan raya dan brosur-brosur penganjur hedonisme yang tercecer di depan rumah-rumah kita.</p>
<p>Ramadan akhirnya disambut bukan saja sebagai bulan penuh magfirah, tetapi juga ritual yang tak melulu berhubungan dengan religi; ada kepentingan politik, juga bisnis, yang bagi banyak pihak justru semakin membuktikan bahwa sang <em>holy month</em> memang benar-benar penuh berkah.</p>
<p>Selamat menikmati indahnya puasa. Selamat berjuang menuju fitrah. Maaf lahir batin. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://windede.com/2008/09/05/ritual-bulan-suci/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sedia, Toilet Khusus Waria</title>
		<link>http://windede.com/2008/09/02/ramai-operasi-kelamin-ada-toilet-khusus-waria/</link>
		<comments>http://windede.com/2008/09/02/ramai-operasi-kelamin-ada-toilet-khusus-waria/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Sep 2008 05:24:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>windede</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Manusia]]></category>

		<category><![CDATA[Ada Toilet]]></category>

		<category><![CDATA[Aduhai]]></category>

		<category><![CDATA[Banci]]></category>

		<category><![CDATA[Fajar]]></category>

		<category><![CDATA[Fitri]]></category>

		<category><![CDATA[Gajah]]></category>

		<category><![CDATA[Kasat]]></category>

		<category><![CDATA[Khas]]></category>

		<category><![CDATA[Langsing Bergaya]]></category>

		<category><![CDATA[Mana Mana]]></category>

		<category><![CDATA[Miss Tiffany]]></category>

		<category><![CDATA[Mr Wei]]></category>

		<category><![CDATA[Nasihat]]></category>

		<category><![CDATA[Operasi Kelamin]]></category>

		<category><![CDATA[Pekan]]></category>

		<category><![CDATA[Penampilan]]></category>

		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>

		<category><![CDATA[Ratu Waria]]></category>

		<category><![CDATA[Sosok]]></category>

		<category><![CDATA[Tebak]]></category>

		<category><![CDATA[Transeksual]]></category>

		<category><![CDATA[Wanita Cantik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://windede.com/?p=293</guid>
		<description><![CDATA[
Transeksual menjadi isu penting di Thailand. Jumlah orang dengan problem identitas kelamin terus meningkat. Inilah bangsa di mana kaum waria mendapat tempat istimewa, sampai-sampai ajang Miss Tiffany Universe (Ratu Waria Sejagat) digelar rutin setiap tahun di Negeri Gajah Putih. 
SELALU ada nasihat agar berhati-hati bila melihat wanita cantik di Bangkok atau Pattaya. Sebab kita bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="" src="http://www.windede.com/images/cong1.jpg" title="Gaya waria di Pattaya, tampak belakang." class="alignnone" width="442" height="223" /></p>
<p><em>Transeksual menjadi isu penting di Thailand. Jumlah orang dengan problem identitas kelamin terus meningkat. Inilah bangsa di mana kaum waria mendapat tempat istimewa, sampai-sampai ajang Miss Tiffany Universe (Ratu Waria Sejagat) digelar rutin setiap tahun di Negeri Gajah Putih. </em></p>
<p><strong>SELALU </strong>ada nasihat agar berhati-hati bila melihat wanita cantik di Bangkok atau Pattaya. Sebab kita bisa tertipu, yang cantik itu ternyata wanita palsu. Di Thailand, waria memang ada di mana-mana, rata-rata cantik dan bertubuh aduhai; putih bersih, langsing, bergaya kemayu dan suaranya menyerupai wanita sungguhan. <span id="more-293"></span></p>
<p>Selama trip di Bangkok dan Pattaya pekan lalu itu, saya bersama kawan seperjalanan, Ogi Fajar Nuzuli dan Fitri Zamzam sering main tebak-tebakan. “Asli atau palsu…,” kata Dewa, sapaan akrab Fitri Zamzam, di saat sesosok bertubuh gemulai lewat di hadapan kami. </p>
<p>“Palsu…” kata saya.</p>
<p>“Belum tentu,” seloroh Ogi. Biasanya, setelah itu, kami lalu tertawa bersama.</p>
<p>Mengenakan gaun terusan warna terang pas badan, pendek sebatas paha dan seksi memperlihatkan tonjolan yang penuh di bagian dada, sosok itu secara kasat mata adalah wanita. Semua syarat untuk disebut perempuan telah terpenuhi; caranya berjalan, bentuk lekuk tubuh, dan suaranya. Tetapi… “Itu banci. Pasti banci…,” kata Mr. Wei, sopir mobil carteran yang menemani kami. </p>
<p><img alt="" src="http://www.windede.com/images/cong2.jpg" title="Foto candid waria di Pattaya." class="alignleft" width="200" height="338" />Begitu sering melihat orang dengan penampilan semacam ini, kami bahkan hampir sampai pada kesimpulan, bahwa semakin cantik dan seksi, semakin patut dicurigai orang itu adalah waria. Sebab kebanyakan wanita Thailand (yang asli) justru tampak innocent, bentuk wajah dan air mukanya natural, khas Asia. Cara paling mudah membedakan waria dengan wanita adalah gaya kemayu waria biasanya berlebihan. </p>
<p>Waria memang mendapat tempat istimewa di Thailand. Di lingkungan pekerjaan pun, mereka sering memperoleh posisi kelas satu. Di sebuah restoran seafood di pinggir pantai Pattaya, misalnya, kami mendapati kenyataan bahwa para waria berada di garda depan pelayanan tamu. Mereka bertugas membawa daftar menu, mencatat pesanan, menuangkan air mineral ke gelas, lalu bertanya apakah masih ada pesanan yang kurang. </p>
<p>Urusan membawa nampan berisi makanan dilakukan oleh pegawai pria. Koki-koki di dapur pun pria. Nah, selesai makan, barulah pegawai wanita datang. Kaum hawa kebagian tugas merapikan piring-piring kotor dan membersihkan meja. Juga mengepel lantai yang tercecer kuah atau cairan bekas makanan. Pegawai waria datang kembali setelah itu, membawakan kertas tagihan dengan senyum yang khas, membereskan pembayaran dan menyerahkan uang kembalian, lalu melepas tamu di depan pintu dengan mengatakan “sawasdee…”, ucapan salam khas Thailand. </p>
<p>Kaum waria juga tampil dalam atraksi-atraksi hiburan yang populer, semacam kabaret dan opera, yang digelar setiap malam di banyak tempat di Bangkok dan Pattaya. Kami tak sempat menyaksikan salah satunya, tetapi dari brosur-brosur dan tawaran yang kami terima, memang kabaret seperti Alcazar Show di Pattaya diperankan oleh para waria. Mereka menyanyi, menari, dan bermain drama. </p>
<p>Kebebasan memilih orientasi seksual membuat praktik operasi kelamin ramai di Thailand. Departemen Kesehatan negeri itu sampai kewalahan membendung animo masyarakat yang hendak ganti kelamin, operasi organ tubuh agar dari maskulin menjadi feminin. Hingga akhirnya baru-baru ini dikeluarkan peraturan bahwa praktik operasi kelamin dilarang bagi siapapun yang hendak melakukannya, bila tak ada alasan kesehatan dan psikologis yang memadai. Artinya, perlu serangkaian tes kesehatan, juga tes psikologis, bahwa operasi kelamin itu memang menjadi satu-satunya pilihan bagi masa depan orang yang hendak operasi.</p>
<p><img alt="" src="http://www.windede.com/images/cong3.jpg" title="Waria jadi pekerja utama, yang wanita tukang bersih-bersih." class="alignnone" width="442" height="216" /></p>
<p>Mengingat banyaknya problem transeksual semacam ini, di sejumlah area publik akhirnya disediakan toilet khusus waria. Termasuk di gedung-gedung sekolah dan universitas. Ini masuk akal mengingat kaum waria merasa tidak nyaman bila harus masuk toilet pria, yang biasanya berisi jejeran urinoir di mana orang bisa buang air bersebelahan tempat, tetapi juga sekaligus tidak leluasa masuk toilet wanita karena betapapun secara genital organ mereka adalah pria. </p>
<p>Sayangnya kami tak sempat menjumpai satu pun toilet waria ini, sekadar hendak tahu kira-kira bagaimana pengelola gedung menggambarkan ikon waria, karena selama ini yang lazim ada hanya ikon orang pakai rok untuk menandai toilet wanita, dan ikon orang bertopi untuk menandai toilet pria. Kami juga tak bisa memastikan apakah yang disediakan di dalam toilet waria tersebut adalah urinoir atau kloset duduk. </p>
<p>“Sepertinya Ryan Jombang akan betah kalau tinggal di Thailand,” celetuk Ogi, menyebut nama tersangka pembunuhan berantai asal Jombang yang sedang jadi berita hangat di media-media Indonesia saat ini. Kami tertawa sekaligus miris, mengingat isu transeksual di negara kita ternyata juga masih jadi problem serius yang belum ada jalan keluarnya. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://windede.com/2008/09/02/ramai-operasi-kelamin-ada-toilet-khusus-waria/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Gajah Berpakaian, Cewek Telanjang</title>
		<link>http://windede.com/2008/08/25/gajah-berpakaian-cewek-telanjang/</link>
		<comments>http://windede.com/2008/08/25/gajah-berpakaian-cewek-telanjang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Aug 2008 06:58:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>windede</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<category><![CDATA[Agama Buddha]]></category>

		<category><![CDATA[Cewek Telanjang]]></category>

		<category><![CDATA[Cocok]]></category>

		<category><![CDATA[Fajar]]></category>

		<category><![CDATA[Fitri]]></category>

		<category><![CDATA[Gajah]]></category>

		<category><![CDATA[Hiburan Malam]]></category>

		<category><![CDATA[Istana]]></category>

		<category><![CDATA[Kuil]]></category>

		<category><![CDATA[Niat]]></category>

		<category><![CDATA[Patung Buddha]]></category>

		<category><![CDATA[Posisi]]></category>

		<category><![CDATA[Reclining Buddha]]></category>

		<category><![CDATA[Religius]]></category>

		<category><![CDATA[Rupa Rupa]]></category>

		<category><![CDATA[Sarapan Pagi]]></category>

		<category><![CDATA[Tak Biasa]]></category>

		<category><![CDATA[Wat Pho]]></category>

		<category><![CDATA[Wisata]]></category>

		<category><![CDATA[Zamzam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://windede.com/?p=289</guid>
		<description><![CDATA[
Thailand menawarkan rupa-rupa wisata. Dari yang religius seperti ziarah pemeluk Buddha ke kuil-kuil tua di kawasan Chao Pharaya, sampai gempita hiburan malam di sudut-sudut remang kota Pattaya. Atraksi binatang pasti mengasyikkan untuk keluarga. Bagaimana dengan show manusia, yang suguhannya sungguh tak biasa?
SABTU pagi yang cerah di Bangkok. Setelah tidur nyenyak di ketinggian lantai 46 Hotel [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="" src="http://www.windede.com/images/bang1.jpg" title="Atraksi gajah" class="alignnone" width="442" height="239" /></p>
<p><em>Thailand menawarkan rupa-rupa wisata. Dari yang religius seperti ziarah pemeluk Buddha ke kuil-kuil tua di kawasan Chao Pharaya, sampai gempita hiburan malam di sudut-sudut remang kota Pattaya. Atraksi binatang pasti mengasyikkan untuk keluarga. Bagaimana dengan show manusia, yang suguhannya sungguh tak biasa?</em></p>
<p><strong>SABTU</strong> pagi yang cerah di Bangkok. Setelah tidur nyenyak di ketinggian lantai 46 Hotel Baiyoke Sky, kemudian sarapan pagi di lantai 78, saya bersama dua rekan, Ogi Fajar Nuzuli dan Fitri Zamzam langsung meluncur ke kawasan Grand Palace, istana besar Raja Thailand yang melegenda. </p>
<p>Tetapi mengingat waktu tak cukup leluasa karena harus segera menuju Pattaya, kami hanya melihat-lihat dari luar pagar istana, lalu menyeberang ke Wat Pho, kuil tua tempat patung Buddha raksasa yang lokasinya persis berseberangan dengan istana raja. The Temple of the Reclining Buddha ini juga biasa disebut Sleeping Buddha, karena posisi Buddha yang berbaring dengan tangan menyangga kepala.<span id="more-289"></span> </p>
<p>Seperti halnya Grand Palace, di Wat Pho pengunjung membeludak. Hawa panas kota Bangkok tak mengurungkan niat wisatawan menikmati situs sejarah penting bagi umat Buddha tersebut. Dibangun tahun 1788, Wat Pho bukan saja tempat tujuan wisata penting di Thailand, tetapi juga pusat berbagai kegiatan agama Buddha.</p>
<p>Meski terbuka bagi orang asing yang bukan pemeluk Buddha, pengelola Wat Pho tetap memberlakukan aturan: tidak boleh bercelana pendek ketika di dalam kuil, harus melepas alas kaki, dan tidak berisik. Arus pengunjung dibuat memutar, masuk dari arah kepala Buddha, menyusuri bangunan kuil sampai di bagian kaki, lalu berbalik arah. Di ujung dekat pintu keluar, diletakkan berjejer wadah dari tembaga, berbentuk seperti kendi, tempat pengunjung memasukkan koin keberuntungan. Semangkuk koin dibeli seharga 20 baht.</p>
<p>Wat Pho hanyalah satu dari sekian banyak pilihan tempat yang bisa dikunjungi di Bangkok. Tempat semacam ini cocok untuk wisata keluarga, atau wisata sejarah dan pendidikan bagi siswa-siswa sekolah yang sedang studi banding. Di luar itu, ada beragam pilihan; dari yang terang sampai gelap, putih sampai hitam.</p>
<p><img alt="" src="http://www.windede.com/images/bang2.jpg" title="Suasana malam di Pattaya" class="alignleft" width="200" height="299" />Itulah yang akhirnya kami temukan di Pattaya. Setelah setengah hari berkeliling Bangkok, kami meluncur ke kota pantai di pinggir Teluk Thailand itu. Melaju dengan Volvo sewaan di highway selebar landasan pacu pesawat, tidur pulas sepanjang perjalanan, dan terbangun setelah tiba di halaman Hotel Royal Century Pattaya. Beres urusan check in, kami langsung menuju pantai untuk mencari makan siang.</p>
<p>Suasana Pattaya mirip Bali, tapi tak semeriah Pulau Dewata. Dari tempat kami berdiri di Central Beach Pattaya, hanya tampak beberapa turis berjemur, memandang ke pantai berpasir warna kelabu. Ada orang-orang yang sedang main jet ski, tak terlihat yang bermain papan selancar (surfing) karena ombak tak cukup tinggi. Memang, panjang garis pantainya mungkin dua kali pantai Kuta. Tetapi, mungkin bisa subjektif juga, saya merasa Bali masih lebih istimewa.</p>
<p>Sorenya, boleh jadi karena kelelahan, kami mengurung diri di kamar hotel saja, tidur sampai tengah malam. Terjaga pukul 23.30 dan baru sadar kami sedang berada di Pattaya, yang kerap disebut pusat hiburan malam Asia, pada sebuah malam Minggu yang syahdu. &#8220;Ayo jalan. Ini malam Minggu, dan kita sedang di Pattaya,&#8221; kata saya.</p>
<p>Maka, kami pun bergegas. Hal pertama yang ingin kami lakukan adalah mencari makan malam. Hotel tempat kami menginap berada di pusat keramaian. Malam itu, jalanan kota Pattaya masih sangat padat. Pesta seperti baru sedang dimulai. Dentuman musik menggema dari lorong-lorong bar dan kafe. Wanita-wanita berpakaian seksi lalu-lalang. Mulai tercium aroma kemesuman; aliran bir dan wine, celetukan genit gadis-gadis penjaja cinta, tegur sapa orang-orang berbahasa lokal yang sulit dimengerti tapi bisa dengan mudah dipahami maksudnya.</p>
<p>Kami berhenti di sebuah kedai, satu-satunya tempat yang terang benderang di tengah keremangan pub dan bar di sekeliling. Saya memesan sup tom yam, khas Thailand, Fitri Zamzam makan stik daging sapi dengan kentang goreng crispy, sementara Ogi melahap sandwich isi tuna. Di tengah dinner yang ditingkahi kebisingan musik dari pub di sekitar itu, kami bertiga membincangkan suasana hiburan malam Pattaya yang ternyata lebih cenderung mengarah pada wisata syahwat itu.</p>
<p>&#8220;Ini namanya prostitusi di tengah kota,&#8221; kata Ogi. </p>
<p>Kami akhirnya menuntaskan makan malam itu dengan sebuah kesimpulan: Pattaya menawarkan wisata syahwat untuk menarik wisatawan, namun faktanya wanita pekerja seks berkeliaran lebih banyak daripada tamu yang datang. Entah memang sedang sepi, atau wisata model ini sudah kurang diminati.</p>
<p>Kami kemudian berjalan berkeliling, menyusuri lorong-lorong lokasi hiburan, dari arena biliar, live music, hingga panggung joget. Sampai terhenti di sebuah tempat di mana dua orang berkemeja rapi dan dasi kupu-kupu mencegat kami. &#8220;Lady show, just one hundred baht,&#8221; kata salah seorang di antara mereka. Di tangannya ada brosur bergambar siluet tubuh perempuan tanpa busana. Di pintu masuk tertempel gambar larangan memotret dan larangan anak di bawah umur untuk masuk. </p>
<p>Seratus baht! Hanya Rp30 ribu bila dirupiahkan. Harga yang terlalu murah untuk hiburan di mana pengunjung bisa menyaksikan para penari wanita tanpa busana melenggak-lenggok. Kami minta izin menengok sebentar ke dalam, sekadar hendak memastikan bahwa hiburan model ini memang benar-benar ada. Dan, ternyata memang benar-benar ada! Para pria berdasi kupu-kupu itu tidak sedang bercanda, apalagi berbohong. Beberapa wanita tampak menari erotis dengan tubuh yang telanjang, di tengah tatapan mata sejumlah pria. Setelah proses &#8220;numpang menengok&#8221; itu, Ogi memberi kode agar kami berlalu. </p>
<p>Pengalaman malam itu membuat kami terkekeh dan saling menertawakan saat perjalanan pulang menuju hotel. Bagaimana mungkin manusia menyaksikan manusia lain dalam keadaan seperti itu. Lebih gila lagi, ada pula tawaran live show persenggamaan: dengan 8 ribu baht (lebih kurang Rp2,5 juta), pengunjung bisa menyaksikan aksi hubungan seksual sepasang manusia. Benar-benar show manusia dalam pengertian sesungguhnya. Selain membayar sejumlah uang, syaratnya hanya ada dua: tidak boleh memotret dan sudah berumur lebih 18 tahun. </p>
<p><img alt="" src="http://www.windede.com/images/bang3.jpg" title="Seorang pengunjung digendong gajah" class="alignnone" width="442" height="217" /></p>
<p>Ini bertolak belakang dengan apa yang kami saksikan keesokan harinya. Di sebuah taman botani yang asri, ada harimau, orangutan, macan, juga gajah yang jinak-jinak dan bisa diajak foto bareng. Di taman itu pula kami menyaksikan atraksi gajah yang unik-unik. Binatang berbelalai dengan tubuh raksasa itu bermain bola kaki, bola basket, bowling, juga melukis dan berjoget. Gajah-gajah itu juga menampilkan atraksi melangkahi tubuh para tamu (dan semua selamat tanpa ada yang terinjak), menggendong dengan belalai, dan memijat. </p>
<p>Lantas, yang membuat kami geleng-geleng kepala adalah fakta ini: gajah-gajah itu diberi pakaian lengkap, menutupi &#8220;aurat&#8221; mereka. Sungguh pelajaran berharga dari kaum binatang yang mestinya disadari para cewek penari telanjang semalam.  Bila untuk menyaksikan wanita-wanita telanjang di tempat hiburan malam cukup dengan 100 baht per orang, maka gajah-gajah itu justru jual mahal; untuk tiket terusan masuk taman botani dan include biaya transport dari hotel, kami harus merogoh kocek 650 baht per orang. (<strong>bersambung</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://windede.com/2008/08/25/gajah-berpakaian-cewek-telanjang/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Jalur Murah Wisata Bangkok-Pattaya</title>
		<link>http://windede.com/2008/08/22/jalur-murah-wisata-bangkok-pattaya/</link>
		<comments>http://windede.com/2008/08/22/jalur-murah-wisata-bangkok-pattaya/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Aug 2008 16:39:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>windede</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<category><![CDATA[Bandara Soekarno Hatta]]></category>

		<category><![CDATA[Bernama]]></category>

		<category><![CDATA[Don Muang]]></category>

		<category><![CDATA[Genting Highland]]></category>

		<category><![CDATA[Imigrasi]]></category>

		<category><![CDATA[Kios]]></category>

		<category><![CDATA[Kota Kota]]></category>

		<category><![CDATA[Monarki]]></category>

		<category><![CDATA[Paket Wisata]]></category>

		<category><![CDATA[Paspor]]></category>

		<category><![CDATA[Penerbangan Domestik]]></category>

		<category><![CDATA[Perusahaan Jasa]]></category>

		<category><![CDATA[Pesona]]></category>

		<category><![CDATA[Serasa]]></category>

		<category><![CDATA[Suvarnabhumi]]></category>

		<category><![CDATA[Suvenir]]></category>

		<category><![CDATA[Tempat Tidur]]></category>

		<category><![CDATA[Tiket Pesawat]]></category>

		<category><![CDATA[Toko Toko]]></category>

		<category><![CDATA[Triple Occupancy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://windede.com/?p=281</guid>
		<description><![CDATA[
Terbentang dari Semenanjung Melayu di selatan hingga Chiang Mai di utara, Thailand adalah negara dengan bermacam pesona. Ekonomi bangsa monarki yang dulu bernama Siam ini terus digenjot lewat potensi wisata; bertarung melawan eksotisisme Bali di Indonesia, Genting Highland nan romantik di Malaysia, juga gemerlapnya negeri kota Singapura. 

USAHA Thailand menjual potensi wisata sudah terasa sejak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="" src="http://www.windede.com/images/kok1.jpg" class="alignnone" width="442" height="232" /></p>
<p><i>Terbentang dari Semenanjung Melayu di selatan hingga Chiang Mai di utara, Thailand adalah negara dengan bermacam pesona. Ekonomi bangsa monarki yang dulu bernama Siam ini terus digenjot lewat potensi wisata; bertarung melawan eksotisisme Bali di Indonesia, Genting Highland nan romantik di Malaysia, juga gemerlapnya negeri kota Singapura.</i> </p>
</p>
<p><strong>USAHA</strong> Thailand menjual potensi wisata sudah terasa sejak saya bersama dua kawan tiba di Bandara Suvarnabhumi Bangkok, setelah penerbangan tiga jam lebih dari Bandara Soekarno-Hatta Jakarta, akhir pekan lalu. “Welcome to Thailand, The Land of Smile”, begitulah neon sign besar menyambut kami di depan pintu imigrasi, meski petugas imigrasi yang melayani pemeriksaan paspor ternyata tak menampakkan senyum samasekali.</p>
<p><span id="more-281"></span></p>
<p>Bandara Suvarnabhumi (baca: Suu-wanaa-poom) adalah bandara baru di Bangkok, dibangun dengan arsitektur ultra-modern dan mulai dioperasikan sejak akhir 2006, menggantikan Bandara Don Muang yang kini hanya melayani penerbangan domestik antarprovinsi Thailand. Berada di dalam bandara ini serasa jalan-jalan di mal, karena bentuknya yang mirip pusat belanja, udaranya yang super-dingin oleh penyejuk ruangan di mana-mana, toko-toko suvenir dan kedai kudapan, juga lantai marmernya yang putih mengilap.</p>
<p><img src='http://www.windede.com/images/kok2.jpg' alt='Atap lancip bangunan kuil Wat Pho' class='alignleft' />Seperti halnya bandara lain di kota-kota yang jadi kunjungan wisata, Suvarnabhumi dipenuhi kios penukaran uang asing, loket penjualan voucher kamar hotel berdiskon, layanan taksi dan angkutan umum, juga tawaran paket-paket wisata dari perusahaan jasa travel. Kami melewatkan semuanya karena saya sudah menyiapkan keperluan selama di Thailand lewat internet. Mulai pick up service dari bandara ke kota, hingga pilihan hotel dengan kamar model triple occupancy, satu ruangan dengan tiga tempat tidur. </p>
<p>Internet memang telah merevolusi banyak hal. Pemesanan tiket pesawat, kamar hotel, mobil carteran lengkap dengan sopirnya, bisa diselesaikan di depan layar komputer. Langsung tanpa calo. Cukup reservasi online dan bayar dengan kartu kredit. </p>
<p>Setiba di Bangkok, setelah melewati pemeriksaan imigrasi setempat, kami langsung disambut Natarwat Wongsmutra, seorang pemuda Thailand yang dengan bangga menyebut dirinya webmaster. “Just build my small bussiness,” katanya merendah. Bisnis kecil yang dimaksudnya adalah jasa antar-jemput, dengan tarif yang dijaminnya lebih murah dari taksi biasa.</p>
<p>Natarwat mempromosikan usahanya itu lewat internet, dan mengurus sendiri teknisnya di lapangan. Saya menemukan jasa yang ditawarkannya di mesin pencari Google. Sesuai reservasi yang saya lakukan sebelumnya, dia akan melayani semua keperluan transportasi kami selama di Thailand. Menjemput dari bandara ke hotel di tengah kota Bangkok, mengantar dari Bangkok ke Pattaya, menjemput pulang dari Pattaya ke Bangkok, dan mengantarkan kembali ke bandara. Total biaya: 4600 baht. Lebih kurang Rp1,2 juta bila dirupiahkan. Sesuai perjanjian, biaya ini dibayar tunai saat kami bertemu di Bangkok. </p>
<p>Sempat ada keraguan, apakah transaksi ini aman.  Jangan-jangan, setelah diantar ke hotel, Natarwat dan sopirnya hilang dan tak menjemput kami lagi untuk trip berikutnya ke Pattaya. “Believe me, please,” katanya singkat. Saya mengangguk, begitu juga dua kawan yang lain. Kami bayar 4600 baht sambil berharap tidak ditipu. </p>
<p>Betapa gembiranya karena harapan itu benar-benar terwujud. Bukan saja datang tepat waktu, sopir yang menjemput kami pada trip berikutnya juga ramah dan bisa berbahasa Inggris. Semua trip menggunakan sedan Volvo matic, berbahan bakar elpiji dan dikemudikan dengan nyaman sehingga selama perjalanan dari Bangkok ke Pattaya maupun Pattaya ke Bangkok, kami tertidur pulas. Sesekali, Natarwat menelepon, sekadar menanyakan apakah perjalanan kami aman dan apakah ada keluhan.</p>
<p><img src='http://www.windede.com/images/kok3.jpg' alt='Interior Bandara Suvarnabhumi Bangkok' class='alignnone' /></p>
<p>“Kalau layanan kami baik, Anda pasti bercerita kepada orang lain, dan saya akan mendapat banyak pelanggan baru dari rekomendasi Anda,” katanya beralasan. Dengan bergantung pada kunjungan turis, Natarwat paham betul bahwa melayani tamu sebaik mungkin akan membawa dampak positif bagi perkembangan usahanya di masa depan. Inilah juga yang dilakukan masyarakat Bali, yang terkenal ramah menyambut tamu. Tidak seperti penduduk sebagian kota yang kerap bikin jera tamu sehingga orang enggan berkunjung kembali.</p>
<p>Di Thailand, model bisnis SOHO (small office home office) seperti yang dijalankan Natarwat lumayan ramai akhir-akhir ini. Apalagi internet telah memudahkan segalanya. Ada yang jadi agen transportasi, agen pemesanan kamar hotel, juga paket-paket panduan wisata. Dikerjakan hanya oleh satu atau dua pegawai, rata-rata anak muda berusia tak lebih 30-an tahun, dengan jangkauan layanan tanpa batas di seluruh dunia. Selain memudahkan, harga yang ditawarkan pun relatif lebih murah ketimbang memesan lewat agensi umum. Apalagi kalau datang go show, langsung memesan kamar hotel di resepsionis, atau memesan taksi di bandara, misalnya.</p>
<p>Jasa pick up service dari Bandara Suvarnabhumi ke kota Bangkok, berada di kisaran 1000-1500 baht. Sedangkan mobil carteran dari Bangkok ke Pattaya atau sebaliknya, antara 2000 hingga 3000 baht sekali jalan. Hitung sendiri untuk membandingkan dengan harga yang diberikan Natarwat kepada kami: 4600 baht untuk semua trip.</p>
<p>Gambaran yang lain, kamar hotel kami di Bangkok, Baiyoke Sky Hotel, bertarif tak sampai Rp1 juta semalam (untuk satu kamar bertiga), padahal ini adalah hotel bintang 5 di pusat kota yang bangunannya merupakan gedung tertinggi di Bangkok saat ini (kami kebagian kamar di lantai 46, dan sarapan pagi prasmanan gratis di restoran lantai 78!). Semua dipesan melalui internet. Kalau datang sendiri dan memesan kamar langsung di resepsionis, tarifnya bisa sampai Rp3 juta semalam. Itu pun kalau beruntung masih dapat kamar. </p>
<p>Melalui internet pula kami memesan tiket pesawat Jakarta-Bangkok-Jakarta, yang jauh lebih murah dibandingkan membelinya di travel agent. Dengan internet kami mencari-cari informasi apa saja yang perlu dikunjungi di Thailand, tempat-tempat wisata yang menarik di Bangkok dan Pattaya, sampai akhirnya pilihan jatuh pada rencana menyaksikan atraksi binatang dan, upss… show manusia! Apakah gerangan? (<strong>bersambung</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://windede.com/2008/08/22/jalur-murah-wisata-bangkok-pattaya/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Google, 080808, dan Olimpiade Beijing 2008</title>
		<link>http://windede.com/2008/08/08/google-080808-dan-olimpiade-beijing-2008/</link>
		<comments>http://windede.com/2008/08/08/google-080808-dan-olimpiade-beijing-2008/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Aug 2008 18:14:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>windede</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<category><![CDATA[General]]></category>

		<category><![CDATA[080808]]></category>

		<category><![CDATA[090909]]></category>

		<category><![CDATA[888]]></category>

		<category><![CDATA[Agustus]]></category>

		<category><![CDATA[Awan]]></category>

		<category><![CDATA[Beijing 2008]]></category>

		<category><![CDATA[Bumi]]></category>

		<category><![CDATA[Cantik]]></category>

		<category><![CDATA[Demam]]></category>

		<category><![CDATA[Detik]]></category>

		<category><![CDATA[Google]]></category>

		<category><![CDATA[Keramat]]></category>

		<category><![CDATA[Momen]]></category>

		<category><![CDATA[Olimpiade]]></category>

		<category><![CDATA[Operasi Caesar]]></category>

		<category><![CDATA[Pasangan Muda]]></category>

		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>

		<category><![CDATA[Persalinan]]></category>

		<category><![CDATA[Pesta]]></category>

		<category><![CDATA[Ribu]]></category>

		<category><![CDATA[Tahun Depan]]></category>

		<category><![CDATA[Tirai]]></category>

		<category><![CDATA[Triple Seven]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://windede.com/?p=264</guid>
		<description><![CDATA[
SELALU ada cara menyambut hari penting. Di saat dunia demam angka cantik 080808 (delapan agustus dua ribu delapan), dan China tengah gegap gempita oleh Olimpiade Beijing 2008 yang dibuka tepat pukul 8, tanggal 8, bulan 8, tahun 08, Google pun menghias halaman depannya dengan new doodle, sebuah logo mengapresiasi olimpiade di negeri tirai bambu. 
Tentu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="" src="http://www.windede.com/images/beijing.jpg" title="Logo Olimpiade Beijing 2008" class="alignnone" width="442" height="126" /></p>
<p><strong>SELALU</strong> ada cara menyambut hari penting. Di saat dunia demam angka cantik 080808 (delapan agustus dua ribu delapan), dan China tengah gegap gempita oleh Olimpiade Beijing 2008 yang dibuka tepat pukul 8, tanggal 8, bulan 8, tahun 08, Google pun menghias halaman depannya dengan new doodle, sebuah logo mengapresiasi olimpiade di negeri tirai bambu. </p>
<p><img alt="" src="http://www.windede.com/images/google.gif" title="Doodle yang tampil di Google.COM pada 080808" class="alignleft" width="286" height="128" />Tentu ini bukan hal baru. Sudah tradisi bagi Google memajang logo kreasi mereka (orang-orang Google menyebut logo kreasi itu sebagai “doodle”), di saat momen-momen istimewa berlangsung. Dari hari bersejarah, hari kelahiran tokoh, masa liburan, sampai peringatan semacam hari bumi atau juga mother day. Silakan lihat <a href="http://www.google.com/holidaylogos.html">di sini</a> untuk menengok-nengok sebagian doodle yang pernah ditampilkan Google. <span id="more-264"></span></p>
<p>Tetapi kombinasi angka 080808 memang hanya akan terjadi sekali seumur zaman. Seperti halnya tahun lalu orang heboh dengan triple seven di mana <a href="http://windede.com/2007/07/07/sekadar-mengenang-777/" >777 menjadi angka keramat</a>, atau juga tahun depan di mana kombinasi angkanya bakal lebih dahsyat lagi: 090909, maka banyak yang mencari cara agar pada tanggal berangka unik tersebut ada kenangan yang tertoreh. </p>
<p>Bahkan panitia Olimpiade Musim Panas pun sampai memilih 080808 untuk acara pembukaan. Sesuatu yang telah disiapkan bertahun-tahun, termasuk usaha menciptakan teknologi memindah awan agar pada saat pembukaan pesta olahraga dunia yang kali ini bertajuk One World One Dream itu tak turun hujan. Huh, andai saja mereka mengerti konsep pawang hujan seperti tradisi di negeri kita. </p>
<p>Di berbagai sudut bumi para ibu yang sekarang tengah hamil tua berdoa agar anaknya lahir tepat ketika almanak berada di angka 080808. Kalau nasib baik bisa tepat waktu. Bila tidak, ya bisa lebih cepat atau malah terlewat, sehingga kombinasi angkanya menjadi 070808 atau 090808. Yang punya duit cukup bahkan rela mempercepat persalinan dengan operasi caesar. </p>
<p>Pasangan-pasangan muda mencocokkan tanggal pernikahan, kalau perlu ijab kabul di saat jam menunjuk pukul 08 lewat 08 detik di tanggal 08 bulan 08 tahun 2008, sehingga kombinasi angkanya akan menjadi 080808080808. Penghulu kebanjiran order, sementara KUA harus mengatur supaya semua bisa terlayani dengan baik. </p>
<p>Semalam, seorang kawan mengirim pesan lewat YM: minta tolong dicarikan sebanyak-banyaknya koran dari penerbitan yang berbeda, khusus edisi tanggal 8 bulan 8 tahun 2008. Koran-koran itu bukan untuk dijual kiloan ke pasar, tetapi untuk hadiah kepada keponakannya yang sedang diatur agar lahir persis pada tanggal 8 bulan 8 tahun 2008. </p>
<p>“Anaknya adikku akan lahir tanggal 8 Agustus 2008, dan aku mau kasih kado koran edisi 080808. Nanti, kalau sudah besar, orangtuanya akan memperlihatkan koran-koran itu, dan si anak pasti bangga karena dia bisa tahu peristiwa apa saja yang terjadi saat tanggal kelahirannya,” si kawan berargumen. Saya mengiyakan, berjanji mencari koran pada tanggal tersebut sedapatnya. </p>
<p><img alt="" src="http://www.windede.com/images/080808.jpg" title="Angka keramat 080808" class="alignnone" width="442" height="182" /></p>
<p>Siapapun hendak menoreh sejarah, tinggal bagaimana caranya dan dalam bentuk apa. Pada kehidupan pribadi kita, sejarah hidup adalah apa yang bagi kita bisa terkenang sepanjang masa. Angka-angka kerap bisa mewakili kenangan itu. Ada banyak orang yang bahkan bisa hapal detil tanggal kapan dia pertama masuk sekolah, pertama dapat pacar, pertama melamar wanita, pertama punya anak dan sebagainya. Lalu banyak orang lagi yang yakin punya nomor hoki, nomor-nomor keberuntungan di mana nasib baik selalu berpihak kepadanya dan selalu saja terhubung dengan nomor-nomor itu. </p>
<p>Berapa  nomor hoki Anda? Punya rencana apa menyambut 080808 tahun ini atau 090909 tahun depan?</p>
<p>Saya tak punya nomor hoki. Tidak punya rencana apa-apa di tanggal 080808 atau kelak 0090909 atau bahkan 101010 (mudah-mudahan panjang umur). Satu-satunya yang saya lakukan sebagai penanda angka-angka cantik itu hanyalah membuat posting di blog ini. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://windede.com/2008/08/08/google-080808-dan-olimpiade-beijing-2008/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pembunuhan Berantai ala Ryan Jombang</title>
		<link>http://windede.com/2008/08/02/pembunuhan-berantai-ala-ryan-jombang/</link>
		<comments>http://windede.com/2008/08/02/pembunuhan-berantai-ala-ryan-jombang/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Aug 2008 02:20:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>windede</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[General]]></category>

		<category><![CDATA[Manusia]]></category>

		<category><![CDATA[Anak Muda]]></category>

		<category><![CDATA[Gampang]]></category>

		<category><![CDATA[Gangguan Jiwa]]></category>

		<category><![CDATA[Gus Dur]]></category>

		<category><![CDATA[Homoseksual]]></category>

		<category><![CDATA[Jagal]]></category>

		<category><![CDATA[Jawa Timur]]></category>

		<category><![CDATA[Jumlah Korban]]></category>

		<category><![CDATA[Keji]]></category>

		<category><![CDATA[Kematian]]></category>

		<category><![CDATA[Kuburan]]></category>

		<category><![CDATA[Mimpi Buruk]]></category>

		<category><![CDATA[Paksa]]></category>

		<category><![CDATA[Pembunuhan]]></category>

		<category><![CDATA[Psikiatri]]></category>

		<category><![CDATA[Psikopat]]></category>

		<category><![CDATA[Sakit Hati]]></category>

		<category><![CDATA[Senada]]></category>

		<category><![CDATA[Sensitif]]></category>

		<category><![CDATA[Sesama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://windede.com/?p=263</guid>
		<description><![CDATA[
JOMBANG beberapa hari terakhir jadi buah bibir. Bukan lagi karena Gus Dur, Cak Nun atau Asmuni, tokoh-tokoh nasional asal kota di Jawa Timur itu, tetapi karena Ryan, seorang muda psikopat yang telah sukses menghabisi nyawa setidaknya 11 manusia – itulah jumlah korban yang sementara ini telah terungkap. 
Pasti tidak gampang menjadi pembunuh. Perlu keberanian (atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src='http://www.windede.com/images/ryan.jpg' alt='Jagal asal Jombang, Ryan' class='alignnone' /></p>
<p><strong>JOMBANG</strong> beberapa hari terakhir jadi buah bibir. Bukan lagi karena Gus Dur, Cak Nun atau Asmuni, tokoh-tokoh nasional asal kota di Jawa Timur itu, tetapi karena Ryan, seorang muda psikopat yang telah sukses menghabisi nyawa setidaknya 11 manusia – itulah jumlah korban yang sementara ini telah terungkap. </p>
<p>Pasti tidak gampang menjadi pembunuh. Perlu keberanian (atau kenekatan) dan mental yang kuat, terutama apabila hal itu dilakukan dengan berencana, di bawah kesadaran alam pikiran, dan berkali-kali pula. Manusia seperti apakah yang begitu kuat hatinya, menanggung semua mimpi buruk setelah mengantarkan kematian manusia lain dengan cara paksa? <span id="more-263"></span></p>
<p><img src='http://www.windede.com/images/ryan2.jpg' alt='Wajah sang psikopat, Ryan Jombang' class='alignleft' />Hasil pemeriksaan kejiwaan menyimpulkan tidak ada tanda-tanda gangguan jiwa berat pada Ryan. Dia tidak gila, masih waras dan paham betul semua perbuatannya. Ryan hanya patut disebut psikopat, berkepribadian sangat sensitif, mudah tersinggung, impulsif dan agresif. Itu yang dalam teori psikiatri membuat anak muda ini mudah menyerang bila marah dan tersinggung. Kecuali itu, entah ada hubungannya atau tidak dengan prilaku kejamnya, Ryan diketahui memiliki gangguan orientasi sesksual, yakni homoseksual, dan biasa berperan sebagai wanita dalam berhubungan dengan sesama jenisnya.</p>
<p>Dalam hal “kualitas” kriminalnya, dapat dilihat semakin hari tingkat keseriusan perbuatan jahat Ryan semakin “maju”. Dari semula membunuh karena terpaksa, lalu membunuh dengan rencana karena motif uang, kemudian membunuh oleh sebab sakit hati, lantas membunuh dengan sangat keji: mutilasi, memotong-motong tubuh korban menjadi beberapa bagian. Entah apa jadinya bila perbuatan menyimpang ini lebih lambat diketahui. Halaman rumah Ryan di Jombang bakal benar-benar jadi kuburan. </p>
<p>Wajahnya kalem, mungkin senada dengan pembawaannya yang rada kemayu. Ryan sungguh tak tampak seperti seorang pembunuh. Dalam rekaman di televisi, melihat gayanya berjalan dan menggerakkan badan, anak muda ini malah jauh dari kesan penjahat. Tak sebanding dengan cap jagal yang sekarang dilekatkan kepadanya. </p>
<p>Saya masih sulit membayangkan suasana hati seseorang yang telah membunuh orang lain. Para eksekutor terpidana mati saja dibekali senjata yang dia tak pernah tahu, apakah senjata yang dipegangnya berisi peluru sungguhan atau hampa, demi membebaskan sang eksekutor dari perasaan bersalah telah membunuh – meski itu dilakukan atas nama hukum. </p>
<p>Tentara-tentara yang pulang dari medan perang sering mengalami trauma panjang, belum tentu oleh perbuatannya sendiri membunuh musuh, lebih sering justru karena melihat rekannya yang kejam. </p>
<p>Suatu hari, dalam sebuah tidur yang nyenyak karena seharian lelah bekerja, saya bermimpi terlibat dalam perkelahian seru. Seru sekali. Hingga, singkat cerita, lawan saya dalam mimpi itu, yang saya sendiri tak pernah tahu siapa dia dan apakah dia ada dalam kehidupan nyata, mati terbunuh. Di tengah malam yang sepi, saya terjaga, dengan nafas tersengal kelelahan, seperti perkelahian itu baru saja terjadi dan benar-benar terjadi. Berhari-hari saya dihantui trauma oleh mimpi itu. Membayangkan tangan berlumuran darah dan tatapan mata begitu sakit dari orang yang meregang nyawa. Padahal, cuma mimpi. </p>
<p>Dalam kehidupan nyata saya punya beberapa pengalaman terkait pembunuhan, terutama dalam hubungannya dengan pekerjaan saya sebagai jurnalis. Ngepos di kamar mayat rumah sakit dan setiap hari menyaksikan jenazah datang dan pergi yang sebagiannya mati karena dibunuh, terjun langsung ke medan perkelahian geng antarkampung, menyaksikan duel dua sepupu karena sengketa tanah, atau mewawancara pelaku-pelaku pembunuhan yang terduduk layu di balik jeruji penjara kantor polisi. </p>
<p><img src='http://www.windede.com/images/ryan3.jpg' alt='Mayat korban pembunuhan Ryan dievakuasi dari kuburan di halaman rumah orang tuanya. ' class='alignnone' /></p>
<p>Saya juga relatif gemar membaca novel-novel berlatar kisah pembunuhan, dengan setting cerita yang rumit dan menegangkan, penuh skenario busuk yang entahlah bagaimana penulisnya bisa berimajinasi seliar itu, atau menonton film-film drama peristiwa yang mengisahkan misteri kematian, yang sepanjang cerita membuat jantung berdebar-debar, penuh kejutan dan ketakterdugaan. </p>
<p>Semua pengalaman itu ternyata masih saja belum cukup membuat hati saya kuat membaca drama pembunuhan berantai ala Ryan Jombang, yang mengubur sebagian korbannya menjadi satu bertumpuk-tumpuk di sebelah septic tank, mengubur sebagian yang lain di sisi kiri dan kanan rumah orangtuanya, dan diduga masih ada beberapa korban lagi yang belum ditemukan. Betapa kuat dan rumitnya kejiwaan anak muda itu bila benar dialah pelaku tunggal, eksekutor penjemput ajal perebut urusan malaikat maut.</p>
<p>Melihat caranya membunuh dan perkakas yang dipakai: martil, bola beton, tongkat besi, juga kayu balok yang dipukulkan ke kepala belakang korbannya, kekejaman Ryan sungguh tak bisa dibilang sembarangan. Di kalangan sesama pembunuh kelasnya mungkin sudah advance killer, pembunuh tingkat atas yang di lingkungan penjara pun akan ditakuti – ini bila dia mujur tak segera dihukum mati. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://windede.com/2008/08/02/pembunuhan-berantai-ala-ryan-jombang/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Senjakala Cerita Anak Batang</title>
		<link>http://windede.com/2008/07/26/senjakala-cerita-anak-batang/</link>
		<comments>http://windede.com/2008/07/26/senjakala-cerita-anak-batang/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Jul 2008 05:53:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>windede</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<category><![CDATA[General]]></category>

		<category><![CDATA[Alat Berat]]></category>

		<category><![CDATA[Ampas]]></category>

		<category><![CDATA[Batang]]></category>

		<category><![CDATA[Bedak]]></category>

		<category><![CDATA[Buruh]]></category>

		<category><![CDATA[Cerita Anak]]></category>

		<category><![CDATA[Departemen]]></category>

		<category><![CDATA[Kapitalis]]></category>

		<category><![CDATA[Mulut]]></category>

		<category><![CDATA[Orang Hulu]]></category>

		<category><![CDATA[Pembalakan]]></category>

		<category><![CDATA[Pembangunan Ekonomi]]></category>

		<category><![CDATA[Penebangan Hutan]]></category>

		<category><![CDATA[Peradaban]]></category>

		<category><![CDATA[Permukiman]]></category>

		<category><![CDATA[Senjakala]]></category>

		<category><![CDATA[Setiap Hari]]></category>

		<category><![CDATA[Sungai Yang]]></category>

		<category><![CDATA[Tabungan]]></category>

		<category><![CDATA[Tug Boat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://windede.com/?p=262</guid>
		<description><![CDATA[
SELALU ada yang hilang dalam sejarah. Di saat peradaban berubah, orang-orang memutar akal mencari hidup baru mereka. Bisa dengan modal masa lalu, bisa pula bersandar pada sesuatu yang benar-benar baru. Kegemilangan hari ini adalah tabungan masa depan, meski pada sebagian orang bisa pula hanya berujung sebagai kenangan. Tiada bersisa kecuali sekadar cerita.
Terlahir dan besar di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src='http://www.windede.com/images/kayu3.jpg' alt='sisa-sisa batang kayu gelondongan di sungai mahakam' class='alignnone' /></p>
<p><strong>SELALU</strong> ada yang hilang dalam sejarah. Di saat peradaban berubah, orang-orang memutar akal mencari hidup baru mereka. Bisa dengan modal masa lalu, bisa pula bersandar pada sesuatu yang benar-benar baru. Kegemilangan hari ini adalah tabungan masa depan, meski pada sebagian orang bisa pula hanya berujung sebagai kenangan. Tiada bersisa kecuali sekadar cerita.</p>
<p>Terlahir dan besar di sebuah kota dengan ekonomi yang digerakkan oleh booming pabrik-pabrik kayu, pada dekade di mana Indonesia sedang memulai tumbuh menjadi negeri dengan “pembangunan ekonomi” sebagai pilar utama, saya berkesempatan mencicipi sepotong kenangan gegap-gempita masyarakat yang hidup dari usaha penebangan hutan, mulai kerja pembalakan di hulu yang jauh di pedalaman, hingga pabrik-pabrik plywood di hilir tempat permukiman-permukiman baru bermunculan. <span id="more-262"></span> </p>
</p>
<p>Semua hidup dari kayu. Orang-orang hulu yang menjadi juragan log, pemilik sawmil di sepanjang pinggir sungai yang membuang ampas gergajian langsung ke bantaran, buruh-buruh pabrik plywood yang bekerja shift siang-malam, sopir-sopir antarjemput karyawan, truk dan alat berat pengatur kayu gelondongan di logpond-logpond yang bekerja 24 jam, juga warung-warung makan di sepanjang jalan dari pabrik milik para kapitalis menuju rumah-rumah bedak sewaan yang alakadarnya. </p>
<p><img src='http://www.windede.com/images/kayu2.jpg' alt='sisa-sisa batang kayu gelondongan di sungai mahakam' class='alignleft' />Geliat ekonomi bumi Kalimantan di era tahun 70-80-an memang bersumber dari kayu. Izin hak pengusahaan hutan terbit berlembar-lembar dari departemen-departemen di pemerintahan pusat yang tak begitu paham bagaimana hutan semestinya diperlakukan. Ratusan batang kayu gelondongan ditarik oleh tug-boat bermesin ganda, setiap hari, dalam ikatan-ikatan yang saling menyambung satu sama lain. Sebagian langsung berlayar ke negeri entah di mana, sebagian lagi masuk dulu ke mulut pabrik untuk diolah menjadi produk setengah jadi, sebelum akhirnya dikirim jauh ke luar Borneo.</p>
<p>Karena sungai adalah transportasi utama untuk memobilisasi kayu dari hulu ke hilir, maka pabrik-pabrik pengolahnya didirikan tak jauh dari sungai. Ini supaya proses loading kayu gelondongan ke mesin-mesin pemotong tak lagi memerlukan angkutan darat yang tentu saja lebih mahal.  Seperti semut merubung roti, kaum buruh pun tinggal tak jauh dari pabrik. Biasanya di sepanjang bantaran sungai dengan rumah-rumah sederhana berbahan kayu reject dari pabrik. </p>
<p>Apa yang terjadi setiap hari di permukiman pinggir sungai itu, bagi saya, adalah sebuah memori masa kekanak. Mandi air sungai dengan berjejak pada batang-batang kayu yang mengapung menunggu giliran masuk pabrik, memancing udang galah atau ikan baung di setengah malam selepas salat Isya, mencari anak udang di akar enceng gondok yang larut bersama macam-macam sampah, bermain layangan bersama kawan seumuran, atau menjadi supporter para pekerja kapal penarik kayu yang suka sekali main kartu. </p>
<p>Anak-anak dari keluarga buruh kayu seperti saya memang akhirnya menjadi anak batang. Pagi dan sore adalah saat yang paling menyenangkan karena semilir angin dari bukit-bukit di daratan seperti mengalir bersama air sungai yang sejuk. Pulang sekolah, main ke batang. Selepas belajar mengaji, main lagi ke batang. Salah satunya tentu saja karena dulu juga belum ada fasilitas games play station seperti anak-anak sekarang. </p>
<p>Era booming kayu yang oleh orang Kalimantan dikenal dengan istilah “banjir kap” itu meredup di pengujung 90-an, ketika semakin sedikit kayu di hutan yang bisa ditebang, dan –inilah bentuk keserakahan lain—ada bisnis baru yang lebih menggiurkan: tambang batubara. Hutan-hutan yang telah gundul tak lagi ditanami kayu pengganti. Sekarang malah disulap jadi perkebunan sawit yang memang sedang gantian booming. Pemilik HPH membawa ahli-ahli tanah untuk meneliti apakah di areal bekas tebangan kayu miliknya terkandung batubara. Maka betapa mujurnya bila setelah kaya dari menebang kayu, bisa tajir lagi dengan mendapat kuasa pertambangan di areal yang sama. </p>
<p>Awal bulan lalu, ketika pulang kampung ke Samarinda, saya terkesima oleh keadaan sunyi senyap pabrik-pabrik kayu. Kampung kecil saya, Loa Janan, di pinggiran Samarinda Seberang, yang pada tahun 80-an sangat sibuk oleh hiruk-pikuk ribuan pekerja kayu, kini sepi. Memang masih terlihat sedikit asap dari cerobong boiler pabrik, sebagai tanda-tanda kehidupan, tapi volume produksi telah menurun jauh. Deretan gelondongan di sungai telah berganti ponton-ponton pengangkut batubara yang hilir-mudik. </p>
<p><img src='http://www.windede.com/images/kayu.jpg' alt='era booming kayu telah hilang... tenggelam bersama cerita anak batang' class='alignnone' /></p>
<p>Dari sebuah resto di punggung bukit dekat Jembatan Mahakam, saya menyaksikan sederet rakit gelondongan yang dari warna kayunya tampak telah berbulan-bulan terbiarkan. Entah karena pemiliknya sedang ingin buang-buang uang atau memang kayu-kayu gelondongan itu belum mendapat pabrik untuk berlabuh. Atau bisa juga itu kayu bermasalah yang surat-menyuratnya tidak lengkap, atau malah barang bukti illegal logging yang sedang disita aparat. </p>
<p>Apapun juga, dari pemandangan itu tiba-tiba saja terulang rekaman masa kecil anak-anak batang, yang dulu tidak pernah mengerti mengapa gelondongan kayu itu mengalir deras dari hulu ke hilir, masuk ke pabrik, lantas tak pernah jelas setelah itu dikirim ke mana, sebab kapal-kapal pengekspor plywood membawanya dalam keadaan tertutup.</p>
<p>Di batang-batang sisa masa lalu itu, saya tak melihat lagi anak batang bercengkerama, mandi atau bermain. Seperti juga bisnis kayu yang meredup, anak batang pun telah bergerak menuju senjakala untuk akhirnya tinggal menjadi sejarah saja. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://windede.com/2008/07/26/senjakala-cerita-anak-batang/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
