Jalan-jalan
Bekerja di luar negeri, dapat penghasilan hingga lima kali lipat dari gaji di negeri sendiri, membuat tenaga kerja wanita (TKW) Indonesia di Hong Kong sejahtera dari sisi materi. Tapi, mereka sering trauma ketika harus pulang kampung. Kenapa?

HARI belum terlalu siang. Kira-kira pukul 10 waktu Hong Kong. Senin itu, sepekan yang lalu, kantor perwakilan BCA Hong Kong di Dragon Rise Building, Causeway Bay, tampak lengang. Hanya ada dua atau tiga nasabah. Suasana serupa terlihat di kantor Bank Mandiri, di gedung yang sama. baca selengkapnya… ‘Lebih Percaya Changi daripada Soekarno-Hatta’
Indonesia boleh saja melarang judi. Tapi itu bukan berarti para gambler kehilangan kesempatan berjudi. Selain Genting Highland di Malaysia, Macao adalah pilihan menarik mengadu keberuntungan.

GELAK tawa membahana di ruangan seluas lapangan sepak bola, di lantai dasar Wynn, sebuah hotel bintang lima sekaligus arena judi kasino di Macao. Karpet tebal yang melapisi lantai membuat derap kaki ratusan orang yang lalu-lalang di tempat itu tenggelam bersama gemuruh hiruk-pikuk penjudi. Tak ada yang aneh sampai akhirnya sebuah teriakan khas mengingatkan saya pada acara Empat Mata-nya presenter ndeso Tukul Arwana. “Puas… puas…!!!” Lantas disambung tawa cekikikan. baca selengkapnya… ‘Teriakan Khas Tukul di Tengah Hiruk-pikuk Kasino’
Jauh dari kampung halaman pasti membuat siapapun rindu makanan selera rumah sendiri. Di Hong Kong, jangan pernah khawatir, karena macam-macam menu Indonesia tersedia.

AROMA gurih bakso tiba-tiba mampir di hidung. Kaki pun bergegas meniti anak tangga Dragon Rise Building, bangunan menjulang di Pennington Street, kawasan Causeway Bay Hong Kong. Tiba di lantai dua, yang tampak adalah sebuah kios menjual buku-buku dan majalah Indonesia. Di sebelahnya ada kantor BCA yang terlihat tak seberapa ramai. “Naik satu lantai lagi, Mas,” seru seseorang di kantor BCA itu. baca selengkapnya… ‘Makan di Hong Kong Rasa Indonesia’
Di tengah gegap gempita Hong Kong, sekumpulan orang Indonesia membentuk komunitas di negeri megapolitan itu. Mencipta Indonesia kecil di antara keterasingan kaum urban.
MINGGU pagi yang cerah. Sama seperti akhir pekan sebelumnya, Sri Ningsih, 24 tahun, bergegas turun dari apartemen majikannya di lantai 21 sebuah bangunan pencakar langit di daerah North Point, Hong Kong. Berbekal sebotol air mineral dan sepotong roti jatah sarapan, Ningsih berjalan menyusuri Hong Kong yang hangat menuju stasiun MTR (mass transit railway) terdekat. Kereta cepat bawah tanah itu memang merupakan public transport yang mudah dan murah dan jadi moda transportasi favorit penduduk Hong Kong selain bus dan tram. baca selengkapnya… ‘Menikmati Indonesia Kecil di Victoria Park’




Komentar Terbaru