<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Windede dot Com &#187; Inspirasi</title>
	<atom:link href="http://windede.com/category/inspirasi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://windede.com</link>
	<description>...:::sekadar sebuah kumpulan catatan:::...</description>
	<lastBuildDate>Fri, 02 Jan 2009 05:04:47 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Google Translate, Lagi-lagi Google</title>
		<link>http://windede.com/2008/11/26/google-translate-lagi-lagi-google/</link>
		<comments>http://windede.com/2008/11/26/google-translate-lagi-lagi-google/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Nov 2008 10:11:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>windede</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog Vaganza]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Asyik]]></category>
		<category><![CDATA[Bahasa Arab]]></category>
		<category><![CDATA[Copy Paste]]></category>
		<category><![CDATA[Ganda]]></category>
		<category><![CDATA[Google]]></category>
		<category><![CDATA[Hasil]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu Pengetahuan]]></category>
		<category><![CDATA[Kadang Kadang]]></category>
		<category><![CDATA[Malah]]></category>
		<category><![CDATA[Mesin]]></category>
		<category><![CDATA[Penerjemah]]></category>
		<category><![CDATA[Penerjemahan]]></category>
		<category><![CDATA[Pengguna Internet]]></category>
		<category><![CDATA[Pengguna Komputer]]></category>
		<category><![CDATA[Rujukan]]></category>
		<category><![CDATA[Saking]]></category>
		<category><![CDATA[Selama]]></category>
		<category><![CDATA[Senang]]></category>
		<category><![CDATA[Suka]]></category>
		<category><![CDATA[Transtool]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://windede.com/?p=315</guid>
		<description><![CDATA[
Kemajuan ilmu pengetahuan tak hanya membuat manusia hidup dalam kemudahan, tetapi juga (cenderung) menjadi malas. 
Dan, Google menambah “kemalasan” para pengguna internet dengan fitur baru; web terjemahan bahasa, Google Translate. Cukup ketik alamat web yang dituju, tak peduli bahasa apa aslinya web itu, bisa dibaca dengan bahasa apa yang kita suka. 
Selama ini pengguna komputer [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="" src="http://img.photobucket.com/albums/v413/windede/gog3.jpg" title="Tampilan halaman Google Translate" class="alignnone" width="442" height="273" /></p>
<p><em>Kemajuan ilmu pengetahuan tak hanya membuat manusia hidup dalam kemudahan, tetapi juga (cenderung) menjadi malas. </em></p>
<p>Dan, Google menambah “kemalasan” para pengguna internet dengan fitur baru; web terjemahan bahasa, <a href="http://translate.google.com">Google Translate</a>. Cukup ketik alamat web yang dituju, tak peduli bahasa apa aslinya web itu, bisa dibaca dengan bahasa apa yang kita suka. </p>
<p>Selama ini pengguna komputer mengenal Transtool, aplikasi penerjemah yang lazim dipakai sebagai mesin pembantu penerjemahan. Harus copy-paste teks yang hendak diterjemahkan ke aplikasi ini untuk memperoleh hasilnya. Itupun dengan hasil terjemahan yang super-berantakan. Kadang-kadang malah tak bisa dipakai jadi rujukan, saking melencengnya.</p>
<p>Hasil terjemahan Google Translate juga tidak (belum) sempurna. Maklum, sepandai-pandai mesin bekerja, ia tetaplah mesin. Tidak punya “rasa bahasa” samasekali. Untuk kosakata yang tidak standar, si mesin akan menyerah dan tetap menampilkan sebagaimana aslinya. Sementara kata dengan arti ganda bisa menghasilkan terjemahan yang multitafsir pula. Tetapi yang istimewa adalah Google Translate bisa menerjemahkan langsung sebuah web tanpa harus kita copy-paste teks-nya. Si mesin dengan otomatis men-<em>translate</em> seluruh teks di dalam web sehingga blog berbahasa Indonesia bisa menjadi blog berbahasa Inggris dibuatnya.</p>
<p><img alt="" src="http://img.photobucket.com/albums/v413/windede/gog2.jpg" title="Blog windede dalam bahasa Arab hehehe..." class="alignleft" width="200" height="592" />Untuk sekadar bersenang-senang mesin ini juga asyik. Tengoklah bagaimana jadinya blog Anda bila tampil dalam bahasa Arab, China atau Rusia. Atau betapa sok pandainya kita ketika di waktu senggang asyik membaca-baca web berbahasa asing, tanpa harus dipusingkan dengan keasingan bahasa itu karena sang penerjemah ajaib menampilkannya di hadapan kita dengan bahasa yang kita mengerti. </p>
<p>Inilah dahsyatnya ilmu pengetahuan. Penemuan-penemuan teknologi terbaru kerap melampaui akal manusia kebanyakan. Di bidang apapun dan di tengah ketidakmungkinan seperti apapun. Siapa menyangka hari ini kita bisa ngobrol dengan sesama manusia di belahan bumi mana saja, <em>realtime </em>tanpa jeda. Sesuatu yang dulu dimimpikan pun tidak oleh manusia dengan peradaban berkirim surat lewat bantuan burung merpati. </p>
<p>Siapa mengira hari ini kita bisa pergi ke pulau terjauh hanya dalam hitungan jam, menembus batas negara dan perbedaan waktu, jauh lebih cepat dari apa yang pernah dilakoni manusia yang pada peradabannya dulu telah menganggap istimewa bepergian dengan kereta kuda.</p>
<p>Hidup memang jadi lebih mudah, meski dalam beberapa hal membuat kita menjadi malas. Untuk apa repot menerjemahkan kata demi kata, kalau ada mesin yang bisa mengerjakannya dalam hitungan satu kali klik, dan kita tinggal merapikan sedikit di beberapa bagian bila memerlukannya.</p>
<p>Dulu, untuk janji bertemu kawan, kita bisa bikin appointment yang detil, di mana bertemu, jam berapa dan menit ke berapa, lalu demi tepat waktu tiba di tempat yang disepakati sepuluh menit sebelumnya. Sekarang, meski sudah janjian, kita masih sibuk pakai SMS; “di mana posisi?”, lalu si kawan menjawab, “masih otw,” dan kita dengan sok kelebihan pulsa menjawab lagi, “ok deh…”</p>
<p>Di awal-awal mengenal internet, saya bangga sekali bisa berselancar dengan modem besar men-dial up nomor ISP dari komputer kantor. Karena di satu kantor dengan penghuni lebih dari 20 orang hanya ada satu komputer yang berfasilitas modem, maka aktivitas browsing dan berkirim-kirim email harus dilakukan bergantian. Itupun setelah semua urusan kantor yang berhubungan dengan internet selesai.</p>
<p>Sekarang, bukan saja tak pernah lagi bersentuhan dengan komputer desktop (PC), laptop pun sudah lebih sering tersimpan di <em>backpack </em>karena semua kebutuhan berinternet sudah terpenuhi oleh gadget di genggaman tangan – yang lantas menghasilkan kemalasan lain lagi: malas meng-update blog ini karena malas buka laptop, dan lebih gemar ber-<em>mobile blogging</em> dengan posting cukup satu dua kalimat pendek. </p>
<p><img alt="" src="http://img.photobucket.com/albums/v413/windede/gog.jpg" title="Windede dot Com dalam bahasa Mandarin. " class="alignnone" width="442" height="232" /></p>
<p>Google, ya, lagi-lagi Google. Raksasa internet dari Sillicon Valey ini benar-benar menguasai sebagian besar hidup masyarakat dunia di jagat maya. Boleh periksa fitur apa yang Anda perlu, semua tersedia. Hanya dengan satu ID kita bisa menikmati semua layanan gratis: google earth, google desktop, google hosted, google doc, google calendar, dan perangkat kerja lengkap di google apps. Mau koleksi foto? Google punya Picasa. Mau beriklan atau cari duit dari iklan? Ada google ads. Mau email tanpa batas? Ada google mail. Ah, jadi seperti promosi google nih. Pendek cerita, inilah zaman baru peradaban manusia, di mana segala hal jadi lebih mudah. </p>
<p>Masalahnya, apa dengan segala macam kemudahan era modern ini hidup komuni manusia menjadi lebih baik? Mudah-mudahan saja. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://windede.com/2008/11/26/google-translate-lagi-lagi-google/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Robekan Kitab Pembungkus Putu</title>
		<link>http://windede.com/2008/07/11/robekan-kitab-pembungkus-putu/</link>
		<comments>http://windede.com/2008/07/11/robekan-kitab-pembungkus-putu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Jul 2008 13:41:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>windede</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemplasi]]></category>
		<category><![CDATA[Alamat]]></category>
		<category><![CDATA[buku telepon]]></category>
		<category><![CDATA[Dandang]]></category>
		<category><![CDATA[Demam]]></category>
		<category><![CDATA[Detik]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia Hari Ini]]></category>
		<category><![CDATA[Google]]></category>
		<category><![CDATA[Hangat]]></category>
		<category><![CDATA[Hening]]></category>
		<category><![CDATA[informasi]]></category>
		<category><![CDATA[Istri]]></category>
		<category><![CDATA[Kira Kira]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab]]></category>
		<category><![CDATA[Kue]]></category>
		<category><![CDATA[Mana Mana]]></category>
		<category><![CDATA[Masih Ada]]></category>
		<category><![CDATA[mesin pencari]]></category>
		<category><![CDATA[Nomor Telepon]]></category>
		<category><![CDATA[Pintu]]></category>
		<category><![CDATA[Ponsel]]></category>
		<category><![CDATA[Suling]]></category>
		<category><![CDATA[yellow pages]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://windede.com/?p=258</guid>
		<description><![CDATA[
INI bukan soal kue putu, yang dijajakan keliling kampung dengan suara khas suling panjang dari uap dandang pengukus itu. Kue hijau bertabur parutan kelapa ini hanya menjadi semacam pengingat betapa peradaban manusia terus berubah, berganti wajah, bermetamorfosis. Bukan karena lezatnya rasa kue itu, namun karena bungkusnya yang unik.
Suatu malam, yang dingin sehabis hujan, suling panjang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://www.windede.com/images/yellow1.jpg" alt="Pembungkus kue putu itu..." width="442" height="243" /></p>
<p><strong>INI </strong>bukan soal kue putu, yang dijajakan keliling kampung dengan suara khas suling panjang dari uap dandang pengukus itu. Kue hijau bertabur parutan kelapa ini hanya menjadi semacam pengingat betapa peradaban manusia terus berubah, berganti wajah, bermetamorfosis. Bukan karena lezatnya rasa kue itu, namun karena bungkusnya yang unik.</p>
<p>Suatu malam, yang dingin sehabis hujan, suling panjang dari dandang penjaja putu memecah hening suasana rumah. Istri bergegas membuka pintu dan memanggil penjaja kue beraroma harum ini. “Enak nih mengudap yang hangat-hangat.” Setelah menunggu sesaat, empat potong kue bergula merah itu terhidang di atas meja. <span id="more-258"></span></p>
<p><img class="alignleft" style="float: left;" src="http://www.windede.com/images/yellow3.jpg" alt="Informasi dari pembungkus kue putu..." />Yang bikin surprised memang bukan rasanya, sebab kue putu ya di mana-mana seperti itulah. Bungkusnya itu yang bikin geleng-geleng kepala: robekan halaman Yellow Pages, kitab sakti pemberi informasi alamat dan nomor telepon. Buku telepon? Seberapa penting benda ini di zaman gegap gempita internet sekarang?</p>
<p>Dulu, ya kira-kira 10 tahun lalu, setiap rumah dan kantor yang punya telepon pasti berlangganan (atau dilanggani gratis) buku telepon. Sekarang, benda ini masih ada, tapi tingkat ketergantungan kita kepadanya sudah semakin berkurang. Kitab berkertas kuning ini masih bisa diandalkan untuk mencari informasi apa saja. Dari nomor telepon pribadi sampai perusahaan, yang disusun dengan indeks berdasarkan kategori-kategori. Tapi, Yellow Pages bukan satu-satunya referensi. Pilihan lain sudah banyak, lebih praktis pula.</p>
<p>Iklan-iklan spesifik dan segmented yang dulu hanya bisa dilihat di Yellow Pages, kini sudah mampir langsung ke ponsel-ponsel pribadi, menyelinap di antara lembar tagihan bulanan kartu kredit, atau tersebar di web-web korporat di internet. Kalau mau yang lebih praktis kita bisa telepon layanan informasi, cukup beberapa detik untuk sekadar mendapatkan nomor telepon dan alamat.</p>
<p>Konon, Yellow Pages pula yang menginspirasi Larry dan Sergey membangun mesin pencari Google, yang kini sudah jadi demam peradaban dunia hari ini. Seluruh penduduk bumi telah mengandalkan Google untuk memperoleh informasi tentang apapun, siapapun, kapanpun, di mana pun, sepanjang punya koneksi internet.</p>
<p><img class="alignright" style="float: right;" src="http://www.windede.com/images/yellow2.jpg" alt="Yellow Pages online versi Indonesia." width="200" height="71" />Di Amerika, tempat Google berasal, Yellow Pages sudah beralih layanan ke versi online, itupun sekadar untuk melayani orang yang perlu tambahan mesin pencarian di luar Google. Orang semakin lelah dengan fisik kertas, juga kerepotan membalik-balik halaman. Di Indonesia, buku telepon digital sudah pula ada, tapi tampaknya belum cukup populer.</p>
<p>Banyak yang mengajarkan bahwa hakekat hidup adalah pencarian jawaban. Itu sebabnya mesin-mesin “pencari jawaban” diciptakan sejak zaman dulu. Dari sekadar petuah bijak para resi, buku-buku ilmu pengetahuan, perpustakaan, hingga bank data dan gudang-gudang pengarsipan. Begitu banyak misteri, pertanyaan demi pertanyaan, yang harus selalu dijawab meski sekadar untuk memuaskan rasa ingin tahu.</p>
<p>Tentu menyedihkan melihat fakta bahwa lembaran buku telepon yang berisi informasi berharga akhirnya hanya menjadi pembungkus kue, meski boleh jadi ini juga dirobek dari kitab lama yang sudah kedaluarsa. Lagi pula, nasib serupa bukan hanya dialami Yellow Pages. Dari pasar-pasar tradisional, pedagang sayur dan penjaja kue, kita kerap mendapatkan bungkus dari kertas lain yang tak kalah berharganya. Dari lembaran skripsi mahasiswa sampai copy faktur pajak perusahaan ternama.</p>
<p>Ketika masih bekerja di koran harian di Kalimantan, saya pernah ditegur seorang kerabat, karena suatu hari koran yang saya tangani memuat gambar seorang ulama besar yang jadi panutan semua orang di kampung kami. Kerabat ini bilang, jangan lagi memuat gambar si ulama di koran, karena tak ada yang tahu kertas koran itu kelak akan diperlakukan seperti apa. “Bisa jadi lap lantai yang dikencingi bayi, bungkus kacang, atau diinjak-injak, padahal di situ ada gambar orang yang dihormati.”</p>
<p>Saya membatin, repot juga ya jadi ulama, sampai gambarnya di koran pun harus dijaga dari perlakuan menjadi bungkus atau lap. <img src='http://windede.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  <img src='http://windede.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Kembali ke soal pencarian jawaban, di tengah beragam kemudahan peradaban, pertanyaan-pertanyaan takkan pernah habis, meski tersedia sedemikian besar database jawaban di jagat maya. Ya. Bukankah setiap jawaban sesungguhnya adalah pertanyaan baru? Itu sebabnya informasi bisa tersedia bukan hanya di web-web mesin pencari internet, tetapi juga di tempat-tempat tak terduga; termasuk bungkus kue yang seolah tak berharga. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://windede.com/2008/07/11/robekan-kitab-pembungkus-putu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Patung-patung “Hidup” di Madame Tussauds</title>
		<link>http://windede.com/2007/09/03/patung-patung-%e2%80%9chidup%e2%80%9d-di-madame-tussauds/</link>
		<comments>http://windede.com/2007/09/03/patung-patung-%e2%80%9chidup%e2%80%9d-di-madame-tussauds/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Sep 2007 07:21:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>windede</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://windede.com/2007/09/03/patung-patung-%e2%80%9chidup%e2%80%9d-di-madame-tussauds/</guid>
		<description><![CDATA[ 
BEGITU banyak tempat wisata di Hong Kong. Tapi Madame Tussauds adalah salah satu yang paling populer. Dalam trip ke negeri bekas koloni Inggris itu pekan lalu, museum lilin ini memang jadi kunjungan paling mengesankan. Sebuah tempat di mana karya kreatif manusia terbukti bisa membekukan banyak sosok tokoh dalam patung-patung yang nyaris seperti hidup. 
Tak sulit [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> <img src="http://img.photobucket.com/albums/v413/windede/pidato.jpg" alt="Bersama Bush dan Clinton" title="Bersama Bush dan Clinton" /></p>
<p><strong>BEGITU</strong> banyak tempat wisata di Hong Kong. Tapi Madame Tussauds adalah salah satu yang paling populer. Dalam trip ke negeri bekas koloni Inggris itu pekan lalu, museum lilin ini memang jadi kunjungan paling mengesankan. Sebuah tempat di mana karya kreatif manusia terbukti bisa membekukan banyak sosok tokoh dalam patung-patung yang nyaris seperti hidup. <span id="more-218"></span></p>
<p>Tak sulit mencari Madame Tussauds di Hong Kong. Peta-peta kota yang bisa didapat gratis di bandara dan hotel-hotel memberi penunjuk jalan yang sangat terang. Museum ini berada di lantai dasar The Peak, sebuah bangunan di puncak bukit di Hong Kong Island yang jadi tempat favorit memandang lanskap kota (Hong Kong Island dan Kowloon) dari ketinggian.</p>
<p><img align="left" width="200" src="http://img.photobucket.com/albums/v413/windede/diana.jpg" alt="Bersama Lady Di" height="319" style="width: 200px; height: 319px" title="Bersama Lady Di" />Hari itu, saya memilih menuju The Peak dengan naik tram dari Lower Peak Terminus. Hanya perlu waktu beberapa belas menit menumpang kereta listrik legendaris yang sudah ada di Hong Kong sejak tahun 1888 ini menuju puncak bukit. Kereta berjalan menanjak hingga kemiringan 45 derajat. Supaya tidak repot, langsung beli tiket terusan (combo package) seharga 130 HKD. Itu terbagi untuk ongkos tram bolak-balik dan tiket masuk Madame Tussauds. Lebih murah ketimbang beli tiket tram dan tiket masuk secara terpisah.</p>
<p>Sesampai The Peak, tentu saja naik dulu ke puncak. Menikmati lanskap Hong Kong yang hari itu tak terlalu menarik karena disaput kabut. Setelah puas, barulah keliling museum lilin. Bercanda dengan patung-patung yang dibuat dengan bentuk dan ukuran sesuai aslinya itu, lantas foto-foto.</p>
<p>Baru masuk langsung disambut dengan kilatan blitz silih berganti, seolah kita adalah seorang selebriti. Flash kamera itu menempel di dinding lorong masuk dan secara otomatis menyiram cahaya bila ada yang lewat. Patung pertama yang menyambut adalah Jackie Chan sedang tertawa dengan gayanya yang khas.</p>
<p>Ruang pertama berisi patung lilin sejumlah selebriti, baik Hollywood maupun Asia. Saya tak merekam semuanya, hanya sempat berpose bersama beberapa di antaranya. Seperti pemeran James Bond Pierce Brosnan, dan komedian Eddie Murphy. Ada juga artis seksi Jodie Foster, sang legenda Marlyn Monroe dan beberapa yang lain. Sayangnya, saya tak begitu mengenal beberapa patung artis Asia.</p>
<p>Ruangan berikutnya adalah tokoh-tokoh politik dunia. Sebuah panggung dengan podium kosong yang di kiri-kanannya ada George Bush dan Bill Clinton memancing siapapun untuk berfoto seolah-olah sedang pidato bersama dua pemimpin Amerika itu.Tak jauh dari sana ada patung Saddam Husain, lengkap dengan pakaian kebesarannya. Kemudian legenda diktator Adolf Hitler, mantan sekjen PBB Kofi Annan dan tokoh Soviet Mikhail Gorbachev.</p>
<p> <img src="http://img.photobucket.com/albums/v413/windede/einstein.jpg" alt="Bersama Einstein" title="Bersama Einstein" /></p>
<p>Dari tokoh politik, ada tokoh-tokoh dunia lain seperti Albert Einstein, Luciano Pavaroti, Rembrandt, Neil Amstrong serta keluarga kerajaan Inggris (yang ini sepertinya wajib, karena Hong Kong bekas jajahan Inggris dan Madame Tussauds juga bermula dari London).  Di ujung dekat pintu keluar barulah tokoh-tokoh olahraga dipajang. Saya sempat berpose bersama Tiger Woods, lantas David Beckham dan Yao Ming.</p>
<p>Sesekali saya memeriksa patung-patung tersebut lebih dekat. Bagaimana helai demi helai rambut ditancapkan, bulu-bulu halus disusun sampai yang sangat detail seperti tahi lalat dan warna khas di kulit wajah. Semua dibuat semirip mungkin dengan aslinya. Untuk tokoh yang masih hidup, boleh jadi pembuatan patung ini menjadi mudah dan sangat mirip. Sementara tokoh-tokoh yang telah tiada seperti Lady Diana, misalnya, mungkin hanya bermodalkan foto-foto saja. Toh, mereka seperti “dihidupkan” kembali lewat patung-patung itu.</p>
<p>Saya lantas berpikir. Mungkin kalau ada perusahaan membuka jasa pembuatan patung diri, konsumennya bakal banyak. Kita bisa mengabadikan diri kita tidak lagi lewat foto dan video, tetapi juga patung-patung lilin yang dibuat sangat mirip sesuai aslinya. Anda berminat? ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://windede.com/2007/09/03/patung-patung-%e2%80%9chidup%e2%80%9d-di-madame-tussauds/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menunggu Azab dari Bumi yang Marah</title>
		<link>http://windede.com/2007/06/27/menunggu-azab-dari-bumi-yang-marah/</link>
		<comments>http://windede.com/2007/06/27/menunggu-azab-dari-bumi-yang-marah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jun 2007 13:30:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>windede</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemplasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://windede.com/2007/06/27/menunggu-azab-dari-bumi-yang-marah/</guid>
		<description><![CDATA[ 
Andai saja saya hidup di kurun dua atau tiga abad lalu, kebencian semacam ini mungkin tak sampai merusak pikiran; maki-maki tiada arti setiap kali listrik padam. Tak kunjung rampung meredam sakit hati meskipun dengan sangat sadar beginilah sudah kondisinya. Byar pet berselang hari. Kadang-kadang malah sehari tiga kali. Seperti orang minum obat.  
Saya tinggal di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> <img width="442" src="http://img.photobucket.com/albums/v413/windede/gelap.jpg" alt="Tiang-tiang listrik di kampung kami..." height="180" style="width: 442px; height: 180px" title="Tiang-tiang listrik di kampung kami..." /></p>
<p>Andai saja saya hidup di kurun dua atau tiga abad lalu, kebencian semacam ini mungkin tak sampai merusak pikiran; maki-maki tiada arti setiap kali listrik padam. Tak kunjung rampung meredam sakit hati meskipun dengan sangat sadar beginilah sudah kondisinya. Byar pet berselang hari. Kadang-kadang malah sehari tiga kali. Seperti orang minum obat.  <span id="more-208"></span></p>
<p>Saya tinggal di Balikpapan sekarang. Kota yang dulu masyarakatnya dengan bangga menyebut Kota Minyak. Sekarang, kebanggaan itu pupus sudah. Bukan saja minyak untuk rumah tangga pun kerap harus antre untuk mendapatkannya, tetapi juga karena keberlimpahan energi itu ternyata tak cukup membuat kota ini sanggup memenuhi kebutuhan energi rakyatnya sendiri.</p>
<p><img align="left" width="200" src="http://img.photobucket.com/albums/v413/windede/lamp1.jpg" alt="hmmm" height="314" style="width: 200px; height: 314px" title="hmmm" />Duduklah di pinggiran Teluk Balikpapan. Di salah satu sudut pantai di sebelah barat kota ini, kita dengan mudah menengok kilang-kilang milik Pertamina saling julang. Semburan minyak mengalir ke kilang-kilang itu melalui pipa-pipa besar dari sumur-sumur bor entah di daratan Samboja, Muara Jawa, atau juga rig-rig lepas pantai yang benderang oleh nyala api gas buangan di waktu malam.</p>
<p>Pandanglah dari pinggiran teluk itu ke tengah Selat Makassar, persegi hitam di garis horison yang berjalan pelan; ponton-ponton berisi batubara menggunung diangkut dari pedalaman Mahakam, pelosok Kutai Timur dan Kutai Barat, silih berganti, tiada berhenti. Entah sudah berapa lubang raksasa menganga di tanah Kalimantan karena dikeduk tangan-tangan bermesin itu. Lewat dan lewat lagi. Berlayar menjauh seolah dengan lambaian sombong; “sudah kuambil isi perut bumi di kampungmu, hai orang-orang bodoh!”</p>
<p>Suatu hari, pernah ada cerita. Orang di perkampungan Muara Badak, dekat dengan lokasi eksploitasi gas PT Badak, harus membeli gas elpiji berharga dua kali lipat lebih mahal dari penduduk Jakarta. Padahal elpiji yang dijual di Jakarta itu diambil dari lahan di sebelah rumah mereka.</p>
<p>Itulah pula yang membuat krisis listrik di sebagian besar kota Kalimantan menjadi ironi tak berkesudahan. Batubara dikuras setiap hari di lahan penduduk yang, biasanya, diganti-rugi murah sekali. Truk-truk pengangkut emas hitam itu kemudian melaju di sisi-sisi gubuk kayu orang kampung, merusak jalan negara, mengirim debu beracun ke rumah-rumah. Polusi batubara dihirup orangtua hingga bayi bersama sisa oksigen dari sela-sela ventilasi jendela ruang tidur mereka, yang betapa sangat menyedihkan lagi, lebih sering gelap pada malam hari. Bukan saja karena giliran pemadaman listrik. Tetapi juga karena listriknya sendiri belum tersambung sampai hari ini.</p>
<p><img align="right" width="200" src="http://img.photobucket.com/albums/v413/windede/lilin.jpg" alt="Hidup dengan lilin hampir setiap hari..." height="371" style="width: 200px; height: 371px" title="Hidup dengan lilin hampir setiap hari..." />Seperti juga penebangan kayu yang telah mengubah jutaan hektare hutan menjadi tanah lapang, ribuan ton batubara itu setiap hari meninggalkan perairan laut Kalimantan. Dikirim ke China, Malaysia, Singapura, mengisi ketel-ketel pembangkit listrik tenaga uap di negeri-negeri itu, hingga mereka benderang sepanjang malam. Pada saat yang sama, penduduk di Balikpapan, Samarinda, juga Banjarmasin dan sekitarnya, harus berteman lilin, yang dalam sekejap meleleh dan mengotori lantai, atau obor-obor batang bambu yang sebentar saja telah membuat hidung orang di seisi rumah hitam karena jelaga.</p>
<p>Hebatnya, pemerintah tak melihat ini sebagai masalah. Para punggawa negeri malah dengan bangga bikin jumpa pers, menyebut keberhasilan republik merangsang industri hingga produksi tambang dan migas tumbuh sangat baik, lantas membuat target-target baru yang lebih tinggi lagi. Di kota di mana pertambangan dan eksploitasi migas itu dilakukan, penduduknya harus menanggung banjir bandang, listrik padam, dan mungkin suatu hari azab pedih dari bumi yang marah.</p>
<p>Saya, seperti juga penduduk lain di Kalimantan, mungkin sudah sangat lelah memaki. Sebab menyumpah dengan serapah paling kejam pun ternyata tak cukup mujarab mengobati sakit hati. Adakah yang punya ide lebih baik?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://windede.com/2007/06/27/menunggu-azab-dari-bumi-yang-marah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8230;karena Malam Tak Hanya Milik Pelelap</title>
		<link>http://windede.com/2007/06/21/karena-malam-tak-hanya-milik-si-lelap/</link>
		<comments>http://windede.com/2007/06/21/karena-malam-tak-hanya-milik-si-lelap/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Jun 2007 07:44:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>windede</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://windede.com/2007/06/21/karena-malam-tak-hanya-milik-si-lelap/</guid>
		<description><![CDATA[
SELALU ada tempat untuk nongkrong menikmati malam. Setelah seharian sibuk dengan beragam aktivitas, orang memang sesekali hendak melarutkan diri dalam kenyamanan suasana; bisa dengan hang out di kafe atau pub, menyeruput teh hangat di sebuah kedai, atau sekadar jalan-jalan di tengah keramaian, entah pusat belanja, atau pasar malam.  
Pilihan tak selalu jatuh pada tempat mahal, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img width="442" src="http://img.photobucket.com/albums/v413/windede/melawai.jpg" alt="Salah satu sudut tempat nongkrong di Melawai Balikpapan." height="201" style="width: 442px; height: 201px" title="Salah satu sudut tempat nongkrong di Melawai Balikpapan." /></p>
<p><strong>SELALU </strong>ada tempat untuk nongkrong menikmati malam. Setelah seharian sibuk dengan beragam aktivitas, orang memang sesekali hendak melarutkan diri dalam kenyamanan suasana; bisa dengan <em>hang out</em> di kafe atau pub, menyeruput teh hangat di sebuah kedai, atau sekadar jalan-jalan di tengah keramaian, entah pusat belanja, atau pasar malam.  <span id="more-207"></span></p>
<p>Pilihan tak selalu jatuh pada tempat mahal, yang bertitel resto atau <em>lounge</em>, dengan pelayan seksi membawa kertas menu menawarkan paket <em>candle light dinner</em> atau semacam itu, yang kadang-kadang makanannya justru tak mengenyangkan apalagi bila dibandingkan dengan tagihan yang datang menjelang pulang.</p>
<p>Di Banjarbaru, kota di mana saya menghabiskan lebih 6 tahun sebelum kembali ke Balikpapan awal tahun lalu, ada sebuah kawasan bernama Minggu Raya. Semacam sentra jajan yang buka 24 jam, terdiri dari petak-petak warung, menyediakan aneka hidangan lengkap dengan kekhasan gaya tutur dan cengkerama warga kota. Sesekali, orang-orang di kota yang ramah ini bikin acara, entah parade band indie atau tadarus puisi.</p>
<p>Sering ada guyonan, karena tujuan utamanya memang nongkrong, orang-orang duduk di Minggu Raya hanya membelanjakan duit Rp5.000 untuk segelas kopi. Ngobrolnya bisa sampai empat jam. Dari pukul 10 malam sampai jam 2 subuh. Sudah seperti pemilik warung. Kopi diminum seteguk demi seteguk, nggak habis-habis.Cerita saling silang, dari urusan preman mabuk, kelucuan gelandangan sinting, sampai mendiskusikan nasib negara dengan gaya seolah pengamat politik.</p>
<p>Di Jogja(karta) siapapun tahu Malioboro. Ini kawasan melegenda dengan menu gudeg, susu panas, pengamen, pelukis jalanan, dan macam-macam kudapan. Di Surabaya dulu populer kawasan Kedungdoro dan Jembatan Merah, yang khas dengan warung tenda. Sekarang ada Kya-kya Kembang Jepun. Di Jakarta? Hmm&#8230; tinggal tunjuk mau pilih yang mana.</p>
<p><img align="right" width="200" src="http://img.photobucket.com/albums/v413/windede/melawai2.jpg" alt="Pisang gapit, menu khas di Melawai." height="338" style="width: 200px; height: 338px" title="Pisang gapit, menu khas di Melawai." />Kalau Anda ke Banda Aceh, nongkrong malam sama ramainya dengan nongkrong sore. Dengan trotoar yang lebar-lebar, orang Aceh biasa bersantai di kedai-kedai pinggir jalan sambil minum kopi aceh yang cara pembuatannya khas itu. Di Makassar ada Losari, kawasan ramai tempat jajan di sepanjang garis pantai. Jangan tanya Bali, karena semua sudut di Jimbaran, Legian atau Kuta adalah surganya tempat nongkrong. Atau Mataram yang punya kawasan Senggigi, juga Batam yang punya Nagoya.</p>
<p>Di Singapura, selalu ada tempat makan murah di dekat Esplanade atau Marlion, meskipun, nongkrong di Arab Street atau Litle India juga menarik. Di Kuala Lumpur ada Bukit Bintang yang sangat terkenal. Di Shanghai jejakkanlah kaki di Nanjing Road. Di Bangkok sila mampir ke Suanlum Night Bazar atau kafe-kafe sederhana di pinggiran Sungai Chao Phraya. Kalau kebetulan berada di Jeddah, jangan lupa nikmati sahaja malam di sepanjang pantai Laut Merah.</p>
<p>Saya sering terkenang kota-kota pemilik malam yang indah-indah itu. Yang tak selalu mahal. Yang sering malah secara ajaib selalu dipadati manusia padahal secara selera menu makanannya biasa-biasa saja.</p>
<p>Di Balikpapan, kota tempat saya tinggal sekarang, ada kawasan Melawai, di tepi Teluk Balikpapan, yang lebih tepat disebut dapur rakyat karena tiap malam segala lapisan warga ngumpul di sini untuk makan; dari ikan bakar sampai pisang gapit. Ada tempat lain yang lebih bagus, di pinggir pantai juga, di kawasan Bandar Balikpapan, tapi pengunjungnya menjadi terbatas karena tarifnya sedikit premium.</p>
<p>Di kota atau di kampung, di mana pun, tempat nongkrong malam adalah sebuah fasilitas wajib, kecuali, boleh jadi, beberapa daerah yang entah karena apa membiarkan malamnya menjadi lengang gelap pekat. Sekalinya ada keramaian, tak jauh-jauh dari urusan kebakaran atau maling ketangkap. Betapa menyedihkan sebenarnya, bila malam-malam indah dilewatkan hanya untuk tidur lelap. Karena itu, nikmatilah malam, selagi sempat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://windede.com/2007/06/21/karena-malam-tak-hanya-milik-si-lelap/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tomat Sekecil Anggur, Labu Segede Gentong</title>
		<link>http://windede.com/2007/06/08/tomat-sekecil-anggur-labu-segede-gentong/</link>
		<comments>http://windede.com/2007/06/08/tomat-sekecil-anggur-labu-segede-gentong/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Jun 2007 12:15:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>windede</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://windede.com/2007/06/08/tomat-sekecil-anggur-labu-segede-gentong/</guid>
		<description><![CDATA[China mungkin telah meraih segala mimpinya; kemajuan ekonomi, harga diri sebagai bangsa, juga keluwesan untuk berkreasi apa saja. Dalam kewarasannya, mereka menyuguhkan banyak sekali ide gila.

MASIH di atas pesawat Boeing 737-800 Air China. Dari sisi jendela kursi nomor delapan, saya hanya bisa melihat lapisan warna hitam-putih-kelabu, saling tumpang di antara perbukitan kota Qingdao (baca = [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>China mungkin telah meraih segala mimpinya; kemajuan ekonomi, harga diri sebagai bangsa, juga keluwesan untuk berkreasi apa saja. Dalam kewarasannya, mereka menyuguhkan banyak sekali ide gila.</em></p>
<p><strong><img src="http://img.photobucket.com/albums/v413/windede/kebun1.jpg" alt="Salah satu sudut perkebunan dalam rumah kaca itu..." title="Salah satu sudut perkebunan dalam rumah kaca itu..." /></strong></p>
<p><strong>MASIH</strong> di atas pesawat Boeing 737-800 Air China. Dari sisi jendela kursi nomor delapan, saya hanya bisa melihat lapisan warna hitam-putih-kelabu, saling tumpang di antara perbukitan kota Qingdao (baca = <em>Cing tao</em>). Pramugari, dengan bahasa Inggris cadel khas gaya tutur orang Mandarin, menyebut hanya tinggal beberapa menit lagi untuk mendarat di kota pesisir timur Tiongkok, yang masuk wilayah Provinsi Shandong itu.  <span id="more-206"></span></p>
<p>Tak seperti Dalian, di mana bandara berada di tengah kota, Liuting International Airport Qingdao dikelilingi lahan perkebunan, sehingga tampak seperti berada di pinggiran. Ini adalah penerbangan domestik kedua saya bersama rombongan Indonesia China Business Council (ICBC), setelah sebelumnya terbang dari Beijing ke Dalian. Dari Qingdao, perjalanan dilanjutkan lewat darat menuju Weifang, sebuah kota pertanian yang sangat maju.</p>
<p>Sepanjang <em>express way</em> Qingdao-Weifang, yang tampak di kiri-kanan adalah perkebunan; dan sesekali kawasan permukiman dengan flat-flat menjulang yang tampak baru dibangun. Shandong memang terkenal sebagai provinsi dengan lahan pertanian yang teramat luas. Tetapi itu dulu. Sekarang, bukan soal luasnya saja yang terkenal. Kemajuan teknologi pertaniannya juga semakin populer di seluruh jagat.</p>
<p><img align="left" width="200" src="http://img.photobucket.com/albums/v413/windede/kebun3.jpg" height="447" style="width: 200px; height: 447px" />Sesampai di Weifang, rombongan langsung diajak ke Shouguang State Level Vegetable Hi-tech Demonstration Garden, sebuah? area perkebunan contoh yang sekaligus menjadi pusat penelitian pengembangan varietas tumbuh-tumbuhan baru. Mungkin mirip Badan Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) kalau di negeri kita. Di tempat ini, mata siapa pun dijamin terbelalak melihat bagaimana China mengembangkan teknologi pertaniannya.</p>
<p>Shouguang merupakan area seluas 40 hektare, dengan 7 bangunan besar (hall) berbentuk rumah kaca, yang masing-masing berisi aneka macam varietas baru yang tengah dikembangkan. Didesain dalam bentuk taman-taman indah dan warna-warni. Selain jadi tempat penelitian, hall-hall itu memang disiapkan untuk kunjungan wisata, sekaligus tempat produksi buah-buah segar. Lantainya berkarpet dan di setiap sudut ada blower panas-dingin yang bisa disetel menyesuaikan suhu di musim apa pun.</p>
<p>Ada labu yang bukan saja ukurannya segede gentong, dengan diameter lebih dari satu meter, tetapi juga ditanam dengan cara &#8220;dirambatkan&#8221; di langit-langit. Ada ubi kayu yang dalam logika umum selama ini harus &#8220;berbuah&#8221; di dalam tanah, di tempat itu dibikin tumbuh menggantung. &#8220;Di Shouguang, tidak ada yang biasa. Semua adalah baru dan, mungkin, tak pernah Anda bayangkan sebelumnya,&#8221; kata Mu Hongwei, salah seorang peneliti di Shouguang yang menemani rombongan ICBC melihat-lihat ragam keajaiban tumbuh-tumbuhan di tempat itu.</p>
<p>Saya sendiri semula mengira labu-labu raksasa berwarna kuning, hijau, merah, itu hanyalah hiasan belaka. Ternyata tidak. Itu labu benar-benar tumbuh dan terus membesar, membesar dan membesar, seperti halnya buah-buah lain yang juga diciptakan menjadi aneh. Ada semangka yang buahnya tumbuh memanjang hingga lebih 1 meter, dengan lingkar sebesar batang pisang. Ada lagi terong bundar, yang kalau di pasar-pasar tradisional kita ukurannya hanya sejempol, di tempat itu membesar sampai seukuran bola tenis.</p>
<p>Tapi tidak semua yang kecil dibesarkan. Ada juga varietas tomat baru yang direkayasa menjadi seukuran buah anggur. Rasanya manis-manis asam, berwarna merah segar. Ini buah yang sedang favorit di Tiongkok sekarang, karena disuguhkan di restoran-restoran sebagai pendamping sajian buah-buahan punutup makan, yang selama ini biasanya hanya berisi pepaya, melon dan semangka. Petani China bukan saja merevolusi ukuran tomatnya, tetapi juga mengubah kebiasaan tomat sebagai sayur menjadi tomat sebagai buah.</p>
<p>Yang menarik, satu pokok pohon tomat itu bisa menghasilkan buah hingga 1,6 ton setahun, dan terus berbuah tanpa mengenal musim. Setiap pohon tomat memiliki cabang-cabang yang dibikin merambat dalam radius hingga 10 meter persegi, bergelantungan benar-benar mirip anggur.? <!--more--></p>
<p><img align="right" src="http://img.photobucket.com/albums/v413/windede/kebun2.jpg" alt="Ubi di langit-langit..." title="Ubi di langit-langit..." />Buah-buahan yang dihasilkan dalam kebun rumah kaca yang tertutup itu, selama ini dipasok untuk kebutuhan seluruh Tiongkok. Bermacam-macam eksperimen dilakukan secara berani. Lombok ditanam di dalam pot-pot kecil dan sudah berbuah meski tingginya tak lebih dari 10 cm. Mangga, durian, atau juga rambutan, direkayasa hingga berbuah sepanjang tahun tanpa mengenal musim. Para peniliti juga bermain-main dengan warna dan ukuran. Makanya untuk labu saja ada lebih dari 30 jenis.</p>
<p>Setiap tahun, Pemprov Shandong memfasilitasi sebuah pameran agrikultur besar-besaran di Weifang, dengan tema Shouguang International Vegetable Fair. Tahun ini merupakan tahun ke delapan pameran komoditi aneka buah dan sayur itu. Di pameran inilah ditunjukkan hasil-hasil rekayasa pertanian, sayur-sayur dan buah organik, juga kreasi-kreasi unik petani Tiongkok.</p>
<p>China memang terus bergerak dalam inovasi yang membuat dunia berdecak. Negeri berpenduduk 1,3 miliar jiwa ini sekarang bukan saja dilirik karena potensi pasarnya yang luar biasa besar, tetapi juga basis industri apapun juga. Pabrik-pabrik manufaktur kelas dunia bertumbuhan bak jamur. Merek-merek kelas atas tak segan lagi buka cabang di sana. Kota-kota pelosok di China pun ikut-ikutan maju, membesar, meraksasa. Jepang sudah lewat. Amerika sebentar lagi. Kita tinggal menunggu waktu, yang mungkin tak lagi lama, China menguasai (ekonomi) dunia. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://windede.com/2007/06/08/tomat-sekecil-anggur-labu-segede-gentong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menggeser Hujan tanpa Pawang</title>
		<link>http://windede.com/2007/06/04/menggeser-hujan-tanpa-pawang/</link>
		<comments>http://windede.com/2007/06/04/menggeser-hujan-tanpa-pawang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Jun 2007 04:34:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>windede</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://windede.com/2007/06/04/menggeser-hujan-tanpa-pawang/</guid>
		<description><![CDATA[Teknologi mengubah banyak hal. China, saat ini, sedang gemar mengembangkan rekayasa meteorologi. Tujuannya sungguh muluk; menentukan cuaca sesuai keinginan, dengan cara ilmiah, tanpa mantra-mantra pawang seperti lazimnya di negeri kita.

HUJAN mengguyur Beijing sejak pagi. Jadwal berkunjung ke Tian An Men Square dan Forbidden City tak bisa ditunda. Saya bersama rombongan Indonesia China Business Council (ICBC) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Teknologi mengubah banyak hal. China, saat ini, sedang gemar mengembangkan rekayasa meteorologi. Tujuannya sungguh muluk; menentukan cuaca sesuai keinginan, dengan cara ilmiah, tanpa mantra-mantra pawang seperti lazimnya di negeri kita.</em></p>
<p><img width="442" src="http://img.photobucket.com/albums/v413/windede/hujan1.jpg" alt="Jalanan basah di pinggiran Tian An Men Square. Hujan mengguyur seharian." height="184" title="Jalanan basah di pinggiran Tian An Men Square. Hujan mengguyur seharian." /></p>
<p><strong>HUJAN </strong>mengguyur Beijing sejak pagi. Jadwal berkunjung ke <a target="_blank" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Tiananmen_Square_protests_of_1989" title="Tian An Men Square">Tian An Men Square</a> dan <a target="_blank" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Forbidden_City" title="Forbidden City">Forbidden City</a> tak bisa ditunda. Saya bersama rombongan Indonesia China Business Council (ICBC) akhirnya tetap bergeser dari Capital Hotel di kawasan Qian Men East Street, menuju alun-alun seluas 40 hektare itu, yang legendaris karena tewasnya ribuan mahasiswa yang ditembaki tentara Komunis saat unjuk rasa tahun 1989.  <span id="more-205"></span></p>
<p><img align="left" width="200" src="http://img.photobucket.com/albums/v413/windede/hujan2.jpg" alt="Hujan sama lebatnya di Tembok China." height="344" title="Hujan sama lebatnya di Tembok China." />Apa mau diomong. Hujan tetap tak reda. Menyusuri lapangan Tian An Men hingga Kota Terlarang, dengan hujan yang gerimis sekalipun, pasti membuat basah kuyup. Rombongan akhirnya memutuskan pindah tujuan ke <a target="_blank" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Great_Wall_of_China" title="Tembok China">Tembok China</a>, dengan harapan di sana cuaca lebih cerah.</p>
<p>Ternyata, tak jauh berbeda. Sesampai di Great Wall, hujan sama lebatnya. Rencana beberapa anggota rombongan mendaki Tembok China sampai ke benteng ketiga tak kesampaian. Sebab tangganya licin. Acara jalan-jalan di sela business trip itu akhirnya kacau balau. Diputuskan kembali ke hotel, sambil bersiap acara jamuan makan di kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Beijing. <!--more--></p>
<p>Hari itu, rubrik <em>Weather </em>di koran <em>China Daily</em> memuat ramalan cuaca kota Beijing akan diselimuti mendung berawan (<em>cloudy</em>). Ramalan yang mengutip hasil analisis Central Meteorological Observatory itu, selama ini, benar-benar menjadi rujukan. Tingkat akurasinya nyaris sempurna. Tak heran, kolom ramalan cuaca menjadi rubrik populer di koran-koran China yang memang kerap menghadapi situasi cuaca ekstrem.</p>
<p>Ramalan itu pula, ternyata, yang menjadi rujukan KBRI China menentukan konsep jamuan makan malam bagi rombongan ICBC. “Setelah pagi-pagi baca ramalan cuaca, mendung berawan, saya bilang sama staf, selamat nih, kita bikin barbeque saja di halaman kantor kedutaan. Konsepnya acara di ruang terbuka. Pasti menyenangkan,” kata Dubes RI untuk China, Sudrajat, saat memberi sambutan pada acara makan malam dengan ICBC.</p>
<p>Pegawai KBRI lantas menyiapkan meja-meja prasmanan, tanpa kursi. Halaman terbuka di area tengah kantor KBRI di Distrik Chaoyang No 4 Beijing itu cukup luas untuk jamuan hingga 100 orang. Dengan standing party, undangan memang tak perlu duduk, supaya bisa moving ke sana kemari, saling bercengkerama. Sudrajat, seperti halnya semua orang di Beijing hari itu, sangat percaya bahwa ramalan cuaca “mendung berawan” tak akan meleset, karena selama ini memang terbukti akurat.</p>
<p>Ternyata, hari itu terjadi pengecualian. Awan mendung yang menyelimuti langit sejak pagi rupanya tak sanggup menahan beban air yang hendak tumpah. Sejak pukul sembilan pagi Beijing akhirnya diguyur hujan. Bukan sembarang hujan karena terus turun sepanjang hari, hingga malam.</p>
<p>“Tadinya kami berharap hujan sebentar saja. Ternyata sampai malam tidak berhenti-berhenti,” kata Sudrajat. Akhirnya, jamuan makan malam untuk ICBC dipindah ke aula kantor KBRI, yang cukup dipaksakan untuk dijejali undangan 100 orang. Meja prasmanan tetap di luar, diatapi tenda ala kadarnya.</p>
<p><img align="right" width="200" src="http://img.photobucket.com/albums/v413/windede/hujan3.jpg" alt="Gembok-gembok di sepanjang Tembok China. Dipercaya sebagai lambang kesetiaan." height="411" title="Gembok-gembok di sepanjang Tembok China. Dipercaya sebagai lambang kesetiaan." />Mengapa ramalan cuaca bisa meleset? Dubes Sudrajat punya dugaan. Di hadapan rombongan ICBC ia menyebut mendung berawan yang menjadi hujan itu boleh jadi adalah sebuah kesengajaan.</p>
<p>Kesengajaan? Ia menjelaskan, sebuah tim peneliti di badan meteorologi yang berpusat di Beijing, memang tengah melakukan eksperimen rekayasa cuaca, untuk kepentingan Olimpiade 2008, di mana Beijing menjadi tuan rumahnya. Pemerintah China sungguh khawatir, sebab pembukaan olimpiade yang direncanakan digelar tanggal 8 Agustus 2008 (<strong>08-08-08</strong>), terancam berantakan. Ramalan cuaca merilis, tepat pada tanggal pembukaan tersebut, Beijing akan diguyur hujan lebat. Sangat lebat.</p>
<p>Maka, dicarilah akal. Teknologi telah memungkinkan hujan digeser-geser; apakah dimajukan atau dimundurkan. Awan-awan pembawa hujan tanggal 8 Agustus 2008 itu rencananya diblokir. Sebelum masuk wilayah Beijing, sejumlah bahan chemical dan campuran kimia lain ditaburkan di atas awan, untuk merangsang agar awan pecah dan hujan segera tumpah, jauh sebelum angin membawa awan-awan itu ke atas Beijing Stadium tempat pembukaan olimpiade digelar.</p>
<p>“<em>Nah</em>, untuk kepentingan ini, eksperimen-eksperimen terus dilakukan. Saya menduga melesetnya ramalan cuaca hari ini karena ulah para peneliti itu. Awan di atas langit Beijing hari ini ditaburi bahan <em>chemical</em>, supaya hujan. Padahal seharusnya hujannya di daerah lain,” kata Sudrajat.</p>
<p>Dengan berseloroh pria berpangkat letnan jenderal ini menyebut, kalau saja China mau minta tolong Indonesia, sebenarnya tak perlu rekayasa teknologi seberat itu. Pawang-pawang hujan kita, dengan aneka mantra dan sesajennya, juga bisa menggeser-geser hujan. “Tingkat akurasinya mungkin tak kalah hebat dengan teknologi ilmiah,” ujar Sudrajat, disambut gelak tawa hadirin. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://windede.com/2007/06/04/menggeser-hujan-tanpa-pawang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Korban Asap Berburu Udara</title>
		<link>http://windede.com/2006/11/18/korban-asap-berburu-udara/</link>
		<comments>http://windede.com/2006/11/18/korban-asap-berburu-udara/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Nov 2006 06:49:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>windede</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Alami]]></category>
		<category><![CDATA[Bandara Minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[Bukit Barisan]]></category>
		<category><![CDATA[Detik]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung Kerinci]]></category>
		<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[Imun]]></category>
		<category><![CDATA[Jambi]]></category>
		<category><![CDATA[Kawan]]></category>
		<category><![CDATA[Martabak]]></category>
		<category><![CDATA[Meninggal Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Muara]]></category>
		<category><![CDATA[Padang]]></category>
		<category><![CDATA[Pengalaman Pertama]]></category>
		<category><![CDATA[Pesawat]]></category>
		<category><![CDATA[Polusi]]></category>
		<category><![CDATA[Pulang Kampung]]></category>
		<category><![CDATA[Sejuk]]></category>
		<category><![CDATA[Soekarno Hatta]]></category>
		<category><![CDATA[Sumatera Barat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://windede.com/2006/11/18/korban-asap-berburu-udara/</guid>
		<description><![CDATA[
Berbulan-bulan menghirup udara kotor penuh asap adalah sebuah persoalan. Saya tidak yakin akan baik-baik saja bila memeriksa paru-paru, meskipun, ternyata, bakat asma saya tidak kambuh dengan serbuan asap itu. Entah apakah asmanya yang sembuh, atau udara kotor memang telah membuat saya imun. Yang pasti, saya sangat merindukan udara bersih, sejuk, bebas polusi.
Maka, ketika pekan lalu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="Pemandangan alam di pinggir jalan utama Muara Labuh." title="Pemandangan alam di pinggir jalan utama Muara Labuh." src="http://img.photobucket.com/albums/v413/windede/padang1.jpg" /></p>
<p>Berbulan-bulan menghirup udara kotor penuh asap adalah sebuah persoalan. Saya tidak yakin akan baik-baik saja bila memeriksa paru-paru, meskipun, ternyata, bakat asma saya tidak kambuh dengan serbuan asap itu. Entah apakah asmanya yang sembuh, atau udara kotor memang telah membuat saya imun. Yang pasti, saya sangat merindukan udara bersih, sejuk, bebas polusi.</p>
<p><img align="left" alt="Kali berbatu di Padang Aro." title="Kali berbatu di Padang Aro." src="http://img.photobucket.com/albums/v413/windede/padang3.jpg" />Maka, ketika pekan lalu seorang kawan harus pulang kampung ke Muara Labuh, Sumatera Barat, karena saudaranya meninggal dunia, saya langsung setuju begitu diajak. Apalagi si kawan memang berpromosi mengenai kampungnya yang masih alami; berada di kawasan Bukit Barisan dengan hutan yang masih perawan.</p>
<p>Dari Banjarbaru, perjalanan harus tertunda karena sejak pagi bandara tertutup kabut asap. Baru bisa terbang setelah pukul 17.00, ketika angin laut meniup asap, menjauhkannya dari daratan. Kami mendarat di Soekarno-Hatta ketika langit sudah gelap. Langsung <em>hunting</em> tiket ke Padang. Tersisa satu <em>flight </em>dan itu pun kursi telah penuh. Kesabaran menunggu dan sedikit usaha membuahkan dua kursi mahal di detik-detik sebelum pesawat berangkat. Malam itu juga, kami tiba di Padang.</p>
<p>Ini adalah kunjungan saya ke tiga kalinya ke Padang. Tahun 1998, bersama tim jurnalis LPDS Jakarta saya singgah ke Padang setelah melakukan trip dari Jambi ke Sungai Penuh, sebuah kota kecil di kaki Gunung Kerinci. Kali kedua tahun 2005, sepulang dari Banda Aceh, hanya transit sebentar di Bandara Tabing. Kunjungan ketiga ini menjadi pengalaman pertama merasakan Bandara Minangkabau yang mewah itu.</p>
<p>Setelah singgah di sebuah kedai untuk bersantap malam, dengan menu Sate Padang dan Martabak, kami langsung meluncur ke Muara Labuh dengan men-carter taksi bandara. Perjalanan harus ditempuh 3 jam dengan kondisi jalan berkelok-kelok. Tak ada yang terlalu menarik untuk dinikmati karena kegelapan malam menyembunyikan keindahan alam. Toh, kami tak bisa tidur. Sepanjang jalan mengobrol saja.</p>
<p><img align="right" alt="Air terjun di bawah jembatan kota Sangir." title="Air terjun di bawah jembatan kota Sangir." src="http://img.photobucket.com/albums/v413/windede/padang2.jpg" />Tiba di Muara Labuh pukul 3 subuh. Kawan saya langsung larut dalam duka bersama keluarga. Saya memilih beristirahat. Esoknya, prosesi pemakaman dan lain-lain dilakukan. Saya ikuti semua, sampai akhirnya semua selesai dan dimulailah perburuan ke lembah dan lereng Bukit Barisan yang memanjang dari Sumatera Barat hingga Jambi. Perburuan udara segar yang di kampung saya sedang mahal sekali.</p>
<p>Benar, hutan di kawasan ini relatif masih baik. Memang sesekali tampak lewat truk tronton mengangkut kayu gelondongan. Tetapi konon baru berlangsung dua tahun terakhir, ketika kebijakan mengenai HPH diperlonggar untuk kawasan hutan tertentu di luar area cagar alam. Selebihnya, di kiri-kanan sepanjang jalan adalah bukit-bukit hijau dengan hutan pohon besar. Sesuatu yang sudah sulit saya jumpai di Kalimantan.</p>
<p><span id="more-180"></span></p>
<p>Ketika pergi ke daerah Sangir, kota kecil di utara Muara Labuh, saya sempat takjub menjumpai sebuah air terjun di pinggir jalan. Posisinya berada di bawah jembatan yang membentang di atas kali berbatu. Penduduk setempat tampak lalu-lalang tanpa menoleh, seolah keindahan alam itu telah menjadi hal biasa bagi mereka. Padahal, buat saya, ini sebuah keajaiban.<br />
Saya juga menemukan keajaiban lain ketika dalam perjalanan pulang dari Muara Labuh menuju Padang, singgah ke dua danau yang posisinya berdampingan. Yakni Danau Di Ate dan Danau Di Bawa (Danau Di Atas dan Danau Di Bawah), yang berada di kawasan Bungo Tanjung, Alahan Panjang.<br />
Menurut <a title="West-Sumatera.Com" target="_blank" href="http://www.west-sumatera.com">West-sumatera.com</a>, meski berdekatan, kedua danau ini tak saling berhubungan. Air dari Danau Di Atas tidak mengalir ke Danau Di Bawah. Begitu pula sebaliknya. Danau Di Atas termasuk kategori danau yang dangkal, di mana kedalamannya hanya 44 m. Sedangkan Danau Di Bawah diperkirakan kedalamannya mencapai 884 m. Bahkan penduduk setempat tidak berani menggunakan perahu sampai ke tengah danau.</p>
<p><a target="_blank" title="Inilah Danau Di Bawah. Klik untuk ukuran foto yang lebih besar." href="http://img.photobucket.com/albums/v413/windede/danau.jpg"><img src="http://img.photobucket.com/albums/v413/windede/danau-small.jpg" /></a></p>
<p>Danau Di Bawah memiliki misteri yang unik, karena samapai saat ini belum diketahui ke mana air danau yang sejuk ini dialirkan. Hal ini masuk akal mengingat tidak ada sungai besar yang berhulu di Danau ini. Berbeda dengan Air Danau Di Atas yang merupakan hulu sungai Batanghari yang mengalir membelah Pulau Sumatera dan bermuara di Selat Malaka. Sebagian penduduk percaya bahwa air Danau Di Bawah mengalir melewati sungai di bawah tanah yang muncul di daerah Jambi. Namun belum ada penelitian ilmiah berkaitan dengan kepercayaan tersebut.</p>
<p>Bayangkanlah satu situasi berikut; Anda berdiri di sebuah bukit. Memandang ke Utara terhampar Danau Di Atas yang airnya biru tenang. Menoleh ke Barat ada puncak Gunung Talang yang tertutup awan. Setelah itu tengoklah ke Timur, betapa indah panorama Danau Di Bawah dengan latar belakang pegunungan Bukit Barisan. Kalau Anda sudah membayangkan dan merasakan betapa nyamannya, maka, saya harus bilang; saya sudah mengalaminya sendiri dalam wujud yang nyata. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://windede.com/2006/11/18/korban-asap-berburu-udara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Teh Kemasan di Kebun Teh</title>
		<link>http://windede.com/2006/11/15/teh-kemasan-di-kebun-teh/</link>
		<comments>http://windede.com/2006/11/15/teh-kemasan-di-kebun-teh/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Nov 2006 05:30:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>windede</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://windede.com/2006/11/15/teh-kemasan-di-kebun-teh/</guid>
		<description><![CDATA[
Senikmat-nikmat minuman adalah teh, dan senyaman-nyaman suasana adalah menghirup udara segar dari kawasan perkebunan teh. Lantas apa jadinya kalau teh yang nikmat itu diminum di perkebunan teh? Nikmat dan nyaman akan berkolaborasi.
Tetapi nanti dulu. Belum tentu senikmat dan senyaman yang kita bayangkan. Setidaknya dalam ukuran apakah yang kita “nikmati” dan “nyamani” itu menjadi natural dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="Klik untuk gambar yang lebih besar..." target="_blank" href="http://img.photobucket.com/albums/v413/windede/teh-medium.jpg"><img src="http://img.photobucket.com/albums/v413/windede/teh-small.jpg" /></a></p>
<p>Senikmat-nikmat minuman adalah teh, dan senyaman-nyaman suasana adalah menghirup udara segar dari kawasan perkebunan teh. Lantas apa jadinya kalau teh yang nikmat itu diminum di perkebunan teh? Nikmat dan nyaman akan berkolaborasi.</p>
<p>Tetapi nanti dulu. Belum tentu senikmat dan senyaman yang kita bayangkan. Setidaknya dalam ukuran apakah yang kita “nikmati” dan “nyamani” itu menjadi natural dan alamiah. Sebab, saya punya pengalaman yang agak menjengkelkan.</p>
<p><img align="left" title="Kawasan perkebunan teh yang nyaman." alt="Kawasan perkebunan teh yang nyaman." src="http://img.photobucket.com/albums/v413/windede/tehkebun.jpg" />Pekan lalu, selepas urusan dukacita seorang kerabat, saya menyempatkan diri jalan-jalan ke perkampungan di sekitar Muara Labuh, Sumatera Barat. Tujuan pertama adalah menengok kota Sangir, yang jadi ibukota daerah pemekaran baru, Solok Selatan. Dalam perjalanan Muara Labuh-Sangir inilah, saya menjumpai kawasan perkebunan teh yang sejuk dan nyaman.</p>
<p>Saya menikmati perjalanan ini karena mengingatkan kenangan beberapa tahun silam ketika travelling ke Gunung Kerinci. Suasana alamnya memang mirip sekali, maklum, Solok Selatan (Sumbar) memang berbatasan dengan Kabupaten Kerinci (Jambi). Sepanjang jalan yang dilewati adalah perbukitan. Dan sebagian besar perbukitan itu terhampar kebun teh yang hijau dan rapi.</p>
<p>Di daerah Padang Aro, saya memutuskan singgah untuk makan siang di sebuah rumah makan sederhana yang berada di kawasan perbukitan di pinggir jalan. Meski tidak tertulis sebagai Warung Padang, menu di rumah makan ini sudah pasti menu masakan minang. Pedas dan berminyak. Bagian belakang rumah makan ini adalah jurang yang di bawahnya terdapat kali jernih berbatu besar-besar. Gemercik suara airnya membuat suasana bersantap nyaman sekali. Serasa di alam terbuka. Di seberang rumah makan adalah perkebunan teh.</p>
<p>Cerita yang menarik bukan soal sungai atau kebun. Tetapi justru ketika saya memesan segelas teh es tawar. Bukan karena hendak mencicipi teh di kebun teh, tetapi karena saya memang biasa minum teh tawar. Ya, apapun makanannya, minumnya tetap teh tawar hehehe… Sayangnya, ketika teh es tawar pesanan saya tiba, saya harus kecewa.</p>
<p><img border="0" align="right" title="Teh kemasan itu." alt="Teh kemasan itu." src="http://img.photobucket.com/albums/v413/windede/tehkemas.jpg" />Ya, ternyata, teh yang disuguhkan pemilik warung adalah teh celup kemasan dan bermerk. Memang tak ada yang salah dengan itu, kecuali satu hal; betapa produksi massal dari pabrik telah menembus bahkan hingga ke sumber produksinya. Di sebuah kawasan perkebunan teh, yang menjadi penghasil bahan baku teh, saya harus minum teh celup kemasan buatan pabrik di Jawa! Ini sama dengan pengalaman sebagian penduduk di Muara Badak, Bontang, yang harus memasak dengan kayu bakar karena tak sanggup beli gas LPG. Padahal, di sebelah rumah mereka adalah pabrik LPG!</p>
<p>Dalam hal teh kemasan di kebun teh itu, terpikirlah di benak saya bagaimana pucuk-pucuk teh dari perkebunan tersebut dipanen, dikirim lewat truk-truk bermuatan penuh ke pabrik-pabrik teh di Jawa, lantas diolah menjadi racikan di dalam kertas celup, dikemas rapi-rapi dan dilabeli merk. Rantai produksi membuat teh celup tersebut pada saatnya akan kembali ke perkebunan teh, tempat asal teh itu bermula.</p>
<p>Saya membayangkan, di rumah makan itu, saya bakal minum teh yang diseduh dari daun-daun yang dipetik dari perkebunan teh setempat. Tanpa melalui proses mesin-mesin pabrik dan campuran saos serta aroma. Sayangnya, saya hanya bisa sebatas membayangkan saja. Teh yang saya minum di kebun teh itu sama rasanya seperti teh yang selama ini saya minum. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://windede.com/2006/11/15/teh-kemasan-di-kebun-teh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sepenggal Waktu dalam Foto Masa Lalu</title>
		<link>http://windede.com/2006/11/02/sepenggal-waktu-dalam-foto-masa-lalu/</link>
		<comments>http://windede.com/2006/11/02/sepenggal-waktu-dalam-foto-masa-lalu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Nov 2006 05:11:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>windede</dc:creator>
				<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Manusia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://windede.com/2006/11/02/sepenggal-waktu-dalam-foto-masa-lalu/</guid>
		<description><![CDATA[
Meski tidak mudik saat lebaran kemarin, saya akhirnya terdampar juga di kampung halaman di Samarinda. Urusan pekerjaan yang mengantarkan saya kembali menikmati damainya tidur di rumah orangtua, mencicipi masakan-masakan kesukaan dan berjumpa beberapa kawan lama. Lebaran belum benar-benar lewat. Masih ada bau-baunya, setidaknya untuk sekadar bersalaman dengan sahabat. 
Sebenarnya kunjungan ke kampung halaman bukanlah sesuatu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="Saya (paling kecil) bersama ayah dan kakak. " title="Saya (paling kecil) bersama ayah dan kakak. " src="http://img.photobucket.com/albums/v413/windede/kecilgue.jpg" /></p>
<p>Meski <a href="http://windede.com/2006/10/20/ied-mubarak/">tidak mudik</a> saat lebaran kemarin, saya akhirnya terdampar juga di kampung halaman di Samarinda. Urusan pekerjaan yang mengantarkan saya kembali menikmati damainya tidur di rumah orangtua, mencicipi masakan-masakan kesukaan dan berjumpa beberapa kawan lama. Lebaran belum benar-benar lewat. Masih ada bau-baunya, setidaknya untuk sekadar bersalaman dengan sahabat. <span id="more-176"></span><br />
Sebenarnya kunjungan ke kampung halaman bukanlah sesuatu yang langka. Dalam setahun setidaknya dua atau tiga kali saya menjenguk orangtua. Tetapi kunjungan terakhir kemarin membuat saya jadi rada sentimentil; terutama ketika tiba-tiba saja ada hasrat untuk membuka album foto keluarga yang tergeletak di lemari ruang tamu.</p>
<p><img align="left" alt="Saya dipotret di samping televisi." title="Saya dipotret di samping televisi." src="http://img.photobucket.com/albums/v413/windede/guekecil2.jpg" />Foto-foto masa lalu itu tidak serta-merta memancing memori kanak-kanak. Rekaman masa kecil barangkali baru cukup detil di atas usia 5 tahun. Itupun hanya untuk peristiwa-peristiwa tertentu yang –mungkin karena istimewa— lantas menancap permanen dalam ingatan. Sebagian besar peristiwa lainnya hanya akan menjadi penggalan kenangan yang samar-samar.</p>
<p>Foto-foto balita saya masih cukup baik. Tersimpan rapi di balik plastik album foto. Saya kemudian merepro satu per satu foto-foto itu dengan kamera digital. Saya tak tahu pasti apakah warna foto itu sejak dulu sudah seperti itu; atau memang berubah berkat proses penuaan oleh waktu.</p>
<p>Saya melewatkan masa kecil di tahun 80-an, ketika foto berwarna memang sudah lumrah digunakan. Foto pertama, yang paling atas itu, adalah foto saya bersama ayah dan saudara-saudara kandung. Saya adalah bocah imut yang paling kecil di foto itu hehehe. Dua anak kecil lainnya adalah kakak saya.</p>
<p>Saya cukup lama memperhatikan foto ini. Model pakaian yang saya pakai, juga gaya berpakaian ayah yang retro banget. Saya sengaja tak bertanya kepada orangtua pada tahun berapa foto ini dibuat. Tetapi dari tampang saya di foto itu, saya bisa pastikan foto ini dibuat pada akhir 70-an.</p>
<p><img alt="Dalm gendongan ibu." title="Dalm gendongan ibu." src="http://img.photobucket.com/albums/v413/windede/guekeci.jpg" /></p>
<p>Begitu pun foto saya dalam gendongan ibu, di mana saya masih benar-benar bayi. Perhatikan juga gambar kalender di dinding, serta radio kotak yang jadul banget itu. Oh iya, saya juga difoto di samping sebuah televisi yang sekarang mungkin sudah jadi koleksi museum. Dalam ingatan saya, saya masih nonton di televisi seperti ini hingga masuk usia sekolah dasar.</p>
<p>Lucu juga membayangkan bahwa bayi lucu dalam foto-foto itu adalah saya. Itulah yang membuat saya bersemangat memotreti anak-anak saya dalam setiap momen pertumbuhan mereka. Supaya kelak di hari tuanya mereka bisa menikmati penggalan masa kecil seperti yang selalu saya rasakan setiap kali membongkar album foto keluarga di rumah orangtua.</p>
<p><img align="right" alt="Gaya culun saya waktu kecil. " title="Gaya culun saya waktu kecil. " src="http://img.photobucket.com/albums/v413/windede/guekecil.jpg" />Tuhan memberi kita ingatan yang bisa merekam begitu banyak hal. Apapun yang kita alami di hidup ini akan terekam dalam sel-sel yang saling hubung-menghubung dalam jaringan otak. Toh, memancing sebuah ingatan, apalagi yang sudah berumur lama, bukanlah urusan gampang. Imajinasi kita harus benar-benar kuat untuk membayangkan masa lalu. Foto, juga video, adalah temuan ajaib yang membantu semua orang membekukan sepenggal waktu dalam sejarah perjalanan hidup.</p>
<p>Sebenarnya bukan hanya foto dan video. Interaksi dengan manusia lain adalah alat bantu yang luar biasa hebat. Berjumpalah dengan sahabat-sahabat lama, kawan-kawan masa kecil, atau siapa pun orang yang pernah dekat dengan kita di masa lalu, sambil membincang sejuta kenangan warna-warni. Maka rekaman peristiwa satu demi satu seolah tampil di depan mata.</p>
<p>Sebuah penelitian di Amerika mengenai “hidup setelah mati” mendapat kesimpulan dari orang-orang yang pernah mengalami mati suri, bahwa kelak, di alam transisi antara dunia dan akhirat, rekaman peristiwa hidup kita akan diputar ulang. Pada saat itulah, dalam kesadaran kemanusiaan yang lemah, kita tak lagi bisa membantah apapun yang pernah kita lakukan, termasuk dosa-dosa yang bakal berbuah hukuman.</p>
<p>Tak ada salahnya untuk terus membingkai hari ini demi cerita masa lalu yang tak terpenggal. Sebab meskipun hidup adalah masa depan, masa lalu takkan pernah membosankan untuk dikenang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://windede.com/2006/11/02/sepenggal-waktu-dalam-foto-masa-lalu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
