<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Windede dot Com &#187; General</title>
	<atom:link href="http://windede.com/category/general/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://windede.com</link>
	<description>...:::sekadar sebuah kumpulan catatan:::...</description>
	<lastBuildDate>Fri, 02 Jan 2009 05:04:47 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Waktu Berlalu Menyisakan Bau</title>
		<link>http://windede.com/2008/12/31/waktu-berlalu-menyisakan-bau/</link>
		<comments>http://windede.com/2008/12/31/waktu-berlalu-menyisakan-bau/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 31 Dec 2008 16:59:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>windede</dc:creator>
				<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[Almanak]]></category>
		<category><![CDATA[Array]]></category>
		<category><![CDATA[Belantara]]></category>
		<category><![CDATA[Gono]]></category>
		<category><![CDATA[Heboh]]></category>
		<category><![CDATA[Hijrah]]></category>
		<category><![CDATA[Istri]]></category>
		<category><![CDATA[Jeda]]></category>
		<category><![CDATA[Jombang]]></category>
		<category><![CDATA[Kalimantan]]></category>
		<category><![CDATA[Kawin Cerai]]></category>
		<category><![CDATA[Konflik]]></category>
		<category><![CDATA[Lembar]]></category>
		<category><![CDATA[Matahari]]></category>
		<category><![CDATA[Membangun Rumah]]></category>
		<category><![CDATA[Menikmati]]></category>
		<category><![CDATA[Olimpiade]]></category>
		<category><![CDATA[Orang Minang]]></category>
		<category><![CDATA[Peradaban]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Idaman]]></category>
		<category><![CDATA[Selamat Tahun Baru]]></category>
		<category><![CDATA[tahun baru]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun Hijrah]]></category>
		<category><![CDATA[Warna]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://windede.com/?p=344</guid>
		<description><![CDATA[AKHIRNYA, tibalah pengujung tahun 2008. Seperti angin, waktu berlalu menyisakan bau. Apa yang masih terbaui dari 365 hari perjalanan hidupmu sepanjang tahun ini?
Politik dan ekonomi jadi tema utama 2008, meski juga diselingi sesekali urusan olahraga seperti PON dan Olimpiade, yang cukup menjadi jeda keruwetan informasi. Kriminal tingkat tinggi seperti kasus Ryan Jombang, heboh artis yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="" src="http://www.wondercliparts.com/holidays/new_year/graphics/new_year_graphics_a1.gif" title="Tahun Baru" class="alignleft" width="320" height="320" />AKHIRNYA, tibalah pengujung tahun 2008. Seperti angin, waktu berlalu menyisakan bau. Apa yang masih terbaui dari 365 hari perjalanan hidupmu sepanjang tahun ini?</p>
<p>Politik dan ekonomi jadi tema utama 2008, meski juga diselingi sesekali urusan olahraga seperti PON dan Olimpiade, yang cukup menjadi jeda keruwetan informasi. Kriminal tingkat tinggi seperti kasus Ryan Jombang, heboh artis yang masih soal kawin-cerai dan harta gono-gini, juga perdebatan agama dan konflik wilayah yang tak kunjung usai. </p>
<p>Bagi saya pribadi, inilah tahun penuh penentuan, baik bagi hidup saat ini maupun masa depan. Inilah tahun hijrah dari kampung di Kalimantan ke belantara kota Jakarta. Inilah pula momen penanda menjadi kepala keluarga sesungguhnya: pelan-pelan membangun rumah idaman untuk anak-istri, setelah 12 tahun bekerja dan separo di antaranya hidup bersama keluarga di rumah kontrakan jatah kantor &#8212; kalau yang separo lagi di awal-awal kerja tak perlu dihitung, karena masih bujang.</p>
<p>Pergantian tahun memang hanyalah matematika almanak di mana setiap lembar kalender kemarin harus diganti kalender baru. Matahari yang terbit 2009 masih matahari yang itu-itu juga. Pagi, siang, sore, malam, masihlah juga seperti yang sudah-sudah. Seorang kawan orang Minang malah bilang: ayam berkokok atau tidak berkokok, matahari tetap akan terbit. Jadi, tahun berganti atau tidak, hidup memang harus dijalani.</p>
<p>Selamat tahun baru, selamat menikmati dunia dan peradaban yang semakin penuh warna. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://windede.com/2008/12/31/waktu-berlalu-menyisakan-bau/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Google, 080808, dan Olimpiade Beijing 2008</title>
		<link>http://windede.com/2008/08/08/google-080808-dan-olimpiade-beijing-2008/</link>
		<comments>http://windede.com/2008/08/08/google-080808-dan-olimpiade-beijing-2008/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Aug 2008 18:14:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>windede</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[080808]]></category>
		<category><![CDATA[090909]]></category>
		<category><![CDATA[888]]></category>
		<category><![CDATA[Agustus]]></category>
		<category><![CDATA[Awan]]></category>
		<category><![CDATA[Beijing 2008]]></category>
		<category><![CDATA[Bumi]]></category>
		<category><![CDATA[Cantik]]></category>
		<category><![CDATA[Demam]]></category>
		<category><![CDATA[Detik]]></category>
		<category><![CDATA[Google]]></category>
		<category><![CDATA[Keramat]]></category>
		<category><![CDATA[Momen]]></category>
		<category><![CDATA[Olimpiade]]></category>
		<category><![CDATA[Operasi Caesar]]></category>
		<category><![CDATA[Pasangan Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[Persalinan]]></category>
		<category><![CDATA[Pesta]]></category>
		<category><![CDATA[Ribu]]></category>
		<category><![CDATA[Tahun Depan]]></category>
		<category><![CDATA[Tirai]]></category>
		<category><![CDATA[Triple Seven]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://windede.com/?p=264</guid>
		<description><![CDATA[
SELALU ada cara menyambut hari penting. Di saat dunia demam angka cantik 080808 (delapan agustus dua ribu delapan), dan China tengah gegap gempita oleh Olimpiade Beijing 2008 yang dibuka tepat pukul 8, tanggal 8, bulan 8, tahun 08, Google pun menghias halaman depannya dengan new doodle, sebuah logo mengapresiasi olimpiade di negeri tirai bambu. 
Tentu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img alt="" src="http://www.windede.com/images/beijing.jpg" title="Logo Olimpiade Beijing 2008" class="alignnone" width="442" height="126" /></p>
<p><strong>SELALU</strong> ada cara menyambut hari penting. Di saat dunia demam angka cantik 080808 (delapan agustus dua ribu delapan), dan China tengah gegap gempita oleh Olimpiade Beijing 2008 yang dibuka tepat pukul 8, tanggal 8, bulan 8, tahun 08, Google pun menghias halaman depannya dengan new doodle, sebuah logo mengapresiasi olimpiade di negeri tirai bambu. </p>
<p><img alt="" src="http://www.windede.com/images/google.gif" title="Doodle yang tampil di Google.COM pada 080808" class="alignleft" width="286" height="128" />Tentu ini bukan hal baru. Sudah tradisi bagi Google memajang logo kreasi mereka (orang-orang Google menyebut logo kreasi itu sebagai “doodle”), di saat momen-momen istimewa berlangsung. Dari hari bersejarah, hari kelahiran tokoh, masa liburan, sampai peringatan semacam hari bumi atau juga mother day. Silakan lihat <a href="http://www.google.com/holidaylogos.html">di sini</a> untuk menengok-nengok sebagian doodle yang pernah ditampilkan Google. <span id="more-264"></span></p>
<p>Tetapi kombinasi angka 080808 memang hanya akan terjadi sekali seumur zaman. Seperti halnya tahun lalu orang heboh dengan triple seven di mana <a href="http://windede.com/2007/07/07/sekadar-mengenang-777/" >777 menjadi angka keramat</a>, atau juga tahun depan di mana kombinasi angkanya bakal lebih dahsyat lagi: 090909, maka banyak yang mencari cara agar pada tanggal berangka unik tersebut ada kenangan yang tertoreh. </p>
<p>Bahkan panitia Olimpiade Musim Panas pun sampai memilih 080808 untuk acara pembukaan. Sesuatu yang telah disiapkan bertahun-tahun, termasuk usaha menciptakan teknologi memindah awan agar pada saat pembukaan pesta olahraga dunia yang kali ini bertajuk One World One Dream itu tak turun hujan. Huh, andai saja mereka mengerti konsep pawang hujan seperti tradisi di negeri kita. </p>
<p>Di berbagai sudut bumi para ibu yang sekarang tengah hamil tua berdoa agar anaknya lahir tepat ketika almanak berada di angka 080808. Kalau nasib baik bisa tepat waktu. Bila tidak, ya bisa lebih cepat atau malah terlewat, sehingga kombinasi angkanya menjadi 070808 atau 090808. Yang punya duit cukup bahkan rela mempercepat persalinan dengan operasi caesar. </p>
<p>Pasangan-pasangan muda mencocokkan tanggal pernikahan, kalau perlu ijab kabul di saat jam menunjuk pukul 08 lewat 08 detik di tanggal 08 bulan 08 tahun 2008, sehingga kombinasi angkanya akan menjadi 080808080808. Penghulu kebanjiran order, sementara KUA harus mengatur supaya semua bisa terlayani dengan baik. </p>
<p>Semalam, seorang kawan mengirim pesan lewat YM: minta tolong dicarikan sebanyak-banyaknya koran dari penerbitan yang berbeda, khusus edisi tanggal 8 bulan 8 tahun 2008. Koran-koran itu bukan untuk dijual kiloan ke pasar, tetapi untuk hadiah kepada keponakannya yang sedang diatur agar lahir persis pada tanggal 8 bulan 8 tahun 2008. </p>
<p>“Anaknya adikku akan lahir tanggal 8 Agustus 2008, dan aku mau kasih kado koran edisi 080808. Nanti, kalau sudah besar, orangtuanya akan memperlihatkan koran-koran itu, dan si anak pasti bangga karena dia bisa tahu peristiwa apa saja yang terjadi saat tanggal kelahirannya,” si kawan berargumen. Saya mengiyakan, berjanji mencari koran pada tanggal tersebut sedapatnya. </p>
<p><img alt="" src="http://www.windede.com/images/080808.jpg" title="Angka keramat 080808" class="alignnone" width="442" height="182" /></p>
<p>Siapapun hendak menoreh sejarah, tinggal bagaimana caranya dan dalam bentuk apa. Pada kehidupan pribadi kita, sejarah hidup adalah apa yang bagi kita bisa terkenang sepanjang masa. Angka-angka kerap bisa mewakili kenangan itu. Ada banyak orang yang bahkan bisa hapal detil tanggal kapan dia pertama masuk sekolah, pertama dapat pacar, pertama melamar wanita, pertama punya anak dan sebagainya. Lalu banyak orang lagi yang yakin punya nomor hoki, nomor-nomor keberuntungan di mana nasib baik selalu berpihak kepadanya dan selalu saja terhubung dengan nomor-nomor itu. </p>
<p>Berapa  nomor hoki Anda? Punya rencana apa menyambut 080808 tahun ini atau 090909 tahun depan?</p>
<p>Saya tak punya nomor hoki. Tidak punya rencana apa-apa di tanggal 080808 atau kelak 0090909 atau bahkan 101010 (mudah-mudahan panjang umur). Satu-satunya yang saya lakukan sebagai penanda angka-angka cantik itu hanyalah membuat posting di blog ini. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://windede.com/2008/08/08/google-080808-dan-olimpiade-beijing-2008/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pembunuhan Berantai ala Ryan Jombang</title>
		<link>http://windede.com/2008/08/02/pembunuhan-berantai-ala-ryan-jombang/</link>
		<comments>http://windede.com/2008/08/02/pembunuhan-berantai-ala-ryan-jombang/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Aug 2008 02:20:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>windede</dc:creator>
				<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[Manusia]]></category>
		<category><![CDATA[Anak Muda]]></category>
		<category><![CDATA[Gampang]]></category>
		<category><![CDATA[Gangguan Jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Dur]]></category>
		<category><![CDATA[Homoseksual]]></category>
		<category><![CDATA[Jagal]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa Timur]]></category>
		<category><![CDATA[Jumlah Korban]]></category>
		<category><![CDATA[Keji]]></category>
		<category><![CDATA[Kematian]]></category>
		<category><![CDATA[Kuburan]]></category>
		<category><![CDATA[Mimpi Buruk]]></category>
		<category><![CDATA[Paksa]]></category>
		<category><![CDATA[Pembunuhan]]></category>
		<category><![CDATA[Psikiatri]]></category>
		<category><![CDATA[Psikopat]]></category>
		<category><![CDATA[Sakit Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Senada]]></category>
		<category><![CDATA[Sensitif]]></category>
		<category><![CDATA[Sesama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://windede.com/?p=263</guid>
		<description><![CDATA[
JOMBANG beberapa hari terakhir jadi buah bibir. Bukan lagi karena Gus Dur, Cak Nun atau Asmuni, tokoh-tokoh nasional asal kota di Jawa Timur itu, tetapi karena Ryan, seorang muda psikopat yang telah sukses menghabisi nyawa setidaknya 11 manusia – itulah jumlah korban yang sementara ini telah terungkap. 
Pasti tidak gampang menjadi pembunuh. Perlu keberanian (atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src='http://www.windede.com/images/ryan.jpg' alt='Jagal asal Jombang, Ryan' class='alignnone' /></p>
<p><strong>JOMBANG</strong> beberapa hari terakhir jadi buah bibir. Bukan lagi karena Gus Dur, Cak Nun atau Asmuni, tokoh-tokoh nasional asal kota di Jawa Timur itu, tetapi karena Ryan, seorang muda psikopat yang telah sukses menghabisi nyawa setidaknya 11 manusia – itulah jumlah korban yang sementara ini telah terungkap. </p>
<p>Pasti tidak gampang menjadi pembunuh. Perlu keberanian (atau kenekatan) dan mental yang kuat, terutama apabila hal itu dilakukan dengan berencana, di bawah kesadaran alam pikiran, dan berkali-kali pula. Manusia seperti apakah yang begitu kuat hatinya, menanggung semua mimpi buruk setelah mengantarkan kematian manusia lain dengan cara paksa? <span id="more-263"></span></p>
<p><img src='http://www.windede.com/images/ryan2.jpg' alt='Wajah sang psikopat, Ryan Jombang' class='alignleft' />Hasil pemeriksaan kejiwaan menyimpulkan tidak ada tanda-tanda gangguan jiwa berat pada Ryan. Dia tidak gila, masih waras dan paham betul semua perbuatannya. Ryan hanya patut disebut psikopat, berkepribadian sangat sensitif, mudah tersinggung, impulsif dan agresif. Itu yang dalam teori psikiatri membuat anak muda ini mudah menyerang bila marah dan tersinggung. Kecuali itu, entah ada hubungannya atau tidak dengan prilaku kejamnya, Ryan diketahui memiliki gangguan orientasi sesksual, yakni homoseksual, dan biasa berperan sebagai wanita dalam berhubungan dengan sesama jenisnya.</p>
<p>Dalam hal “kualitas” kriminalnya, dapat dilihat semakin hari tingkat keseriusan perbuatan jahat Ryan semakin “maju”. Dari semula membunuh karena terpaksa, lalu membunuh dengan rencana karena motif uang, kemudian membunuh oleh sebab sakit hati, lantas membunuh dengan sangat keji: mutilasi, memotong-motong tubuh korban menjadi beberapa bagian. Entah apa jadinya bila perbuatan menyimpang ini lebih lambat diketahui. Halaman rumah Ryan di Jombang bakal benar-benar jadi kuburan. </p>
<p>Wajahnya kalem, mungkin senada dengan pembawaannya yang rada kemayu. Ryan sungguh tak tampak seperti seorang pembunuh. Dalam rekaman di televisi, melihat gayanya berjalan dan menggerakkan badan, anak muda ini malah jauh dari kesan penjahat. Tak sebanding dengan cap jagal yang sekarang dilekatkan kepadanya. </p>
<p>Saya masih sulit membayangkan suasana hati seseorang yang telah membunuh orang lain. Para eksekutor terpidana mati saja dibekali senjata yang dia tak pernah tahu, apakah senjata yang dipegangnya berisi peluru sungguhan atau hampa, demi membebaskan sang eksekutor dari perasaan bersalah telah membunuh – meski itu dilakukan atas nama hukum. </p>
<p>Tentara-tentara yang pulang dari medan perang sering mengalami trauma panjang, belum tentu oleh perbuatannya sendiri membunuh musuh, lebih sering justru karena melihat rekannya yang kejam. </p>
<p>Suatu hari, dalam sebuah tidur yang nyenyak karena seharian lelah bekerja, saya bermimpi terlibat dalam perkelahian seru. Seru sekali. Hingga, singkat cerita, lawan saya dalam mimpi itu, yang saya sendiri tak pernah tahu siapa dia dan apakah dia ada dalam kehidupan nyata, mati terbunuh. Di tengah malam yang sepi, saya terjaga, dengan nafas tersengal kelelahan, seperti perkelahian itu baru saja terjadi dan benar-benar terjadi. Berhari-hari saya dihantui trauma oleh mimpi itu. Membayangkan tangan berlumuran darah dan tatapan mata begitu sakit dari orang yang meregang nyawa. Padahal, cuma mimpi. </p>
<p>Dalam kehidupan nyata saya punya beberapa pengalaman terkait pembunuhan, terutama dalam hubungannya dengan pekerjaan saya sebagai jurnalis. Ngepos di kamar mayat rumah sakit dan setiap hari menyaksikan jenazah datang dan pergi yang sebagiannya mati karena dibunuh, terjun langsung ke medan perkelahian geng antarkampung, menyaksikan duel dua sepupu karena sengketa tanah, atau mewawancara pelaku-pelaku pembunuhan yang terduduk layu di balik jeruji penjara kantor polisi. </p>
<p><img src='http://www.windede.com/images/ryan3.jpg' alt='Mayat korban pembunuhan Ryan dievakuasi dari kuburan di halaman rumah orang tuanya. ' class='alignnone' /></p>
<p>Saya juga relatif gemar membaca novel-novel berlatar kisah pembunuhan, dengan setting cerita yang rumit dan menegangkan, penuh skenario busuk yang entahlah bagaimana penulisnya bisa berimajinasi seliar itu, atau menonton film-film drama peristiwa yang mengisahkan misteri kematian, yang sepanjang cerita membuat jantung berdebar-debar, penuh kejutan dan ketakterdugaan. </p>
<p>Semua pengalaman itu ternyata masih saja belum cukup membuat hati saya kuat membaca drama pembunuhan berantai ala Ryan Jombang, yang mengubur sebagian korbannya menjadi satu bertumpuk-tumpuk di sebelah septic tank, mengubur sebagian yang lain di sisi kiri dan kanan rumah orangtuanya, dan diduga masih ada beberapa korban lagi yang belum ditemukan. Betapa kuat dan rumitnya kejiwaan anak muda itu bila benar dialah pelaku tunggal, eksekutor penjemput ajal perebut urusan malaikat maut.</p>
<p>Melihat caranya membunuh dan perkakas yang dipakai: martil, bola beton, tongkat besi, juga kayu balok yang dipukulkan ke kepala belakang korbannya, kekejaman Ryan sungguh tak bisa dibilang sembarangan. Di kalangan sesama pembunuh kelasnya mungkin sudah advance killer, pembunuh tingkat atas yang di lingkungan penjara pun akan ditakuti – ini bila dia mujur tak segera dihukum mati. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://windede.com/2008/08/02/pembunuhan-berantai-ala-ryan-jombang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>44</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Senjakala Cerita Anak Batang</title>
		<link>http://windede.com/2008/07/26/senjakala-cerita-anak-batang/</link>
		<comments>http://windede.com/2008/07/26/senjakala-cerita-anak-batang/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Jul 2008 05:53:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>windede</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[Alat Berat]]></category>
		<category><![CDATA[Ampas]]></category>
		<category><![CDATA[Batang]]></category>
		<category><![CDATA[Bedak]]></category>
		<category><![CDATA[Buruh]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Departemen]]></category>
		<category><![CDATA[Kapitalis]]></category>
		<category><![CDATA[Mulut]]></category>
		<category><![CDATA[Orang Hulu]]></category>
		<category><![CDATA[Pembalakan]]></category>
		<category><![CDATA[Pembangunan Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Penebangan Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[Peradaban]]></category>
		<category><![CDATA[Permukiman]]></category>
		<category><![CDATA[Senjakala]]></category>
		<category><![CDATA[Setiap Hari]]></category>
		<category><![CDATA[Sungai Yang]]></category>
		<category><![CDATA[Tabungan]]></category>
		<category><![CDATA[Tug Boat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://windede.com/?p=262</guid>
		<description><![CDATA[
SELALU ada yang hilang dalam sejarah. Di saat peradaban berubah, orang-orang memutar akal mencari hidup baru mereka. Bisa dengan modal masa lalu, bisa pula bersandar pada sesuatu yang benar-benar baru. Kegemilangan hari ini adalah tabungan masa depan, meski pada sebagian orang bisa pula hanya berujung sebagai kenangan. Tiada bersisa kecuali sekadar cerita.
Terlahir dan besar di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src='http://www.windede.com/images/kayu3.jpg' alt='sisa-sisa batang kayu gelondongan di sungai mahakam' class='alignnone' /></p>
<p><strong>SELALU</strong> ada yang hilang dalam sejarah. Di saat peradaban berubah, orang-orang memutar akal mencari hidup baru mereka. Bisa dengan modal masa lalu, bisa pula bersandar pada sesuatu yang benar-benar baru. Kegemilangan hari ini adalah tabungan masa depan, meski pada sebagian orang bisa pula hanya berujung sebagai kenangan. Tiada bersisa kecuali sekadar cerita.</p>
<p>Terlahir dan besar di sebuah kota dengan ekonomi yang digerakkan oleh booming pabrik-pabrik kayu, pada dekade di mana Indonesia sedang memulai tumbuh menjadi negeri dengan “pembangunan ekonomi” sebagai pilar utama, saya berkesempatan mencicipi sepotong kenangan gegap-gempita masyarakat yang hidup dari usaha penebangan hutan, mulai kerja pembalakan di hulu yang jauh di pedalaman, hingga pabrik-pabrik plywood di hilir tempat permukiman-permukiman baru bermunculan. <span id="more-262"></span> </p>
</p>
<p>Semua hidup dari kayu. Orang-orang hulu yang menjadi juragan log, pemilik sawmil di sepanjang pinggir sungai yang membuang ampas gergajian langsung ke bantaran, buruh-buruh pabrik plywood yang bekerja shift siang-malam, sopir-sopir antarjemput karyawan, truk dan alat berat pengatur kayu gelondongan di logpond-logpond yang bekerja 24 jam, juga warung-warung makan di sepanjang jalan dari pabrik milik para kapitalis menuju rumah-rumah bedak sewaan yang alakadarnya. </p>
<p><img src='http://www.windede.com/images/kayu2.jpg' alt='sisa-sisa batang kayu gelondongan di sungai mahakam' class='alignleft' />Geliat ekonomi bumi Kalimantan di era tahun 70-80-an memang bersumber dari kayu. Izin hak pengusahaan hutan terbit berlembar-lembar dari departemen-departemen di pemerintahan pusat yang tak begitu paham bagaimana hutan semestinya diperlakukan. Ratusan batang kayu gelondongan ditarik oleh tug-boat bermesin ganda, setiap hari, dalam ikatan-ikatan yang saling menyambung satu sama lain. Sebagian langsung berlayar ke negeri entah di mana, sebagian lagi masuk dulu ke mulut pabrik untuk diolah menjadi produk setengah jadi, sebelum akhirnya dikirim jauh ke luar Borneo.</p>
<p>Karena sungai adalah transportasi utama untuk memobilisasi kayu dari hulu ke hilir, maka pabrik-pabrik pengolahnya didirikan tak jauh dari sungai. Ini supaya proses loading kayu gelondongan ke mesin-mesin pemotong tak lagi memerlukan angkutan darat yang tentu saja lebih mahal.  Seperti semut merubung roti, kaum buruh pun tinggal tak jauh dari pabrik. Biasanya di sepanjang bantaran sungai dengan rumah-rumah sederhana berbahan kayu reject dari pabrik. </p>
<p>Apa yang terjadi setiap hari di permukiman pinggir sungai itu, bagi saya, adalah sebuah memori masa kekanak. Mandi air sungai dengan berjejak pada batang-batang kayu yang mengapung menunggu giliran masuk pabrik, memancing udang galah atau ikan baung di setengah malam selepas salat Isya, mencari anak udang di akar enceng gondok yang larut bersama macam-macam sampah, bermain layangan bersama kawan seumuran, atau menjadi supporter para pekerja kapal penarik kayu yang suka sekali main kartu. </p>
<p>Anak-anak dari keluarga buruh kayu seperti saya memang akhirnya menjadi anak batang. Pagi dan sore adalah saat yang paling menyenangkan karena semilir angin dari bukit-bukit di daratan seperti mengalir bersama air sungai yang sejuk. Pulang sekolah, main ke batang. Selepas belajar mengaji, main lagi ke batang. Salah satunya tentu saja karena dulu juga belum ada fasilitas games play station seperti anak-anak sekarang. </p>
<p>Era booming kayu yang oleh orang Kalimantan dikenal dengan istilah “banjir kap” itu meredup di pengujung 90-an, ketika semakin sedikit kayu di hutan yang bisa ditebang, dan –inilah bentuk keserakahan lain—ada bisnis baru yang lebih menggiurkan: tambang batubara. Hutan-hutan yang telah gundul tak lagi ditanami kayu pengganti. Sekarang malah disulap jadi perkebunan sawit yang memang sedang gantian booming. Pemilik HPH membawa ahli-ahli tanah untuk meneliti apakah di areal bekas tebangan kayu miliknya terkandung batubara. Maka betapa mujurnya bila setelah kaya dari menebang kayu, bisa tajir lagi dengan mendapat kuasa pertambangan di areal yang sama. </p>
<p>Awal bulan lalu, ketika pulang kampung ke Samarinda, saya terkesima oleh keadaan sunyi senyap pabrik-pabrik kayu. Kampung kecil saya, Loa Janan, di pinggiran Samarinda Seberang, yang pada tahun 80-an sangat sibuk oleh hiruk-pikuk ribuan pekerja kayu, kini sepi. Memang masih terlihat sedikit asap dari cerobong boiler pabrik, sebagai tanda-tanda kehidupan, tapi volume produksi telah menurun jauh. Deretan gelondongan di sungai telah berganti ponton-ponton pengangkut batubara yang hilir-mudik. </p>
<p><img src='http://www.windede.com/images/kayu.jpg' alt='era booming kayu telah hilang... tenggelam bersama cerita anak batang' class='alignnone' /></p>
<p>Dari sebuah resto di punggung bukit dekat Jembatan Mahakam, saya menyaksikan sederet rakit gelondongan yang dari warna kayunya tampak telah berbulan-bulan terbiarkan. Entah karena pemiliknya sedang ingin buang-buang uang atau memang kayu-kayu gelondongan itu belum mendapat pabrik untuk berlabuh. Atau bisa juga itu kayu bermasalah yang surat-menyuratnya tidak lengkap, atau malah barang bukti illegal logging yang sedang disita aparat. </p>
<p>Apapun juga, dari pemandangan itu tiba-tiba saja terulang rekaman masa kecil anak-anak batang, yang dulu tidak pernah mengerti mengapa gelondongan kayu itu mengalir deras dari hulu ke hilir, masuk ke pabrik, lantas tak pernah jelas setelah itu dikirim ke mana, sebab kapal-kapal pengekspor plywood membawanya dalam keadaan tertutup.</p>
<p>Di batang-batang sisa masa lalu itu, saya tak melihat lagi anak batang bercengkerama, mandi atau bermain. Seperti juga bisnis kayu yang meredup, anak batang pun telah bergerak menuju senjakala untuk akhirnya tinggal menjadi sejarah saja. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://windede.com/2008/07/26/senjakala-cerita-anak-batang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PON dan Ikthiar Sejarah Kemewahan</title>
		<link>http://windede.com/2008/07/19/pon-dan-ikthiar-sejarah-kemewahan/</link>
		<comments>http://windede.com/2008/07/19/pon-dan-ikthiar-sejarah-kemewahan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Jul 2008 14:19:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>windede</dc:creator>
				<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemplasi]]></category>
		<category><![CDATA[Apbd]]></category>
		<category><![CDATA[Apbn]]></category>
		<category><![CDATA[Bangga]]></category>
		<category><![CDATA[Gelora Bung Karno]]></category>
		<category><![CDATA[Hotel Atlet]]></category>
		<category><![CDATA[Jembatan]]></category>
		<category><![CDATA[Kembang Api]]></category>
		<category><![CDATA[Megah]]></category>
		<category><![CDATA[Nasionalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Panitia]]></category>
		<category><![CDATA[Pekan Olahraga Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Perdamaian Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Perumahan]]></category>
		<category><![CDATA[Pesta]]></category>
		<category><![CDATA[pon kaltim]]></category>
		<category><![CDATA[Rp5]]></category>
		<category><![CDATA[Samarinda]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Sepakbola]]></category>
		<category><![CDATA[Sungai Mahakam]]></category>
		<category><![CDATA[Tiba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://windede.com/?p=260</guid>
		<description><![CDATA[
MEGAH dan gegap gempita. Pekan Olahraga Nasional (PON) XVII di Kaltim benar-benar menoreh sejarah. Bukan sekadar sejarah untuk pertama kalinya PON digelar di Bumi Kalimantan, tetapi juga sejarah terkurasnya lebih dari Rp4,5 triliun dana pembangunan sebuah provinsi untuk “pesta” yang habis dalam dua pekan. Acara pembukaan dan penutupannya, dengan langit penuh kembang api, menghabiskan biaya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src='http://www.windede.com/images/ponkal.jpg' alt='Pesta kembang api penutupan PON XVII Kaltim. Lupa kalo harga BBM baru saja naik hehehe...' class='alignnone' /></p>
<p><strong>MEGAH</strong> dan gegap gempita. Pekan Olahraga Nasional (PON) XVII di Kaltim benar-benar menoreh sejarah. Bukan sekadar sejarah untuk pertama kalinya PON digelar di Bumi Kalimantan, tetapi juga sejarah terkurasnya lebih dari Rp4,5 triliun dana pembangunan sebuah provinsi untuk “pesta” yang habis dalam dua pekan. Acara pembukaan dan penutupannya, dengan langit penuh kembang api, menghabiskan biaya Rp28 miliar!</p>
<p>Di satu sisi orang Kaltim bangga karena inilah event olahraga yang disebut-sebut termewah dalam sejarah Indonesia. Mewah segala-galanya, semewah biayanya yang sama dengan satu tahun APBD Kaltim. Dari jumlah tersebut, Rp1,5 triliun lebih digelontor untuk membangun sebuah kompleks olahraga terpadu di Palaran, Samarinda Seberang, yang jadi tempat pembukaan dan penutupan PON. Stadion utamanya disebut-sebut mengalahkan kemegahan Gelora Bung Karno Jakarta. <span id="more-260"></span> </p>
<p>Demi ikhtiar menoreh sejarah kemewahan itu panitia membangun gedung-gedung olahraga baru, stadion sepakbola, hotel atlet, perumahan atlet, bahkan dua ruas jembatan baru melintasi Sungai Mahakam, yang sedihnya, tak kunjung rampung hingga PON berlangsung. Kesibukan bukan saja terjadi di Samarinda sebagai kota utama tuan rumah, tetapi juga di 6 kota lainnya dari Tarakan di ujung utara sampai Balikpapan di sebelah selatan. </p>
<p>Kalau ditambahkan dengan kucuran dana dari APBD kabupaten/kota pendukung, jumlah uang yang terkuras (di Kaltim saja) bisa mencapai Rp5 triliun. Ini sama dengan 5 ribu miliar. Kalau mau ditulis angkanya: 5.000.000.000.000. Belum lagi bila dihitung dengan biaya yang tentu tak sedikit pula dari APBN, juga APBD provinsi-provinsi peserta PON dari seluruh Indonesia.</p>
<p><img src='http://www.windede.com/images/pon3.jpg' alt='Layar digital di Stadion Utama Palaran, Samarinda Seberang. ' class='alignleft' />Ya, tapi inilah suratannya: olahraga, betapapun berisiko biaya tetaplah harus terus berlangsung. Spirit olahraga mesti senantiasa tumbuh meskipun mahal. Olahraga diakui sebagai cara terbaik membangun semangat persatuan, kebangsaan, nasionalisme, bahkan juga perdamaian dunia – yang nilainya tentu sulit diukur dengan uang. </p>
<p>Tiba-tiba saja, dalam sebuah perbincangan di Jakarta, seorang kawan menukas: “PON? Kapan?”</p>
<p>Dia bukan satu-satunya penduduk Indonesia yang awam dengan event ini. Di luar warga Samarinda atau Kaltim umumnya, banyak penduduk Indonesia yang tidak ngeh bahwa PON telah berlangsung di Kaltim dan bahkan sudah berakhir. </p>
<p>“Kok tidak ada gaungnya?” Kawan saya ini memang agak kuper, jarang baca koran dan hampir tak pernah nonton televisi. Tetapi, toh memang gegap gempita pelaksanaan PON di Kaltim tak cukup memadai. Beritanya kalah pamor dengan anggota DPR RI yang ditangkap menerima suap. Atau makelar kasus BLBI yang perbincangan teleponnya dengan jaksa kemaruk duit direkam-sadap oleh KPK sampai ke dalam penjara.</p>
<p>Duabelas hari yang seperti berlalu begitu saja.  Disiarkan langsung hanya oleh TVRI pada saat seremoni pembukaan dan penutupan, kemudian sekilas berita dan kabar lewat di televisi lain mengenai perolehan medali, lalu rubrik-rubrik kecil di pojok dalam halaman koran dan sekadar pernik-pernik selewat info di media online. PON kali ini memang mewah, menghabiskan besar sekali biaya, tapi tak cukup terasa sebagai kehebohan nasional. </p>
<p>Di balik kemewahan pelaksanaan PON itu tersembunyi pula sejumlah kelucuan. Misalnya, ini: bertahun-tahun orang Kaltim berjuang menjadi tuan rumah, hingga perjuangan itu berujung keberhasilan ketika PON XVI di Palembang, Kaltim diputuskan jadi tuan rumah PON XVII 2008 – maka selama 4 tahun berikutnya, persiapan dilakukan dengan “berdarah-darah”, penuh perdebatan, ribut-ribut dan masalah demi masalah. Giliran PON berlangsung, Kaltim berada dalam keadaan politik paling pelik: tidak punya gubernur. Maklum, gubernur definitifnya dipenjara karena kasus korupsi. Plt gubernur (dijabat wakil gubernur) telah habis masa jabatannya, penjab plt gubernur (dijabat sekdaprov) hanya menjabat satu minggu, sementara gubernur baru belum terpilih karena pilkada harus berlangsung dua putaran. Akhirnya, ketika pembukaan PON tanggal 4 Juli 2008, pidato gubernur disampaikan oleh “orang pusat”, seorang pejabat dari Depdagri yang baru satu hari dilantik oleh Mendagri menjadi Pj Gubernur Kaltim, sekadar demi mengisi kekosongan jabatan.</p>
<p>Kepada seorang kawan dalam sebuah makan siang di Samarinda saya katakan, inilah tragedi politiknya: orang Kaltim bertahun-tahun menyiapkan panggung, giliran hari pertunjukan, yang tampil malah orang lain. </p>
<p><img src='http://www.windede.com/images/pon.jpg' alt='Lapangan sepakbola di Stadion Utama Palaran, Samarinda Seberang. ' class='alignnone' /></p>
<p>Insan olahraga akan bilang; janganlah olahraga dikait-kaitkan dengan politik. Masalahnya, PON, sebagai multi-event, tentu saja memang olahraga. Tetapi ia juga peristiwa politik mengingat pelaksanaannya menggunakan dana APBD. Proyek-proyek fisik pembangunan venue, pengorganisasian lebih 50 ribu manusia baik atlet, ofisial maupun sekadar penggembira selama acara, manajemen ini-itu, digerakkan oleh infrastruktur birokrasi pemerintahan; sebuah fakta yang akan menggiring lembaga pemeriksa keuangan negara pada saatnya melakukan audit. </p>
<p>Saya hanya mengkhawatirkan ini: sejarah kemewahan yang hendak ditoreh lewat PON pertama di Kalimantan itu benar-benar akan menjadi sejarah karena tragedi yang lebih besar lagi: temuan korupsi di sana-sini, penggelapan dan penyelewengan dana, krisis sosial karena duit APBD terkuras bukan untuk pembangunan, sementara orang-orang berada dalam kebingunan venues eks-PON yang super-megah (stadion utama, hotel atlet, gedung-gedung olahraga) itu hendak dibuat apa. </p>
<p>Ini bukanlah kekhawatiran yang lahir dari sikap skeptis. Ini suara hati anak kampung yang lahir dan besar di tempat di mana PON megah-mewah itu baru saja berlangsung, yang di tengah rasa bangga telah menjadi bagian dari tuan rumah pesta olahraga terbesar Indonesia, juga menyimpan kegundahan; apakah setelah pesta semua akan baik-baik saja? ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://windede.com/2008/07/19/pon-dan-ikthiar-sejarah-kemewahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Teori Lupa dan Adaptasi Kita</title>
		<link>http://windede.com/2008/05/23/teori-lupa-dan-adaptasi-kita/</link>
		<comments>http://windede.com/2008/05/23/teori-lupa-dan-adaptasi-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 May 2008 06:26:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>windede</dc:creator>
				<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[Politika]]></category>
		<category><![CDATA[adaptasi]]></category>
		<category><![CDATA[bbm]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[lupa]]></category>
		<category><![CDATA[negara]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://windede.com/?p=251</guid>
		<description><![CDATA[
Banyak orang mungkin lupa, 10 tahun yang lalu, harga bensin masih Rp1.200. Seribu dua ratus rupiah, kawan. Pada masa sekarang, buat bayar ongkos parkir pun sudah nggak dapat lagi. Kalau belanja di mini market, duit segitu malah kerap dikonversi menjadi sebutir permen sebagai pengganti koin kembalian. Harga solar lebih murah lagi, hanya separonya, dan karena [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="Klik untuk memperbesar" href="http://www.windede.com/images/grafisbbmlrg.jpg" target="_blank"><img src="http://www.windede.com/images/grafbbm.jpg" alt="" width="442" height="145" /></a></p>
<p>Banyak orang mungkin lupa, 10 tahun yang lalu, harga bensin masih Rp1.200. Seribu dua ratus rupiah, kawan. Pada masa sekarang, buat bayar ongkos parkir pun sudah nggak dapat lagi. Kalau belanja di mini market, duit segitu malah kerap dikonversi menjadi sebutir permen sebagai pengganti koin kembalian. Harga solar lebih murah lagi, hanya separonya, dan karena itu dulu banyak orang memilih beli mobil diesel supaya irit bahan bakar.</p>
<p>Sejak tiga tahun lalu, hingga hari ini, seliter bensin sudah terdongkrak jadi Rp4.500. Beberapa hari ke depan bakal naik lagi jadi Rp6.000. Begitu dahsyat “pertumbuhan” ekonomi sehingga dalam waktu 10 tahun, harga BBM melambung 500 persen. Tentu bukan cuma Indonesia yang merasakan hal ini. Sebab kenaikan harga BBM juga megikuti meledaknya harga minyak mentah dunia – yang gila-gilaan itu. <span id="more-251"></span></p>
<p>Ah, tapi kita tak perlu pusing membincangkan angka-angka. Tengok saja info grafik yang saya kutip dari Harian Jawa Pos itu (klik pada gambar untuk memperbesar). Betapa sebenarnya kita ini makhluk yang gampang lupa dan karena itu, ketika BBM harus naik lagi, sebenarnya rakyat paling miskin pun hanya perlu sedikit waktu untuk beradaptasi. Bahwa pemerintah was-was dengan keputusan menaikkan harga BBM, mungkin hanya karena pejabatnya takut kehilangan jabatan. Tak jauh-jauh lah dari urusan menyelamatkan kedudukan.</p>
<p><img class="alignleft" style="float: left;" src="http://www.windede.com/images/antreminyak.jpg" alt="Antrean minyak tanah warga..." width="200" height="386" />Itu sebabnya, sebelum harga naik, ada semacam usaha menghimpun respon masyarakat. Sinyal-sinyal bakal terjadi kenaikan harga BBM dilempar ke publik. Pejabat-pejabat mengeluarkan omongan bersayap, yang saking hebatnya sayap itu ucapannya terbang melayang-layang bikin penasaran. Orang-orang diberi waktu untuk marah-marah dulu, melampiaskan semua kekekesalan. Yang mau demo silakan demo, sampai energinya terkuras sendiri. Yang suka berkomentar, bikin pernyataan, menulis artikel, termasuk ngoceh di blog seperti ini, dibiarkan sibuk sesuka-suka hati. Begitu semua lelah, antiklimaks, barulah gong ditabuh: BBM benar-benar naik.</p>
<p>Gonjang-ganjing tak bisa dihindari. Rumusnya memang sudah begitu. Orang miskin pasti berteriak meski ada iming-iming BLT. Orang kaya ikut ngomel karena walaupun hidupnya tetap nyaman, pasti akan ada pembengkakan biaya di mana-mana, dan itu artinya tombol (-) di kalkulator bakal lebih sering dipencet ketimbang tombol (+) seperti hari-hari sebelumnya. Orang menengah, yang miskin tidak tapi kaya juga belum, akan sama pusingnya. Bahkan bakal paling pusing dibandingkan yang posisinya jelas-jelas miskin atau jelas-jelas kaya.</p>
<p>Tetapi itu tidak lama. Hanya beberapa hari, beberapa pekan, atau kalau apes pun ya sampai beberapa bulan. Setelah itu orang harus kembali pada hidupnya lagi. Harus menata diri sebaik mungkin supaya bisa bertahan di dunia yang makin kejam ini. Sampai akhirnya terbiasa, lalu lupa kalau BBM pernah naik.</p>
<p>Kalau prosesnya lambat, ada banyak cara untuk mempercepat. Teori manajemen isu mengajarkan banyak penyelenggara negara untuk membuat skenario di mana sebuah isu ditenggelamkan oleh isu yang lain. Seorang kawan malah sibuk bikin tebak-tebakan, kira-kira isu apa yang akan digelindingkan (atau seolah-olah menggelinding sendiri) untuk melawan isu protes nasional pasca kenaikan harga BBM nanti. Tebakannya macam-macam. Dari soal wabah flu burung, kekisruhan sosial atas aliran sesat, atau yang sudah basi seperti terorisme.</p>
<p>Orang akan lupa memprotes kenaikan harga BBM karena ada isu lain yang lebih menarik perhatian. Dan itu pasti ada. Percayalah. Kalau nasib baik, pejabat pemerintah yang dituntut mundur akan terselamatkan oleh isu baru itu. Tetapi bisa juga tidak mujur, kalau misalnya yang dimaksud isu yang “lebih menarik perhatian” itu justru peristiwa runtuhnya rezim oleh people power, seperti kejadian 10 tahun silam.</p>
<p>Usaha melawan kekuasaan sesungguhnya adalah usaha melawan lupa. Itu kata Milan Kundera, dulu sekali. Kita memang gampang lupa, segampang kita menjadi makhluk pengadaptasi perubahan seekstrem apapun. Jangankan bensin naik jadi Rp6.000 per liter, dilipat lagi sampai Rp9.000 per liter pun sebenarnya kita akan mampu beradaptasi. Dan selama proses adaptasi itu, kita akan marah-marah sebentar, sebelum akhirnya lupa.</p>
<p>Inilah mungkin yang menjadi modal pemerintah sekarang menaikkan harga BBM. Kepercayaan bahwa teori lupa Milan Kundera akan menyelamatkan, termasuk atas citra yang sedang dibangun untuk kepentingan suksesi kepemimpinan 2009.</p>
<p>Jadi, mari menikmati harga baru BBM.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://windede.com/2008/05/23/teori-lupa-dan-adaptasi-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fitna dan Ketololan Ketakberdayaan Kita</title>
		<link>http://windede.com/2008/04/07/fitna-dan-ketololan-ketakberdayaan-kita/</link>
		<comments>http://windede.com/2008/04/07/fitna-dan-ketololan-ketakberdayaan-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Apr 2008 08:20:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>windede</dc:creator>
				<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[Politika]]></category>
		<category><![CDATA[fitna]]></category>
		<category><![CDATA[Geert Wilders]]></category>
		<category><![CDATA[infokom]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[uu ite]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://windede.com/2008/04/07/fitna-dan-ketololan-ketakberdayaan-kita/</guid>
		<description><![CDATA[
Sudah nonton film Fitna? Kalau sudah, marahlah, karena siapapun pantas marah menyaksikan film jahat yang super-tendensius itu. Tapi kalau belum, dengan alasan apa marah-marah?
Saya melihat ada gejala yang aneh, ketika virus marah-marah melanda seluruh negeri sementara sumber kemarahannya (ternyata) belum jelas benar. Orang-orang ribut dengan film dokumenter yang dibuat Geert Wilders, tetapi (lagi-lagi ternyata) belum [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://www.windede.com/images/fitna.jpg" alt="" /></p>
<p>Sudah nonton film Fitna? Kalau sudah, marahlah, karena siapapun pantas marah menyaksikan film jahat yang super-tendensius itu. Tapi kalau belum, dengan alasan apa marah-marah?</p>
<p>Saya melihat ada gejala yang aneh, ketika virus marah-marah melanda seluruh negeri sementara sumber kemarahannya (ternyata) belum jelas benar. Orang-orang ribut dengan film dokumenter yang dibuat Geert Wilders, tetapi (lagi-lagi ternyata) belum pernah melihat sendiri filmnya. Hanya dapat cerita dari entah siapa. <span id="more-247"></span></p>
<p>Di saat alasan untuk marah belum terpenuhi dengan sempurna, akses menuju sumber buat mencari alasan itu telah ditutup. Situs-situs yang menyediakan file film Fitna diblokir oleh pemerintah atas nama mengendalikan ketertiban dan keamanan nasional. Bersedihlah mereka yang tak sempat melihat film pendek berdurasi 16 menit itu, karena itu berarti hanya bisa bersikap atas dasar alasan yang dimiliki orang lain. Meskipun dengan mencari sedikit agak cerewet sebenarnya masih bisa ditemukan sumber untuk mengunduh film itu, di jagat internet yang demikian luas ini, sikap pemerintah memblokir sejumlah situs betapapun berbuntut kurang menyenangkan.</p>
<p>Ini mirip kisah usang tentang ketololan penghuni rumah yang harus membakar kelambu untuk membasmi nyamuk di pembaringan. Betapa besar manfaat You Tube sebenarnya, sehingga memblokir situs ini sekadar untuk “membakar” film Fitna sungguh berlebihan.</p>
<p>Selesaikah persoalan? Rasanya kok tidak. Seperti halnya usaha pemerintah yang hendak memberantas situs-situs porno, pemblokiran situs seperti You Tube sungguh mencederai niat luhur para penemu internet yang berkhidmat membuat dunia ini nyaman dan menyenangkan, dengan ketidakterbatasan ruang dan segenap kemudahan akses informasi yang menyertainya.</p>
<p>Saya termasuk yang selalu berpikir sederhana, bahwa hidup adalah pilihan. Menjadi baik atau buruk, jahat atau bijak, adalah urusan masing-masing. Dan bukan saja peradaban, semesta ini bahkan menyediakan semuanya – ya yang baik dan buruk itu sekaligus.</p>
<p>Anggaplah internet sebagai semesta. Semua tersedia. Madu dan racun ada. Pilihan ada pada masing-masing kita, mau ambil yang mana.</p>
<p>Maka, campur tangan <a title="Ketakberdayaan itu..." href="http://detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/04/tgl/07/time/084559/idnews/919153/idkanal/399" target="_blank">pemerintah memblokir akses informasi</a>, apakah atas nama anti-pornografi ataupun mengatasi keresahan umat karena film bodoh dari seorang Belanda yang provokatif, adalah gambaran <span style="text-decoration: line-through;">ketololan</span> ketakberdayaan yang patut disesali. ***</p>
<p><em>Customer D~NET yang terhormat,</em></p>
<p><em>Berdasarkan instruksi dari Menteri Komunikasi dan Informatika kepada ISP dan NAP di Indonesia untuk melakukan <strong>pemblokiran terhadap situs yang memuat film Fitna</strong>, D~NET sebagai bagian dari komunitas ISP di Indonesia, mulai hari Jumat, 4 April 2008 pukul 19:00 juga menerapkan pemblokiran situs-situs tersebut sampai waktu yang akan ditentukan kemudian.</em></p>
<p><em>Apabila Anda tertuju ke situs ini, berarti situs yang ingin anda tuju terdapat pada daftar situs yang kami blok. Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi 24 Hour Technical Support kami melalui nomor telepon (021) 574-3477 atau email support@dnet.net.id</em></p>
<p><em>Sebelumnya kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Terima kasih atas pengertian dan kerjasamanya.</em></p>
<p><em>Hormat kami,<br />
D~NET<br />
</em></p>
<p>=================================</p>
<p><em>Pemblokiran Situs yang Memuat Film Fitna</em></p>
<p><em>Atas permintaan Menteri Komunikasi dan Informasi No.84/M.KOMINFO/04/08 tanggal 2 April 2008, <strong>kami menutup akses situs dan blog yang memuat film Fitna</strong>.</em></p>
<p><em>Untuk itu pelanggan XL tidak akan bisa mengakses situs-situs sbb, sampai ada pemberitahuan selanjutnya:</em></p>
<p><em>* You tube<br />
* My Space<br />
* MetaCafe<br />
* Rapidshare</em></p>
<p><em>Demikian pemberitahuan ini kami sampaikan, agar maklum adanya.</em></p>
<p><em>Terimakasih.</em></p>
<p><em>Manajemen XL</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://windede.com/2008/04/07/fitna-dan-ketololan-ketakberdayaan-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Haruskah Wartawan Ditakuti?</title>
		<link>http://windede.com/2008/02/09/haruskah-wartawan-ditakuti-2/</link>
		<comments>http://windede.com/2008/02/09/haruskah-wartawan-ditakuti-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Feb 2008 02:01:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>windede</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[pers]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[wartawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://windede.com/index-baru.php/2006/02/09/haruskah-wartawan-ditakuti-2/</guid>
		<description><![CDATA[Sekadar Catatan untuk Hari Pers Nasional
Hari sudah mulai gelap ketika di suatu sore yang hangat saya menyudahi perbincangan dengan seorang tokoh, di coffee shop sebuah hotel. Saat bersama-sama menuju tempat parkir, si tokoh berujar; &#8220;eh, obrolan kita tadi sampai di sini saja ya. Jangan jadi berita, lho…&#8221;
Saya sendiri sedikit pun tak berniat menjadikan obrolan itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Sekadar Catatan untuk Hari Pers Nasional</em></strong></p>
<p><img title="Haruskah Wartawan Ditakuti?." src="http://windede.com/images/uploads/pers1.jpg" border="1" alt="" hspace="6" align="right" />Hari sudah mulai gelap ketika di suatu sore yang hangat saya menyudahi perbincangan dengan seorang tokoh, di <em>coffee shop</em> sebuah hotel. Saat bersama-sama menuju tempat parkir, si tokoh berujar; &#8220;eh, obrolan kita tadi sampai di sini saja ya. Jangan jadi berita, lho…&#8221;</p>
<p>Saya sendiri sedikit pun tak berniat menjadikan obrolan itu sebagai berita. Toh, kami memang sekadar ngobrol, bukan wawancara. Lagi pula, yang diobrolkan adalah urusan-urusan yang tak begitu menarik bahkan untuk bahan liputan sekalipun.</p>
<p>Tetapi begitulah kerap orang bersikap bila bertemu wartawan. Pernah suatu hari, seorang tokoh lain lagi, yang kebetulan belum mengenal saya, tiba-tiba terkejut ketika diperkenalkan bahwa saya adalah wartawan. Usai pertemuan tak sengaja itu kawan yang jalan bersama saya bilang; &#8220;&#8230;tadi Pak Anu itu nanya, kok bawa wartawan sih.&#8221; <span id="more-97"></span></p>
<p>Banyak sekali kejadian di mana wartawan dianggap seperti sosok menakutkan yang, kadang-kadang, memunculkan stigma: <em>daripada jadi masalah, lebih baik dituruti saja maunya</em>. Kalau satu orang wartawan saja &#8220;ditakuti&#8221;, apalagi berpuluh-puluh wartawan yang berhimpun dalam sebuah organisasi!</p>
<p>***Di tengah cukup banyak kritik mengenai profesi jurnalis, saya sampai hari ini tetap bangga menjadi wartawan. Setidaknya karena saya sendiri merasa menjalankan profesi kewartawanan saya dengan baik. Meski begitu saya tak bisa menutup mata, bahwa juga ada potret buruk mengenai komunitas pers hari ini; suka terima (atau minta) amplop, kadang-kadang memeras, baik dengan cara halus maupun cara preman, memperdagangkan informasi untuk diberitakan atau tidak diberitakan, berlaku arogan seolah-olah wartawan adalah masyarakat kelas satu.Dalam konteks <em>attitude</em>, agak sulit mengomentari prilaku wartawan, atau katakanlah oknum wartawan, atau malah hanya mengaku wartawan, yang menyalahgunakan profesi jurnalis untuk kepentingan yang tak ada hubungannya dengan berita. Komunitas wartawan pun berada pada posisi yang sulit untuk ikut campur urusan sesama. Ibaratnya, sedapat mungkin tak saling mengganggu <em>lah</em>. Kecuali bila urusan itu (ternyata) telah menyentuh ranah publik.</p>
<p><img title="Haruskah Wartawan Ditakuti?." src="http://windede.com/images/uploads/pers2.jpg" border="0" alt="" hspace="6" align="left" />Saya termasuk yang menganjurkan wartawan diperlakukan secara wajar. Sebab kami adalah manusia biasa juga, yang dalam hal profesi sebenarnya tidaklah seistimewa profesi yang lain. Sebagai manusia kami pun tidak sesempurna jagoan-jagoan heroik yang kalau di film selalu menang. Bukan pula malaikat penjaga surga yang senantiasa dilingkupi kebenaran. Ada saat di mana wartawan harus ditengok dari sisi kemanusiaannya; bisa khilaf, bisa salah, bisa nakal, bisa curang.</p>
<p>Saya harus menganjurkan soal ini mengingat begitu banyak pengalaman di mana tokoh-tokoh pejabat dan pengusaha kita tak berkutik ketika &#8220;dikepung&#8221; sekelompok wartawan yang, secara terang-terangan, minta duit, misalnya. Seorang pejabat kenalan saya bercerita, pernah untuk sebuah acara, dia harus habis Rp25 juta untuk &#8220;mengamplopi&#8221; wartawan.</p>
<p>&#8220;Padahal saya tidak mengundang mereka. Acara ini pun sebenarnya juga tidak harus diberitakan,&#8221; katanya. Hanya dengan pertimbangan menjaga hubungan baik, si pejabat akhirnya harus keluar duit dari kocek pribadi.</p>
<p>Seorang kawan pengusaha bercerita perusahaannya menyiapkan &#8220;dana non budgeter&#8221; khusus untuk meladeni wartawan yang bertamu dengan maksud meminta uang. &#8220;Mereka mengaku wartawan, lengkap dengan id card. Ya saya sih sudah ngerti. Mereka datang bukan untuk wawancara, melainkan minta duit,&#8221; katanya. Daripada repot, yang model begini biasanya dilayani dengan &#8220;dana non budgeter&#8221; tadi.</p>
<p>Sedemikian parahnya, sampai-sampai wartawan menjadi seperti momok. Memang bukan melulu salah wartawan. Sering juga karena pejabat atau pengusaha yang takut dengan wartawan itu memang punya masalah, lantas khawatir masalahnya diberitakan. Kalau tidak punya masalah, untuk apa takut?</p>
<p>***Lepas dari sejarah kenapa 9 Februari ditetapkan sebagai Hari Pers, menurut saya inilah saatnya komunitas pers melakukan introspeksi; haruskah wartawan menjadi sosok yang ditakuti? Tidakkah wartawan perlu berlaku dan diperlakukan wajar seperti halnya warga negara yang lain?Ketika seluruh elemen bangsa terus bergerak mereformasi diri, pers termasuk yang masih harus direformasi.</p>
<p><em>Salam perjuangan, Pers Indonesia!</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://windede.com/2008/02/09/haruskah-wartawan-ditakuti-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Generasi Windede Bertambah</title>
		<link>http://windede.com/2007/11/22/generasi-windede-bertambah/</link>
		<comments>http://windede.com/2007/11/22/generasi-windede-bertambah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Nov 2007 03:22:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>windede</dc:creator>
				<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[Manusia]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[bayi]]></category>
		<category><![CDATA[lahir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://windede.com/2007/11/22/generasi-windede-bertambah/</guid>
		<description><![CDATA[
Yang ditunggu akhirnya tiba. Seorang bayi mungil menambah satu lagi penduduk bumi, mudah-mudahan menjadi berkah dan memakmurkan peradaban.
Selasa, 20 November 2007, pukul 04.08, sesaat sebelum azan subuh berkumandang, si kecil lahir dengan berat 3,3 kg dan panjang 50 cm. Ia tentu saja menambah meriah suasana rumah, menyusul kemeriahan yang sudah diperlihatkan dua abangnya selama ini. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img width="442" src="http://img.photobucket.com/albums/v413/windede/newboy2.jpg" alt="Afif dengan senang memegangi dot dedek bayi." height="332" title="Afif dengan senang memegangi dot dedek bayi." /></p>
<p>Yang ditunggu akhirnya tiba. Seorang bayi mungil menambah satu lagi penduduk bumi, mudah-mudahan menjadi berkah dan memakmurkan peradaban.</p>
<p>Selasa, 20 November 2007, pukul 04.08, sesaat sebelum azan subuh berkumandang, si kecil lahir dengan berat 3,3 kg dan panjang 50 cm. Ia tentu saja menambah meriah suasana rumah, menyusul kemeriahan yang sudah diperlihatkan dua abangnya selama ini. Si kecil, yang saat lahir rambutnya sudah begitu lebat, adalah putra ketiga generasi windede. <span id="more-236"></span></p>
<p>Dibandingkan abang-abangnya, si kecil terbilang “paling kecil”. Safa (sekarang 4,5 tahun), si sulung, lahir dengan berat 3,7 kg dan panjang 54 cm. Sementara Afif (sekarang 3 tahun), putra kedua, lahir 3,5 kg dan panjang 54 cm. “Tetapi proses kelahirannya paling sakit,” kata mamanya, yang meskipun ini adalah persalinan kali ketiga, tampak seperti mau melahirkan anak pertama.</p>
<p>Putra ketiga ini belum bernama. Sampai sekarang masih ditimbang-timbang beberapa pilihan. Di rumah, sementara ini Safa dan Afif memanggil si bungsu dengan sebutan “dedek bayi”. Meski senang dapat adik, abang-abangnya tak bisa menyembunyikan rasa cemburu ketika malam menjelang tidur, mamanya ternyata memeluk si “dedek bayi”.</p>
<p>Afif pun harus melakukan penyesuaian. Selama ini, dia terbiasa dipanggil “dedek afif”. Sekarang, harus menjadi “abang afif”. Maka, Safa sempat kerepotan dan akhirnya memanggil “abang afif dedek”.</p>
<p><img align="left" width="200" src="http://img.photobucket.com/albums/v413/windede/new-boy.jpg" alt="Si dedek dua jam setelah dilahirkan..." height="260" title="Si dedek dua jam setelah dilahirkan..." />Putra ketiga ini adalah buah doa Arafah. Saat hari wukuf setahun yang lalu di Tanah Suci, saya bermunajat agar diberi anak lagi. Dua minggu setelah pulang haji, istri memberi kabar hasil tes kehamilannya positif. Benar-benar doa yang dibayar kontan.</p>
<p>Begitulah, saya termasuk yang percaya bahwa salah satu cara memakmurkan bumi adalah dengan menebar lebih banyak komuni manusia, tentu dengan komitmen yang kuat untuk merawat, menjaga dan membimbing anak-anak menjadi generasi hebat.</p>
<p>Kepada beberapa kawan yang masih bertahan membujang, saya sering berkata: ada perbedaan sangat prinsip, antara wafatnya seorang lajang dengan seseorang yang sudah punya anak. Orang yang sudah punya anak akan disebut “meninggal” bila dia wafat. Ya, setidaknya meninggalkan istri dan meninggalkan anak. Meninggalkan generasi penerus.</p>
<p>Sementara seorang lajang yang wafat, harus disebut punah, karena meskipun meninggalkan “apa-apa”, toh tak meninggalkan siapa-siapa. Hehehe, jangan tersinggung wahai para lajang. Anggap saja ini sekadar motivasi agar Anda segera menikah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://windede.com/2007/11/22/generasi-windede-bertambah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tren Lesbi TKW; Lebih Macho dari Lelaki</title>
		<link>http://windede.com/2007/09/25/tren-lesbi-tkw-lebih-macho-dari-lelaki/</link>
		<comments>http://windede.com/2007/09/25/tren-lesbi-tkw-lebih-macho-dari-lelaki/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Sep 2007 04:59:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>windede</dc:creator>
				<category><![CDATA[General]]></category>
		<category><![CDATA[Manusia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://windede.com/2007/09/25/tren-lesbi-tkw-lebih-macho-dari-lelaki/</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa tahun terakhir, tren percintaan sesama jenis di kalangan tenaga kerja wanita (TKW) Indonesia di Hong Kong semakin memprihatinkan. Dalam perjalanan ke negeri bekas koloni Inggris itu tempo hari, saya sempat tercengang menyaksikan bagaimana komunitas TKW yang menjadi lesbian bahkan sudah tanpa sungkan bermesraan di tempat terbuka. 
 
Di tengah lalu lintas padat di Pennington Street, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Beberapa tahun terakhir, tren percintaan sesama jenis di kalangan tenaga kerja wanita (TKW) Indonesia di Hong Kong semakin memprihatinkan. Dalam perjalanan ke negeri bekas koloni Inggris itu tempo hari, saya sempat tercengang menyaksikan bagaimana komunitas TKW yang menjadi lesbian bahkan sudah tanpa sungkan bermesraan di tempat terbuka. </em></p>
<p> <img src="http://img.photobucket.com/albums/v413/windede/lesbong1.jpg" alt="Gaya TKW kita di Hong Kong." title="Gaya TKW kita di Hong Kong." /></p>
<p>Di tengah lalu lintas padat di Pennington Street, kawasan Causeway Bay Hong Kong, sepasang anak muda tampak berjalan mesra sambil saling merangkul pundak. Bercelana jins model belel dan sobek-sobek di bagian lutut, dipadu baju kaos longgar tanpa lengan, mereka seolah tak hirau dengan suasana sekitar. <span id="more-224"></span></p>
<p>Penampilan keduanya unik. Rambut pendek disemir pirang, dengan potongan asimetris khas <em>harajuku</em>, berjalan gagah dengan macam-macam asesori di tubuh, dari kalung rantai warna silver ukuran besar, ikat pinggang bermotif ramai, <em>headset</em> dari <em>gadget</em> pemutar musik, sampai hidung yang bertindik dan sedikit tato di pergelangan. Sebenarnya tak ada yang aneh dengan gaya pop semacam itu, kecuali dua hal; dua-duanya perempuan, dan dua-duanya TKW!</p>
<p><img align="left" src="http://img.photobucket.com/albums/v413/windede/lesbong2.jpg" />Praktik hubungan sesama perempuan di kalangan TKW Indonesia di Hong Kong memang semakin menjadi tren. Para pelakunya bahkan sudah sangat terbuka memperlihatkan kemesraan. “Kami sudah pacaran 2 tahun,” kata Yuniarti, 26 tahun, seorang TKW asal Blitar, Jawa Timur. Ia lantas bergayut mesra di lengan Indri, 28 tahun, wanita bergaya laki yang disebutnya pacar itu.</p>
<p>Yuniarti dan Indri tidak sendiri. Ada banyak pasangan TKW lainnya yang tanpa malu mengaku berpacaran. Beberapa di antaranya bahkan disebut-sebut menikah, meski hanya dalam bentuk pengucapan komitmen di antara sesama komunitas lesbian. “Tapi kami nggak mau disebut lesbian. Sepertinya kok direndahkan begitu,” kata Yuniarti.</p>
<p>Tenaga kerja Indonesia di Hong Kong memang didominasi wanita. Data di KJRI Hong Kong menyebut jumlahnya mencapai 130 ribu orang, dengan mayoritas pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga. Dengan jumlah sebanyak itu, TKW Indonesia bisa saling berinteraksi karena mereka dapat jatah libur kerja sepekan sekali setiap hari Minggu. Biasanya, saat libur itu, para TKW berkumpul di Victoria Park, sebuah taman luas di kawasan Causeway Bay.</p>
<p>Di Victoria Park inilah kita bisa menyaksikan bermacam-macam gaya TKW Indonesia, dari yang masih tetap <em>ndeso</em> sampai yang nge-pop. “Saya juga bingung, anak-anak itu waktu di kampung sekolahnya di pesantren. Sampai di Hong Kong berubah drastis seperti ini,” kata H Mochamad Nurali, pemilik Warung Malang di Pennington Street yang jadi tempat ngumpul para TKW setiap akhir pekan.</p>
<p><img align="right" src="http://img.photobucket.com/albums/v413/windede/lesbong3.jpg" />Nurali mengakui, tren lesbian di kalangan TKW Indonesia di Hong Kong sudah jadi rahasia umum. Siapapun mengetahui dan mencoba memaklumi hal itu. Ia menduga ini bermula dari pengaruh gaya hidup tenaga kerja asal Filipina yang lebih dulu membawa “virus” cinta sesama itu. “Banyak yang tadinya cuma ikut-ikutan, akhirnya malah keterusan,” kata Nurali.</p>
<p>Di jalan-jalan kawasan Causeway Bay, yang boleh dibilang jadi “kampung Indonesia” setiap hari Minggu karena TKW kita memang terkonsentrasi di kawasan ini, wanita-wanita bergaya pria tampak di mana-mana. Ada yang jalan sendiri, berkelompok, dan lebih banyak lagi yang berpasang-pasangan.</p>
<p>Mereka memotong rambut menjadi pendek, berbaju <em>t-shirt</em> pria, berjalan dengan lenggang kaki khas laki-laki (dengan bahu sedikit terangkat dan langkah panjang), dan merokok. Benar-benar jauh dari kesan feminin. “Malah banyak yang gayanya lebih macho dari laki-laki,” kata Yuniarti, yang mengaku para majikan di Hong Kong tak terlalu peduli dengan gaya PRT mereka, sehingga TKW bisa bebas berekspresi.</p>
<p>Di Victoria Park, tempat yang mirip ajang reuni para TKW setiap Minggu, aksi penuh gaya itu malah seperti sebuah lomba. Wanita-wanita bergaya pria bertanding macho. Wajah mereka tak dihias bedak, apalagi lipstik. Namun, bergaya semaskulin apapun, mereka tetap ketahuan sebagai wanita tulen ketika bicara. Ketahuan juga sebagai orang kampung dari logatnya. “Kalau pas pulang kampung ke desa ya ganti penampilan. Rambut dipanjangin dulu, nggak berani pulang gini,” kata Hartati, seorang TKW asal Tegal, Jawa Tengah. (<strong><a href="http://http://windede.com/2007/09/27/masih-suka-pria-tapi-cowok-asli-tak-ada/">bersambung</a></strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://windede.com/2007/09/25/tren-lesbi-tkw-lebih-macho-dari-lelaki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>378</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
