Ogi, Amtenar Aktivis

INI bukanlah catatan yang mudah untuk dituliskan. Begitu mendengar kabar duka dari Banjarbaru mengenai wafatnya Ogi Fajar Nuzuli, saya langsung terbayang ucapan Ogi sendiri.

“Aku penasaran, apa kira-kira yang akan ikam tulis kalo aku meninggal?”

Ogi mengatakan hal itu suatu hari, usai membaca catatan obituari saya tentang Yohandromeda Syamsu, sahabat kami yang sudah lebih dulu wafat pada 2015.

Saya memang terbiasa menuliskan catatan obituari untuk orang-orang yang saya kenal. Entah lewat posting singkat di akun media sosial, atau ditayangkan di koran dalam bentuk artikel. Begitulah kematian, selalu membawa kita pada kenangan tentang mereka yang berpulang – dan cara terbaik mengabadikan kenangan adalah dengan menuliskannya. Tanpa ditulis, kenangan akan ikut hilang ketika tiba giliran kita yang meninggal dunia.

Ogi bersama Yohan di lokasi tsunami Aceh, 2004.

“Kenapa kok penasaran? Emang pian yakin bakal meninggal duluan?” seloroh saya ke Ogi waktu itu. Saya bilang, tidak ada yang tahu kapan ajal tiba. Jangan-jangan, sayalah yang lebih dulu wafat dan justru Ogi yang harus menuliskan obituari tentang saya.

“Oh, kalo itu sudah pasti boss. Banyak kisah yang bisa kutulis tentang ikam,” kata Ogi lagi.

***

Ogi benar. Terlalu banyak kisah yang bisa ditulis tentang kenangan kami satu sama lain. Persahabatan selama hampir 20 tahun tentu lebih dari cukup untuk menjadi bahan cerita. Sampai bingung dalam obituari ini saya harus menuliskan kisah yang mana.

Sejak harus istirahat total di rumah karena kondisi kesehatannya, Ogi mengganti cara silaturahmi yang dulu dengan nongkrong di Mingguraya, menjadi silaturahmi maya. Apalagi di masa pandemi begini. Dia rajin menelepon kawan-kawan dekatnya. Termasuk saya. Sekadar bertanya kabar dan ngobrol ini-itu. Bisa setengah jam. Bisa satu jam. Bisa sampai dua atau tiga jam.

Ogi orang yang selalu antusias dan teman diskusi yang sangat menyenangkan. Kami membicarakan kesehatan, kebudayaan, kesenian, agama, politik (lokal dan nasional), olahraga, apa saja. Bahkan tak jarang gosip artis juga hahaha… Di antara semua obrolan itu kerap terselip kisah-kisah lama tentang indahnya persahabatan yang kami bangun sejak tahun 2000-an awal dulu di Banjarbaru.

Aku bersama Ogi di Jakarta, 2016

Saya sendiri terakhir bertemu fisik dengannya pada Desember 2019, saat berkunjung ke Banjarbaru sekalian memenuhi undangan Ogi yang saat itu menikahkan puteri sulungnya. Di rumahnya yang sejuk di Jl Nuri, Ogi harus berbaring di ranjang khusus seperti di rumah sakit. Sebuah Smart TV yang terhubung ke internet dan dapat langsung memutar Youtube terpasang di dinding kamar, persis berhadapan dengan ranjang tersebut.

Meski kondisi kesehatan membuatnya tak lagi leluasa pergi ke mana-mana, Ogi tetap selalu update dengan semua informasi. Ia berselancar menjelajah dunia lewat Smart TV di dinding dan smartphone di tangan.

“Aku mengikuti semua podcast-nya Deddy Corbuzier. Andai masih sehat, mau juga aku bikin podcast seperti itu,” kata Ogi, dalam obrolan telepon terakhir kami tiga hari sebelum ia wafat.

Ogi pasti menjadi podcaster hebat andai hal itu diwujudkan. Dengan pembawaan yang periang dan pengalaman berpuluh tahun berinteraksi dengan berbagai lapisan masyarakat, dia memahami sekali bagaimana cara berdiskusi, menggali cerita, menghidupkan suasana.

Ogi yang berpengalaman memimpin puluhan organisasi punya paket lengkap dalam dirinya: strong leadership, keluasan wawasan, keramahan sebagai teman dan kehangatan sebagai manusia.

Latar belakang pendidikannya di bidang pemerintahan (APDN Banjarbaru dan IPDN Depdagri) dan karier birokrasinya yang moncer sejak menjadi ajudan gubernur, kepala dinas, kemudian Wakil Walikota Banjarbaru (2010-2015), membuat Ogi memiliki semua alasan dan memenuhi semua syarat untuk tampil formal di tengah masyarakat, sebagaimana lazimnya pejabat pemerintah.

Tapi dia bukanlah tipikal birokrat semacam itu. Dalam keseharian, alih-alih bergaya amtenar, Ogi lebih sering tampil seperti seorang aktivis organisasi masyarakat. Aktivis dalam pengertian sesungguhnya.

Ogi adalah tokoh yang menginisiasi banyak sekali kegiatan anak muda di Banjarbaru, yang membuat kota itu tak pernah sepi dari event. Musik, olahraga, seni, sosial, sampai keagamaan. Semua digarap. Itu bisa terjadi karena Ogi punya bonus lain dalam dirinya: kemampuan marketing dan komunikasi andal, yang membuatnya menguasai jaringan sponsor, jalur swasta maupun jalur politik. Jalur yang harus didekati lewat proposal rapi maupun jalur yang cukup ditelepon sekali sudah langsung minta nomor rekening.

Maka jangan heran Ogi eksis di semua komunitas. Dari kelompok seniman sampai atlet berbagai cabang olahraga. Dari pemusik jalanan sampai artis profesional. Di komunitas-komunitas itu kalau bukan diangkat sebagai ketua, Ogi menjadi pembina. Dia dihormati dan disegani semua kalangan. Dikenal luas karena kemurahan hati dan kedermawanan.

Bersama saya dan beberapa kawan lain kami kemudian mendirikan Radar Banjar Peduli (RBP), yayasan yang bergerak di bidang sosial dan melakukan banyak kerja nyata di saat terjadi bencana dan kedaruratan lain. Kami turun langsung ke lokasi bencana tsunami Aceh (2004) dan gempa Jogja (2006). Memotori kegiatan serupa di banyak lokasi lain yang membutuhkan bantuan, hingga saat ini.

Ketika terpilih menjadi wakil walikota, Ogi memutuskan tetap dengan gayanya yang egaliter. Nongkrong di Mingguraya, menyapa dan berinteraksi langsung dengan warga tanpa ada jarak. Dia pejabat yang sangat mudah ditemui. Bukan di ruang kantor, tapi di lapangan. Semua orang di Banjarbaru pasti paham, kalau mau ketemu wawali, datanglah ke Mingguraya, sebaiknya di atas jam 10 malam.

Selama periode masa jabatannya itu, beberapa kali saya ke Banjarbaru dan tidak sekalipun saya pernah diajak mampir ke ruang kerjanya di kantor wakil walikota. “Ruang kerjaku ya di sini. Di Mingguraya,” katanya.

Kalau kebetulan sedang main ke Jakarta, Ogi menghubungi saya dan selalu minta diajak makan di tempat-tempat kuliner pinggir jalan. Ngobrol seperti layaknya kami nongkrong di Mingguraya. Gayanya tidak berubah, baik sebelum, ketika sedang, maupun sesudah menjadi wakil walikota.

***

Suatu malam di tahun 2005, kami seperti biasa nongkrong di Mingguraya. Duduk di salah satu warung, memesan mie kuah atau nasi goreng, jus jeruk atau es cappucino, ngobrol ini-itu sampai dini hari. Orang-orang lalu-lalang, silih berganti. Maklum Mingguraya itu seperti episentrumnya Banjarbaru. Sampai tiba-tiba datang sekelompok pria bertubuh tegap dan rambut cepak, mengobrak-abrik kawasan Mingguraya, menghambur meja-kursi, berteriak dan membentak semua orang yang sedang duduk santai di sana.

Dari kiri: Aku, Ogi Fajar Nuzuli (alm), Rita (istri Ogi), Sadikin (dosen Unlam), Dewa Pahuluan (alm), Darmawan Jaya Setiawan (mantan Walikota Banjarbaru) dan Yohandromeda Syamsu (alm) nongkrong di Mingguraya, 2014.

Tiba di meja kami, di mana saya, Ogi dan beberapa kawan lain sedang ngobrol, para pria yang sepertinya mabuk itu dihalau beberapa “pentolan” Mingguraya, sembari mengingatkan bahwa yang sedang duduk di meja ini Pak Ogi, pejabat tinggi di Pemkot Banjarbaru, dan seorang lagi (sambil menunjuk ke arah saya) adalah “pemred koran” yang sebaiknya tidak usah diganggu hahaha. Para pria itu akhirnya bersedia menjauh. Dengan sedikit drama menendang dan melemparkan kursi-kursi kosong di sekitar kami.

Belakangan kami ketahui mereka yang bikin ribut di Mingguraya itu merupakan oknum anggota dari suatu instansi militer, yang sedang mencari seseorang. Karena meresahkan, peristiwa itu langsung kami laporkan ke kantor Subdenpom Banjarbaru, untuk ditindaklanjuti. Malam itu juga, pria-pria itu berhasil diamankan. Komandannya yang kebetulan mengenal saya dan Ogi lantas menghubungi dan meminta kami segera datang ke markas.

“Pak Ogi dan Pak Erwin, apa betul mereka ini yang tadi mengganggu bapak-bapak di Mingguraya?” kata sang komandan.

Saya dan Ogi saling pandang. Kami tak bisa menjawab. Sebab para pria itu penampakannya sudah berubah. Tidak sangar seperti ketika di Mingguraya. Mereka berdiri lunglai. Wajahnya lebam-lebam. Di kemudian hari, kami dengar kabar kalau para pelaku diberi sanksi berat, penundaan kenaikan pangkat.

Sepotong kejadian di Mingguraya ini menjadi kisah yang selalu membuat kami terpingkal-pingkal setiap kali membicarakannya. “Bubuhan oknum anggota militer itu tidak salah. Yang salah, ngapain pejabat pemkot dan pemred koran malam-malam masih nongkrong di Mingguraya. Bukannya tidur,” kata Dewa Pahuluan, sahabat kami yang lain, yang juga sudah lebih dulu berpulang.

Ah, betapa gegasnya waktu. Semua kenangan hadir di kepala bersama duka kehilangan sahabat. Selamat jalan Ogi Fajar Nuzuli. Baik-baik di sana ya. Titip salam buat Bang Dewa, Bang Yohan, dan sahabat-sahabat kita yang lain yang juga sudah berangkat duluan. Saya dan kami semua masih menunggu giliran, sambil tetap mengenang semua kebaikan kalian. Al Fatihah. (nugroho@windede.com)

Like & Share

One Comment on “Ogi, Amtenar Aktivis”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.