Nyetir Sendiri Keliling Eropa (1): Bebas Pilih Destinasi, Biaya hanya Seperempat Paket Wisata

Jalan-jalan ke Eropa ikut paket wisata, sudah terlalu biasa. Kali ini saya menjajal tur mandiri keliling Benua Biru dengan menyewa mobil dan nyetir sendiri. Tanpa agen travel. Tanpa pemandu.

HAWA sejuk 7 derajat celcius menyergap tubuh begitu saya melewati koridor terbuka yang menghubungkan gedung terminal kedatangan menuju gedung parkir, di Bandara Internasional Zurich, Swiss, awal November lalu. Eropa sedang memasuki penghujung musim gugur. Tetapi hawanya sudah seperti musim dingin. Setidaknya untuk ukuran saya. Orang yang lahir dan besar di belahan bumi tropis yang hangat sepanjang tahun.

“Tempat pengambilan mobil Anda berada di gedung parkir P3. Ikuti papan petunjuk,” begitu keterangan yang saya terima melalui email dari Hertz, perusahaan jaringan global persewaan mobil. Maka selesai dari imigrasi dan beres urusan bagasi saya langsung mencari gedung parkir P3.

Sejak masih berada di Indonesia, saya memang sudah memesan secara online mobil yang akan saya sewa untuk kebutuhan perjalanan selama di Eropa. Saya menggunaan jasa sewa mobil dari Hertz, perusahaan rental kendaraan yang cabangnya berada di lebih 150 negara di seluruh penjuru dunia itu. 

Pilihan menyewa mobil ini sebenarnya di luar rencana. Sejak awal, ketika saya dan istri mendapat berkah kebagian tiket promo Eropa dari program diskon salah satu aplikasi pemesanan tiket pesawat, kami sudah merancang perjalanan menggunakan transportasi publik. Selain karena jaringan bus dan kereta cepat antarkota dan antarnegara di Eropa sangat baik, kami juga terobsesi film The Tourist, diperankan Johny Depp dan Angelina Jolie.

Di film itu ada scene di mana keduanya bertemu pertama kali di sebuah kereta api yang tengah melaju dalam perjalanan antarkota. Mereka duduk berhadapan di gerbong ruang makan, dengan jendela lebar berkaca bening memperlihatkan pemandangan sangat indah pedesaan Eropa, seperti kanvas lukisan yang terus berganti mengikuti laju kereta. Dua tokoh utama di film ini ngobrol asyik sekali. Begitu romantisnya.

Lalu diam-diam sejak menonton film itu saya selalu terobsesi ingin juga merasakan romantisnya perjalanan bersama istri melintasi desa-desa di Eropa dengan naik kereta api.

Rencana berubah setelah berdiskusi dengan istri saat kami menyusun itinerary (rencana perjalanan). Posisi Zurich sebagai kota tempat kami tiba dan kembali, berada di tengah-tengah. Kalau pilih rute ke Barat, bisa tur ke Perancis-Spanyol-Portugal. Kalau ke Selatan bisa keliling Venesia-Roma-Italia. Kalau ke Utara bisa ke Belgia, Jerman dan Belanda. Ke Timur banyak pilihan, mau ke Austria, Hungaria atau Republik Ceko.

Tetapi tentu seabrek keinginan itu tak mungkin terpenuhi semuanya. Durasi perjalanan kami hanya 9 hari 8 malam. Harus bagi waktu sangat ketat kalau mau pindah-pindah kota menggunakan kereta api. Lagi pula, harga tiket kereta api pun ternyata sudah tidak murah. Mungkin karena baru mau dipesan di waktu yang berdekatan dengan jadwal berangkat. Lebih kurang saja dengan harga menggunakan bus. Bahkan setara harga tiket pesawat kelas LCC (low cost carier) untuk rute terbang berdurasi 2-3 jam di Eropa. Di kisaran 75-100 euro sekali jalan.

Lalu masih ada satu masalah: bila memilih naik transportasi umum, maka kami harus siap dengan segenap kerepotan membawa koper ke mana-mana. Dari penginapan ke stasiun kereta, misalnya. Belum lagi harus berkejaran waktu dengan jadwal keberangkatan yang sangat ketat. Telat sedikit pasti ditinggal tanpa ampun. Tiket hangus dan agenda jalan-jalan bakal berantakan.

“Gimana kalo kita roadtrip saja. Sewa mobil, nyetir sendiri. Bebas atur waktu. Bisa setiap hari pindah kota. Bakal dapat banyak spot untuk dikunjungi. Capek sih karena nyetir sendiri, tapi ‘kan seru,” kata saya. Eh, tanpa ba-bi-bu istri langsung setuju.

Kebetulan saya sudah pernah roadtrip di Amerika Serikat. Tahun lalu menjajal jalan darat dari Chicago di Illinois sampai ke Houston di Texas. Jadi setidaknya sudah ada pengalaman. Istri pun sudah sering mendengar cerita saya mengenai serunya traveling dengan nyetir mobil di negara barat.

Untuk trip ini target kami memang mengambil semua opsi yang paling hemat. Maklum, tiket pesawat PP dari Jakarta ke Zurich sudah kami pegang sejak setahun lalu. Waktu itu, akhir 2018, ada program promo diskon gila-gilaan di sebuah platform aplikasi pemesanan tiket pesawat dalam negeri. Tiket jarak jauh dari Jakarta tujuan London, Paris, Amsterdam atau Zurich, dijual dengan potongan hingga 80% dari harga umum. Saya dan istri kebagian tiket Etihad Airways, rute Jakarta-Zurich-Jakarta transit Abu Dhabi, dengan harga hanya (sekali lagi hanya) Rp3,5 juta per orang PP. Harga ini bahkan tidak lebih mahal dari harga tiket pesawat Garuda rute domestik Jakarta – Balikpapan PP.

Dengan modal tiket hemat itu maka kami bertekad biaya perjalanan pun harus hemat juga. Yang sudah pasti kami tidak akan membeli paket wisata dari agen travel, yang untuk perjalanan 9 hari di Eropa kisarannya bisa 30-40 juta per orang. Kemahalan. Apalagi kalau paket wisatanya private tour. Pasti lebih mahal lagi. Pilihan menyewa mobil akhirnya membuat total biaya yang kami keluarkan menjadi tidak lebih dari seperempat harga umumnya paket wisata itu.

Saking hematnya, untuk keperluan makan kami selama di perjalanan, istri saya membawa rice cooker mini yang punya fungsi ganda: selain untuk menanak nasi, juga bisa memanaskan makanan. Supaya tidak perlu beli-beli makanan menu Eropa yang terkenal harganya sangat mahal, padahal belum tentu cocok juga di lidah. Untuk kebutuhan ini istri menyiapkan logistik lengkap dari tanah air. Dia bawa beras sendiri. Bawa daging rendang. Bawa kecap dan saos sambal. Bawa abon dan serundeng. Dan tentu saja, makanan idola kita semua: mie instan.

Nasi bekal makan siang yang disiapkan pagi hari di penginapan, sebelum melanjutkan perjalanan.

Maka selama 9 hari 8 malam di Eropa, praktis kami selalu makan masakan sendiri. Kecuali sekali mampir ke restoran Indonesia saat di Rotterdam, Belanda. Meskipun memasak sendiri alakadarnya, menu yang dimakan tetap bervariasi. Paling sering (karena praktis) pakai lauk telur rebus (direbus di rice cooker). Sempat juga beli ayam KFC dan potongan daging kebab khas Turki.

Nasi dan lauk disiapkan pagi di penginapan, sekalian untuk bekal makan siang. Tidak ada masalah karena toh pakai mobil juga. Masakan bisa disimpan di bagasi belakang. Saat jadwal makan siang, kami cari tempat parkir gratis. Biasanya di rest area. Makan masakan menu kampung halaman sambil menikmati pemandangan pepohonan musim gugur berdaun kuning keemasan.

Keputusan menyewa mobil pun membuat perjalanan kami menjadi sangat efektif, dengan jangkauan luas sekali. Rute yang ditempuh memutar membentuk lingkaran, dari titik start di Swiss, bergeser ke Jerman, lanjut ke Austria, kemudian Republik Ceko, Belanda, Belgia dan terakhir Perancis. Dari Perancis kembali lagi ke Swiss sebagai titik finish. Total perjalanan 3.450 kilometer, mengunjungi belasan kota di 7 negara.

Untuk roadtrip ini kami juga tidak memesan hotel terlebih dulu. Penginapan baru benar-benar dipesan setelah sudah pasti akan bermalam di mana. Ini karena destinasi memang bisa berubah tergantung situasi.

Misalnya, di hari pertama, dari Kota Zurich di Swiss kami langsung menuju Munchen, Jerman, sejauh 320 kilometer. Setelah berkeliling Munchen dan mampir ke stadion legendaris Allianz Arena, kami memutuskan melanjutkan perjalanan ke kota Salzburg, Austria, sejauh 150 kilometer. Saat dalam perjalanan dari Jerman ke Austria itulah baru kami memesan hotel di Salzburg.

Dari Kota Salzburg yang merupakan tempat kelahiran musisi Mozart itu, kami sempat cukup lama memutuskan mau lanjut ke mana. Istri kepingin banget ke Budapest, Hungaria. Tetapi saya sebagai driver utama memberi pertimbangan: Budapest itu kejauhan, lebih 500 kilometer dari Salzburg. Sementara rute selanjutnya ke Praha, yang dari Budapest juga masih 500 kilometer lebih. Nanti capek, karena rute berikutnya akan memutar lebih jauh lagi.

Pada akhirnya Budapest kami coret dari itinerary. Setelah puas mengeksplor Kota Salzburg, rute kami langsung berbelok ke arah Praha. Kota seribu menara yang syahdu dengan lanskap bangunan-bangunan tua berwarna kuning bata itu berjarak 375 kilometer dari Salzburg.

Dari Praha, rencana semula berkunjung ke Berlin pun akhirnya gagal. Harus dicoret juga karena setelah berbagai pertimbangan, kami harus mengejar waktu ke Belanda. Lebih banyak tempat yang kepingin kami kunjungi di Belanda daripada mampir Berlin yang rutenya juga sedikit memutar.

Dengan destinasi yang sangat fleksibel ini penginapan memang harus dipesan belakangan. Saat sudah dekat lokasi yang akan dituju. Supaya tidak meleset, misalnya sudah terlanjur pesan hotel di kota A tapi terpaksa harus bermalam di kota lain karena berubah rencana.

Dari sini kami juga dapat pelajaran baru: pesan penginapan last minute itu ternyata juga menguntungkan. Ada banyak penginapan yang obral harga. Terutama yang kategori homestay (rumah atau apartemen). Dengan perhitungan daripada kamarnya dibiarkan kosong lebih baik disewakan meskipun dengan harga diskon.

Dari 8 malam trip di Eropa ini, kami menginap di 4 hotel dan 4 rumah (homestay) berbeda di kota yang berbeda. Semuanya memanfaatkan tarif hemat dengan harga last minute booking tadi. (bersambung)

Like & Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.