Backpacker-an ke India dan Kashmir (3): Salju Sepanjang Tahun di Gulmarg

Kalau mau ketemu daerah bersalju, orang Indonesia biasanya berlibur ke Jepang atau Korea pada musim dingin. Lebih hemat daripada harus pergi jauh ke Eropa. Padahal, salju ternyata juga ada di India. Bahkan di musim panas sekalipun.

BERMALAM di houseboat (rumah perahu) di Danau Nigeen, Srinagar, dengan pemandangan pegunungan berselimut salju di sekeliling, tentu yang ingin kami rasakan bukan sekadar hawa dinginnya. Sebagai penduduk dari negara tropis seperti Indonesia, bermain salju pasti akan menjadi pengalaman langka yang menyenangkan.

Sebenarnya tak perlu jauh-jauh. Di dalam kota Srinagar sendiri tumpukan salju ada di mana-mana. Di jalanan, tanah-tanah lapang, pekarangan rumah, juga dahan pepohonan. Bahkan halaman belakang tempat houseboat yang kami inapi tertambat pun masih tertutup salju bekas hujan salju semalam. Maklum, winter. Hujan salju bisa turun setiap dua atau tiga hari sekali.

“Tunggu sampai besok. Anda akan kami antar ke Gulmarg. Di sana saljunya lebih istimewa,” kata Riaz Wangnoo, yang menemani makan malam di hari pertama kami menginap di houseboat miliknya.

Menginap di houseboat memang serasa tinggal di rumah. Sebagai tamu kami bercengkerama dengan pemilik houseboat dan para pegawainya di ruang tengah, semacam ruang keluarga, sembari minum teh kahwa dan ngemil macam-macam kudapan. Meriung mengelilingi pemanas untuk menghangatkan badan. Orang Kashmir sendiri terbiasa ke mana-mana memegang fire pot, pemanas portable berbentuk kendi dengan pegangan rotan, yang di dalamnya berisi bakaran arang. Hawa panas dari fire pot itu didekatkan ke badan. Sangat membantu untuk tetap beraktivitas di musim dingin.

Gulmarg yang dimaksud Riaz adalah daerah puncak dalam gugusan pegunungan Himalaya, di sebelah barat Srinagar, yang terkenal sebagai tempat bermain ski. Tidak jauh, lebih kurang 50 kilometer saja dari pusat kota. Dapat ditempuh dengan perjalanan sehari (one day trip) tanpa harus menginap.

Omar, driver yang kemarin menjemput di bandara, sudah stand by sejak pagi di halaman belakang houseboat. Sehabis sarapan pagi kami langsung jalan ke Gulmarg. Omar begitu bersemangat mengemudi, sambil terus mengoceh, berkisah ini-itu tentang Kashmir.

“Itu tentara India,” kata Omar, menunjuk orang berseragam dengan senjata laras panjang yang berjaga di pinggir jalan dalam perjalanan menuju Gulmarg. “Kalau itu tentara Kashmir,” katanya, menunjuk tentara lain di seberang jalan. Seragam mereka sama.

Saat saya tanyakan apa bedanya tentara India dengan tentara Kashmir? Omar menggelengkan (atau lebih tepatnya menggoyangkan?) kepala, khas ekspresi orang India, lalu terbahak. “Saya kasih tahu satu hal ya. Anjing hitam dengan anjing putih itu sama saja. Sama-sama anjing. Ha ha ha…,” dia kembali tertawa.

Omar kemudian menjelaskan, setiap orang yang menjadi tentara India sudah menanggalkan identitas pribadinya, apakah dia orang Punjab, orang Kashmir, orang Tamil, atau apakah agamanya Islam atau Hindu. Sehingga ketika orang Kashmir ingin merdeka, mereka tetap akan berhadapan dengan tentara India, meskipun si tentara itu di balik seragamnya adalah seorang Kashmiri tulen.

Perjalanan menuju Gulmarg melewati permukiman penduduk yang tampak gersang. Musim dingin membuat pepohonan yang sudah meranggas sejak musim gugur, tiada lagi berdaun. Tanah kehitaman berpadu langit berwarna abu. Terasa suram. Suasana jadi tambah suram karena posisi Kashmir yang berada di lembah Himalaya membuat sebagian besar wilayahnya merupakan area wetland (semacam rawa) dengan danau dan kanal di mana-mana. Airnya kelabu. Memantulkan warna sekeliling yang juga kelabu.

“Datanglah lagi bulan depan. Maret. Itu mulai masuk musim semi. Pepohonan ini akan menghijau lagi dan tanah di Kashmir ini semua seperti karpet, berlapis rumput dan bunga-bunga,” Omar berpromosi.

Kunjungan wisatawan ke Kashmir memang akan mencapai puncaknya pada Maret-April, saat sedang musim semi dan memasuki awal musim panas. Cuaca sejuk dan hijau di mana-mana. Taman-taman bunga, termasuk taman tulip terbesar di Asia, ada di Kashmir. Srinagar sendiri akan menjadi ibukota provinsi setiap Maret hingga Oktober, bergantian dengan Jammu yang menjadi ibukota musim dingin pada Oktober hingga Maret.

Omar mengantarkan kami sampai Tangmarg, pos pemberhentian terakhir untuk menuju Gulmarg. Dari situ, kami harus naik mobil berbeda, sejenis SUV dengan ban khusus yang sudah dimodifikasi dengan lilitan rantai besi. Hanya mobil dengan ban jenis ini yang dapat melintasi jalanan bersalju dan menanjak menuju puncak. “Mobil saya standar. Tidak bisa dipakai di jalanan bersalju,” kata Omar.

Di Tangmarg ini pula kami harus menyewa winter coat, jaket yang lebih tebal, karena suhu di puncak Gulmarg hari itu mencapai minus 10 derajat celcius. Saya dan istri jadi mengenakan pakaian berlapis-lapis hari itu. Kami juga menyewa sepatu boots khusus untuk berjalan di permukaan bersalju. Supaya nggak kepeleset.

Sopir SUV tampak begitu ahli mengemudi di atas jalan dengan permukaan putih tertutup salju tebal dan membeku menjadi es. Bisa melaju dan berbelok meliuk di tikungan dengan tetap tancap gas. Lebih kurang 20 menit, kami tiba di Gulmarg. Dari area parkir kendaraan, masih harus berjalan kaki lebih kurang satu kilometer lagi ke stasiun gondola, untuk naik cable car menuju phase one atau puncak fase pertama di ketinggian 2.600 mdpl.

Pengunjung yang tak mau repot berjalan kaki atau khawatir terpeleset, bisa menggunakan jasa sledge boy, anak-anak muda Kashmir yang menarik kereta salju berbentuk seluncuran kayu. Tarifnya 500 rupee atau lebih kurang Rp100 ribu. Pengunjung duduk di atas kereta kayu kotak persegi itu, lalu ditarik atau didorong meluncur oleh sledge boy.

Antrean tiket di stasiun gondola tak terlalu panjang. Untuk naik ke phase one, kami harus membayar 600 rupee per orang, lebih kurang Rp120 ribu. Biasa disebut Kangdori Station, di phase one ini pengunjung bisa memilih berbagai aktivitas di area lapang yang seluruhnya tertutup salju pada musim dingin. Ada yang menyewakan peralatan ski lengkap dengan coach yang memberi kursus singkat dasar-dasar bermain ski. Ada yang menyewakan snow bike, kendaraan khusus untuk melaju di atas es. Pengunjung juga bisa memilih bersantai saja menikmati kopi atau teh di kafe-kafe tenda yang berdiri di atas hamparan salju.

Saya dan istri memilih duduk di kafe, sambil berbincang dengan beberapa penduduk lokal. Mereka bercerita, pada saat musim panas Kangdori Station ini adalah hamparan bukit hijau yang penuh bunga, sesuai nama Gulmarg yang dalam bahasa Kashmir artinya bukit berbunga. Di musim dingin saat kami datang berkunjung, semua permukaan bukit tertutup salju.

Bermain salju di Gulmarg, Kashmir

Tapi jangan khawatir, di musim panas pun pengunjung masih bisa ketemu salju, dengan naik gondola satu fase lagi ke puncak, di phase two yang bernama Afarwat Peak. Harga tiketnya terpisah, 800 rupee atau setara Rp160 ribu. Menuju phase two ini cable car akan mengantar pengunjung sampai di ketinggian 3.747 mdpl. Tinggal berjalan menanjak lebih kurang 450 meter untuk mencapai puncak tertinggi Gulmarg, yang tetap berselimut salju sepanjang tahun termasuk di musim panas.

Tentu saja salju di musim panas itu berbeda dengan salju musim dingin yang masih fresh. Saljunya sudah kotor. Tidak terlalu putih lagi. Istilahnya; dirty snow. Salju itu adalah sisa hujan salju pada musim dingin, yang memang tidak mencair karena suhu di puncak gunung yang selalu dingin. Saljunya tidak lembut lagi. Mengeras menjadi butiran-butiran es. Meski begitu, masih bisa dipakai untuk bermain ski.

Selesai menikmati salju di Gulmarg, saya dan istri turun ke Tangmarg dan bersama Omar kembali ke kota Srinagar. Kami punya agenda keliling kota, mengunjungi beberapa spot menarik, terutama kawasan kota tua yang menyimpan banyak kisah peninggalan kekaisaran Mughal dan masa-masa keemasan perdagangan silk road (jalur sutera) yang legendaris itu. Bangunan-bangunan bersejarah, masjid-masjid tua, makam-makam kuno dan kuil-kuil dari peradaban Hindu yang masih tersisa.

Srinagar yang hiruk-pikuk memang lebih terasa seperti kota-kota muslim di Arab, daripada kota di India. Suara azan terdengar bersahutan saat waktu Ashar tiba. Kami mampir di Jamia Masjid Srinagar, masjid jami berumur 600 tahun berbentuk persegi empat dengan taman luas di tengah area masjid yang tampak basah dan sebagian masih tertutup hamparan salju. Duduk dan berdoa di sana, untuk Indonesia, untuk Kashmir, untuk seluruh umat manusia. (windede@prokal.co)

Like & Share

2 Comments on “Backpacker-an ke India dan Kashmir (3): Salju Sepanjang Tahun di Gulmarg”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.