Dewa Pahuluan

AJAKLAH berpergian, kata Umar bin Khatab, orang yang ingin kau ketahui bagaimana akhlaknya. “Perjalanan (safar) dapat menghabiskan kesabarannya dalam berpura-pura, lalu kamu akan mengenali watak-watak aslinya.”

Begitulah. Tanpa maksud hendak menelisik watak satu sama lain, puluhan perjalanan telah kulakukan bersamanya ke berbagai kota, di dalam dan luar negeri. Terkadang dengan beberapa teman. Lebih sering hanya berdua.

Fitri Zamzam bin Zafry Zamzam, nama di paspornya. Aku ingat di luar kepala nama itu saking seringnya mengurus dokumen perjalanan kami. Tetapi orang lebih mengenalnya sebagai Dewa Pahuluan. Nama yang begitu lekat di benak warga Banjarbaru sebagai sosok bersahaja, pemimpin perkumpulan Minggu Raya (MGR) yang dekat dengan semua lapisan masyarakat. Masyhur oleh sifatnya yang penolong dan murah hati.

Sabtu malam (18/11) lalu Dewa wafat, setelah dua bulan terakhir terbaring sakit, berjuang melawan kanker yang oleh tim dokter divonis sebagai stadium akhir. Ia mengembuskan nafas terakhir dalam dekapan istri dan anak-anaknya, di kediamannya di Banjarbaru. “Beliau pergi dengan sangat tenang. Seperti tidak merasakan sakit,” kata Pandu, anak sulung almarhum.

Allah memanggil Dewa di puncak pencapaian hidup: keluarga bahagia dengan anak-anak yang telah dewasa, perjalanan karier tanpa catatan buruk, serta nama dan reputasi yang harum di mata semua orang.

Dua bulan lalu Dewa menunaikan ibadah haji — perjalanan spiritual yang seperti telah disiapkan Allah menjadi penutup indah kisah hidupnya yang pasang-surut.  Dewa Pahuluan naik haji. Ini kabar yang sangat mengharukan bagi orang-orang dekatnya, mengingat betapa sulit sebelumya mengajak dia ke Tanah Suci. “Aku belum merasa pantas. Masih harus memperbaiki diri. Memperbaiki ibadah,” katanya, selalu saja seperti itu, setiap kali diajak pergi umrah.

Kalau sudah membicarakan rencana umrah (lebih tepatnya mendesak agar dia pergi umrah), aku biasanya jadi malu sendiri. Sebab Dewa yang mengaku belum pantas pergi umrah itu, pada kenyataannya lebih religius dan lebih rajin beribadah daripada aku yang sudah berhaji dan berkali-kali pergi umrah ini.

Di saat langkahnya akhirnya menjadi ringan menuju Baitullah, bukan untuk umrah tetapi langsung berhaji, Dewa mengatur sedemikian rupa agar tidak banyak orang yang mengetahui rencana keberangkatannya. Bahkan sang istri yang diajak serta pun baru diberitahu sepekan sebelum berangkat.

“Aku sudah berpesan kepada Jaya (wawali Banjarbaru Darmawan Jaya Setiawan), tolong jangan bapadah (bercerita) ke siapa-siapa soal rencana haji ini,” kata Dewa, yang justru menceritakan semua rencana itu kepadaku.
Jayalah yang mengurus semua proses keberangkatan, melalui jasa seorang pengusaha travel yang punya jatah kuota haji khusus — tersisa 4 seat waktu itu, dan langsung berangkat tanpa perlu antre. Jaya dan Dewa berhaji didampingi istri masing-masing.

“Alhamdulillah, lancar meskipun lelah. Tajajak jua Tanah Suci, Win ai. Jakanya ikam umpat rami banar kita…,” ujar Dewa sumringah, melalui sambungan video call denganku saat dia baru tiba di Madinah.

***

Usiaku terpaut 20 tahun lebih muda dari Dewa Pahuluan. Setiap kali ngetrip berdua, backpackeran, orang yang kami jumpai di perjalanan kerap mengira Dewa ayahku. “Yes, my son,” kata Dewa meyakinkan, saat seorang sopir Uber Taxi di Manila, Filipina memandangi wajah kami berdua.

Pada kesempatan lain, di sebuah kedai kopi di Phnom Penh, Kamboja, seorang warga lokal yang baru berkenalan dengan kami merasa perlu memeriksa pasporku dan paspor Dewa, sekadar untuk meyakinkan bahwa kami memang sepasang bapak dan anak. Dewa terkekeh-kekeh melihat ekspresi orang yang percaya bahwa saat itu ia sebagai ayah sedang mendidikku sebagai anak, dengan cara traveling berdua ke luar negeri.

Aku bersama Dewa Pahuluan di Stadion Rajamangala, Bangkok

Pada kenyataannya Dewa memang sudah kuanggap seperti ayahku sendiri, meski kami samasekali tidak memiliki pertalian darah. Persahabatan yang tulus selama belasan tahun membuat kami begitu dekat. Kedekatan yang sebenarnya dirasakan pula oleh sahabat-sahabatnya yang lain.

Dewa selalu bisa menunjukkan betapa sahabat adalah orang spesial dalam hidupnya. Misalnya, tiba-tiba dia iseng terbang ke Jakarta dengan flight pagi, mengajak bertemu makan siang sambil berdiskusi, lalu pulang lagi ke Banjarbaru menggunakan flight sore di hari yang sama.

Ketika harus pensiun dini dari pekerjaannya sebagai pegawai BPN Banjarbaru, lalu bergabung di partai politik dan ikut pemilihan legislatif pada pemilu 2014, Dewa berusaha meyakinkanku bahwa keinginannya beralih ke jalur politik itu murni untuk pengabdian. “Sekaligus mengukur sebenarnya aku ini dikenal masyarakat atau tidak,” katanya, lalu tertawa. Sesederhana itu.

Setahun menjadi anggota DPRD, Dewa memutuskan ikut pilkada Banjarbaru 2015. Ia relakan melepas kursi DPRD. Mundur sebagai wakil rakyat. “Supaya tercatat pernah jadi calon kepala daerah. Menang atau kalah ikut takdir saja. Yang penting kita berusaha,” ujarnya.

Pilkada dimenangkan pasangan Nadjmi Adhani dan Darmawan Jaya Setiawan, yang tak lain adalah sahabat Dewa sendiri. “Alhamdulillah, kawal kita jua yang menang,” katanya via telepon, sore setelah hitung cepat usai coblosan. Tak ada penyesalan atau ekspresi kecewa.

Dewa memang easy going. Hidup tak dibikin susah. Itu sebabnya semua orang yang mengenalnya pasti mengerti betapa ia orang yang pemurah. Di balik nama Dewa Pahuluan yang terkesan sangar itu, hatinya lembut.

Di Banjarbaru, orang yang tidak mengenal Dewa Pahuluan dijamin kurang bergaul. Rumahnya yang berada persis di jantung kota, di seberang Taman Air Mancur Mingguraya, segaris lurus dengan Lapangan Murjani dan balaikota, menjadi tempat mengadu rakyat, jauh sebelum Dewa terjun ke politik – dan terus begitu meski dia tak lagi menjadi wakil rakyat dan bertekad tidak akan pernah maju lagi dalam kontes politik apapun.

Orang-orang datang menemui Dewa untuk meminta bantuan, sokongan, moril dan juga materil. Ia sosok yang dikenal ringan tangan membantu sesama. Rutin bikin sunatan massal. Membeli mobil jenazah dan ambulans menggunakan kocek pribadi untuk dipakai masyarakat secara gratis. Di saat-saat tertentu, dia berbagi sembako atau bikin pasar murah. Semua tanpa tendensi politik.

***

Sabtu malam itu, pukul 22.30, aku baru mendarat di Bandara Syamsudin Noor Banjarbaru setelah terbang dari Sampit dan transit di Palangka Raya. Pesawat delay 2 jam dari jadwal semula yang seharusnya tiba pukul 20.00. Niat menjenguk Dewa malam itu aku urungkan karena sudah terlalu malam. Ditunda besok paginya saja.

Baru beberapa menit masuk kamar Hotel Dafam untuk istirahat, telepon berdering. Dari FA Abby, dosen Fakultas Hukum ULM. “Win, Bang Dewa meninggal…” Hanya kalimat itu saja. Lirih.

Sejurus kemudian telepon berdering lagi. Di layar tertulis panggilan dari Dewa Pahuluan. “Abah meninggal om,” kata Lita, anak bungsu Dewa, menggunakan ponsel ayahnya.

Saat itu juga aku bergegas mencari taksi untuk ke rumah duka. Orang-orang kaget dengan kehadiranku. Semua bertanya kapan datang dari Jakarta? Sebab memang aku tak mengabari siapa-siapa rencana menjenguk Bang Dewa.

Aku duduk di hadapan jenazah sahabatku. Kulihat wajahnya yang bersih. Tampak kurus tapi tidak kurasakan derita apa-apa di wajah itu. Wajah orang yang meninggal dengan tenang. Sampai ketika tulisan ini kubuat, yang terbayang adalah wajahnya yang bahagia.

Selamat jalan Bang Dewa Pahuluan. Sebagai teman yang sering berpergian denganmu dan karenanya menjadi mengenal watak aslimu, aku bersaksi bahwa kau orang baik. Terlalu panjang daftar kebaikanmu yang bisa ditulis, sebab orang-orang baik memang tidak meninggalkan apapun setelah kepergiannya kecuali kenangan indah. (nugroho@windede.com)

Like & Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.