Beras Maknyuss dan Nikmatnya Kepalsuan

SEDANG heboh kasus beras kualitas medium dijual dengan harga premium. Orang-orang terkejut. Beras grade rendah dicampur beras yang agak bagusan, kemudian melalui teknik tertentu diolah kembali untuk menghasilkan beras (seolah-olah) premium.

Overpriced. Harga tak sesuai value. Begitulah. Sebenarnya dapat kita jumpai pada produk apa saja; elektronik, farmasi, otomotif, makanan, material bangunan, pakaian, properti, apa saja. Bahkan produsen narkoba pun kerap diberitakan kedapatan menjual narkoba KW dengan harga ori. Apes banget nggak sih pecandu narkoba yang kebeli “barang palsu” begini? Narkoba yang asli saja buruk bagi kesehatan, apalagi palsu?

Lalu barang murah dijual mahal itu sebenarnya terjadi karena produsennya pintar, atau konsumennya yang bodoh?

Lebih tepatnya mungkin karena produsen sangat paham bahwa konsumen sebenarnya gampang sekali ditipu; banyak dari mereka tak bisa membedakan kualitas barang, selain juga tidak pandai menakar apakah uang yang dibayarkan sudah sebanding dengan value barang yang dibeli.

Dalam kasus beras oplosan yang sekarang sedang ramai, penipunya bukanlah sindikat pemalsu merek, melainkan perusahaan pemilik merek sendiri. Itu seperti musisi pada era kaset atau CD dulu memproduksi CD lagu-lagu karyanya menggunakan bahan baku murah setara kualitas CD bajakan, tapi menjualnya ke pasar sebagai CD orisinal. Motifnya jelas: mengambil untung lebih banyak.

Pikiran yang duluuuu sekali pernah terlintas di kepala saya: untuk mengatasi masalah pembajakan, sebaiknya para musisi “membajak” sendiri saja karya-karyanya, hehehe… Sebab toh kebanyakan konsumen tak bisa membedakan kualitas CD asli dengan bajakan.

Ini memang bukan semata-mata ihwal dagang; bahwa lazimnya pedagang di dunia yang semakin kapitalis ini akan meraup keuntungan setinggi-tingginya dengan modal sekecil-kecilnya. Ini, harap dicatat, adalah juga soal budaya kita (konsumen) menikmati kepalsuan.

Bayangkan orang-orang yang membeli beras merek Maknyuss atau Cap Ayam Jago itu selama bertahun-tahun mengkonsumsi beras oplosan, dan selama itu juga mereka taunya mengkonsumsi beras kualitas premium. Nasinya pulen, bersih, harum, mengenyangkan, dan pastinya tak bikin sakit perut. Beras Maknyuss dan Cap Ayam Jago baru benar-benar ketahuan berisi oplosan, konon, setelah diperiksa tenaga ahli di laboratorium.

Apakah itu berarti beras-beras yang selama ini dibanderol premium sebenarnya telah dijual dengan harga terlalu tinggi? Atau memang istilah premium itu hanyalah kata lain untuk menyebut medium, karena kualitasnya sebenarnya mirip-mirip saja?

PT Indo Beras melalui anak usaha PT Tiga Pilar dituduh menjalankan praktik bisnis nakal; mereka memainkan disparitas harga, di mana beras yang seharusnya dijual Rp 9.000 mereka banderol Rp 20.000. Perusahaan itu diduga melakukan penipuan dengan menjual beras medium, yang bersubsidi, seharga beras premium, yang mengikuti harga pasar.

“Pabrik ini middleman (perantara) yang kerjanya memainkan disparitas harga beras,” kata Menteri Pertanian Amran Sulaiman.

 

Amran mengatakan penipuan yang dilakukan PT Indo Beras tergolong kejahatan sangat serius, dengan potensi kerugian negara (dari subsidi) dan kerugian masyarakat (dari harga beli) mencapai triliunan rupiah. Woww… terlepas dari adanya bantahan dari pihak PT Indo Beras, saya cuma mau saran kalo gitu coba deh audit juga harga produk-produk lain, jangan cuma beras. Niscaya akan ditemukan triliunan rupiah lagi uang yang selama ini telah “dicuri” produsen dari konsumen.

Di Bandung, sekadar untuk contoh, jaket “polosan” yang dari pabriknya bisa dibeli seharga 100 ribu, dan dengan harga itu pabrik sudah memperoleh untung, dapat dijual menjadi 1 juta setelah dipasangi label merek lalu dipajang di etalase butik. Makin keren dan terkenal butiknya, semakin mahal pula harganya. Padahal bisa saja posisi pabrik berada di belakang butik tersebut dan pemiliknya orang yang sama.

Bagaimana produsen menciptakan produk lalu mengemasnya sedemikian rupa, sehingga barang seharga 100 ribu bisa dijual 1 juta dan ya laku belaka?

Itulah yang disebut “akal pedagang”.

Kalau Anda memiliki rumah tinggal dan hendak menjualnya, tapi tidak punya “akal pedagang”, rumah Anda memang akan laku terjual, tapi harganya mungkin jauh di bawah harga yang bisa didapatkan seorang agen properti – orang-orang terlatih dan punya network bagus yang bukan saja bakal menjual lebih tinggi, tetapi juga melebihi nilai (value) aset properti tersebut.

Sayangnya “akal pedagang” ini seperti dua sisi mata pisau; bila positif dan untuk kebaikan menjadi kreativitas, bila negatif dan untuk maksud jahat menjadi culas.

Kita mungkin menganggap Tiongkok sebagai penjiplak, sebab iPhone 7 seharga 15 juta di San Francisco bisa diproduksi tiruannya di Guangzhou dan dijual di pasar internasional seharga 5 juta saja, dengan kualitas nyaris sama; semua fitur iPhone 7 tersedia di ponsel made in Guangzhou tersebut. Abaikan dulu soal asli dan palsu ya. Ini sekadar fakta bahwa Apple patut diduga memasang harga terlalu tinggi untuk semua produk-produk mereka.

Pertanyaannya: dalam contoh harga iPhone 7 yang selangit itu, Apple sebagai produsen tergolong kreatif atau culas?

Banyak produsen barang mewah menjual produk dengan harga tinggi bukan karena bahan bakunya mahal, tetapi karena kepiawaian melambungkan value merek. Harga produk terdongkrak nama besar merek.

Itulah kiranya yang terjadi pada kasus beras Maknyuss dan Cap Ayam Jago itu. Produsennya sadar punya merek premium. Maka ketika diisi produk oplosan pun, konsumen yang tidak bisa membedakan kualitas beras tetap membeli seharga premium, tanpa pernah merasa tertipu samasekali.

Konsumen malah menikmati banyak kepalsuan yang dibelinya dengan harga tinggi. Bukan hanya untuk beras. Juga produk-produk lain. Bahkan termasuk… hmmm: produk politik. Betapa sering kita memilih politikus yang tercitrakan baik padahal aslinya busuk. Politikus overrated.

Lalu mana yang lebih sontoloyo: barang-barang palsu yang diproduksi para penjiplak dan beredar di black market, atau barang-barang ori dari produsen resmi tapi dibanderol terlalu tinggi? Barang palsu tentu sontoloyo sebab produsennya jelas melanggar hak cipta dan itu kriminal. Tetapi barang ori dari produsen resmi yang dibanderol terlalu tinggi itu rasanya ya sontoloyo juga.

Maka belajarlah dari kasus beras premium palsu ini. Pada banyak produk lain kita mungkin permisif dan memaafkan sebab kita percaya begitulah memang “akal pedagang” bekerja. Padahal membeli barang murah dengan harga mahal itu tiada lain kecuali tertipu – dan itu artinya pembeli ketiban dua kali rugi.

Belajarlah juga menakar value; apakah barang yang dibeli memang cukup sepadan dengan uang yang dibayarkan. Kecuali bagimu uang sudah bukan lagi persoalan, sehingga ada value lain yang harus kau bayar dan itu mahalnya bisa tak terhingga: gengsi.

Adapun soal beras Maknyuss dan Cap Ayam Jago itu, biarlah nanti regulator yang memberi kesimpulan: apakah seharusnya konsumen bisa makan beras kualitas premium seharga beras medium, sebab yang selama ini kita kira beras premium itu sejatinya memang hanya beras kelas medium? Mungkin tidak pernah ada beras kelas premium. Itu hanya pencitraan saja. Labeling belaka. Apa yang terjadi selama ini adalah konsumen telah tertipu karena membeli terlalu mahal beras medium yang dicitrakan jadi seolah-olah premium. Miriplah seperti salah pilih dalam politik. [www.windede.com]

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

Beri Tanggapan (atau pilih komentar via akun media sosial)

Loading Facebook Comments ...
Loading Disqus Comments ...

No Trackbacks.