Serba Palsu di Media Sosial yang Penuh Tipu

TAK kurang 500 ribu ponsel merk iPhone disita kepolisian dan tentara Thailand, di sebuah rumah kontrakan di perbatasan Thailand – Kamboja, akhir pekan lalu. Ponsel pintar itu diduga dipergunakan untuk sebuah usaha ilegal; “pabrik like” media sosial. Aparat juga mengamankan ratusan ribu sim card operator seluler lokal, belasan komputer dan laptop, serta sejumlah perangkat elektronik lain.

Pabrik like? Benda apa pula ini?

Ya, media sosial, yang semakin digemari di seluruh penjuru bumi, memang mengubah banyak sekali cara manusia berinteraksi. Ini kemudian, salah satunya, memicu perubahan cara produsen menjangkau konsumen. Alih-alih menghabiskan biaya iklan di televisi, seperti yang selama ini dilakukan, mereka mulai melirik beriklan di medsos.

Tetapi kerumunan pengguna internet di platform-platform media sosial samasekali tidak ramah bagi pengiklan. Pengguna medsos menganggap iklan sebagai gangguan. Bukan sekadar sering mengabaikan iklan yang tampil (skip/close), user pun ramai memasang ad-block, software atau aplikasi yang berfungsi menghalangi iklan muncul di layar saat mengakses media sosial. Para pemasang iklan kecewa. Jangankan berharap pesannya sampai, iklan mereka bahkan tidak tampil di layar pengguna.

Nah, “pabrik like”, hadir untuk menjawab ini semua. Praktik curang ini dilakukan untuk mengelabui pemasang iklan, dengan membuat interaksi palsu demi mengatasi tingkat keterjangkauan audiens yang minim. Para pekerja di pabrik itu, bersama ratusan ponsel dan kartu sim, bertugas “seolah-olah” menjadi “pemirsa”. Maka statistik program iklan pun melonjak. Banyak like dan komentar. Padahal palsu.

Dalam kasus di Thailand ini, polisi menangkap tiga warga China. Mereka adalah Wang Dong, Niu Bang, dan Ni Wenjin, yang di rumah kontrakannya begitu sibuk dengan ratusan iPhone 5S, 5C, dan 4S yang tersusun di rak-rak besi dan dihubungkan ke monitor komputer. Para tersangka mengakui bahwa mereka dibayar untuk mengoperasikan jaringan akun bot yang luas di WeChat, platform medsos yang ramai digunakan orang di Tiongkok.

Sebuah perusahaan di China diketahui sebagai pemesan. Perusahaan memasok kebutuhan telepon, dan membayar mereka 150.000 baht per bulan atau hampir 60 juta rupiah. Tugasnya melakukan interaksi palsu pada iklan-iklan yang muncul di WeChat untuk produk yang beriklan melalui perusahaan China tadi.

 

 

 

ARTIFISIAL

Interaksi artifisial sebenarnya bukan hanya terjadi pada dunia periklanan di media sosial. Di dunia politik, sudah lazim ada pasukan bayaran yang bermain medsos  sesuai order. Untuk memenangkan cyber war, tak cukup hanya mengandalkan interaksi organik. Harus keluar modal, berbayar. Bila tidak, siap-siap terlindas oleh black campaign sekaligus branding masif dari pihak lawan.

Seorang kawan yang menjalankan usaha ini pada saat menjelang Pilpres 2014 memberi testimoni, ada belasan tim dengan sponsor yang berbeda-beda, dan semua bekerja dengan keberpihakan pada kelompok atau figur yang ditentukan pemberi order. Tugasnya sederhana: besar-besarkan apapun yang positif mengenai kelompok yang didukung, sebaliknya besar-besarkan apapun yang terkait keburukan kelompok lawan.

Maka tak heran, sebuah posting di Facebook bisa tiba-tiba viral dan diserbu ribuan netizen, bukan karena kontennya mengapresiasi, tetapi karena memang sengaja diviralkan, dibuat menjadi trending topic. Dan ini samasekali tidak gratis.

Pada situasi politik yang memanas seperti saat Pilpres itu, netizen harus pandai-pandai memilah konten mana yang murni dari masyarakat pengguna medsos, dan mana yang berasal dari “pabrik”, dikelola secara profesional oleh sepasukan orang-orang bayaran. Bila tidak, ya seperti yang sering kita saksikan; orang-orang termakan kabar hoax, atau jadi korban propaganda.

Interaksi virtual, komunikasi dunia maya, memang membuka peluang tipu daya. Kita tidak pernah benar-benar tahu sedang berhadapan dengan siapa. Oleh sebab itu berhati-hatilah selalu. Banyak yang palsu. []

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

Beri Tanggapan (atau pilih komentar via akun media sosial)

Loading Facebook Comments ...
Loading Disqus Comments ...

No Trackbacks.