Kiai Hasyim dan Wawancara Gagal Fokus Itu

TAHUN 1999-2000, awal-awal reformasi, sejumlah orang terbunuh secara misterius di kota-kota di Jawa Timur. Merebak isu mereka adalah para dukun santet yang sengaja “dihabisi”. Tapi informasi lain mengatakan yang dibantai itu tokoh-tokoh NU. Resah di mana-mana. Orang-orang saling curiga.

“Faktanya memang yang terbunuh kiai-kiai Nahdliyin,” kata KH Hasyim Muzadi, Ketua PBNU pada masa itu, yang secara khusus menerima saya dan Hairil Paputungan, rekan dari Manado Post, di kediamannya di Malang.

Waktu itu, Januari 2000, bersama beberapa wartawan lain dari berbagai daerah di Indonesia, kami sedang tugas belajar di Jawa Pos Surabaya. Selain berlatih manajemen redaksi di News Room JPG di Graha Pena, kami juga ditugasi liputan ke daerah-daerah. Saya dan Hairil kebagian tugas ke Malang.

Wawancara Kiai Hasyim hanyalah salah satu agenda kami, selain beberapa liputan soal isu dukun santet yang sedang ramai. Kiai Hasyim sendiri baru menjabat sebagai ketua PBNU, menggantikan Gus Dur yang jadi presiden RI.

“Jadi kalian ini sebenarnya wartawan dari Jawa Pos, atau dari mana?” tanya Kiai Hasyim. Kami yang sebelumnya sudah memperkenalkan diri, menjelaskan sekali lagi, bahwa di Jawa Pos kami hanya tugas belajar. Aslinya Hairil wartawan di Manado Post, dan saya wartawan di Kaltim Post.

“Jadi ini nanti wawancaranya akan dimuat di Jawa Pos?” Kiai Hasyim bertanya lagi.

“Di Jawa Pos belum pasti, Pak Kiai, karena seleksi beritanya ‘kan ketat. Tapi yang pasti akan dimuat di koran Duta Masyarakat,” Hairil menjawab.

Kiai Hasyim diam sejenak, seperti berusaha memahami penjelasan kami, lalu manggut-manggut. Entah memang beliau mengerti atau berusaha maklum saja dengan kami, dua anak muda culun yang berani-beraninya datang mengetuk pintu rumah pribadi ketua PBNU untuk wawancara.

Duta Masyarakat sendiri adalah koran umum yang punya sejarah panjang sebagai korannya warga Nahdliyin. Jawa Pos ketika itu sedang terlibat dalam pengelolaan koran tersebut, yang diterbitkan lagi di Surabaya seiring kebebasan pers pasca-bubarnya rezim Orde Baru.

Wawancara di kediaman Kiai Hasyim itu begitu berkesan buat kami, bukan saja karena bagi wartawan daerah kesempatan wawancara tokoh nasional selalu dinanti-nantikan, tetapi juga karena ada momen di mana kami berdua salah tingkah.

“Mas-masnya mau minum apa?” kata sesosok gadis berjilbab yang tiba-tiba datang menghampiri, menyela perbincangan kami dengan Kiai Hasyim.

Saya lupa detilnya setelah itu, blank…. kecuali bahwa sejurus kemudian, si gadis berjilbab itu datang lagi dengan nampan berisi tiga cangkir teh hangat. “Silakan ya, diminum,” kata gadis entah siapa namanya itu. Senyumnya manis sekali.

“Anak saya…” kata Kiai Hasyim, memotong lamunan saya dan Hairil, seakan paham isi kepala dua wartawan koplak yang masih sama-sama bujangan ini. Entah bagaimana tampang bengong kami berdua waktu itu.

“Jadi pertanyaan terakhir Anda tadi apa?” ucap Kiai Hasyim, yang kali ini bukan saja tambah menyadarkan lamunan, tapi juga bikin sedikit linglung sampai-sampai teh di cangkir yang saya pegang tertumpah sebagian. Hahaha…

Kiai Hasyim tersenyum. Ramah. Wawancara dilanjutkan dengan pernyataan-pernyataan serius dan antusias di pihak narasumber, namun hanya direkam dengan tape recorder oleh wartawan yang sudah kehilangan fokus.

Selesai wawancara, dalam perjalanan pulang ke penginapan, saya dan Hairil terlibat diskusi panjang. Sayangnya alih-alih membahas hasil wawancara dan bagian mana yang akan ditulis, kami malah membicarakan gadis berjilbab anak Pak Kiai tadi.

“Kamu benar-benar bikin kacau. Pakai acara numpahin teh segala. Untung Kiai Hasyim cuma senyum-senyum,” kata Hairil, yang sampai hari ini masih saja membahas peristiwa wawancara gagal fokus itu setiap kali kami bertemu.

Jangan tanya bagaimana akhirnya liputan kasus dukun santet itu, dan apa saja statement Kiai Hasyim kepada kami. Saya sudah lupa bagian itu. Bagian yang paling saya ingat, selain anak gadisnya tentu saja, adalah beliau sosok yang sangat ramah. Humble dan respectful. Ceramah-ceramahnya pun menyejukkan. Perjalanan waktu kemudian membuktikan Kiai Hasyim menjadi salah satu tokoh yang sangat disegani dan dihormati di negeri ini.

Selamat jalan Kiai Hasyim. Semoga keramahan dan kelemahlembutan Pak Kiai menjadi teladan bagi anak bangsa yang belakangan semakin pemarah ini. []

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *