Weekend Trip ke Kamboja: Kenapa Mata Uang Dalam Negeri Kurang Disukai?

Berakhir pekan di luar negeri kini bukan lagi sesuatu yang wah. Ramainya layanan pesawat udara berbiaya rendah membuat semuanya menjadi mungkin. Rute terdekat dan paling terjangkau; negara-negara Asia Tenggara.

BERMODAL tiket pesawat hasil hunting promo Air Asia sebulan sebelumnya, saya melakukan trip singkat akhir pekan ke sebagian wilayah Indochina; Thailand dan Kamboja. Durasi ngetrip kali ini sudah seperti kebiasaan kelompok pekerja yang sepekan sekali harus bepergian bolak-balik, dari kota tempat bekerja ke kota tempat tinggal keluarga berada; PJKA. Pulang Jumat, Kembali Ahad.

Trip dimulai dari Jakarta dengan tujuan Phnom Penh, Kamboja. Terbang menggunakan Air Asia transit Kuala Lumpur, Malaysia. Penumpang pesawat sebagian besar bule-bule dari Amerika, Australia, dan Eropa. Mereka berpasang-pasangan, dengan masing-masing memanggul backpack di punggung.

“Kami baru dari Bali dan Maluku dua pekan lalu. Ini mau menjelajah wilayah Indochina dulu, Kamboja dan Laos,” kata Stephen, warga Brisbane, Australia, yang jalan-jalan bersama pacarnya saat kami ngobrol sembari menunggu waktu boarding di ruang tunggu Kuala Lumpur International Airport (KLIA) 2.

Kamboja memang menjadi salah satu destinasi wisata populer di Asia Tenggara. Selain pesona Angkor Wat dan candi-candi berusia ratusan tahun di Siem Reap, terdapat banyak objek menarik di Phnom Penh; kuil-kuil dan candi, bangunan istana dari masa kejayaan kerajaan, eksotisme Sungai Mekong dengan pasar malam dan kuliner di sepanjang pinggiran sungai, dan kehidupan kota yang terasa tenang, tidak hiruk-pikuk. Yang tak kalah menarik adalah wisata sejarah, dari masa kelam kekejaman pasukan Khmer Merah rezim Pol Pot.

Seperti kembali ke masa lampau, pemandangan yang menyambut saat tiba di terminal kedatangan bandara Phnom Penh adalah deretan meja-meja pemeriksaan di sebuah ruang tak begitu terang dengan lantai ubin warna cokelat. Tampak kusam. Petugas Imigrasi melayani tanpa senyum. Dan surprise: sambil membolak-balik lembar paspor, petugas tersebut terang-terangan minta uang tip, dengan memberikan isyarat gerakan menggesek jempol dengan jari telunjuk.

“Memang begitu. Kamboja ini korupsinya parah sekali,” gerutu Phunim, sopir taksi bandara yang mengantar saya ke hotel. Di sepanjang perjalanan, dia curhat mengenai kondisi negaranya yang menurut dia semakin tidak terurus.

“Anda lihat tiang-tiang konstruksi di tengah jalan itu. Itulah yang bikin jalanan yang kita lewati ini macet dari tadi. Itu proyek pembangunan flyover (jembatan layang) untuk akses dari bandara ke kota, sudah dua tahun ini begitu-begitu saja, tidak ada progres. Uang proyeknya dikorupsi,” kata pria yang mengaku benci sekali dengan pemerintah, tapi tak bisa melakukan apapun selain menggerutu.

Bahasa Inggrisnya cukup fasih, sebagaimana umumnya pekerja-pekerja yang berhubungan dengan wisatawan di Kamboja seperti pelayan rumah makan, pegawai hotel, dan pengemudi tuk-tuk, kendaraan umum sejenis delman atau dokar namun ditarik dengan sepeda motor. Sektor wisata bukan saja membuat warga Kamboja familier dengan bahasa Inggris, tetapi juga terbiasa bertransaksi dengan mata uang dolar Amerika. Riel (KHR), mata uang Kamboja, tidak terlalu laku, bahkan lebih terasa sebagai mata uang kedua. Kalaupun mau membayar menggunakan riel, harus dihitung lebih dulu nilai tukarnya dengan dolar Amerika. “Riel kurang disukai, lebih bagus dolar,” sebut Phunim.

Pekan lalu, kurs 1 USD = 4.000 KHR. Tarif taksi sekali jalan dari bandara ke tengah kota 12 USD. Tidak pakai argo meter, tapi ini harga resmi. Karena sudah telanjur menukar dolar ke riel, saya bermaksud membayar taksi dengan mata uang riel saja. Tapi Phunim, sopir taksi kami, menetapkan harga 50.000 KHR. Padahal, seharusnya dengan kurs 4.000 maka 12 USD hanya 48.000 KHR. “Tarifnya seperti itu. Bayar 12 dolar atau 50 ribu riel,” katanya, datar. Rupanya sopir taksi pun ketularan korupsi, meski cuma mark up selisih kurs 2.000 riel.

Keluhan mengenai korupsi, pemerintahan yang bobrok dan mental pejabat yang buruk di Kamboja ini mengingatkan saya pada situasi Indonesia pada masa orde baru pertengahan 90-an. Warga semakin tidak percaya pemimpinnya, tapi mau protes tidak berani, karena penguasa sangat represif terhadap siapa pun yang melawan. Kesenjangan ekonomi tampak kasatmata. Mobil-mobil mewah milik orang-orang kaya berseliweran di antara tuk-tuk dan sepeda motor yang merupakan moda transportasi masyarakat umum.

Meski berbentuk kerajaan, Kamboja menerapkan sistem monarki konstitusional, sehingga raja tidak punya kekuasaan. Hanya simbol. Warga bahkan sampai pada perasaan percuma saja punya raja, karena toh tak berdaya menghadapi pejabat pemerintah yang korup. Negara sepenuhnya berada di bawah kendali perdana menteri, dengan dukungan militer dan kalangan pengusaha yang tak lain adalah kroni dan jaringan kekerabatan sang perdana menteri sendiri.

Saat berkunjung ke Royal Palace, istana kerajaan yang dibuka untuk umum di Phnom Penh, yang terlihat adalah sisa-sisa masa kejayaan Kerajaan Kamboja era Norodom Sihanouk. Arca Buddha seukuran tubuh manusia dari abad 17 berdiri di tengah balairung, terbuat dari 90 kilogram emas dan bertatahkan ribuan butir intan. Berbagai pajangan mewah ditampilkan di ruang dengan lantai berlapis kepingan perak itu.

“Di dalam istana kita melihat kejayaan Kamboja hanya sebagai sejarah. Di luar istana, hidup orang Kamboja semakin susah,” kata Ratana, pengemudi tuk-tuk yang mendampingi keliling kota. Saking susahnya, pria 31 tahun ini mengaku belum berani menikah karena tak ada cukup biaya. “Perlu banyak uang untuk hidup bersama perempuan Kamboja,” katanya.

Di Siem Reap, naik ke utara 321 kilometer dari Phnom Penh, kehidupan juga seperti kembali ke masa lalu. Masa yang lebih lampau lagi. Di sinilah berdiri kukuh Angkor Wat, candi dari masa kejayaan Raja Suryawarman II. Kawasan yang masuk dalam daftar situs warisan dunia UNESCO itu dibangun pada abad ke-12 dan dipertahankan seperti aslinya sampai sekarang dengan hanya sedikit restorasi. Masuk ke kawasan Angkor Wat seperti berada di sebuah kota kuno yang terkurung dalam lorong waktu.

Sama seperti di Phnom Penh, uang riel tak terlalu laku di sini. Selain tiket masuk untuk kunjungan sehari penuh di Angkor Wat dikenai tarif 20 USD, di sepanjang jalan menuju gerbang utama pedagang-pedagang kaki lima ramai menawarkan jajanan sambil berteriak… “One dolar sir… one dolar…”

Begitulah. Meski tak pernah dijajah Amerika, duit dolar dari Negeri Paman Sam mendominasi sekali di Kamboja. (windede@prokal.co)

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

Beri Tanggapan (atau pilih komentar via akun media sosial)

Loading Facebook Comments ...
Loading Disqus Comments ...

No Trackbacks.