Terbang Domestik Sesimpel Naik Bus, Boarding Pass Cukup dari Ponsel

Di saat bandara-bandara di Indonesia semakin memperketat pengamanan dan prosedur keluar-masuk terminal, yang terjadi di Australia justru sebaliknya: simpel, bebas ribet, dan sudah serbadigital.

ANDA biasa bepergian menggunakan pesawat terbang di bandara-bandara di Indonesia? Coba hitung, berapa kali Anda harus diperiksa, dari pertama kali tiba di terminal keberangkatan, sampai bisa duduk di pesawat? Tidak kurang dari lima kali pemeriksaan!

Pertama-tama, begitu tiba di bandara, untuk masuk ke ruang check in harus melewati dulu petugas di pintu masuk yang memeriksa apakah Anda memiliki tiket. Sering di titik ini sudah harus menunjukkan pula kartu identitas (KTP/SIM), untuk dicocokkan apakah nama di tiket yang Anda tunjukkan itu sesuai dengan nama di KTP/SIM. Kalau ini tidak lolos, ya sudah cukup sampai di situ. Enggak boleh masuk ruang check in.

Kalau lolos, selanjutnya harus melewati tahapan kedua; pemeriksaan barang dan badan. Barang-barang masuk ke mesin x-ray untuk dipindai, sementara orangnya harus melewati gerbang pendeteksi logam yang disebut walk through metal detector (WTMD).

Tahapan ketiga adalah pemeriksaan di counter check in. Penumpang harus menunjukkan tiket (bisa print out bisa digital) yang sesuai dengan kartu identitas. Petugas maskapai kemudian akan membuatkan boarding pass atau tiket naik pesawat dalam bentuk print out di atas kertas.

Ini beres, penumpang masuk ke ruang tunggu, dan bersiaplah untuk pemeriksaan keempat. Yakni ketika harus melewati sekali lagi pemeriksaan barang dan badan, dengan x-ray dan WTMD lagi, juga pemeriksaan dan pencocokan kartu identitas dan boarding pass.

Pemeriksaan terakhir atau yang kelima adalah saat panggilan boarding atau naik pesawat. Petugas maskapai akan meminta boarding pass untuk disobek, dan mencocokkan lagi dengan kartu identitas penumpang. Oh iya, terkadang akan ada pemeriksaan keenam saat kita baru masuk pesawat, yakni ketika pramugari meminta kita menunjukkan sobekan boarding passdan menanyakan nomor kursi.
Lima hingga enam kali pemeriksaan itu tak berlaku di bandara domestik di Australia. Proses tersebut diringkas menjadi hanya dua kali pemeriksaan saja; di pintu masuk pertama kali ke terminal, dan di pintu terakhir menuju pesawat saat boarding.

Rombongan Kaltim Post Group (KPG) Goes to Aussie mengalaminya sendiri saat bepergian dari Melbourne ke Sydney, pergi pulang, melewati Bandara Tullamarine Melbourne dan Bandara Kingsford Smith Sydney. Prosedur pemeriksaan, check in hingga naik pesawat dibuat sangat simpel. Sudah seperti naik bus umum.

Untuk penerbangan domestik tersebut kami menggunakan maskapai Jetstar Airways, perusahaan low-cost carrier (LCC) milik grup Qantas Australia. Tiket sudah dipesan secara online sejak masih di Indonesia.

Dua hari sebelum tanggal keberangkatan, kami melakukan mobile check in dari aplikasi Jetstar di smartphone. Setelah check in, kami menerima boarding pass digital yang dikirim ke surat elektronik. Bentuk gambar boarding pass yang di dalamnya terdapat QR Code.

Di Indonesia, meskipun sebagian besar maskapai sudah menyediakan fitur mobile check in, penumpang tetap harus datang ke counter check in untuk “melapor” dan dibuatkan boarding pass yang dicetak di kertas. Jadi, hanya statusnya saja yang check in. Untuk bisa naik pesawat dan ikut terbang tetap harus lapor, dan print boarding pass.

Nah, di Melbourne dan Sydney, kalau sudah check in via online atau mobile, penumpang tak perlu lapor apa-apa lagi. Cukup menunjukkan boarding pass digital saja saat mau naik pesawat. Petugas di pintu keberangkatan akan memindai layar smartphone yang ada QR Code di boarding pass digital tersebut, lalu penumpang diberi semacam kertas receipt berisi data nomor kursi.

Satu-satunya pemeriksaan yang kami alami ketika terbang domestik di Australia adalah saat masuk bandara pertama kali. Yakni pemeriksaan barang (lewat x-ray) dan pemeriksaan badan (WTMD) seperti halnya di Indonesia. Jaket dan ikat pinggang termasuk yang harus dicopot dan masuk x-ray. Supaya steril ketika melewati WTMD. Ini memang standar pemeriksaan demi keamanan bandara.

Lolos dari x-ray dan WTMD yang cukup ketat itu berarti lolos masuk sampai ke ruang tunggu. Sebab, tidak ada pemeriksaan apa-apa lagi, termasuk tidak akan ditanya-tanya apakah punya tiket atau tidak. Jadi, yang bukan penumpang dan tak memegang tiket penerbangan pun bebas masuk.

Penumpang yang sudah check in online dan memiliki boarding pass digital tak perlu melapor apapun lagi, kecuali membawa bagasi yang harus lapor untuk didaftarkan (baggage drop).

Selanjutnya, penumpang bisa duduk santai di hall lounge yang lapang dengan bermacam-macam gerai makanan dan tenant seperti food court di mal, sembari menunggu boarding time, atau langsung menuju ke ruang tunggu sampai ada panggilan untuk naik pesawat.

Di pintu keberangkatan (boarding gate), ketika mau naik pesawat, petugas juga tidak memeriksa identitas penumpang. Tidak ada prosedur mencocok-cocokkan apakah nama di tiket sudah sesuai dengan identitas orang yang hendak terbang. Rupanya mereka sangat percaya bahwa orang tidak akan menyalahgunakan “kelonggaran” tersebut.

“Kalau di tempat kita sudah banyak yang terbang pakai tiket nama orang lain nih,” seloroh Ludia Sampe, dirut Samarinda Pos yang ikut dalam trip KPG Goes to Aussie ini.

Sistem yang membebaskan orang keluar-masuk area gedung bandara ini membuat suasana di terminal keberangkatan dan kedatangan di Tullamarine Airport Melbourne dan Kingsford Smith Sydney menjadi ramai sekali.

Penumpang, pengantar, penjemput, atau pengunjung berbaur seperti sedang berada di sebuah pusat perbelanjaan. Mereka juga tak perlu khawatir soal keamanan, karena toh sudah ada pemeriksaan yang ketat di awal masuk.

Ini berbeda dengan bandara di tempat kita yang akses masuk ke terminal keberangkatan dibatasi khusus untuk penumpang saja. Itu pun harus pula melewati serangkaian proses mencocokkan tiket dengan identitas penumpang. Lucunya, dengan serangkaian prosedur yang sepertinya sudah sangat “ketat” itu, masih saja ada maskapai di Indonesia yang bisa kebobolan: penumpang gelap ikut terbang.

Prosedur boarding yang simpel juga membuat semua berjalan efisien. Pihak maskapai tak perlu lagi buang-buang kertas boarding pass (jadi hemat biaya), sementara penumpang tak perlu buang-buang waktu berdiri antre di counter check in hanya untuk print boarding pass.

“Upah tenaga kerja di Australia mahal sekali. Jadi, mereka memang membuat sistem yang seefisien mungkin, dengan memanfaatkan teknologi,” kata Ari Zulkarnain, warga Indonesia yang menemani kami selama di Australia.

Pemanfaatan teknologi ini juga dilakukan Pemerintah Australia untuk proses keimigrasian. Pada saat kedatangan, pos imigrasi dipisah dua; pemegang paspor Australia dan beberapa negara, seperti Inggris, Amerika, Selandia Baru, dan Singapura bisa langsung masuk ke jalur e-passport, di mana mereka bisa self service dengan memindai sendiri paspornya di mesin (auto-gate).

Sedangkan pemegang paspor lain termasuk Indonesia harus ke jalur manual; paspor diperiksa petugas untuk dicap (stempel).

Pada saat keberangkatan, semua sudah harus melewati mesin auto-gate. Penumpang memindai sendiri paspornya di mesin yang diawasi petugas. Setelah pemindaian sukses, ada petunjuk berjalan dua langkah untuk pengambilan foto yang juga secara otomatis oleh mesin. Tidak ada interaksi dengan petugas. Bahkan form keimigrasian dan kepabeanan yang diisi pun cukup dimasukkan ke drop box.

Semua praktis dan memudahkan, meskipun jadi kurang menarik bagi traveller yang suka koleksi cap stempel imigrasi di paspor sebagai “bukti” sudah pernah jalan-jalan ke negara mana saja.

Ya, hanya ada satu stempel saja dari perjalanan kami ke Australia pekan lalu, yaitu stempel saat kedatangan, bertuliskan Arrival Melbourne. Tidak ada stempel departure atau keberangkatan saat meninggalkan Negeri Kanguru itu. Tidak ada pula stiker visa yang bisa “dipamerkan” seperti kalau kita bepergian ke negara lain, sebab visa Australia pun bentuknya digital, tidak ditempel di paspor. (windede@prokal.co)

Like & Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.