Serunya Cookin’ Nanta Show di Gedung Pameran Terbesar Se-Asia Tenggara

Tiga koki, seorang koki jadi-jadian, dan seorang lagi manajer restoran, menyulap sebuah dapur menjadi panggung hiburan. Eh, mungkin lebih tepatnya menyulap panggung hiburan menjadi sebuah dapur. Bukan sembarang dapur, karena ini dapur yang hebohnya bikin orang tak berhenti tertawa selama dua jam.

PIRING-PIRING berterbangan, pisau-pisau tajam mengiris, memotong, mencacah, mencincang tumpukan ketimun, wortel, kol dan bawang bombay, menghasilkan harmoni nada-nada yang bersahutan bersama ketukan ritmis sumpit di atas panci, baskom, talenan, gentong dan galon air. Tak ada dialog. Hanya sesekali ceracau tak jelas dan potongan kata-kata dalam bahasa Indonesia yang diucapkan dengan terpatah-patah.

Datang jauh-jauh dari Korea, Lee Joo Hoon dan kawan-kawan bukan sekadar mengocok perut penonton dengan adegan-adegan lucu. Mereka juga sekaligus mengajarkan sikap disiplin; bagaimana pisau-pisau tajam di dapur seharusnya diperlakukan, piring-panci-kompor dan perkakas memasak lainnya diberdayakan.

Kelompok teater yang sangat populer di Korea Selatan ini datang ke Indonesia akhir pekan lalu. Selama tiga hari mereka tampil meramaikan rangkaian grand opening Indonesia Convention & Exhibition (ICE) Serpong, Tangerang Selatan, gedung baru di selatan Jakarta yang diklaim menjadi venue pameran terbesar di Asia Tenggara dan baru saja diresmikan Presiden Joko Widodo pada Selasa (4/8). Saya berkesempatan nonton teater yang sudah tampil di berbagai negara ini pada hari terakhir pertunjukan mereka di ICE Serpong, Ahad (9/8) sore.

Pelajaran disiplin pertama Cookin’ Nanta Show sesungguhnya sudah ada sejak di pintu masuk ruang pertunjukan, yang mengambil satu dari 10 hall di gedung ICE. Ratusan penonton yang antre sesuai kelas tiket cukup terganggu ulah beberapa orang yang menyerobot, menerobos di tengah antrean.

“Pasti belum pernah nonton teater nih, ‘udah kayak mau naik kereta komuter, takut enggak kebagian tempat duduk,” gerutu seorang penonton.

Pertunjukan yang dijadwalkan pukul 15.00 pun molor 15 menit karena, di dalam ruangan, petugas kerepotan menertibkan sejumlah penonton yang seenaknya berpindah tempat duduk dari kursi seharusnya. Padahal, selain nomor kursi sudah tercantum di tiket, penonton juga tidak boleh pindah posisi meski ada kursi kosong, mengingat beda posisi kursi beda harga.

Kelompok kursi paling depan, misalnya, membeli tiket seharga Rp 1 juta. Sedangkan yang paling belakang Rp 250 ribu. Kegaduhan di awal pertunjukan terjadi karena sejumlah penonton yang beli tiket Rp 250 ribu itu maju mengisi kursi baris depan yang kebetulan masih kosong. “Tidak boleh pindah, ini semua kursi kosong nanti ada orangnya karena tiket terjual habis,” teriak seorang petugas.

Benar saja, sampai beberapa menit setelah pertunjukan dimulai, beberapa orang yang datang terlambat tampak masih sibuk mondar-mandir mencari tempat duduk, mengingat suasana ruangan sudah gelap dan hanya tersisa cahaya di panggung. Sejumlah penonton yang terlambat masuk ini tentu mengganggu penonton lain yang ingin “khusyuk” menikmati show. Sebagai perbandingan, di gedung-gedung teater sekelas Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, penonton yang terlambat sampai 15 menit sudah tidak diperbolehkan masuk.

“Mungkin karena ICE ini gedung baru, petugasnya masih sama-sama belajar, jadi kita maklumi saja,” kata Afif, seorang penonton yang mengaku sangat puas dengan pertunjukan, tapi kecewa dengan petugas yang “kecolongan” membiarkan sejumlah penonton berpindah tempat duduk, dan meloloskan penonton lain yang datang terlambat.

Pertunjukan Cookin’ Nanta sendiri, meski penuh adegan kocak, memang ditampilkan dengan disiplin tinggi. Sebab, para pemainnya melakukan gerakan-gerakan akrobatik dan membunyikan nada-nada harmonis dari peralatan dapur yang sekaligus menjadi properti panggung. Kompor dengan api menyala-nyala, air panas di panci rebusan sayur, dan permainan menggunakan pisau-pisau tajam, hanya bisa ditaklukkan dengan latihan panjang serta disiplin pada plot dan skenario pertunjukan. Salah gerakan bukan saja bisa bikin nada jadi berantakan, tapi juga mencelakakan pemain dan penonton.

Sama seperti pertunjukan aslinya yang dimainkan di sejumlah gedung teater di Korea, Cookin’ Nanta Show di ICE Serpong ini mengusung cerita dari dapur sebuah restoran, yang mendapat order menyiapkan masakan untuk sebuah acara perkawinan. Sang manajer restoran, yang bergaya flamboyan dengan sisiran rambut licin, setelan tuksedo dan dasi kupu-kupu, membawa keponakannya dan memaksakan si keponakan bergabung dengan tim koki di dapur yang terdiri dari dua koki pria dan seorang koki wanita. Masalahnya, keponakan sang manajer ini belum berpengalaman menjadi koki.

“Jam enam,” kata manajer restoran dengan bahasa Indonesia yang cadel, menyebut waktu di mana semua masakan sudah harus selesai dibuat. Para koki plus keponakan manajer punya waktu 2 jam untuk menuntaskan tugasnya.

Maka kelucuan pun dimulai. Setelah mengantar keponakannya, manajer restoran pergi. Tinggal para koki yang mengerjai keponakan manajer yang belum berpengalaman di dapur itu, yang alih-alih diserahi tugas memasak, malah dijadikan bulan-bulanan, disuruh bersih-bersih dapur, cuci piring dan menyapu. Ketika manajer tiba-tiba datang, si keponakan dilibatkan kembali seolah-olah diberi pekerjaan seperti koki. Begitu manajer pergi, si keponakan disuruh pegang sapu lagi.

Potongan-potongan adegan ini ditampilkan dengan gerakan-gerakan akrobatik, pantomim, dan musikalisasi yang dihasilkan dari perpaduan back sound musik-musik melodis, tetabuhan dari alat-alat masak, dan suara-suara teriakan para pemain. Sesekali mereka membuat gimmick dengan seolah-olah tertusuk pisau, melempar panci berisi air panas, atau piring terbang, tetapi selalu berhasil “selamat”.

Di tengah adegan juga para pemain mengucapkan kosakata Indonesia seperti “makan”, “enak”, “panas”, yang menjadi kelucuan tersendiri karena diucapkan dengan logat Korea yang unik. Selebihnya, pertunjukan ini boleh dibilang non-verbal. Bisa dinikmati tanpa ada dialog.

Interaksi dengan audiens pun dibangun dengan mengajak beberapa penonton naik ke atas panggung. Ada seorang pria dan wanita yang dinobatkan menjadi pangeran dan putri, dipasangi mahkota dan jubah khas kekaisaran Korea, kemudian diminta mencicipi masakan yang dibuat para koki. Pada adegan lain ada beberapa penonton yang dilibatkan dalam tim di dapur, lalu para pemain satu per satu meninggalkan panggung sehingga tertinggal para penonton itu yang seolah-olah sedang jadi koki.

“Sangat menghibur,” kata artis Olga Lidya, yang berjumpa penulis di pintu keluar setelah pertunjukan.

Cookin’ Nanta Show benar-benar bisa membuat penonton di ICE Serpong, yang semuanya hampir pasti tidak bisa berbahasa Korea, tertawa sepanjang pertunjukan hanya dengan penampilan 5 pemain –yang dijamin tidak seorang pun di antaranya bisa berbahasa Indonesia. Betapa seni pertunjukan yang dikelola dengan baik dapat ditampilkan meski dengan perbedaan bahasa dan budaya. Bisa dinikmati hanya dengan gerakan dan nada-nada.[]

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

Beri Tanggapan (atau pilih komentar via akun media sosial)

Loading Facebook Comments ...
Loading Disqus Comments ...

No Trackbacks.