Yohan, Sang Andromeda

“Boss… Pian masih terlalu muda untuk meninggalkan kami. Jangan pergi dulu, boss…”

SEPOTONG kalimat ini langsung terngiang di kepala saya, ketika kemarin pagi seorang kawan di Banjarbaru menyampaikan kabar wafatnya Yohandromeda Syamsu, aktivis sosial, dosen, motivator, ustadz dan juga imunolog. Yohan mengucapkan kalimat tersebut ketika membesuk saya yang sedang terbaring di ruang perawatan sebuah rumah sakit di Jakarta, dua tahun lalu. Seperti beberapa kawan lain, Yohan memang biasa memanggil saya “boss”. Bukan karena saya ini bossnya, melainkan sebagai bentuk akrabnya pertemanan saja.

Hari itu, Yohan secara khusus terbang dari Banjarbaru untuk menengok saya yang sudah opname lebih dari seminggu, setelah beberapa hari sebelumnya “tak berdaya” di ruang ICU. Dia menyalami tangan, merangkul dan menepuk-nepuk bahu, sambil terus tersenyum memandangi wajah saya. “Syukurlah, ulun lihat pian sudah baikan, jauh lebih baik dari yang ulun lihat di foto yang dikirim kawan-kawan. Sehat terus ya, boss…” kata Yohan.

Saat saya berkunjung ke Banjarbaru berbulan-bulan kemudian setelah pertemuan kami di rumah sakit itu, barulah Yohan bercerita betapa saat itu dia sangat mengkhawatirkan kondisi saya. “Asli boss, kami semua khawatir sekali waktu itu. Jangan sakit-sakit lagi ya,” katanya.

Begitulah Yohan. Sahabat yang selalu penuh perhatian. Bila dalam rentang waktu yang panjang kami tak saling berkomunikasi, selalu saja dia yang menyapa duluan. Sekadar bertanya kabar, lalu mendoakan. Dia kawan yang bila berada di dekatnya kita merasa nyaman. Ramah dan selalu menebar semangat kebaikan.

Saya lupa kapan persisnya mengenal Yohan. Mungkin antara tahun 2002-2003, ketika dia berkunjung ke kantor Radar Banjarmasin membawa misi Dompet Dhuafa Republika. “Saya butuh support Radar Banjarmasin untuk bikin gerakan sosial seperti Dompet Dhuafa ini di Kalsel. Saya sudah ada konsepnya. Sudah bikin paper work dan proposal organisasi,” katanya, antusias sekali.

Bukan hanya semangat di awal. Yohan membuktikan antusiasmenya di bidang sosial itu terus menggebu-gebu hingga di akhir hayatnya. Melalui Radar Banjar Peduli (RBP), lembaga yang kemudian kami dirikan bersama sejumlah kawan, Yohan konsisten mengawal gerakan kedermawanan dengan bermacam-macam program di RBP.

 

Yohandromeda Syamsu dan Ogi Fajar Nuzuli di Aceh.

Bersama Ogi Fajar Nuzuli (sekarang Wakil Walikota Banjarbaru) kami terbang ke Aceh dua minggu setelah peristiwa tsunami, menyalurkan bantuan masyarakat Kalsel via RBP. Saat gempa mengguncang Bantul dan Jogja, Yohan bersama jaringan relawan lain se-Indonesia melakukan banyak hal di lokasi, dari program tanggap darurat hingga recovery pascabencana.

Kegiatan serupa sudah tak terhitung jumlahnya di wilayah Kalsel sendiri. Menggelar aksi kepedulian di lokasi-lokasi bencana banjir dan kebakaran, juga yang rutin-rutin hampir setiap pekan seperti pengobatan gratis ke kampung-kampung. Yohan memimpin sendiri aksi-aksi tersebut. Terjun ke lokasi berbaur bersama relawan dan masyarakat. Tubuh bongsornya selalu tampak dominan di tengah orang-orang yang gembira memperoleh bantuan.

Dalam pergaulan sehari-hari, Yohan adalah teman yang sangat menyenangkan. Ide-idenya sering menjadi pendobrak kebuntuan saat kami terjebak persilangan pendapat dalam berdiskusi. Seperti orang-orang perantau lain asal Minang, Yohan juga menjunjung tinggi filosofi di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Hampir semua orang yang baru mengenalnya akan mengira Yohan urang Banjar asli, karena kalau bapandir basa Banjar, inguh-nya benar-benar seperti asli – padahal dia juga bisa berbahasa Sunda (karena kuliah di Bandung dan istrinya orang Sunda) dan tentu saja fasih berbahasa Minang.

Suatu hari saya bertanya kepadanya, apakah gerangan arti nama Yohandromeda? Sebab sejauh ini hanya dialah satu-satunya orang bernama Yohandromeda yang saya kenal. Bahkan sembari menuliskan catatan ini saya search di Google kata Yohandromeda, hingga hasil pencarian di halaman ke 10 pun tetap me-refer ke nama Yohandromeda Syamsu. Tak ada orang lain dengan nama serupa.

“Makna persisnya saya tidak tahu pasti, mungkin dalam pikiran orangtua saya dulu biar keren saja,” kata pria kelahiran Payakumbuh, 8 September 1973 ini saat saya tanyakan ihwal namanya itu. Nama saudara-saudara kandungnya pun keren-keren; Yohanis, Yohamir, Yohanimar, Yohamar, Yohardi, Yoharman, Yohandri, Yohandrizon, dan Yohandriwati. Yohandromeda sendiri paling bontot, si bungsu yang sangat disayang saudara-saudaranya.

Tentu saja di mata kami teman-temannya, juga masyarakat Kalsel di mana belasan tahun terakhir ini dia berkiprah, Yohandromeda memang laksana andromeda, galaksi spiral berisi triliunan bintang yang terus bergerak indah di jagat raya. Galaksi paling terang yang dapat dilihat dari bumi.

Teruslah melesat seperti andromeda itu, kawan. Aku sesungguhnya ingin mengulang ucapanmu kepadaku dua tahun lalu: jangan pergi dulu. Jangan secepat ini. Betapa kami bersedih dan sangat kehilangan. Tapi waktu tak bisa diputar ke belakang, dan Tuhan pasti memberi apa yang tak pernah diminta manusia: kematian.

Semoga lapang jalanmu dan khusnul khotimah. Aamiin. (windede@jpnn.com)

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

Beri Tanggapan (atau pilih komentar via akun media sosial)

Loading Facebook Comments ...
Loading Disqus Comments ...

No Trackbacks.