Asyiknya “Home Stay”, Menjadi Washingtonian dan New Yorker

Ingin merasakan pengalaman berbeda saat berkunjung ke Amerika, tim Kaltim Post Group (KPG) memilih home stay, menginap di rumah penduduk lokal di Washington DC dan New York City, menikmati American life style layaknya warga setempat.

RUMAH tua berdinding kayu bercat putih di 9410 Fernwood Rd Bethesda, Maryland, pinggiran kota Washington DC itu, tampak biasa saja dari luar. Berdiri di atas lahan jembar setengah hektare, halamannya yang hijau ditumbuhi pepohonan maple yang rimbun menghijau di awal musim panas, akhir Mei lalu. Sebuah trampolin berdiameter lebih kurang 3 meter terpasang di samping rumah, bersisian dengan tumpukan kayu bakar untuk keperluan perapian di musim dingin.

 

“Ayo… siapa yang mau coba melompat, tapi hati-hati ya, ingat jangan memantul terlalu tinggi,” kata CEO Kaltim Post Ivan Firdaus. Pemred Kaltim Post Chrisna Endrawijaya mencoba pertama kali. Tapi tubuhnya memantul sedikit. “Nanti dicoba lagi deh, agak ngeri, belum berani lebih tinggi,” kata Chrisna, yang sebenarnya tidak benar-benar melompat. Ia hanya sedikit berayun di atas trampolin itu.

Masuk ke dalam rumah, rombongan disambut pintu utama yang terkunci dengan kode angka. Pemilik rumah sudah memberikan kode tersebut via e-mail, sehingga dia tidak perlu menunggu dan bertemu dengan tamunya saat check in untuk serah terima kunci. “Selamat datang di Bethesda, enjoy dengan rumah kalian,” kata Robert Bowes, sang pemilik rumah, dalam komunikasi melalui e-mail.

Pintu terbuka. Seperti kebanyakan rumah di Amerika, hanya ada ruang kecil di depan pintu sebelum tangga naik ke lantai atas dan akses ke ruang lain di kiri dan kanan. Sebelah kiri merupakan akses menuju ruang keluarga, lengkap dengan dua set sofa kulit, home theater dan lemari buku. Di depan sofa itu terdapat kotak perapian dengan dinding menghitam bekas jelaga. Tampaknya selalu dipakai apabila sedang musim dingin.

Di sebelah kanan pintu utama adalah akses ke ruang makan, dinning room mewah dengan meja kayu oval dan 12 kursi. Dari tempat ini ada akses menuju dapur dan tangga turun ke ruang bawah tanah. “Wah, pasti betah ini di sini, dapurnya lengkap dan modern, semua peralatan tersedia. Kita beli bahan makanan saja, masak sendiri untuk makan malam,” kata Direktur Samarinda Pos Ludia Sampe, sesaat setelah rombongan KPG tiba di rumah dengan tujuh kamar tidur bergaya klasik yang dibangun tahun 1938 ini.

Di sisi kiri dapur ada pintu lebar menuju teras belakang, asri dengan meja kursi yang biasa dipakai untuk sarapan pagi atau bersantai minum teh di sore hari. Dari teras ini pemandangan halaman belakang (backyard) begitu menenangkan, dengan taman hijau yang di salah satu sudutnya terdapat tungku panggangan api untuk pesta barbeque.

Istimewanya rumah yang disewa untuk home stay di Bethesda ini membuat rombongan KPG seolah lupa dengan tubuh yang lelah setelah penerbangan panjang belasan jam dari Tokyo, transit di Dallas sebelum mendarat di Bandara Ronald Reagan Washington DC. Itu pun masih ditambah beberapa jam proses mengurus sewa mobil yang ternyata cukup ribet. Belum lagi harus menunggu koper salah seorang anggota rombongan yang tertinggal di Bandara Dallas, dan baru disusulkan ke Washington pada penerbangan American Airlines dua jam kemudian.

Bukannya langsung istirahat, setiba di rumah kami sibuk berbagi tugas. Setelah menyimpan koper di kamar masing-masing, ada yang pergi ke supermarket terdekat untuk belanja bahan makanan. Ada yang menyiapkan dinner set di meja makan, dan yang lainnya memasak, keroyokan di dapur dipimpin master chef dadakan Ivan Firdaus.

Menu dinner istimewa kami di malam pertama di Amerika itu adalah sup ayam kalkun, dengan kombinasi unik sambal terasi dan goreng tempe yang dibawa salah seorang anggota rombongan –katanya demi mempertahankan selera makan selama di luar negeri. Semua berkumpul di ruang makan, saling bercerita dan bercanda seperti sebuah keluarga, dengan iringan lagu-lagu romantik klasik syahdu, yang mengumandang merdu dari mini portable speaker yang baru dibeli Ivan Firdaus saat berada di pusat elektronik Akihabara di Tokyo.

Dan, alunan lagu Only You-nya The Platters pun mengantar suasana makan malam kami yang tak akan pernah terlupakan itu. Only you/Can make this world seem right/Only you/Can make the darkness bright/Only you and you alone/Can thrill me like you do/…and fill my heart with love for only you.

TRIP MANDIRI
Kenapa pilih menginap di rumah penduduk dengan cara home stay? Ceritanya panjang. Yang pasti, ide ini berawal dari keinginan chairman KPG Zainal Muttaqin agar perjalanan kali ini tidak menjadi tur biasa, yang pakai travel agent, tidur di hotel, dan ikut jadwal ketat mengunjungi tempat-tempat wisata layaknya turis kebanyakan. “Kita bikin perjalanan mandiri, bukan sekadar jalan-jalan, tapi juga belajar dan menambah pengalaman, karena itu sebisa mungkin jangan menginap di hotel, jangan pakai travel agent, cari sewaan rumah penduduk,” kata Zam, panggilan akrab Zainal.

Beruntunglah ada situs Airbnb, layanan sewa-menyewa rumah yang kini memang sedang menjadi tren di kalangan travelers dunia. Situs ini mempertemukan orang-orang dari seluruh dunia yang ingin menyewa rumah sebagai alternatif akomodasi saat bepergian ke kota mana pun di dunia ini, dengan penduduk lokal yang menyediakan rumahnya, baik keseluruhan maupun hanya sebagian rumah, untuk disewakan.

Status penyewa dan penyedia jasa sewa (pemilik rumah) di Airbnb sama dan setara: sama-sama anggota yang harus melewati sejumlah proses verifikasi. Yang menyewakan rumah perlu meyakinkan calon penyewa bahwa rumah yang ditawarkannya layak sesuai harga dan kebutuhan, menyebutkan dengan jelas fasilitas apa saja yang disediakan, spesifikasi rumah seperti jumlah kamar tidur, kamar mandi, ruang keluarga, dapur, garasi, dan bagaimana akses atau transportasi menuju ke rumah.

Sedangkan calon penyewa perlu meyakinkan orang yang hendak menyewakan rumahnya dengan profil yang jelas, yang diverifikasi oleh manajemen Airbnb secara ketat menggunakan identitas resmi seperti paspor, dan membayar keseluruhan biaya sewa kepada Airbnb saat melakukan reservasi. Biaya sewa ini akan ditahan oleh Airbnb, tidak langsung dikirimkan kepada pemilik rumah, sampai kedua belah pihak menyatakan bahwa status sewa-menyewa telah terlaksana.

Sistem ini memastikan semua pihak aman dari kemungkinan penipuan. Penyewa bisa membatalkan sewa apabila ternyata rumah yang disewa tidak sesuai yang diiklankan. Sebaliknya pemilik rumah mempunyai hak penuh untuk menerima atau menolak calon penyewa, dengan memeriksa profilnya. Apabila pemilik rumah tidak cukup yakin dengan profil penyewa, misalnya, dia bisa saja menolak dan uang reservasi yang sudah dibayarkan calon penyewa dikembalikan penuh oleh Airbnb.

Karena setiap anggota Airbnb bisa berperan sebagai penyewa dan juga pemilik rumah yang disewakan, maka ada satu tambahan proses verifikasi yang juga penting; review alias ulasan. Setiap anggota bisa mengulas anggota lain yang pernah bekerja sama. Dari ulasan inilah akan terlihat bagaimana rekam jejak seorang anggota di Airbnb, baik rekam jejak sebagai penyewa, maupun sebagai yang menyewakan rumah.

Seorang penyewa yang berprilaku buruk, misalnya merusak barang-barang di rumah yang disewa atau meninggalkan rumah dalam keadaan kotor, akan mendapat review negatif dari si pemilik rumah. Ini akan membuat dia sulit menyewa rumah lagi di Airbnb di kemudian hari. Sebaliknya, pemilik rumah yang dianggap menyewakan rumah tidak sesuai keterangan, juga akan mendapat ulasan buruk dari penyewa. Orang-orang yang kecewa setelah menyewa sebuah rumah akan mengingatkan anggota lain agar jangan menyewa rumah tersebut. Review ini tidak bisa diedit oleh anggota, dan Airbnb menerapkan kebijakan “bebas dan demokratis” dalam memberikan ulasan.

Dari sisi harga, biaya sewa rumah di Airbnb tentu lebih murah dibandingkan menginap di hotel dengan fasilitas yang setara di kota setempat. Seperti saat di Washington DC dan New York City, rumah yang disewa tim KPG harganya hampir setengah dari biaya apabila menginap di hotel kelas bintang dua. Padahal fasilitas rumah yang disewa lebih lengkap karena disediakan dapur dengan peralatan masak, bumbu-bumbu standar dan bahan minuman seperti teh kopi dan gula, juga mesin cuci dan mesin pengering.

“Kalau tahu ‘gini saya enggak bawa baju banyak-banyak. Enak cucian singkat, langsung kering tanpa jemuran dan bisa setrika sendiri,” kata Sudiyono, manager iklan Kalteng Pos yang saking gemarnya mencuci baju sampai menyediakan diri sebagai petugas binatu dadakan untuk anggota rombongan.

Rumah yang disewa tim KPG di Washington dan New York juga menyediakan fasilitas wifi gratis, yang bisa diakses dari seluruh kamar, sehingga semua anggota rombongan bisa setiap waktu terhubung ke internet dan mudah berkomunikasi dengan keluarga di Tanah Air. Pemilik rumah pun secara khusus dan personal datang menjenguk, menanyakan apakah ada masalah dan menawarkan bantuan. “Jangan sungkan hubungi saya kalau ada apa-apa,” kata Gretchen Maneval, pemilik rumah yang kami sewa di kawasan Brooklyn, New York, yang datang pada hari kedua kami menginap di rumahnya.

Dan satu hal yang tidak mungkin didapat apabila menginap di hotel, adalah merasakan kehidupan seperti layaknya penduduk setempat. Rombongan KPG benar-benar menikmati asyiknya menjadi Washingtonian, orang Washington, yang berinteraksi dengan tetangga rumah saat joging pagi, dan menyapa mereka kala berjumpa di toko grocery. Kami juga menikmati jadi New Yorker, orang New York, yang sarapan roti bagel dan berdialog dengan slang unik kaum urban… Hey, Man, what’s up Man… (bersambung)

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

Beri Tanggapan (atau pilih komentar via akun media sosial)

Loading Facebook Comments ...
Loading Disqus Comments ...

No Trackbacks.