Politik Air Mata, ketika Kesedihan Menjadi Senjata

Dari Pentas “Tangis” Teater Gandrik di Taman Ismail Marzuki

DEMI KEKUASAAN: Salah satu adegan dalam pentas Tangis yang ditampilkan Teater Gandrik di Taman Ismail Marzuki Jakarta. (foto: windede)

Wajah politik Indonesia menjelma dalam lakon Tangis yang dipentaskan Teater Gandrik, di Taman Ismail Marzuki Jakarta, akhir pekan (20-21/2) lalu. Kesedihan dieksploitasi untuk merebut kuasa.

 

Tong dudu blek dudu tong dudu bul drem. Tong dudu blek dudu tong dudu bul drem.

BUKAN rapal mantra. Tong dudu blek dudu tong dudu bul drem itu semacam kalimat ritmis tanpa arti yang diucapkan dengan nada datar oleh buruh-buruh pabrik Batik Abiyoso, yang galau karena perusahaan tempat mereka bekerja dirundung problem serius; di ambang kebangkrutan.

Kematian Pak Muspro, kepala pemasaran Batik Abiyoso, memuncaki keterpurukan pabrik milik Juragan Abiyoso itu. Pak Muspro mati gantung diri karena tak sanggup lagi menanggung beban hidup yang kelewat berat. Usaha batik yang didirikannya bersama Juragan Abiyoso terus merugi, menunggak pajak dan berutang di mana-mana.

Kebocoran produksi menjadi-jadi karena buruh mulai mengutil. Pesanan batik dari pejabat pemerintah dan pengurus partai politik banyak yang bermasalah. Pabrik terbengkalai. Mesin produksi mangkrak. Buruh mengalami demotivasi. Mental dan semangatnya jatuh ke titik paling rendah.

Lalu datanglah Pak Dulang (Susilo Nugroho), menguasai panggung sebagai dalang. Mengatur setting drama dan memperkenalkan satu per satu tokoh dalam lakon satu babak yang disutradarai Djaduk Ferianto ini. Pak Dulang tampil kocak, sesekali diselingi interaksi dengan penonton.

Agus Noor, yang menulis ulang skenario Tangis dari modifikasi dua naskah karya alm Heru Kesawa Murti (Tangis dan Juragan Abiyoso) menampilkan plot twist (dua plot cerita yang saling berkait) antara Pak Dulang sebagai dalang dan Pak Dulang sebagai bagian dari alur cerita yang didalanginya.

Adalah Sumir (Sepnu Heryanto), sosok hantu gentayangan di pabrik Batik Adiyoso, yang sepanjang cerita bukan saja menghantui buruh pabrik dan keluarga Abiyoso, tetapi juga menghantui Pak Dulang sebagai pencerita. Hantu Sumir menyembunyikan canting (alat lukis batik) milik Juragan Abiyoso, padahal benda itulah jimat pesugihan yang menjadi pusaka Abiyoso. Pabrik batik ini mulai terpuruk sejak canting itu hilang.

Tapi ada persoalan lebih serius dari sekadar canting yang hilang. Juragan Abiyoso (Butet Kartaredjasa) yang sudah uzur dan sakit-sakitan, lebih memilih Prasojo (Kusen Ali) sebagai kepala pemasaran, menggantikan Pak Muspro yang mati gantung diri. Masalahnya, Prasojo adalah anak Pak Muspro, dan itu membuat marah Pangajab (Very Ludiyanto), anak kandung juragan Abiyoso, yang merasa lebih berhak menduduki posisi tersebut.

Drama pun dimulai ketika istri juragan Abiyoso (Rully Isfihana) membujuk suaminya untuk menimbang kembali keputusan menunjuk Prasojo sebagai kepala pemasaran. Ia berusaha meyakinkan Abiyoso bahwa anak mereka Pangajab juga mampu mengurus pabrik batik milik keluarga yang sudah mau gulung tikar tersebut. Abiyoso menolak karena tahu perangai Pangajab yang manja dan suka mabuk. Mengurus diri sendiri saja tidak bisa gimana mau mengurus perusahaan.

Masalah jadi semakin rumit karena kisah-kisah masa lalu Abiyoso mulai terbongkar, di saat istri Pak Muspro (Jami Atut Tarwiyah) buka suara, bercerita tentang bagaimana suaminya yang bersahabat dengan Abiyoso sejak zaman perang kemerdekaan, menyimpan sejumlah rahasia, termasuk rahasia-rahasia juragan Abiyoso yang penuh aib.

Di pabrik, mandor Siwuh (Nunung Deni Puspitasari) yang licik dan suka menjilat mengajak Pangajab bersekongkol untuk menjatuhkan Prasojo. Selain mengganggu proses produksi dan menggagalkan sejumlah pesanan batik, Siwuh juga mengajari Pangajab cara menangis yang baik dan benar, agar dapat meluluhkan hati juragan Abiyoso. Pangajab mendapat nasihat dari ibunya bahwa salah satu kelemahan sang ayah adalah gampang tersentuh hatinya kalau melihat orang menangis. Maka menangislah yang serius, agar Abiyoso luluh.

Begitulah, panggung akhirnya dipenuhi suara tangisan. Ada tangis Pangajab yang terlalu dibuat-buat, tangis Siwuh yang melengking tinggi, tangis istri juragan Abiyoso yang naik turun, tangis para buruh yang lemah menyayat hati, dan tangis Abiyoso sendiri yang dalam dan panjang. “Orang rela melakukan apapun agar selamat,” kata Pak Dulang. “Termasuk menangis.”

 

***

 

Cut…”

Pak Dulang tiba-tiba memotong adegan. Menghentikan cerita di saat drama sedang mencapai puncaknya. “Payah ini junior-junior Teater Gandrik. Ekspresi kurang maksimal,” seloroh Pak Dulang, disambut gerrr penonton. Susilo Nugroho yang memerankan Pak Dulang sedang melakukan interplay, menyela plot yang sedang dimainkan untuk menampilkan plot berbeda.

Seolah hendak memberi jeda, Susilo kemudian turun panggung dan menghampiri penonton. Tiga orang yang duduk di kursi VIP dia ajak berdialog, yakni Kepala BNP2TKI Nusron Wahid, mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan, dan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

KEJUTAN DALANG: Pak Dulang menghampiri Dahlan Iskan, salah seorang penonton, di tengah pertunjukan. (foto: windede)

“Kalau pertunjukan bagus seperti ini, Mas Dahlan apa nggak tertarik nanggap sendiri?” tanya Susilo kepada Dahlan. “Oh, untuk pertunjukan ekstra besok, saya sudah borong tiket untuk teman-teman,” kata Dahlan. “Lha ya bukan yang besok, tapi yang khusus, kita (Gandrik, Red.) diboyong manggung ke Surabaya, gitu. Paling-paling habis lima ratus juta. Ini Pak Dahlan asli ‘kan? Kalo yang asli biasanya langsung setuju,” sahut Susilo menggoda Dahlan. Yang digoda hanya tertawa sambil manggut-manggut.

Kepada Menteri Agama Lukman Hakim, Susilo melempar pertanyaan lebih iseng lagi. “Pak menteri, dulu ‘kan bapak anggota DPR. Sekarang menteri. Saya mau tanya, mana yang lebih besar peluang korupsinya, jadi anggota DPR apa jadi menteri?” tanya Susilo disambut pecah tawa hadirin. “Hanya Yang di Atas yang tahu,” jawab Lukman Hakim. “Lebih tepatnya, yang tahu Yang di Atas dan bapak sendiri,” kata Susilo.

Pentas Tangis ini, meski ber-setting cerita pabrik batik, memang penuh satire dan sindiran kepada kondisi politik Indonesia hari ini. Bagaimana perebutan kekuasaan kerap menampilkan kelicikan dan pengkhianatan. Orang tidak lagi malu melakukan apapun demi meraih kuasa. Bila perlu dengan politik air mata, menangis dan menjadikan kesedihan sebagai senjata.

Sandiwara tangis mandor Siwuh dan Pangajab akhirnya menjadi tangis yang sesungguhnya, ketika juragan Abiyoso wafat, mati bersama hatinya yang kecewa. Istri Abiyoso menjadi gila, sementara Pangajab dipenjara setelah membunuh mandor Siwuh.

Buruh pabrik Batik Abiyoso melanjutkan usaha dipimpin Prasojo. Sumir “insyaf” dengan menunjukkan dua sosoknya yang absurd; antara Sumir sebagai hantu penunggu pabrik dan Sumir yang ternyata anak angkat Pak Dulang, sang pembawa cerita – yang di akhir kisah terungkap memiliki dendam kepada juragan Abiyoso. Itu sebabnya Pak Dulang mendalangi cerita yang berakhir sedih untuk Abiyoso. Untuk membalas dendamnya.

Suguhan plot twist dan permainan interplay dalam pertunjukan Teater Gandrik kali ini memang menjadi daya tarik tersendiri, selain seperti biasa kritik-kritik pedas para pemain yang dibungkus dalam dialog-dialog jenaka. Bagaimana Pak Dulang sebagai dalang bermain-main dengan alur cerita yang dibuatnya, namun akhirnya hanya bisa diam saat identitas aslinya dibongkar oleh Sumir, satu-satunya tokoh yang – dalam skenario pementasan ini—tak bisa dia kendalikan.

Teater Gandrik seolah hendak mengkritik wajah politik Indonesia mutakhir, bahwa sehebat-hebatnya seorang dalang mengatur sebuah jalan cerita yang rumit sekalipun, ia tetap tak akan kuasa melawan takdirnya sendiri. Takdir yang berujung tong dudu blek dudu tong dudu bul drem… ***

Win Dede

Win Dede aka Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, kini bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

You may also like...

Beri Tanggapan (atau pilih komentar via akun media sosial)

1 Response

  1. Osman mengatakan:

    Saya suka idea bahawa sakit jiwa mesti dirkstaean. Saya rasa ia memberi mereka seseorang untuk membunuh dan memotong-motong dalam perjalanan turun .

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading Facebook Comments ...

No Trackbacks.