Pesawat Bertarif Murah, yang Dipangkas Biaya “Amenity”

Benarkah pengelola penerbangan bertarif murah mengorbankan faktor keselamatan (safety) demi menekan harga? Mari kita bedah satu per satu apa saja efisiensi biaya yang membuat sebuah maskapai bisa disebut low cost carrier (LCC).

PASTI tidak mudah bagi manajemen Air Asia menghadapi musibah kecelakaan pesawat QZ 8501. Mereka bukan saja kehilangan sebuah Airbus A320-200 seharga hampir Rp1 triliun, kehilangan kru terbaik dan pelanggan, tetapi juga harus bangkit mempertahankan kepercayaan konsumen yang telah dibangun selama belasan tahun.

Itu sebabnya banyak yang menyayangkan sikap Menhub Ignasius Jonan yang merespon peristiwa kelabu di akhir tahun 2014 ini justru dengan membatasi tarif murah penerbangan LCC, seolah-olah memvonis bahwa kecelakaan pesawat terjadi karena tarif murah tersebut membuat maskapai mengabaikan faktor keselamatan penerbangan.

Sebagai peraih 6 kali berturut-turut penghargaan World’s Best Low Cost Airline (2009-2014) dari The Skytrax World, Air Asia memang harus menerapkan standar tinggi dalam dua layanan penting ini; kenyamanan dan keamanan. Skytrax yang memiliki reputasi sangat baik dan diakui sebagai lembaga pemeringkat industri penerbangan dunia, pasti bukan tanpa alasan memberikan penghargaan itu.

Aradhysta, seorang traveler asal Jakarta dalam diskusi di sebuah forum backpacker baru-baru ini mengatakan, pembatasan tarif bawah tiket pesawat terbang oleh Kemenhub dengan alasan safety sebenarnya tidak nyambung. Sebab yang dilakukan maskapai LCC untuk bisa menjual tarif murah bukanlah memotong biaya safety.

“Banyak komponen biaya yang dihemat, sehingga sebuah maskapai LCC dapat menjual tiket lebih murah dari maskapai lain. Yang dipangkas itu bukan budget untuk aviation safety,” kata Aradhysta, yang pernah secara khusus meneliti strategi low cost-nya Air Asia untuk keperluan tesis kuliahnya.

Ia mencontohkan kebijakan fast turn around, yakni kecepatan dan ketepatan jadwal kedatangan/mendarat dan terbang kembali sebuah pesawat, sehingga maskapai tak perlu membayar mahal sewa parkir pesawat di bandara yang bukan merupakan home base-nya.

“Rata-rata waktu yang dibutuhkan antara landing (mendarat) dan redeparture (berangkat kembali) pesawat Air Asia di sebuah bandara hanya 25 menit. Pembersihan kabin dilakukan sendiri oleh flight attendant (FA), tidak pakai cleaner officer yang artinya extra cost. Di Air Asia FA-nya sampai jongkok-jongkok ambil sampah sebelum pesawat mendarat. Pasti yang sering naik Air Asia biasa lihat pramugarinya bawa trash bag pas lagi clean out,” kata Aradhysta.

Tidak berlama-lama parkir di bandara juga bisa dilakukan oleh Air Asia karena maskapai ini menerapkan sistem direct flight yang point to point, dari satu bandara ke bandara berikutnya. Penumpang yang melakukan penerbangan lanjutan akan pindah pesawat sehingga tidak membutuhkan proses transfer yang membuat pesawat harus menunggu lama.

Jadwal penerbangan diatur sedemikian rupa sehingga semua kru pesawat pergi dan pulang ke kota asal, tanpa menginap di kota lain. Ini sangat efektif memangkas biaya hotel dan transportasi darat mengingat pada flight terakhir kru bisa pulang ke rumah masing-masing. Ini pula yang menjadi alasan Air Asia membuka perusahaan di setiap negara yang diterbangi pesawatnya, sehingga kru pesawat dapat direkrut dari warga negara setempat.

Contoh paling gampang memahami pola ini adalah begini; Air Asia rute Jakarta – Kuala Lumpur dan Kuala Lumpur – Jakarta dioperasikan oleh dua perusahaan, yakni Air Asia Indonesia (perusahaan Indonesia, kru warga Indonesia, kode penerbangan QZ) dan Air Asia Malaysia (perusahaan Malaysia, kru warga Malaysia, kode penerbangan AK). Penerbangan Air Asia terpagi dari Jakarta ke Kuala Lumpur dioperasikan oleh Air Asia Indonesia menggunakan pesawat QZ. Begitupun penerbangan Air Asia paling malam dari Kuala Lumpur ke Jakarta, dioperasikan oleh Air Asia Indonesia.

Pesawat yang dioperasikan Air Asia Malaysia tidak akan melayani flight terpagi dari Jakarta ke Kuala Lumpur, supaya pesawat dan kru-nya tidak perlu menginap di Jakarta (untuk terbang pagi-pagi, pesawat dan kru harus bermalam terlebih dulu). Begitupun pesawat yang dioperasikan Air Asia Indonesia, tidak akan melayani flight paling pagi dari Kuala Lumpur supaya pesawat dan kru-nya tidak perlu menginap di Kuala Lumpur. Tidak ada extra cost untuk RON (round over night) yang biasa dikeluarkan maskapai lain. Pesawat dan kru akan kembali ke titik yang sama (home base) setiap harinya.

Maskapai LCC juga menerapkan sistem single class cabin, di mana tidak ada kursi business class sehingga kapasitas kursi penumpang bisa lebih maksimal. Penjualan tiket lebih banyak via online, sehingga tidak ada counter penjualan yang membutuhkan biaya sewa kantor dan gaji pegawai. Counter penjualan tiket, kalaupun ada, bekerjasama dengan agen perjalanan, yang artinya biaya sewa kantor dan gaji pegawai ditanggung pemilik agen perjalanan tersebut.

Urusan ticketing juga lebih hemat karena paperless, bebas kertas dan cetakan. Tak ada print out tiket. Itinerary dikirim via email dan penumpang diarahkan untuk self check in secara mandiri via online dan mencetak sendiri boarding pass. Dengan teknologi smartphone yang semakin canggih saat ini, proses check in dan verifikasi boarding pass juga cukup lewat aplikasi di ponsel secara mobile. Sangat praktis.
“Dan yang terpenting lagi, no frills, tanpa embel-embel. Anda cukup membayar apa yang Anda butuhkan,” kata Aradhysta.

Sudah umum diketahui maskapai LCC tidak memberi penumpangnya makan-minum saat di pesawat. Kalau kepingin makan, ya harus beli, itupun hanya tersedia jenis makanan instan saja. Untuk makanan yang fresh cooked harus memesan lebih dulu (pre-order) secara online paling lambat 48 jam sebelum jadwal terbang. Ini agar pihak katering tidak memasak makanan yang tak terjual. Dengan sistem ini, penumpang yang tidak butuh makan-minum di pesawat terbebas dari komponen biaya makan-minum dalam tiket yang dibayarkannya.

Penumpang juga tidak mendapatkan jatah bagasi, sehingga biaya bagasi hanya dikenakan kepada penumpang yang bepergian membawa bagasi saja. Ini berbeda dengan maskapai reguler/premium yang dalam harga tiketnya terdapat komponen biaya bagasi, tak peduli apakah jatah bagasi itu mau dipakai atau tidak, sehingga orang yang bepergian tanpa bagasi pun harus ikut membayar biaya bagasi yang sebenarnya tidak diperlukannya.

“Jadi yang dipangkas itu biaya amenity, kenyamanan, yang sebenarnya ‘kan tidak selalu dibutuhkan oleh semua penumpang,” Aradhysta menjelaskan. Orang yang ingin mendapat kenyamanan berupa kursi yang lebih lapang, misalnya, bisa membeli hot seat di baris depan. Kalau tidak perlu ya tak usah bayar. Silakan duduk di kursi mana saja yang susunannya akan diacak (random) oleh sistem saat proses check in.

LCC juga menerapkan single type of aircraft, yakni penggunaan satu jenis pesawat saja. Air Asia hanya mengoperasikan Airbus A320-200 untuk hampir semua penerbangannya, kecuali rute long haul (jarak jauh) seperti ke Eropa, Australia atau Arab Saudi yang menggunakan Airbus A330 dan Airbus A340.

Kebijakan pengoperasian satu jenis pesawat ini membuat perusahaan lebih efektif dalam melakukan pelatihan bagi pilot dan awak kabin. Tidak ada additonal cost untuk berbagai jenis alat latih yang berbeda. Tidak diperlukan pelatihan tambahan untuk penyesuaian kru dengan pesawat baru. Kebutuhan maintenance dan spare parts pesawat lebih efisien.

Pilihan bandara untuk homebase juga yang paling hemat. Di Jakarta menggunakan Terminal 3, di mana penumpang cukup naik-turun pakai tangga (lebih murah dari garbarata). Di Kuala Lumpur sebelum ada KLIA2 memakai terminal khusus (LCCT) yang sangat minimalis. Di Bangkok, Thailand, Air Asia memilih home base Don Mueang (bandara lama), bukan Suvharnabhumi Airport. Di Hongkong, meski check in dilewatkan Terminal 2 HKIA, untuk boarding penumpang ditransfer ke departure gates (pintu keberangkatan) yang berada di sebuah bangunan satelit (North Satellite Concourse) di Terminal 1 HKIA.

Lantas bagaimana dengan biaya yang berhubungan dengan safety? Hasil penelitian Aradhysta menyimpulkan standar faktor keamanan ini tetaplah yang utama, di mana perawatan pesawat dilakukan bekerjasama dengan GMF Aero. Awarding dari Skytrax yang 6 tahun berturut-turut merupakan salah satu bukti adanya concern yang tinggi terhadap aspek keselamatan.

“Untuk rekrutmen pilot Air Asia memiliki kerja sama dengan berbagai sekolah pilot ternama, di antaranya BIFA dan STPI. Boleh dicek bagaimana sistem sekolah pilot di sana, saya rasa sangat-sangat high standard. Mereka juga punya yang namanya AllStar Academy, di mana flight attendant dan ground staff dilatih bersama sehingga kerjasama bisa lebih efektif,” katanya.
Berdasarkan laporan keuangan Air Asia, lanjutnya, biaya terkait aviaton safety ini besarannya terus meningkat dari tahun ke tahun. Ini merupakan indikator bahwa penghematan tarif tidak diambil dari anggaran keamanan.

Air Asia juga tidak menghabiskan anggaran besar untuk belanja iklan. Promosi dilakukan di badan pesawat, dengan berbagai tulisan dan branding yang sangat eye catching. Bahkan kursi penumpang pun dipasangi iklan. Selebihnya mereka rutin mem-blasting email promo ke pelanggan, yang diikat dengan membership berupa loyalty programme. Salah satu keuntungan members adalah mendapatkan informasi awal mengenai program tiket-tiket promo yang masih tersedia.

Dengan berbagai usaha penghematan yang dilakukan LCC hingga sukses menyediakan tarif murah bagi pelanggan, Aradhysta menilai pembatasan tarif bawah oleh kemenhub menjadi tidak masuk akal. Ia menyarankan kemenhub lebih fokus membenahi standar FOO (flight operation officer) serta SDM air traffic control (ATC). Bahkan yang tak kalah pentingnya adalah reformasi birokrasi di Kementerian Perhubungan sendiri, sebagai regulator yang ikut menentukan penerbangan aman dan nyaman.

“Seringkali kebijakan yang diambil cuma reaktif, tidak melihat domino effect-nya. Pembatasan tarif murah pesawat LCC akan berdampak ke mana-mana. Ya pariwisata, hotel, resto dan berbagai UKM ekonomi kreatif yang selama ini tumbuh berkat adanya penerbangan bertarif murah,” ujarnya.

Air Asia, dengan tagline-nya Now Everyone Can Fly, perlu didukung untuk bangkit dari musibah yang menimpanya sekarang. Agar semua makin yakin bahwa aspek keselamatan tetap menjadi concern utama penerbangan bertarif murah, mungkin tagline yang tertulis besar di badan pesawat itu bisa diberi sedikit kata tambahan: “Now Everyone Can Fly, and Fly Safely”. []

Like & Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.