Terbang Selamat dengan Pesawat Bertarif Murah, Kok Bisa?

Musibah yang menimpa penerbangan Air Asia QZ 8501 rute Surabaya-Singapura berbuntut ke mana-mana. Menteri Perhubungan Ignasius Jonan memutuskan membatasi tarif pesawat murah, dengan menetapkan tarif tiket pesawat termurah minimal 40% dari tarif batas atas. Salah kaprah?

KABAR mengenai hilangnya pesawat Air Asia QZ 8501 sontak mengejutkan saya dan keluarga. Minggu pagi 28 Desember 2015 itu kami sedang sarapan sambil membincangkan persiapan liburan keluarga ke luar negeri, yang tinggal beberapa hari lagi. “Udah nggak sabar,” kata Alvaro, anak bungsu saya.

Ini memang bukan liburan yang direncanakan mendadak. Tiketnya sudah dibeli jauh-jauh hari, sejak 8 bulan sebelumnya, pas ada promo tiket super-hemat. Maka selama 8 bulan itu pula si bungsu seperti melakukan count down, hitung mundur menunggu tanggal liburan dimulai.

Tiba-tiba istri saya menyodorkan ponselnya. Di layar tampak berita salah satu portal online mengabarkan Air Asia yang hilang kontak, dengan 155 penumpang dan 7 kru di dalamnya.

“Astaghfirullah, mudah-mudahan selamat semua,” katanya. Anak-anak pun bertanya, ada apa. Saya menyalakan televisi. Saluran stasiun tv berita sudah menayangkan secara live kesibukan petugas Bandara Juanda Surabaya menyiapkan ruangan crisis centre.

Sejak pagi itu anak-anak ikut sibuk mencari informasi mengenai peristiwa tersebut, bertanya ini-itu termasuk apakah liburan keluarga tetap jadi seperti rencana semula. Maklum, kami juga akan menggunakan pesawat Air Asia. Rutenya Jakarta – Kuala Lumpur dan Kuala – Lumpur Hongkong, bolak-balik. Total 4 kali terbang. “Jadi dong. Pesawat terbang itu moda transportasi paling aman. Secara teknologi paling canggih, dan percayalah, pilot yang menerbangkan pesawat akan mengutamakan keselamatan kita semua karena dia ‘kan juga mau selamat,” kata saya, berusaha meyakinkan anak-anak.

Kamis, 1 Januari 2015 berangkatlah kami ke Kuala Lumpur dengan Air Asia AK 385 melalui Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta. Televisi di ruang tunggu bandara memutar saluran berita penemuan puing pesawat QZ 8501 dan proses evakuasi jenazah korban oleh tim Basarnas. Saya perhatikan sebagian besar calon penumpang menyaksikan berita itu dengan wajah datar. Entah apa yang ada di pikiran mereka. Yang pasti, saat terdengar panggilan untuk boarding semuanya bergegas naik pesawat.

Penerbangan AK 385 terisi penuh – bukti bahwa konsumen tetap percaya terbang dengan Air Asia meski baru saja ada pesawatnya yang mengalami kecelakaan.

Dalam perjalanan, dengan pemandangan langit cerah di luar jendela pesawat, saya merenung kenapa harga tiket pesawat jenis low cost carrier (LCC) seperti Air Asia bisa jauh lebih murah dari pesawat reguler/premium? Saya berjanji kepada diri sendiri akan melakukan riset kecil dan menuliskannya sepulang liburan. Paling tidak bisa sedikit bercerita dari pengalaman jadi pemburu tiket murah selama ini hehe.

Sebenarnya, tiket pesawat yang “benar-benar murah” itu tersedia untuk beberapa seat saja pada setiap penerbangan, dan itu pun hanya bisa didapatkan dengan berbagai syarat. Misalnya seperti saya dan keluarga, yang memilih terbang di hari tahun baru (tanggal 1 Januari) dan sudah membeli tiket 8 bulan sebelumnya.

Kalau kami memilih terbang pada satu atau dua hari lebih cepat, harga tiketnya lima kali lebih mahal, mengingat periode akhir tahun (30 dan 31 Desember) adalah peak season. Apalagi kalau tiketnya baru dibeli menjelang tanggal keberangkatan, pasti akan lebih mahal lagi. Pemburu tiket promo seperti saya tentu lebih memilih memundurkan tanggal liburan, daripada harus bayar tiket lebih mahal. Kami harus rela memulai libur saat orang lain sudah selesai liburan. Namanya juga kepingin murah.

Air Asia memang termasuk maskapai yang royal melempar program tiket promo. Bahkan pada momen tertentu bisa pasang tarif hingga Rp0. Saya termasuk yang sering memanfaatkan promo ini. Rasanya seperti mendapat tiket gratis meski masih harus membayar pajak dan fuel surcharge. Beberapa trip yang pernah saya lakukan dengan tiket Rp0 di antaranya untuk terbang ke Singapura, Johor Bahru, Kuala Lumpur, Penang, Bangkok, Hongkong, juga Ho Chi Minh City. Di dalam negeri pernah pakai tiket Rp0 untuk trip ke Medan, Bali, Lombok, Surabaya dan Jogja.

Yang dilakukan Air Asia dan maskapai LCC manapun di dunia ini sebenarnya strategi bisnis biasa, yang dilakukan juga oleh bidang usaha lainnya; memberi harga spesial untuk item tertentu pada periode waktu tertentu. Ini seperti membeli baju lebaran di hari setelah lebaran. Bukankah pada saat seperti itu biasanya toko-toko menjual lebih murah untuk cuci gudang?

Sebagai contoh, harga tiket pesawat Air Asia untuk saya sekeluarga rute Jakarta – Kuala Lumpur PP pekan lalu itu hanya Rp10.000/orang (ya, sepuluh ribu rupiah) ditambah airport tax dan fuel surcharge masing-masing Rp300.000. Sedangkan tiket Kuala Lumpur – Hongkong PP di kisaran 60 USD/orang. Total biaya tiket pesawat kami sekeluarga (2 dewasa dan 3 anak) untuk liburan 2 hari di Kuala Lumpur dan 3 hari di Hongkong plus Shenzhen tak lebih dari Rp5 juta. Duit sejumlah ini bahkan tidak akan cukup bila dibelikan 1 saja tiket pesawat sekelas Garuda Indonesia untuk rute dan tanggal yang sama.

Secara marketing Air Asia sukses menancapkan kesan bahwa tarifnya sangat murah. Padahal promo tiket murah itu hanya berlaku untuk tak lebih dari 10% dari total kursi dalam 1 flight. Tiket harus dibeli sendiri secara online dalam masa promo yang terbatas (biasanya periode pembelian dibatasi 3 hari), dan untuk jadwal terbang minimal 8 bulan kemudian. Tiketnya no refund (tidak bisa dikembalikan alias hangus bila tak dipakai), no reroute (tidak bisa pindah rute) dan no reschedule (tidak bisa ubah tanggal). Inipun pakai acara rebutan dengan calon pembeli lain. First come first serve. Siapa cepat, dia dapat.

Total 10% “kursi gratis” yang jadi alat promosi itu sebenarnya adalah kursi nganggur yang secara kalkulasi pasti tidak terjual, dan bila digratiskan pun tidak akan menambah biaya operasional yang dikeluarkan maskapai. Misalnya total kapasitas penumpang 100 orang, mau pesawatnya diisi 50 penumpang, 80 penumpang, atau terisi penuh, biaya menerbangkan pesawat itu sama saja. Harga sewa parkir bandara, biaya izin, ongkos bahan bakar, gaji pilot dan pramugari, maintenance, tidak berubah.

Sebutlah rata-rata okupansi kursi pesawat dalam setiap penerbangan (di luar peak season) 90%, maka sisa 10% kursi yang nganggur tersebut akan dilepas saja menjadi kursi promo. Toh kursi tersebut hampir pasti kosong tak terisi. Maskapai cukup menarik biaya pajak dan fuel surcharge kepada penumpang yang beruntung memperoleh kursi itu. Maskapai samasekali tidak rugi, malah dapat dampak positif dari program promosi.

Itu sebabnya kursi promo hanya tersedia di hari-hari sepi (biasanya tengah pekan) dan tanggal-tanggal low season. Jangan harap bisa dapat kursi promo di saat weekend (apalagi long weekend) atau tanggal-tanggal peak season. LCC manapun akan menjual harga tiket lebih mahal pada periode tersebut.

Bahwa di luar program promosinya maskapai LCC tetap bisa menjual tiket dengan harga lebih murah jauh di bawah harga tiket maskapai reguler/premium, tentu juga dengan berbagai strategi yang ujung-ujungnya adalah efisiensi; memangkas biaya-biaya tak perlu.
Tapi apakah yang dipangkas itu termasuk biaya safety? (bersambung)

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

Beri Tanggapan (atau pilih komentar via akun media sosial)

Loading Facebook Comments ...
Loading Disqus Comments ...

No Trackbacks.