Dua Pelawak, Dua Komika, Dua Jam Tawa

Dari Pentas Stand Up Dagelan; Mati Ketawa Cara Politikus Indonesia

 

Orang tertawa karena bisa melihat sesuatu yang “tidak benar” pada realitas yang “seolah-olah benar”. Dengan cara itulah, kata Filsuf Jerman Arthur Schopenhauer, komedian bekerja; mengolok-olok kebenaran dan memanipulasinya dalam permainan logika.

 

KOCAK – Kolaborasi komika dan pelawak di pentas Stand Up Dagelan; Mati Ketawa Cara Politikus Indonesia, memadukan konsep stand up comedy dengan aksi panggung drama. (foto: windede)

DAN begitulah, dua jam pentas bertajuk Stand Up Dagelan; Mati Ketawa Cara Politikus Indonesia, di Graha Bhakti Budaya (GBB) Taman Ismail Marzuki Jakarta, Jumat malam (5/12) seperti hendak membuktikan ucapan Schopenhauer. Realitas politik, budaya dan laku keseharian orang Indonesia yang ternyata penuh paradoks dan kelucuan, menjadi bahan dua komika dan dua pelawak mengocok perut penonton, yang sepanjang pertunjukan nyaris tak pernah berhenti tertawa.

Pentas yang diproduseri Butet Kartaredjasa dan sutradara Agus Noor ini dimulai dengan sebuah kejutan di atas panggung, ketika lampu sorot menampilkan siluet sesosok pria di balik tirai putih, yang ternyata adalah Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Ahok benar-benar menjadi kejutan karena namanya bahkan tidak ada dalam rundown acara.

“Saya harus klarifikasi dulu, malam ini saya hadir bukan sebagai Butet tandingan. Sebab sekarang ‘kan lagi sensitif soal tanding menandingi,” kata Ahok, disambut riuh tempik sorak penonton. Dalam pentas-pentas yang diproduserinya sebelum ini, Butet memang selalu menjadi key note speaker, membuka acara. Tugas yang untuk kali ini rupanya diambil alih sang gubernur Jakarta.

Layaknya seorang komika, Ahok bercerita singkat mengenai warga Jakarta yang kini harus terima nasib dipimpin seorang gubernur yang, kata Ahok sendiri, sedikit gila. “Saya ini sebenarnya agak miring satu strip. Tapi waktu periksa kesehatan di RSPAD dulu mungkin masih di batas toleransi, makanya lolos,” canda Ahok.

“Tapi Jakarta memang harus dipimpin orang yang agak gila, buat urus kalian ini. Jadi gubernur di Jakarta ini rumusnya PPB, PPG. Pura-pura bego, pura-pura gila…” kata Ahok.

 

 

Gelak tawa akibat ocehan Ahok ternyata hanya semacam pemanasan. Sebab setelah Ahok turun panggung lalu duduk di kursi penonton, suasana menjadi lebih “pecah” lagi saat ruang pentas dikuasai bergantian oleh komika Sammy Notaslimboy dan Mongol Stres, serta pelawak Susilo Nugroho dan Marwoto. Duet kreatif Butet dan Agus Noor menampilkan 4 figur dengan karakter yang sama-sama kuat itu, dalam 4 segmen stand up comedy yang dirangkai menjadi satu alur cerita saling berhubungan.

Panggung GBB Taman Ismail Marzuki di-setting menjadi sebuah rumah sakit umum yang dulunya adalah rumah sakit jiwa. RS Lali Jiwo, nama rumah sakit itu. Sammy, seorang caleg gagal, datang ke rumah sakit untuk membesuk koleganya, Marwoto, seorang politikus yang tengah dirawat karena mendadak sakit ketika nyaris ditangkap KPK atas dugaan terlibat kasus mafia minyak. Sammy diterima perawat bahenol bernama Anita, yang dengan gaya menggoda mengatakan Marwoto belum bisa dibesuk karena dokter Susilo yang merawatnya masih sibuk.

Sammy kemudian menguasai panggung dengan ber-stand up comedy selama 28 menit. Ngoceh sendiri ngalor-ngidul soal realitas politik dan paradoks-paradoks yang terjadi di masyarakat. Orang Indonesia, kata Sammy, sebenarnya disiplin. Ketika di Singapura ada larangan makan permen karet sembarangan, semua orang Indonesia yang ke sana patuh. Artinya, kalau sistemnya benar, orang Indonesia bisa disiplin.

“Tapi di Jakarta, orang meski dilarang masuk jalur busway, tetap aja menerobos. Dikasih separator, diterobos. Separator ditinggikan, diterobos dari awal. Luar biasa. Ini sebenarnya bukan separatornya yang salah, tapi sistemnya. Mestinya jangan pakai separator. Cukup dikasih garis, tapi ada tulisannya, BATAS SUCI. Dijamin nggak akan ada yang berani terobos. Anda pernah ke mushala? Ada garis batas suci? Ada petugas yang jaga? Tidak ada! Tidak perlu dijaga, tapi juga tidak ada yang berani menerobos. Saya yang Kristen saja tidak berani…” kata Sammy disambut gelak tawa hadirin. “Itu masukan saya buat Pak Ahok. Ganti separator busway dengan batas suci,” sambungnya.

Pria bertubuh bongsor yang menjadi host salah satu program comedy show di televisi swasta nasional ini lantas bercerita mengenai realita kehidupan masyarakat Indonesia, yang kadang absurd dalam menyikapi perbedaan agama dan golongan. “Pak Ahok didemo terus nih sama FPI. Jangan khawatir Pak Ahok, santai saja. Lurah Susan saja didemo kok. Justru Pak Ahok jangan membubarkan FPI. Cukup diskotek stadium saja yang dibubarkan. Kalau FPI bubar nanti saya dan teman-teman stand up comedy kekurangan bahan,” selorohnya.

Sammy juga menyebut Presiden RI Joko Widodo sebagai pemersatu orang atau kelompok yang selama ini berseteru. “Terus terang gue salut sama Jokowi. Misalnya, aktivis feminis Ratna Sarumpaet dan PKS, selama ini ‘kan tidak pernah akur. Berseteru terus. Tapi soal Jokowi, mereka kompak. Katanya Jokowi itu antek asing. Hebat Jokowi, bisa mempersatukan Ratna Sarumpaet dengan PKS.”

Jokowi juga, lanjut Sammy, mempersatukan ideologi besar yang selama ini jelas-jelas berseberangan: komunisme dan kapitalisme. “Jokowi dituduh antek komunis. Jokowi juga dituduh antek Amerika. Anda tau ‘kan, komunis dan Amerika itu musuhan? Jokowi mempersatukannya. Luar biasa. Ini kalo Karl Marx dan Adam Smith masih hidup entah apa komentar mereka,” kelakar Sammy, lagi-lagi memecah tawa hadirin.

Hingga di ujung ocehannya, alih-alih bisa membesuk Marwoto, Sammy bahkan tak berhasil menemui dokter Susilo. Dia sudah meninggalkan panggung ketika tak berapa lama kemudian dokter Susilo tiba. “Rumah sakit Lali Jiwo ini disebut rumah sakit komplit demokratis. Semua fasilitas ada, dan pasien boleh memilih mau dirawat seperti apa. Yang belum sakit saja boleh berobat di sini kok, nanti kita carikan penyakitnya,” kata Susilo.

Itulah yang terjadi pada Marwoto, politikus yang mendadak sakit karena terjerat kasus hukum. Dia datang ke RS Lali Jiwo minta dirawat, dioperasi, agar terhindar dari jeratan hukum. Duet pasien-dokter yang diperankan Marwoto dan Susilo ini benar-benar sukses mengocok perut penonton. Latar belakang keduanya sebagai komedian, menghidupkan suasana dengan dialog-dialog segar dan ulah kocak. Keduanya juga bermonolog seperti gaya seorang komika.

“Dokter paling hebat itu dokter hewan. Mereka tidak pernah bertanya kepada pasien apa penyakit dan keluhannya. Langsung periksa dan kasih obat,” kata Susilo. Dokter hewan juga, lanjutnya, pasti orang yang paling terjaga moralnya, sebab tidak pernah terlibat skandal dengan pasien.

“Kalau yang paling bodoh itu dokter gigi. Kuliah lima tahun hanya untuk mempelajari 32 gigi. Jadi cuma belajar 3 gigi tiap semester. Itu saja kalo pasien datang masih pakai nanya, datang ke sini sakit apa… Ya pasti sakit gigilah, kalau boyok ndak datang ke sini…”

Marwoto berkisah tentang pengalamannya berurusan dengan dokter kandungan, ketika sang istri hamil anak pertama. “Istri masih muda, sama dokter diperiksa trus saya tidak boleh masuk. Disuruh tunggu di luar ruang pemeriksaan. Saya cuma dengar dokter menyuruh istri miring sana, miring sini, telentang… muaacem-macem. Ehh, begitu selesai, dokternya kasih resep, saya disuruh bayar tujuh ratus ribu. Sudah istri ditelentang-telentangin, disuruh bayar lagi. Itu sakitnya tuh di sini,” ujar Marwoto.

Segmen Marwoto dan Susilo berakhir ketika sang dokter melakukan tindakan operasi yang tidak tuntas, karena di saat hendak menjahit perut bekas pembedahan, dokter Susilo ditelepon istrinya. Saking takutnya kepada istri, Susilo meninggalkan Marwoto begitu saja, dalam keadaan masih terbius. Ketika siuman dan mendapati jahitan di perutnya belum selesai, Marwoto marah-marah. Dia meninggalkan rumah sakit.

Kasur pasien kosong. Saat itulah datang Mongol Stres, komika yang berperan sebagai seorang warga miskin dan sering mendapatkan perlakuan diskriminatif di rumah sakit. “Hidup ini suka tidak adil bukan saja kepada orang miskin, tetapi juga orang jelek,” kata Mongol. “Dan saya masuk kategori kedua-duanya. Lengkap…”

Mongol yang menyebut dirinya sebagai pakar “cowok KW” ini mengundang tawa penonton dengan cerita yang dibumbui ungkapan-ungkapan setengah vulgar mengenai seks, gender, bahkan agama. Menjadikan wilayah yang selama ini serius dan sensitif sebagai bahan lelucon.

Dua jam pementasan Stand Up Dagelan di GBB Taman Ismail Marzuki ini, meski memuaskan dahaga penonton akan hiburan, akhirnya terasa nanggung, karena berakhir ketika penonton sedang klimaks dalam tawa yang tiada henti-hentinya. Penonton dibiarkan bubar tanpa kesimpulan bagaimana ujungnya nasib Marwoto, politikus yang pura-pura sakit untuk menghindari jeratan hukum itu, atau apakah Sammy bisa menjenguk kawannya dan bertemu dokter Susilo.

Usai penampilan Mongol, pentas diakhiri begitu saja dengan goyang seronok Anita, sang perawat seksi, diiringi lagu dangdut Sakitnya Tuh di Sini yang dimainkan kelompok Jakarta Street Music. Butet Kartaredjasa yang di akhir pementasan biasanya memberi closing statement pun kali ini tidak mengatakan apa-apa, selain ucapan terima kasih. Butet seperti hendak membiarkan penonton meninggalkan ruang pertunjukan dengan pikiran segar namun otot wajah yang pegal dan gigi kering karena kebanyakan tertawa. ***

 

Win Dede

Win Dede aka Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, kini bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

You may also like...

Beri Tanggapan (atau pilih komentar via akun media sosial)

1 Response

  1. wildan mengatakan:

    Komedinya agak pro salah satu golongan ya sepertinya..

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading Facebook Comments ...

No Trackbacks.