Orang Basap Ahli Navigasi, Orang Punan Hebat Berburu

Memories from Borneo, “Membaca” Kalimantan Awal Abad Dua Puluh (2)

RAJA ALAM – Kepala suku Amban Klisan (berdiri tiga dari kiri) bersama kerabat di depan lamin di Long Leju, tahun 1923. (foto: koleksi keluarga wolfgang leupold)

Bukan sekadar memotret, Wolfgang Leupold juga mencatat banyak hal dalam ekspedisinya menjelajah Borneo, terutama mengenai kehidupan masyarakat lokal yang ia temui.

SALAH satu yang menarik adalah catatan Leupold mengenai orang-orang Basap, yang merupakan penduduk asli Kalimantan Timur. “Orang Basap adalah kelompok-kelompok keluarga Dayak dengan anggota sedikit, yang hidup secara berpindah di hutan dengan budaya paling primitif. Mereka masih dalam tahap budaya pengumpul dan hidup dari hasil hutan serta berburu dengan menggunakan tombak dan sumpit,” tulis Leupold pada salah satu fotonya.

Ia menggambarkan orang Basap sebagai navigator ulung di tengah hutan dengan vegetasi lebat seperti umumnya belantara Borneo. Mereka mempunyai kemampuan orientasi yang sangat tinggi, sehingga Leupold mempekerjakan seorang pemuda Basap bernama Manjan sebagai penunjuk jalan. Keahlian Manjan melakukan navigasi di tengah hutan menjadi faktor penting dalam keberhasilan sejumlah ekspedisi Leupold dan tim. “Dia seorang pemuda yang benar-benar hebat,” katanya.

Leupold menceritakan ia bertemu orang-orang Basap di hulu Sungai Binai, sungai kecil di mana terdapat tiga kelompok keluarga. Setiap kelompok menguasai sekitar 200 kilometer persegi teritorial yang dibagi dalam tiga wilayah perburuan. Mereka berburu di areal antara sungai satu ke sungai lainnya, namun tetap dalam teritori yang telah disepakati. Secara keseluruhan jumlah tiga kelompok ini masing-masing tidak lebih dari 25 orang.

Foto wajah-wajah orang Basap dengan ekspresi natural itu menjadi bagian cukup diminati pengunjung pameran foto-foto Wolfgang Leupold, dalam event Memories from Borneo di gedung Erasmus Huis Pusat Kebudayaan Belanda di Jakarta, 22 April – 6 Mei 2014. Foto lain merekam pondok-pondok orang Basap yang ditemuinya di tengah hutan Bulungan, dengan atap daun dan tiang-tiang sangat sederhana dari batang dan ranting pohon. Pondok-pondok itu, beserta peralatan berburu dan perabotan sederhana dari kulit kayu, hanya menjadi tempat berteduh sementara, sebelum orang Basap berpindah lagi ke lokasi lain.

Pada kesempatan ekspedisi yang lain Leupold berjumpa orang Dayak Punan, yang digambarkannya sebagai ahli berburu, dengan profil penampilan menyandang mandau di pinggang kiri, bambu wadah anak panah beracun di pinggang kanan, sedangkan tangannya memegang sumpit yang sekaligus berfungsi sebagai tombak.

Orang Punan, kata Leupold, juga berkelompok dalam komuni kecil yang terus menerus hidup berpindah di dalam hutan wilayah Bulungan dan Berau. Mereka berkelana di sepanjang daerah aliran sungai, anak-anak sungai kecil di alam liar, dan di hulu-hulu sungai yang jauh di pedalaman. “Daerah di mana tidak ditemukan lagi kelompok Dayak biasa,” katanya.

Selain kelompok-kelompok adat Dayak di pedalaman, Leupold tentu juga memotret cukup banyak wajah-wajah penduduk Tanjung Selor, Tarakan dan Bunyu, tempat dia tinggal selama 6 tahun di Kalimantan. Masyarakat di daerah perkampungan ini sudah cukup beragam, dengan percampuran antara orang-orang Dayak, Melayu, Banjar dan China. Sebagian figur yang dipotret Leupold adalah orang-orang lokal yang dipekerjakannya sebagai kuli (begitu Leupold menyebutnya), dan “praktikan magang”, yakni pemuda-pemuda berpendidikan dasar yang diajari ilmu topografi.

TATO: Seni tato tubuh yang sudah jadi budaya masyarakat Dayak secara turun-temurun.

Sejumlah foto memperlihatkan suasana interaksi orang-orang lokal dengan pekerja asing dari Eropa, juga pejabat-pejabat kolonial Belanda. Salah satunya adalah ketika hari ulang tahun Ratu Belanda Wilhelmina, yang dirayakan setiap tanggal 31 Agustus, dan kala itu oleh pemerintahan kolonial diberlakukan sebagai hari libur nasional. Leupold mendokumentasikan sejumlah atraksi dan pertunjukan yang dilakukan pegawai-pegawai pribumi yang begitu meriah.

Di foto lain tampak masyarakat adat Dayak di Long Leju, salah satu kampung terbesar di Sungai Kayan, dengan kepala suku sedang berdiri bersama kerabatnya di depan rumah panjang (lamin). Leupold menggambarkan kepala suku bernama Amban Klisan itu sebagai “raja secara alam” yang mendominasi warga kampung lainnya dengan penuh kekuatan dan penampilan energik.

“Para perempuannya menggunakan seikat anting-anting kuningan yang membuat lubang telinga mereka menjadi panjang. Semakin banyak yang dipakai, menandakan semakin kaya,” tulis Leupold.

Ia juga memotret keahlian orang Dayak membuat perahu, yang diolah langsung dari batang kayu besar menggunakan kapak kecil. Pohon ini memiliki garis tengah 1,5 meter dengan tinggi keseluruhan pohon 50 meter. Dibutuhkan waktu lebih kurang satu bulan untuk mengerjakan sebuah perahu. Dengan perahu-perahu tersebut, katanya, orang Dayak bisa bepergian ke hulu yang jauh, dengan mendayung mengatasi arus jeram berbahaya di Sungai Kayan. Sebuah keahlian luar biasa pada zaman di mana teknologi kapal uap mulai banyak digunakan saat itu.

Pada 1924, tahun kedua berada di Kalimantan, Leupold praktis sudah menjelajah ke hampir seluruh wilayah koloni Belanda di Borneo. Ia mengunjungi Tanah Tidung, daerah Sungai Sembakung dan Sebuku, hingga ke daerah pegunungan di perbatasan koloni Belanda dengan koloni Inggris di Borneo Utara (kini masuk wilayah Malaysia).

Foto-foto yang dibuatnya selain menjadi koleksi pribadi, juga dipakai untuk mendukung pelaporan hasil eksplorasi sumber minyak, gas alam dan batubara di Borneo. Leupold juga menggambar sendiri sejumlah sketsa geologis hasil penelitiannya, serta peta gambar wilayah hasil ekspedisi ke sejumlah daerah. Tak kurang 600 halaman laporan tertulis dibuat Wolfgang Leupold dalam bahasa Belanda, untuk tugasnya selama 6 tahun di Kalimantan, yang meskipun tidak dipublikasikan, dinilai sebagai laporan paling lengkap mengenai lanskap geologis di timur laut Borneo – dan menjadi dasar penelitian serta eksplorasi berikutnya.

Tahun 1927 Leupold pulang ke Eropa, dan menjalani karier sebagai pengajar di Institut Geologi Universitas Bern. Ia juga menjadi dosen di Universitas Zurich dan meraih gelar profesornya pada tahun 1942. Dokumen pribadi foto-foto etnografis mengenai Borneo yang dibuatnya selama di Kalimantan baru mulai dipublikasikan oleh keluarga setelah Leupold meninggal dunia pada 1986, ditambah sejumlah kesaksiannya mengenai pengalaman di Borneo yang sempat direkam lewat pita kaset dan kini menjadi koleksi Museum Etnografi Universitas Zurich, Swiss. (bersambung)

 

Baca juga tulisan ini di Kaltim Post

Win Dede

Win Dede aka Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, kini bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

You may also like...

Beri Tanggapan (atau pilih komentar via akun media sosial)

2 Responses

  1. Johnf869 mengatakan:

    Wow! This could be one particular of the most useful blogs We’ve ever arrive across on this subject. Actually Excellent. I’m also an expert in this topic so I can understand your hard work. eebaeefeeegk

  2. gina mengatakan:

    Wouw,,masyarakat sendiri banyak yang tdak tahu mengenai hal ini

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading Facebook Comments ...

No Trackbacks.