Blubard Blaburd… Blubard Blaburd…

Pementasan Demonstran oleh Teater Koma di GBB Taman Ismail Marzuki Jakarta.

 

 Siapakah sebenarnya rakyat sejati?

JANGAN kira mudah menjawab pertanyaan ini. Bahkan Teater Koma perlu durasi 180 menit mementaskan lakon Demonstran, demi memecahkan misteri “siapakah sebenarnya rakyat sejati” itu, dan hingga pementasan berakhir dengan riuh tepuk tangan penonton, jawaban yang didapat absurd belaka.

Ihwal “siapa sebenarnya rakyat sejati” ini mengemuka dalam dialog antara Topan, seorang mantan demonstran yang kini telah menjadi pedagang sukses, dengan tiga rekannya sesama aktivis dulu; Niken, Wiluta dan Jiran. 20 tahun silam mereka bersama-sama berunjuk rasa untuk menumbangkan rezim pemerintah yang tiran.

Topan sedang dibujuk ketiga rekannya itu untuk kembali berdemonstrasi, sebab setelah dua dekade berlalu, kondisi negara kembali genting. Politik makin carut marut. Korupsi terus merajalela. Rakyat tambah sengsara. Tapi Topan sudah tak mau lagi berunjuk rasa. Ia sekarang adalah pedagang. Pekerjaannya mencari untung.

“Hanya Abang yang bisa kami harapkan memimpin gerakan ini. Rakyat sudah tidak bisa menunggu lagi,” kata Niken, yang bersama Wiluta dan Jiran memanggil Topan dengan panggilan “abang”.

“Rakyat, katamu?” meninggi suara Topan. “Siapakah rakyat itu? Siapakah rakyat sejati itu?”

Ruang Graha Bhakti Budaya di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta tempat Demonstran dipentaskan pun hening. Pertanyaan Topan bukan saja membuat Niken, Wiluta dan Jiran terdiam. Tetapi juga seakan menohok segenap penonton, yang sebelumnya lebih dulu dibikin tertawa-tawa oleh beragam adegan lucu yang menggambarkan kondisi politik negeri, di mana para politikus –yang sebagian besar dulunya juga aktivis— kini lebih sibuk korupsi, memainkan anggaran negara dan meminta uang komisi dari pengusaha.

Nano Riantiarno, pemimpin Teater Koma yang juga penulis naskah sekaligus sutradara pementasan ini, menampilkan sosok Topan (diperankan Budi Ros) sebagai seorang yang realistis memandang hidup. Bahwa ada masa di mana perjuangan selesai dan kepentingan diri sendiri harus diutamakan. Orang boleh menganggap dirinya legenda. Tapi kisah heroik 20 tahun yang lalu itu baginya tinggal sejarah. “Dan kalian terlalu membesar-besarkannya.”

Topan bersikeras tak lagi mau berunjuk rasa. Dia ingin menikmati hidupnya bersama Bunga (dimainkan Cornelia Agatha), istrinya yang cantik jelita.

 ***

 Begitulah, adegan demi adegan dalam lakon Demonstran yang saya saksikan Selasa malam (11/3) lalu itu memang hanya sebuah dongeng. Tapi saya merasa beruntung, bukan saja karena Chairman Kaltim Post Zainal Muttaqin yang memang gemar nonton teater langsung mengajak ke TIM saat tahu Teater Koma sedang pentas, melainkan juga karena lakon ini seperti sebuah pemanasan menjelang pemilu legislatif bulan depan.

Nano Riantiarno cukup cerdik memilih momen pementasan ini: digelar setiap hari sejak 1 Maret 2014 lalu, dan baru berakhir 15 Maret nanti, tepat sehari sebelum masa kampanye resmi legislatif serentak di seantero negeri. Naskah yang sudah ditulisnya 25 tahun lalu itu memang nyambung dengan atmosfer politik tanah air saat ini. Bagaimana aktivis-aktivis yang pada zamannya begitu garang menentang rezim penguasa, akhirnya harus memilih jalan hidup dan masa depan mereka: tetap menjadi aktivis seperti Niken, Wiluta dan Jiran, menjadi pedagang yang sibuk mencari untung macam Topan dan Bunga, atau terjun ke politik lalu kemudian korupsi.

Lebih kurang dua puluh tahun reformasi, bila dihitung sejak pergolakan awal gerakan meruntuhkan rezim Orde Baru, telah memperlihatkan bagaimana kelompok penentang tiran bisa menjadi tiran yang baru. Aktivis yang pada masa mudanya begitu idealis, malah menjadi jauh sangat korup dan berlipat-lipat lebih serakah dari pejabat yang dulu dia demo.

Lihatlah siapa yang sekarang menghuni sel KPK dan penjara-penjara tipikor. Mereka itu para pejabat, ketua partai, pemimpin lembaga tinggi negara, yang pada masa mudanya dulu adalah ketua umum organisasi mahasiswa, pemimpin organisasi pemuda, aktivis kampus dan tokoh-tokoh pergerakan.

Lalu tengok daftar wakil rakyat yang sedang duduk nyaman di kursi-kursi dewan perwakilan, juga daftar calon anggota legislatif yang hari-hari ini sedang “menjual diri” lewat baliho, spanduk dan iklan-iklan agar dipilih pada pemilu bulan depan, sebagian dari mereka adalah aktivis-aktivis yang dulunya bertentangan dengan tokoh yang kini menjadi pimpinan partai tempat dia diusung menjadi caleg.

Ketika menjadi aktivis, mereka merasa yakin yang dibela adalah rakyat. Saat menjadi pejabat, slogan pidatonya selalu saja “untuk rakyat”. Tiba masa mendapat kesempatan korupsi, lantas benar-benar korupsi, dengan sadar mereka mengerti bahwa yang dikhianati juga rakyat.

Lalu siapa sebenarnya rakyat sejati itu?

 ***

 

Lakon kemudian berlanjut dengan berbagai konflik, salah satunya bagaimana hubungan Topan dengan Jenderal T (diperankan Emmanuel Handoyo), seorang pejabat kaya yang berambisi menjadi presiden. Sang jenderal yang digambarkan kerap sibuk dengan model rambutnya itu membangun patung sosok Topan yang begitu megah di pusat kota. Topan sadar patung itu bukanlah penghargaan untuk dirinya, melainkan sekadar siasat Jenderal T agar terlihat pro-rakyat, pro-demokrasi. Lagi pula, mana ada tokoh yang dianggap pahlawan sudah dibuatkan patungnya saat masih hidup.

Topan mulai gusar. Dia merasa diperalat. Apalagi belakangan dia mengetahui ternyata Jenderal T memiliki kedekatan khusus dengan Bunga. Ada skandal asmara antara istrinya itu dengan sang pejabat. Dalam keadaan galau inilah Niken kembali datang kepadanya, tetap dengan misi mengajak Topan berunjuk rasa. Topan yang sudah putus asa melihat kelakuan Jenderal T dan Bunga akhirnya tergoda turun lagi ke jalan, berunjuk rasa – meski tak jelas tujuannya apa.

Teater Koma menggambarkan kondisi chaos itu secara absurd, dengan terus diucapkannya kata blubard dan blaburd oleh para pelakon. Kata yang setelah dicari ke referensi manapun tak memiliki arti apa-apa. Pidato pejabat hanya berisi blubard blaburd. Orasi pengunjuk rasa hanya berisi blubard blaburd. Para politikus ikut kejangkitan mengucapkan blubard blaburd. Rakyat kehabisan kata-kata kecuali blubard blaburd. Pendek cerita semua jadi blubard blaburd… Benar-benar absurd hingga akhirnya pertanyaan “siapa sebenarnya rakyat sejati” itu juga berujung blubard blaburd

“Sebenarnya tak ada rakyat sejati itu. Yang ada adalah rakyat bukan sejati. Seperti aku ini. Ya, aku ini. Aku ini rakyat bukan sejati,” kata Topan akhirnya, menjawab sendiri pertanyaan yang ia lontarkan di awal cerita.

Seolah melengkapi blubard blaburd-nya lakon Demonstran ini, kalimat itu menjadi kalimat terakhir Topan sebelum dia kembali turun ke jalan dan akhirnya mati ditembak orang suruhan Jenderal T. ***

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

Beri Tanggapan (atau pilih komentar via akun media sosial)

2 tanggapan untuk “Blubard Blaburd… Blubard Blaburd…

Komentar ditutup.

Loading Facebook Comments ...
Loading Disqus Comments ...

No Trackbacks.