Salat dan Mengaji Pun Jadi Tontonan Turis

Menikmati Peradaban di Istanbul, Turki (2)

KONTRAS – Saya di depan Holy Relics, Istana Topkapi yang pintu masuknya berhias tulisan kaligrafi Arab. Di sebelah saya turis cewek dengan dandanan seksi, santai mau menengok museum peninggalan sejarah kejayaan Islam di Turki.

Jejak sekularisme yang dibangun Kemal Mustafa Ataturk di Turki akhirnya melahirkan sejumlah kompromi, selain tentu saja kontroversi. Banyak yang memilih beragama secara rahasia di ruang-ruang privat, karena di area publik, agama lebih terlihat sebagai objek wisata.

MUDA, cantik, seksi. Dibalut setelan legging warna merah muda dan kaus hitam ketat dengan bahu terbuka, gadis berambut pirang itu dengan sabar mengikuti antrean masuk Holy Relics, salah satu bangunan di Istana Topkapi, Istanbul. Dia bersama seorang temannya, gadis cantik lain yang berpenampilan tak kalah seksi, sesekali tampak tertawa lepas sambil membincangkan entah apa.

Kedua gadis ini antre untuk masuk ke ruang penyimpanan benda-benda peninggalan zaman kekaisaran Ottoman, dinasti penguasa lebih dari 6 abad masa Kesultanan Utsmaniyah di Turki. Bukan sembarang benda, karena selain berharga, juga punya nilai sejarah tinggi. Ada cetakan tapak kaki kanan Nabi Muhammad SAW, tongkat Nabi Musa, pedang Umar bin Khattab, pedang Ali bin Abi Thalib, kunci palang pintu Kakbah, talang emas Kakbah, kerongkong hajar aswad, juga potongan kain kiswah Kakbah.

Benda-benda tersebut konon dibawa sultan-sultan kekaisaran Ottoman langsung dari Makkah sebagai hadiah. Namanya juga museum, siapa saja boleh datang melihat. Tak ada larangan selain memotret. Maka gadis-gadis berpakaian “kurang sopan” untuk ukuran menapaktilasi peninggalan Rasulullah itu, terlihat santai saja. Hanya sesekali menunjukkan ekspresi takjub atau kaget. Benda-benda itu disimpan di kotak-kotak kaca. Tak bisa disentuh. Tak boleh dipotret. Maklum, semuanya diklaim asli, bukan replika.

Di luar kotak terdapat penjelasan mengenai asal-usul benda, siapa sultan yang memperolehnya dan pada periode kapan dibawa ke Topkapi. Dari pintu masuk Holy Relics, pengunjung dibawa memutar hingga berjumpa mimbar di dekat pintu keluar. Di mimbar tersebut seorang hafiz membacakan Alquran dengan merdunya. Dua gadis berpakaian seksi yang sedari tadi berada di barisan depan saya itu berhenti. Sama seperti pengunjung-pengunjung lain yang juga berhenti.

Memerhatikan sejenak pembacaan ayat suci umat Islam itu, yang juga asli dibaca manusia penghafal, live, bukan dari rekaman kaset. Kedua gadis tadi pun manggut-manggut. Tadinya sempat berpikir pemandangan “orang mengaji jadi tontonan turis” ini wajar belaka, karena Topkapi adalah museum bertema Islam. Mungkin supaya lebih terasa aura Islamnya. Bahwa isi museum itu benda-benda peninggalan Rasulullah, ya, tetap harus dilihat dalam konteks sejarah, bukan agama.

Tetapi saat rombongan tur bergeser dari Topkapi ke Masjid Biru, Blue Mosque yang juga dikenal sebagai Masjid Sultan Ahmed, yang terlihat ternyata lebih dahsyat lagi. Dibangun pada tahun 1601, masjid yang dikelilingi 6 menara ini masih berfungsi sebagai tempat ibadah umat Islam. Sama seperti Masjid Suleimaniye di sudut Istanbul yang lain, atau juga Masjid Rusteem Pasha di dekat Grand Bazaar, di masjid ini, turis nonmuslim boleh masuk. Bisa foto-foto di dalamnya, dan mendapat berbagai penjelasan dari sejumlah pemandu tentang sejarah masjid, apa itu Islam dan bagaimana ritual ibadahnya.

Pada saat masuk waktu salat fardu, turis-turis diarahkan beralih ke sisi kiri dan kanan, bergeser ke sebuah area khusus yang sudah disediakan, sampai ritual salat selesai. Saat itulah ibadah salat jadi tontonan turis-turis. Bule-bule dari Eropa tampak dengan tekun memerhatikan gerakan-gerakan salat, memotretinya dan bertanya ini-itu kepada pemandu.

ISLAM KRISTEN – Ornamen peninggalan Kristen di dinding Ayasofya, berpadu dengan lafaz Allah dan Muhammad yang tertempel di ruang dalam. (foto: windede)

Ini tentu berbeda dengan Ayasofya, bangunan tak jauh dari Blue Mosque yang pada awalnya merupakan gereja pusat Kristen Ortodoks pada zaman Konstantinopel, yang berubah fungsi menjadi masjid saat kekaisaran Ottoman, lalu pada masa modern dijadikan museum oleh Mustafa Kemal. Sebagai museum, Ayasofya memang murni objek wisata. Sebab tak ada lagi kegiatan peribadatan, baik oleh umat Kristen maupun Islam di sana. Ihwal agama menjadi objek wisata ini sempat jadi diskusi hangat juga di anggota rombongan tur.

Ada yang bilang wajar, sebab dengan begitu justru ada semacam edukasi mengenai apa itu Islam, terutama bagi yang nonmuslim atau mereka yang di abad modern ini semakin jauh dari agama. Ada juga yang bilang kurang ajar, karena agama kok dijadikan alat untuk menarik kunjungan wisata, he-he-he… Tapi itulah Turki. Gagasan sekularisme Mustafa Kemal yang memisahkan wilayah agama dari kebijakan publik dan kehidupan bernegara membuat penduduknya bahkan tak bisa bebas melakukan peribadatan.

Pada masa-masa awal sekularisme diterapkan, perempuan muslim malah dilarang memakai atribut Islam seperti gamis atau jilbab di area publik, karena identitas agama dianggap sebagai bagian dari agama, sementara agama harus dipisahkan dari kehidupan sosial masyarakat. Turki justru baru terasa lebih Islami pada dekade terakhir ini, setelah dipimpin oleh Recep Tayyip Erdogan, seorang muslim taat dari Partai Keadilan dan Pembangunan. Meski tetap sekular, namun kehidupan beragama sudah jauh lebih menyenangkan.

Orang bisa membentuk majelis pengajian, berbusana muslim di tempat publik dan menjalankan ibadah secara terbuka. Namun trauma kerasnya penerapan sekularisme membuat banyak kelompok muslim di Turki yang lebih memilih menjalankan prosesi peribadatan secara diam-diam. Membentuk majelis rahasia, bahkan juga kajian-kajian sufi yang cenderung jauh dari hiruk-pikuk sosial. Seperti diketahui, sufisme pun berkembang pesat di Turki. Di tempat keramaian lazim terlihat pria Turki berpakaian gaya Eropa namun menggenggam tasbih di tangan dan mulutnya tampak merapal zikir.

“Mereka itu orang-orang yang belajar sufi,” kata Erkan Ezgur, yang memandu perjalanan kami di Istanbul, terlihat tidak seperti menebak. Erkan sendiri, seolah mewakili mayoritas anak muda Istanbul hari ini, mengaku kadar Islam dalam dirinya fifty-fifty. Kadang-kadang beragama, kadang-kadang tidak. Sesekali masih salat jika kepingin. “Lebih sering tidak,” ujarnya, lalu terbahak. Sekularisme, katanya, membuat agama di mata anak muda Turki menjadi semacam masa lalu, dan masa depannya kelak tak lebih sebagai objek wisata.

Anak-anak muda Turki memang hanya bisa mendapatkan pelajaran agama dari keluarga, karena di sekolah-sekolah tidak ada pelajaran agama, sedangkan sekolah khusus agama tidak diizinkan. Arah masa depan agama di Turki seperti “ramalan” Erkan itu seolah tergambar pada “kompaknya” Kristen dan Islam di museum Ayasofya. Lukisan-lukisan sakral Kristen, juga mozaik gambar Yesus dan Bunda Maria, berdampingan pada satu ruang bersama tulisan besar Allah dan Muhammad dalam bahasa Arab.

Lambang salib menempel di banyak sisi dinding bersebelahan dengan kaligrafi ayat-ayat Alquran. Kelompok Islam garis keras di Turki memang berkali-kali melayangkan protes, dan meminta Ayasofya difungsikan kembali sebagai masjid, mengingat sejarah panjangnya sebagai pusat kegiatan Muslim. Namun pemerintah tetap pada kebijakan menjadikan bangunan ini museum, dengan alasan umat Kristen akan menuntut hal yang sama karena sebelum jadi masjid bangunan ini adalah gereja. “Mungkin pada saatnya agama memang harus masuk museum.

Menjadi pelajaran sejarah dan objek wisata, dan lambang-lambangnya dijadikan suvenir untuk oleh-oleh,” ujar Erkan, nyaris tanpa ekspresi sehingga sulit menerka apakah dia sedang serius atau berseloroh. Dia memang mengucapkan hal itu saat kami sedang jalan-jalan di Grand Bazaar, pasar tradisional Istanbul di mana banyak pedagang suvenir menjual replika gambar Yesus dan Bunda Maria seperti yang ada di Ayasofya, berdampingan dengan hiasan kaligrafi Islam.

Untungnya pria berumur 30 tahun yang masih betah melajang ini ngomong begitu hanya kepada saya, dan di Istanbul pula. Kalau ngomongnya di Indonesia dan sampai kedengaran kelompok garis keras, apa jadinya… (***)

Win Dede

Win Dede aka Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, kini bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

You may also like...

Beri Tanggapan (atau pilih komentar via akun media sosial)

3 Responses

  1. hanari mengatakan:

    Menjadi pengalaman yang sangat berkesan tentunya, melihat kehidupan dari sisi yang berbeda

  2. Yanuar mengatakan:

    Membaca tulisan ini tergambar jelas kehidupan beragama di sana. Semoga diberi kesempatan untuk berkunjung.

  1. 27 Agustus 2013

    […] Timur dan Barat akhirnya memang seperti berasimilasi di Istanbul. Berpadu menjadi sesuatu yang baru. Tak lagi setegas batas perbedaan yang dipertanyakan Daniel Sahuleka dalam lagunya yang galau itu. (bersambung) […]

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading Facebook Comments ...
  1. […] Timur dan Barat akhirnya memang seperti berasimilasi di Istanbul. Berpadu menjadi sesuatu yang baru. Tak lagi setegas batas perbedaan yang dipertanyakan Daniel Sahuleka dalam lagunya yang galau itu. (bersambung) […]