Merasakan Sensasi Jadi Al Capone di Penjara Alcatraz

Kisah Lain dari Amerika; Menjelajah San Francisco (2)

BERSEJARAH – Pulau Alcatraz, kini menjadi taman nasional dan museum. Di kanan tampak sisi semenanjung kota San Francisco. (foto: windede)

Puluhan judul film Hollywood mengisahkan Alcatraz sebagai penjara yang jadi “neraka” para pelaku kejahatan di Amerika. Begitu melegenda pulau itu sebagai tempat “pembuangan” narapidana. Kalau dulu siapapun menolak jadi penghuninya, sekarang orang malah berbondong-bondong ke sana.

BERBEKAL sendok makan yang ditajamkan tangkainya, sedikit demi sedikit Frank Morris (Clint Eastwood) melubangi dinding pinggiran ventilasi sel tempatnya dipenjara. Di ruang sebelah, Charlie Butts (Larry Hankin) juga melakukan hal yang sama. Dua narapidana lain, kakak-beradik Clarence Anglin (Jack Thibeau) dan John Anglin (Fred Ward) menyiapkan tali temali, juga sebuah rakit sederhana.

Empat narapidana di penjara Alcatraz ini tengah menyiapkan usaha melarikan diri. Berbulan-bulan mereka merancang detail pelarian, termasuk menghitung waktu yang akurat kapan sipir di penjara berkeamanan super-ketat itu bisa dikecoh. Mereka sadar ini tak mudah. Dalam berkali-kali upaya melarikan diri sebelumnya, belum pernah ada seorang pun yang benar-benar berhasil kabur dari Alcatraz.

Saat waktu pelarian tiba, hanya Morris dan kakak-beradik Anglin yang benar-benar kabur. Berhasil keluar dari pagar pembatas gedung penjara, meniti pelan batu karang di pinggiran pulau, dan menembus dingin teluk San Francisco, tempat Pulau Alcatraz berada. Butts tak ikut serta. Ia kehilangan keberaniannya di detik-detik terakhir.

Itulah potongan adegan Escape From Alcatraz, film besutan sutradara Don Siegel tahun 1979 yang meski sudah berumur 32 tahun masih sangat menarik ditonton hingga sekarang. Hingga film berdurasi 112 menit itu berakhir, para pelarian Alcatraz dalam kisah itu tidak lagi ditemukan.  Entah mereka mati di tengah laut karena kejamnya dingin dan gelombang, atau berhasil lolos dan hidup damai entah di mana.

Sebagian kisah dalam film ini memang diadopsi dari cerita asli usaha pelarian narapidana dari Alcatraz. Skenario ditulis Richard Tuggle, dilatari peristiwa nyata yang memicu ditutupnya penjara Alcatraz pada tahun 1963, setelah selama 29 tahun menjadi penjara super-ketat untuk sipil di bawah pengawasan Departemen Kehakiman Amerika Serikat. Sebelumnya, sejak dibangun tahun 1850, pulau seluas 8,9 hektare ini adalah kompleks instalasi militer dan penjara bagi tahanan militer hingga tahun 1933.

Sejumlah penjahat legendaris Amerika melewatkan masa hukumannya di penjara federal ini. Salah satu yang paling terkenal adalah Al Capone, pimpinan sindikat mafia kejahatan di tahun 1920-an. Setelah melakukan serangkaian perbuatan kriminal yang panjang, Al Capone mendekam di Alcatraz sejak tahun 1934. Dia termasuk narapidana awal yang merasakan betapa ketat dan kejamnya pengamanan Alcatraz, dan menghabiskan 11 tahun hidupnya di sana.

Penjahat lain yang juga legendaris adalah Robert Franklin Stroud, lebih dikenal sebagai “Manusia Burung Alcatraz”. Kisah hidupnya difilmkan oleh sutradara John Frankeinheimer dengan judul Birdman of Alcatraz (1962). Si ahli burung ini dihukum atas serangkaian perbuatan kriminal, termasuk sejumlah pembunuhan. Meski dijatuhi hukuman seumur hidup, Stroud hanya menghabiskan 6 tahun di ruang khusus penjara Alcatraz sejak 1942, sebelum dikirim ke pusat rehabilitasi medis untuk tahanan federal di Springfield, Missouri dan wafat di sana tahun 1963 dalam usia 73 tahun. Ia mengklaim hukuman 6 tahun di Alcatraz itulah yang mengakhiri hidupnya.

Selama masa operasionalnya, Alcatraz memang menjadi andalan pemerintah Amerika untuk memenjarakan narapidana dengan status “penjahat kelas kakap” dan perlu perlakuan pengamanan yang ketat. Mungkin kalau mau dibandingkan dengan kompleks penjara modern saat ini, yang bisa menyamai popularitasnya adalah penjara militer Amerika di Guantanamo, Kuba.

Biaya operasional yang mahal membuat Jaksa Agung AS waktu itu, Robert F Kennedy, menutup Alcatraz pada tahun 1963.

Kini, pulau yang juga dijuluki The Rock itu sudah berpindah tangan di bawah pengelolaan Dinas Pertamanan AS. Menjadi salah satu tempat rekreasi dan taman nasional. Meski bangunan penjara dan bekas instalasi militer seperti benteng dan mercusuar masih berdiri kokoh, tak ada lagi seorang pun narapidana tinggal di sana.

Sebagai tempat tujuan wisata, Alcatraz termasuk favorit turis di San Francisco, selain jembatan Golden Gate. Apalagi posisi pulau ini tak jauh dari pusat kota, persis di tengah perairan teluk San Francisco, lebih kurang 2,5 kilometer. Hanya perlu waktu 15 menit naik kapal wisata dari Dermaga 33 (Pier 33).

Kita perlu merogoh kocek 26 dolar (Rp235 ribu) per orang untuk mengikuti tur ke Alcatraz saat weekdays (Senin-Jumat), dan 36 dolar (Rp325 ribu) di akhir pekan.

Meski terhitung mahal untuk ukuran tur singkat selama 2 jam, jangan harap bisa dapat tiket ke Alcatraz secara go show (datang langsung jalan). Kita harus booking minimal H-1, baik langsung di loket Pier 33 maupun secara online di website resmi pengelola. Beli tiket hari ini untuk pergi besok.

Tur ke Alcatraz dibagi dalam 9 trip siang hari yang dimulai sejak pukul 09.30 pagi. Pemberangkatan setiap setengah jam, ditambah 1 trip untuk night tour (tur malam) pukul 7 malam. Khusus trip malam ini harga tiketnya berbeda, lebih mahal 10 dolar dari tiket tur siang. Selain harus beli tiket lebih dulu, kita juga mesti memilih akan ikut trip yang jam berapa. Tiket berlaku sesuai jam pilihan.

Sesampai di pulau, pengunjung diberi perangkat audio lengkap dengan headset-nya. Itulah saat tur dimulai, yakni mendengarkan bagian demi bagian penjelasan mengenai Alcatraz, sambil menyusuri kompleks penjara. Bangunan dan properti penjara masih dipertahankan. Tentu dengan sejumlah perbaikan dan renovasi. Pengunjung diajak menikmati suasana sebenarnya seperti ketika penjara itu masih berpenghuni.

Misalnya, untuk sel isolasi yang pernah ditempati Al Capone. Sebuah ruang kotak sempit kira-kira 3 x 4 meter, dengan pintu besi berjeruji. Narapidana yang menghuni ruang isolasi tidak bisa bersosialisasi dengan penghuni lain. Mereka harus mendekam sendirian di ruang sempit itu sampai dinyatakan layak pindah ke blok lain yang sel-nya dihuni beberapa orang dan lebih terbuka dengan ventilasi memadai. Inilah salah satu “kekejaman” Alcatraz yang terkenal itu.

Saya mencoba masuk ke sel isolasi Al Capone, dan membayangkan bagaimana dulu si tokoh mafia harus melewati hari-hari kelam di ruang itu. Sensasinya bikin begidik juga. Tak berlama-lama, saya langsung keluar. Rasanya takut ada mesin waktu lantas pintu sel terkunci dan saya benar-benar terpenjara di dalamnya hehe.

Bagian-bagian lain di bangunan itu disulap menjadi museum. Berisi diorama, foto-foto dan properti baik asli maupun replika. Kemudian, seperti layaknya tempat wisata, ada perpustakaan dan toko suvenir.

Satu-satunya yang secara fungsional masih dipergunakan seperti masanya dulu adalah mercusuar. Berdiri kokoh di ujung pulau sebelah barat, menara beton berwarna abu-abu itu masih berfungsi sebagai navigasi lalulintas laut di teluk San Francisco. Sedangkan bangunan tempat mesin pembangkit listrik dan instalasi air sudah menjadi pajangan. Kini Alcatraz dialiri listrik yang kabelnya ditarik dari San Francisco. Begitu juga pipa jaringan air bersih untuk kebutuhan di pulau.

Kalau dulu tak seorang pun mau dikirim ke Alcatraz, kini orang berbondong-bondong datang, tentu sekadar untuk berkunjung. Saya sempat mikir, gimana kalau wisata serupa dibuat di Nusakambangan atau Pulau Buru? Adakah yang mau? (bersambung)

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

Beri Tanggapan (atau pilih komentar via akun media sosial)

Loading Facebook Comments ...
Loading Disqus Comments ...

No Trackbacks.