“Belanjalah Sampai Tak Ada Lagi yang Bisa Dibelanjakan”

Laporan dari Amerika: Kontroversi Black Friday (2-habis)

DISKON BESAR – Salah satu gerai di kawasan Union Square San Francisco, yang ramai didatangi pengunjung. Rela antre demi harga miring. (foto: windede)

Kalau Thanksgiving Day dilatari akar sejarah yang lumayan jelas, warga Amerika Serikat juga punya tradisi Black Friday, hari belanja nasional sehari setelah Thanksgiving. Sebuah budaya atau sekadar akal-akalan kaum kapitalis?

PESTA makan malam dengan menu kalkun panggang telah selesai. Semua kekenyangan. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Piring-piring plastik, nampan tempat salad dan gelas-gelas bekas cola berserakan di meja makan. “Tapi masih terlalu pagi untuk pergi tidur,” kata David Lasirona, tuan rumah di keluarga yang saya tempati selama di San Francisco, USA.

Terlalu pagi? Ya, terlalu pagi. Sebab ini Kamis malam, dan sebentar lagi masuk hari Jumat. Inilah saat di mana warga Amerika melanjutkan pestanya yang lain; Black Friday, pesta belanja nasional di hari Jumat pasca-thanksgiving, di mana tempat-tempat belanja seperti departement store dan plaza menggelar obral besar-besaran.

Maka antrean pun mengular di pintu-pintu masuk pusat belanja. Hawa musim dingin yang menusuk tulang tak menyurutkan semangat para shopaholic untuk berburu barang idaman dengan harga miring. Harus dibela-belain antre karena momen harga spesial yang gila-gilaan itu memang hanya berlangsung beberapa jam, di awal hari. Mirip midnite sale yang sering digelar mal-mal di Jakarta itu.

Memang ada banyak item barang lain yang tetap dijual dengan harga obral di hari berikutnya, namun bukan barang spesial seperti Jumat dinihari. Di sepanjang hari Jumat dan hari-hari setelahnya, toko-toko masih tetap memberlakukan diskon. Ini terus berlangsung hingga hari Natal 25 Desember dan berlanjut sampai libur tahun baru.

Malam itu, dengan perut kenyang daging kalkun kami diantar Dave ke Union Square, pusat keramaian di Powell Street San Francisco. Di lokasi ini terdapat sejumlah departement store, juga gerai-gerai barang bermerek terkenal. Semua menawarkan harga gila, asal mau antre dan sedikit berdesakan. Diskonnya dari 40% hingga 80%!

Saya tak punya rencana membeli apa-apa. Sekadar cuci mata. Abdurrahman, mahasiswa asal Arab Saudi yang home stay di rumah yang sama dengan saya, sudah bertekad membeli games player Playstation 3. Dia mengaku kesunyian di kamarnya, padahal saat ini baru menjalani 1 bulan dari rencana studinya yang 6 bulan di Amerika. Pemuda yang tinggal di Ryadh ini mengambil pengantar bahasa Inggris di San Francisco sebagai syarat kuliah doktoral dengan gelar PhD.

Karena padatnya manusia, saya tak tahan berlama-lama. Sekira 1 jam kemudian memilih pulang ke rumah bersama Dave. Lagi pula, daging kalkun tampaknya manjur sebagai pengantar ngantuk. Saya ingin segera tidur. Sedangkan Abdurrahman meneruskan perjuangannya di antrean belanja.

Keesokan paginya, saat hendak sarapan, kehebohan terjadi di kamar Abdurrahman. Ternyata, hasil antreannya semalam bukan hanya Playstation 3, yang sukses dibelinya dengan harga tak lebih dari 170 USD (lebih kurang Rp1,5 jutaan), tetapi juga sebuah televisi LCD berukuran 55 inchi (bayangkan betapa besarnya) merek Sony yang dia beli seharga 700 USD. Tak lebih dari Rp6,5 juta. Sebuah kemewahan untuk fasilitas home stay selama 6 bulan. Dua barang elektronik itu di hari biasa bisa berharga dua kali lipatnya.

“Amerika ini gila. Kamu boleh merasakan krisis keuangan, tapi tradisi belanja tetap tak bisa hilang. Belanjalah sampai tak ada lagi yang bisa dibelanjakan. Saya tahun ini tak belanja apa-apa, bukannya tak mau, tapi karena limit kartu kredit saya sudah lewat, hahaha…”  seloroh Dave.

Tapi sambil tampak menghibur diri dia kemudian menepuk pundak Abdurrahman. “Lagi pula, setelah 6 bulan studimu kan nggak mungkin televisi raksasa ini kamu bawa ke Arab sana.”

Begitulah Black Friday. Magnetnya menyengat ke seluruh negeri Obama. Kalau Anda iseng meng-google Black Friday di browser internet saat ini, maka akan ada ratusan berita terkait kehebohan tradisi belanja nasional warga Amerika ini. Bahkan model Hollywood Paris Hilton pun diberitakan membeli sebuah mobil Ferrari jenis Cherry Spyder Red seharga 300 ribu USD (lebih kurang Rp2,7 miliar). Entah sudah dapat diskon Black Friday berapa untuk belanja supermewah Paris Hilton itu.

Di akun Twitter-nya, Paris Hilton dengan bangga mengatakan, “Just drove my new car for the first time. Such a beautiful car and so much fun to drive! I love it!”. Ini adalah mobil mewah teranyar si model cantik yang baru pulang dari Bali ini. Di garasi rumahnya sudah ada Bentley, Range Rover, mobil hybrid Escalade dan Lexus LFA. Bahkan sekelas artis yang duitnya tak berseri seperti Paris Hilton pun memanfaatkan momen Black Friday untuk belanja.

Di berbagai daerah dilaporkan terjadi insiden dalam antrean dan perebutan barang belanjaan. Di Los Angeles bahkan seorang wanita dilaporkan menyemprotkan pepper-spray alias penyemprot merica ke sesama pengunjung di toserba Wallmart, demi “mengamankan” jalur antrean miliknya. Rusuh kecil-kecilan karena antrean sudah jadi pemandangan biasa di mana-mana.

Black Friday, alias Jumat Hitam, tak ada hubungannya dengan duka atau hari berkabung. Konon disebut Jumat Hitam karena pada hari itulah dimulai hari di mana toko-toko menjual barang eceran lebih banyak dibandingkan hari-hari sebelumnya, sehingga pembukuan keuangan mereka menjadi positif dan dicatat dengan tinta hitam. Tidak lagi negatif (merugi) yang biasanya dicatat dengan tinta merah. Ini menandai hari perdagangan yang terus laris hingga pekan-pekan natal dan tahun baru.

Tetapi Black Friday belakangan ini menuai kritik yang tak sedikit. Sebagai budaya, dianggap kontroversial karena tak jelas akarnya. Kelompok anti-kapitalis Wall Street Occupy yang sekarang tengah berunjukrasa di sejumlah kota di Amerika bahkan berkampanye anti-belanja di saat Black Friday berlangsung. Mereka menganggap tradisi ini hanya mempertahankan sikap hedonis dan konsumtif warga Amerika yang menjadi sumber krisis.

Steve Hamilton, seorang penulis skenario yang ikut dalam gerakan Wall Street Occupy, menyebut Black Friday sebagai budaya yang tak adil bagi generasi Amerika sekarang. “Mereka tidak melihat bagaimana pendidikan warga Amerika menurun, banyaknya anak-anak di kelas dan kurangnya buku,” kata Hamilton, seperti dikutip kantor berita Associated Press.

Selalu ada pro dan kontra. Ada yang setuju, ada yang mencela. Toh Black Friday tetap jadi tradisi. Antrean belanja masih berlangsung di mana-mana, masih berpekan-pekan lagi sampai habis almanak di pengujung Desember 2011 nanti. (***)

Win Dede

Win Dede aka Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, kini bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

You may also like...

Beri Tanggapan (atau pilih komentar via akun media sosial)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading Facebook Comments ...

No Trackbacks.