Tetap Pesta Kalkun, Bir dan Wine Diganti Cola

TRADISI KALKUN: David (berdiri) memotong kalkun panggang untuk hidangan thanksgiving keluarga. Saya mojok di sebelah kanan.

Laporan dari Amerika: Thanksgiving Day di Tengah Krisis (1)

Di tengah krisis ekonomi, warga Amerika Serikat tetap bersemangat merayakan tradisi Thanksgiving Day, hari pengucapan syukur yang jadi hari libur nasional terlama sepanjang tahun. Saya yang saat ini sedang studi di San Francisco, salah satu kota tersibuk di negara bagian California, USA, menuliskan catatan ini untuk Anda:

TAK seperti tahun-tahun sebelumnya, tak ada perjalanan keluar kota bagi keluarga David Lasirona di Thanksgiving Day tahun ini. Libur nasional Kamis-Jumat yang disambung weekend Sabtu-Minggu mereka habiskan di rumah saja. “Lagi pula, ada kalian, tamu istimewa kami dari berbagai negara,” kata pegawai bagian elektrik di Googleplex tersebut.

Dave, begitu ia biasa disapa, adalah keluarga angkat saya selama berada di San Francisco. Untuk studi singkat di negeri Paman Sam ini, saya memang memilih akomodasi home stay, tinggal di rumah warga setempat untuk sekaligus merasakan pengalaman hidup dalam budaya Amerika. Bersama saya ada tiga mahasiswa lain dari negara-negara berbeda tinggal di rumah ini; dari Korea Selatan, Arab Saudi dan Swiss.

Karena tidak pergi ke mana-mana, maka Dave menyiapkan pesta perayaan Thanksgiving di rumah, yang dalam budaya Amerika biasanya ditandai dengan makan malam menu istimewa; kalkun panggang.

Rabu (23/11) sehari sebelum Thanksgiving Day, daging ayam kalkun utuh seberat 25 pounds (lebih kurang 13 kg) sudah siap di kulkas. Dibeli seharga 22,5 USD dari jaringan peternakan ayam Foster Farms.

Thanksgiving Day diperingati pada Kamis ke empat (Kamis terakhir) di bulan November setiap tahunnya. Meski bermula dari sebuah tradisi pengucapan syukur suku Wampanoag di Plymouth, Massachusetts pada tahun 1621 silam, hari istimewa ini baru ditetapkan sebagai hari libur nasional Amerika oleh Presiden USA Abraham Lincoln sejak tahun 1863, setelah melewati beberapa kali perubahan tanggal dan hari perayaan.

Tak ada hubungan dengan agama atau kepercayaan, atau sejarah religi tertentu, Thanksgiving Day bagi warga Amerika benar-benar sebuah budaya turun-temurun. Dulu, pengucapan syukur tersebut dihubungkan dengan masa pasca-panen musim gugur. Sekarang, penduduk di kota-kota besar Amerika bahkan banyak yang tak begitu paham lagi makna sesungguhnya di balik Thanksgiving Day.

“Ya bersyukur saja. Bukankah banyak sekali berkah terlimpah untuk hidup kita sepanjang tahun ini,” kata Smith, seorang pemandu wisata di kawasan Fisherman Wharf San Francisco.

Layaknya mudik lebaran di Indonesia, Thanksgiving Day juga menjadi momen saling berkunjung keluarga. Apalagi jumlah hari liburnya cukup panjang, 4 hari. Sebagian besar pegawai sudah mengambil libur sejak Rabu, sehari sebelum Thanksgiving, dan yang beruntung mendapatkan izin bisa menambah liburnya dengan menyambung cuti beberapa hari setelah hari Minggu.

“Tahun ini kami rayakan di rumah saja, bersama kalian,” ujar Dave.

Kamis pagi, Dave bersama Gulaa, istrinya yang keturunan Uzbekistan, sudah sibuk menyiapkan bumbu-bumbu untuk kalkun panggang bakal hidangan dinner nanti malam. Daging “ayam raksasa” yang oleh warga Amerika biasa disebut turkey meat ini dilumuri minyak zaitun, ditaburi garam dan merica bubuk, serta racikan bawang putih. Bagian perut yang sudah dibersihkan diisi berbagai macam sayuran, dari brokoli, wortel hingga jamur kancing.

Tiba saatnya dipanggang. Daging kalkun utuh (kecuali leher dan kepala) yang sudah berlumur bumbu itu dimasukkan ke dalam oven. “Sekarang bisa kita tinggalkan. Ini perlu waktu lebih dari 6 jam untuk matang,” kata Dave. Ia dan istrinya kemudian pergi berkunjung ke rumah famili, tak jauh, hanya berjalan kaki beberapa blok.

Sementara saya, Kamis siang itu, memilih keliling kota San Francisco, melihat-lihat suasana perkantoran dan pusat belanja yang sunyi karena libur nasional. Kampus tempat saya belajar pun meliburkan semua kelasnya. Padahal praktis baru 2 hari saya belajar, sudah kena jatah libur yang bersambung dengan akhir pekan.

Untuk menuju pusat kota (downtown), saya perlu berjalan kaki dari rumah ke halte bus, sekira 500 meter, kemudian naik bus menuju stasiun kereta. Bay Area Rapid Transit (BART), jaringan kereta bawah tanah San Francisco, bisa menjangkau hampir seluruh titik penting kota. Jalurnya tersambung dalam satu jaringan dengan bus kota dan cable car.

Sementara saya jalan-jalan dan Dave pergi mengunjungi famili, Abdurrahman, mahasiswa asal Arab Saudi, bertahan di rumah. Dia berjanji memasak hidangan nasi kabsah, nasi berlemak khas Arab itu. Katanya, nasi kabsah sangat cocok disantap dengan daging ayam. “Wah, akan jadi menu yang berbeda. Lain dari biasanya. Selama ini, kalkun dimakan dengan mashed potato (kentang tumbuk),” kata Dave.

Malam tiba. Semua sudah berkumpul di ruang keluarga. Meja makan mulai ditata. Gulaa menyiapkan salad dengan sayur sayuran segar. Piring-piring plastik, sendok-garpu-pisau plastik, semua sekali pakai. “Praktis, habis makan nanti kita tak perlu cuci peralatan makan,” katanya.

Ternyata yang dimasak Abdurrahman bukan hanya nasi kabsah. Ia tambahkan pula daging kambing panggang. Maka lengkaplah perpaduan menu Barat dengan Timur Tengah malam itu. Saya sendiri hanya jadi penikmat, tak ikut menyumbang kuliner Nusantara yang sebenarnya lebih maknyus. Kepingin rasanya ikut menambah menu tahu tempe. Tapi ke mana membelinya?

Ada lagi yang berbeda di meja makan keluarga Dave malam itu. Hidangan minumnya cukup air soda rasa cola. Tidak seperti biasanya; bir dan wine.

Saya bertanya, apakah ini ada kaitannya dengan krisis ekonomi warga Amerika sekarang? “Hahaha, tidaklah. Ini menghormati kalian saja. Yang saya tahu, muslim seperti kalian ‘kan tidak minum minuman beralkohol?” kata Dave melirik saya dan Abdurrahman.

Sebelum makan malam dimulai, kami foto bersama, lalu berdoa dan saling mengucapkan selamat. Happy Thanksgiving Day.

Suhu di San Francisco malam itu 7 derajat celcius. Namun riang tawa di rumah keluarga Amerika ini sungguh mengantar kehangatan. Meski daging kalkun seberat 13 kg itu tak habis kami makan bahkan seperempatnya saja, semua tampak bahagia. Di meja makan kami bertukar cerita; tentang kebiasaan dan budaya di masing-masing negara, tentang harapan-harapan dan cita-cita. (bersambung)

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

Beri Tanggapan (atau pilih komentar via akun media sosial)

Loading Facebook Comments ...
Loading Disqus Comments ...

No Trackbacks.