Paket Tur Kian Beragam, Tujuan Wisata Diperbanyak

TERBESAR: Mesin-mesin cetak di kompleks Percetakan Alquran King Fahd di Madinah. Setiap orang yang berkunjung ke sini dapat hadiah satu eksemplar Alquran dari Pemerintah Kerajaan Saudi. (foto: windede)

Wajah Tanah Suci yang Terus Berubah (2)

Perubahan di Tanah Suci bukan saja diwujudkan dalam bentuk mega proyek infrastruktur di mana-mana, tetapi juga semakin variatifnya pilihan kunjungan di luar destinasi utama yang telah lazim selama ini.

PERGI ke Tanah Suci di luar musim haji, bagi umat muslim, adalah untuk melaksanakan ibadah umrah. Itu yang utama. Di luar itu biasanya ada ziarah ke tempat-tempat penting dan bersejarah dalam perkembangan Islam.

Saat di Madinah, misalnya. Akan ada sehari penuh yang dimanfaatkan untuk mengunjungi sejumlah lokasi. Sebutlah Jabal Uhud, gugusan pegunungan tempat terjadinya perang uhud, sekaligus lokasi dimakamkannya para syuhada (pahlawan) perang yang menjadi bagian penting dalam sejarah Islam tersebut.

Di hari yang sama rombongan umrah juga biasanya diajak mengunjungi Masjid Quba, masjid pertama yang dibangun Nabi Muhammad SAW di Kota Madinah. Ada riwayat keutamaan bersembahyang di masjid ini, di mana setiap dua rakaat salat sunat di masjid ini akan diganjar pahala yang sama dengan pahala ibadah umrah.

Tujuan lazim lainnya di Madinah adalah ziarah ke Masjid Qiblatain, yakni masjid dua kiblat di mana Rasulullah Muhammad SAW mendapat wahyu (Al Baqarah ayat 144) untuk mengubah arah hadap salat (kiblat), sehingga kiblat yang pada saat itu mengarah ke Masjidil Aqsha di Palestina, diubah menjadi ke arah Masjidil Haram di Makkah.

Di luar tujuan-tujuan ziarah sejarah ini biasanya hari-hari di Madinah akan diisi ibadah di Masjid Nabawi – yang juga punya banyak tempat untuk dikunjungi seperti raudah dan makam Rasulullah. Padahal, Madinah ternyata masih menyimpan sejumlah lokasi lain yang juga tak kalah menarik. Lokasi-lokasi inilah yang sekarang mulai dipopulerkan dan menjadi bagian dari tujuan baru saat jamaah berada di Madinah.

Salah satu yang makin sering jadi destinasi saat ini adalah Percetakan Alquran Mujamma Al Malikul Fahd Lithibaatil Mushafi Asy-syarif. Sebuah area seluas 25 hektare dengan hamparan taman-taman yang hijau, yang dinamai King Fahd Complex for Printing the Holy Quran.  Di dalamnya terdapat sejumlah bangunan untuk mesin-mesin cetak, asrama pegawai, gudang penyimpanan hingga tempat pemusnahan Alquran yang salah cetak.

Mempekerjakan lebih dari 1.500 pegawai, kompleks percetakan Alquran terbesar di dunia ini bisa mencetak hingga 30 juta eksemplar mushaf Alquran setahun, termasuk terjemahan lebih dari 50 bahasa. Selain mesin-mesin cetak berteknologi canggih yang beroperasi 24 jam, kesibukan juga terjadi di ruang-ruang pra-cetak untuk pemeriksaan huruf demi huruf ayat-ayat Alquran dan terjemahannya itu.

Mengingat pekerja di percetakan semuanya laki-laki, maka hanya jamaah pria yang boleh masuk sampai ke dalam percetakan. Jamaah perempuan hanya sampai bangunan etalase di mana dijual berbagai model cetakan Alquran. Usai berkunjung, setiap orang biasanya mendapat gratis satu eksemplar Alquran sebagai hadiah dari Kerjaaan Saudi.

“Memang belum  semua rombongan umrah diajak ke percetakan Alquran ini. Ada beberapa saja. Tapi sekarang sudah semakin banyak, makin biasa ke sini,” kata Ustaz Ali, mutawif (pembimbing) salah satu travel umrah dari Jakarta.

Tujuan lain yang sekarang juga mulai sering dikunjungi adalah Jabal Magnit (gunung magnet), sebuah lokasi pegunungan berjarak kira-kira 30 kilometer dari kota Madinah.  Menjadi menarik dikunjungi karena di lokasi ini terdapat medan magnet yang begitu kuatnya, sehingga bahkan mobil ukuran bus besar pun dapat berjalan sendiri dalam keadaan mesin mati, karena ditarik oleh energi magnet dari dalam bumi tersebut.

Untuk membuktikan bahwa kekuatan magnet tersebut memang besar, bus berhenti di jalan yang menurun, mesin dimatikan lalu posisi perseneling dibuat netral. Beberapa saat kemudian bus berjalan mundur dengan sendirinya. Padahal posisi jalan mundur itu menanjak.

Magnetic Hill, yang oleh warga setempat biasa disebut Manthiqa Baidha (perkampungan putih), hingga saat ini masih menyimpan misteri. Meski secara geologis keberadaan medan magnet tersebut konon bisa dijelaskan, namun pemerintah Saudi “mengabaikan” agar tetap menjadi misteri saja. Lagi pula, lokasi ini memang tidak ada kaitannya dengan sejarah Islam. Bahwa sekarang dibuka akses kunjungan ke sana dan bahkan disiapkan jalur jalan beraspal mulus khusus untuk mencapai Jabal Magnit, hal itu sekadar untuk melengkapi pilihan orang yang berkunjung ke Madinah.

Makin variatifnya tujuan kunjungan di Tanah Suci memang sekaligus menjadi tambahan daya tarik umat Muslim seluruh penjuru dunia untuk datang. Setiap tahun, jumlah kunjungan ke Tanah Suci Makkah dan Madinah terus meningkat berlipat-lipat. Dalam catatan Kantor Kementerian Urusan Haji Arab Saudi, Tahun 2010 saja lebih dari 12 juta orang datang untuk umrah, di luar 3 jutaan yang datang serempak pada musim haji. Tak heran, kini sepanjang tahun kepadatan di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram sudah mirip seperti musim haji.

Makkah sendiri, seperti halnya Madinah, juga terus bersolek. Tujuan kunjungan pun makin beragam. Kalau yang biasa adalah ziarah ke Jabal Rahmah dan Jabal Tsur, lalu menapaktilasi Arafah Muzdalifah Mina (Armina), kini sejumlah destinasi baru mulai diperkenalkan. Salah satunya adalah paket mendaki ke Gua Hira. Makin banyak penyedia jasa pendampingan mendaki ke gua tempat Rasulullah Muhammad SAW mendapat wahyu untuk pertama kalinya itu.

Jadwal pendakian biasanya dilakukan selepas salat Subuh di Masjidil Haram. Dengan membayar 100 riyal (Rp250 ribu) jamaah akan diajak menapaktilasi gua yang berada di puncak Jabal Nur tersebut. Jalur pendakian yang berjarak lebih kurang 300 meter itu kini bisa ditempuh dalam setengah hingga satu jam karena sudah disediakan anak tangga hingga ke puncaknya.

Tujuan lain yang tak kalah menarik di sela-sela ibadah di Makkah adalah berkunjung ke peternakan unta, di tengah hamparan gurun pasir di jalur jalan dari kota Makkah menuju kawasan Ji’ronah. Kawasan Ji’ronah ini cukup dikenal karena masjidnya menjadi tempat mengambil miqot (berniat ihram untuk memulai umrah) selain masjid di Tan’im.

Para peternak mendirikan tenda-tenda lengkap dengan alas karpet untuk bersantai. Selain diajak menyaksikan kesibukan di peternakan, pengunjung juga bisa minum susu unta segar yang baru saja diperah. “Segar, rasanya seperti susu cair kemasan,” kata Hj Nurlaila, seorang jamaah umrah asal Samarinda.

Ibadah ke Tanah Suci kini memang tak lagi sekadar menyelesaikan rukun dan syarat-syarat berhaji atau umrah. Semakin banyak ragam dan varian aktivitas tambahan selama berada di Madinah dan Makkah. Belum lagi wisata keliling kota metropolitan Jeddah yang biasanya diselipkan sehari menjelang kepulangan ke Tanah Air. Pemerintah Kerajaan Saudi pun memahami betapa penting menyenangkan para tamu Allah, sehingga ritual haji yang selama ini dipahami sebagai ibadah fisik yang berat, sudah semakin nyaman dan menyenangkan.  (bersambung)

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

Beri Tanggapan (atau pilih komentar via akun media sosial)

Loading Facebook Comments ...
Loading Disqus Comments ...

No Trackbacks.