Keliling Dunia dalam Sehari, Berburu Stempel “Imigrasi”

DUNIA MINI: Berpose dengan latar belakang paviliun Amerika Serikat di Zona C area Shanghai World Expo 2010. Setelah pameran berakhir, bangunan paviliun ini akan dibongkar.

Laporan dari Tiongkok: Serba Fantastis di Shanghai World Expo

Sebuah event multi-miliar dolar, terbesar sepanjang sejarah peradaban manusia, didesain sebagai pembuktian kedigdayaan China yang ambisius; kerja besar demi tontonan 184 hari.

ITULAH Shanghai World Expo 2010. Gelaran pameran skala dunia yang untuk pertama kalinya dituanrumahi negara berkembang di Asia, setelah selama satu setengah abad selalu saja digelar di negara-negara maju di belahan Barat bumi. Pameran yang diikuti bangsa-bangsa dari seluruh dunia ini dimulai pada tahun 1851 di London, menandai era baru industri, juga keinginan luhur umat manusia untuk berbagi dalam pertukaran peradaban dan teknologi.

Semua yang disuguhkan serba fantastis. Melampaui rekor yang sudah pernah ada dalam hampir segala hal: durasi pameran, luas area yang dipergunakan untuk eksibisi, jumlah negara dan organisasi yang berpartisipasi, target pengunjung, juga potensi transaksi bisnisnya. Belum lagi efek domino yang membuat Shanghai sebagai kota termodern di China, dan dikenal dengan julukan Manhattan Asia, menjadi kota paling ingin dikunjungi masyarakat dunia saat ini.

Begitu besar magnet Shanghai World Expo 2010 ini, sehingga masyarakat dunia ramai berkunjung dengan destinasi dua kota utama Tiongkok: Beijing dan Shanghai. Saya sendiri bersama rombongan kantor menyempatkan satu hari penuh dari tiga hari jadwal jalan-jalan di Shanghai untuk mengunjungi area pameran yang diestimasi bakal dikunjungi lebih dari 70 juta orang ini.

Waktu sehari itupun ternyata sungguh tak cukup. Hanya beberapa paviliun negara yang sempat dieksplorasi. Selebihnya hanya dinikmati sambil lalu, syukur-syukur sempat berfoto di depan lambang atau tulisan negara di depan paviliun. Selain antrean masuk paviliun-paviliun itu lumayan panjang, area expo yang begitu luas juga membutuhkan waktu yang lebih lama dan stamina yang ekstra untuk berkeliling.

Entah karena ingin praktis atau atas nama nasionalisme, saya dan rombongan akhirnya mematok target utama yang paling masuk akal: berkunjung ke paviliun Indonesia di Zona B, dan paviliun negara-negara lain di sekitarnya. Untuk diketahui, dengan total luas area pameran yang 5,28 km persegi, lokasi World Expo Shanghai 2010 ini dibagi dalam lima zona, di mana zona A, B dan C berada di sebelah selatan Sungai Huangpu, sementara zona D dan E berada di seberangnya, di sebelah utara.

Area expo wilayah selatan ini dibelah lagi oleh Jembatan Lupu yang megah, di mana zona A dan B berada di timur jembatan dan zona C di sebelah baratnya. Maka bayangkanlah situasi ini: rombongan di-drop di area parkir zona C, yang jaraknya menuju pintu masuk expo saja lebih kurang 2 km dan harus ditempuh dengan berjalan kaki. Setelah melewati antrean pintu masuk, harus berjalan kaki lagi ke paviliun Indonesia di zona B, yang jaraknya lebih kurang 3 km. Jadi total jarak tempuh jalan kaki waktu itu adalah 10 km PP.

Memang tak begitu terasa melelahkan. Selain suhu yang sedang sejuk (18 derajat celcius), sepanjang perjalanan juga bisa mampir ke sejumlah negara. Di jalur perjalanan sepanjang zona C saja rombongan bisa mampir untuk sekadar foto-foto di paviliun Amerika, Brazil, Colombia, Kanada, Hungaria, Portugal, Slovakia, Kuba, Chile, Venezuela, Rusia, Denmark dan lain-lain.

Lantas masuk ke zona B setelah melewati bentangan Jembatan Lupu, ada paviliun Thailand, Australia, Singapura, Filipina, Selandia Baru, Brunei dan Kamboja. Di area inilah paviliun Indonesia berada, persis berseberangan dengan paviliun Malaysia. Tak cukup waktu untuk mengeksplorasi Zona A, meski di zona itulah terdapat paviliun China yang paling populer dan terbanyak dikunjungi, terutama oleh wisatawan domestik China sendiri. Lokasi Zona D dan E, yang lebih jauh lagi karena harus menyeberang sungai, tentu saja diabaikan.

Setelah membayar tiket masuk expo 120-200 yuan (lebih kurang Rp168.000-Rp280.000 dengan kurs 1 yuan = Rp1.400), pengunjung bisa masuk secara gratis ke paviliun negara-negara yang memang berlomba menampilkan desain paviliun berarsitektur unik. Bukan seperti pameran produk di mana biasanya banyak barang ditawarkan untuk dijual, expo yang akan berlangsung selama 6 bulan atau 184 hari ini lebih banyak menampilkan kekayaan budaya dan pencapaian peradaban negara yang ikut serta.

Selain mengeksplorasi segala hal yang dipamerkan, pengunjung kebanyakan juga minta stempel kunjungan. Disediakan buku mirip paspor sehingga stempel-stempel tersebut sepintas seperti stempel imigrasi ketika kita berkunjung ke suatu negara.

Seperti rombongan siswa-siswa sekolah menengah Tiongkok, yang dengan antusias mengunjungi paviliun Indonesia, malah berebut masuk khusus untuk mendapat stempel kunjungan ini. Setelah dapat stempel, langsung bergegas keluar untuk mengunjungi paviliun yang lain lagi. Mereka seolah ingin keliling dunia, berkunjung ke sebanyak mungkin negara tanpa harus jauh-jauh terbang ke negara yang dituju.

Area expo yang diikuti lebih dari 200 partisipan dari negara-negara dan organisasi dunia ini akhirnya memang menjadi “dunia mini”, mirip seperti Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di Jakarta yang menampilkan miniatur provinsi-provinsi seluruh Nusantara. Bedanya, kalau TMII dibangun permanen, area expo bertajuk Better Life Better City ini hanya akan bertahan 6 bulan, selama pameran saja. Setelah pameran berakhir pada Oktober 2010 nanti, lokasi di mana paviliun-paviliun dibangun dengan biaya puluhan juta dolar itu akan dibersihkan lagi. Gedung-gedung berarsitektur futuristik itu dibongkar.

Hanya ada beberapa paviliun yang akan dipertahankan, dan lokasinya pun sudah ditetapkan sebagai lokasi bangunan permanen. Yakni paviliun milik China di Zona A, yang di sekitarnya terdapat bangunan permanen lain seperti Expo Culture Center, Expo Center, dan Theme Pavilion. Lokasi ini kelak akan menjadi area eksibisi dan pertunjukan.

Bagi China yang gemar dengan hal-hal spektakuler, expo ini memang seolah pembuktian kedigdayaan di tengah pertumbuhan ekonomi mereka yang terus melaju. Setidaknya dunia akan mengenang China lebih lekat dibandingkan World Expo sebelumnya yang digelar di kota Aichi, Jepang (2005) dan Zaragoza, Spanyol (2008), yang nyaris tak terdengar gaungnya.

Juga tentu saja akan mengangkat popularitas China jauh melambung lagi, setelah kehebohan Olimpiade Beijing tahun 2008. Skala event dan biaya yang dihabiskan pemerintah Tiongkok untuk expo ini bahkan disebut-sebut dua kali lipat lebih mahal dibandingkan ketika menjadi tuan rumah Olimpiade. (***)

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

Beri Tanggapan (atau pilih komentar via akun media sosial)

Loading Facebook Comments ...
Loading Disqus Comments ...

No Trackbacks.