Napak Tilas Perlawanan di Terowongan Cu Chi

SISA PERANG: Pesawat Angkatan Udara Amerika dipajang di halaman War Remnant Museum, Ho Chi Minh City. (foto: windede)

Menjelajah “Wisata Perang” Vietnam (2)

Sedikitnya 58 ribu tentara Amerika tewas selama perang Vietnam berkecamuk. Sebagian besar menemui ajal setelah terjebak dalam perang gerilya di hutan-hutan. Kini, cerita kelam 35 tahun silam itu dijual sebagai objek wisata.

TENTU saja jumlah warga Vietnam yang tewas lebih banyak lagi. April 1975, ketika perang dinyatakan berakhir, tercatat lebih dari 3 juta orang Vietnam tewas atau hilang. Baik dari pihak Vietnam Utara maupun Vietnam Selatan – yang pada 1976 akhirnya bergabung menjadi satu negara hingga sekarang. Ya, perang ini sesungguhnya perang saudara, antara Republik Vietnam (Vietnam Utara) dengan Republik Demokratik Vietnam (Vietnam Selatan).

Amerika ada di pihak Vietnam Selatan (Saigon, kini Ho Chi Minh City), bersama sekutu lain seperti Australia, Korsel, Filipina dan Thailand. Sedangkan Vietnam Utara (Hanoi) didukung dua kekuatan komunis dunia saat itu; Uni Soviet dan China.

“Banyak kepentingan. Konflik di perang Vietnam adalah konflik kekuatan politik dunia. Kami sebenarnya korban,” kata Nguyen Tanh, pemuda Vietnam yang menemani saya dan Dewa Pahuluan menjelajah Vietnam pekan lalu.

Sembari terus membangun negeri dari kehancuran akibat perang, Vietnam “merawat” peninggalan perang mereka menjadi objek wisata. Sebuah lokasi perang terkenal di Provinsi Cu Chi, lebih kurang 60 kilometer di sebelah utara kota Ho Chi Minh, kini menjadi tujuan wisata utama, karena di sanalah terdapat jaringan terowongan (tunnel), tempat di mana selama bertahun-tahun warga Vietnam bersembunyi dari kejamnya perang dengan bertahan hidup di lorong-lorong sempit bawah tanah.

Untuk masuk kawasan ini, setiap pengunjung harus membayar tiket masuk 45.000 VND (Vietnam Dong), setara Rp25.000 (Rp1 = 1,8 VND). Di gerbang masuknya, pengunjung disambut sebuah lorong menanjak lalu menurun, yang tampaknya sengaja dibuat agak remang untuk menciptakan suasana mencekam. Di ujung lorong, terhampar sebuah kawasan hutan tropis  dengan pepohonan rimbun.

“Di sinilah dulu perang gerilya itu pecah,” cerita Tanh.

Ia lalu mengajak kami melihat-lihat sejumlah lubang sempit di atas tanah di sela pepohonan, yang jadi “pintu masuk” menuju terowongan. Sepintas, tak terbayangkan lubang kecil itu menghubungkan ruang-ruang yang saling bersambung di bawah tanah, yang jaringannya mencapai lebih 200 kilometer, menghubungkan banyak desa, dan pernah menampung lebih dari 10 ribu gerilyawan pada saat yang bersamaan. Melihat sempitnya lubang terowongan itu, bisa dipastikan hanya orang bertubuh langsing yang bisa masuk.

Di dalam terowongan ini warga Vietnam kala itu bukan saja bersembunyi dari serangan darat, tetapi juga mengecoh musuh. Tampak sepi di permukaan, padahal siap siaga di bawah tanah. Untuk pengelabuan, dibuatlah ranjau-ranjau tradisional, berupa perangkap besi yang ditutup daun atau ranting. Hampir tak ada beda antara pintu masuk ke terowongan dengan perangkap mematikan. Model-model perangkap ini juga dipamerkan, lengkap dengan cara kerja dan bagaimana mengoperasikannya.

Untuk bertahan hidup, di dalam tanah itu mereka membangun ruang dapur darurat, tempat-tempat peristirahatan, rumah sakit, ruang-ruang pertemuan, juga bengkel pengolah senjata. Seperti sebuah kota dalam tanah dengan teknologi yang sangat sederhana, dibantu penerangan berupa api suluh biasa, dan sumber air bersih yang sangat terbatas. Jaringan terowongan ini digali sedikit demi sedikit, seperti menggali sumur.

Maka berjatuhanlah tentara Amerika yang nekad meladeni perang gerilya ini. Tertipu karena tak menyangka serangan bisa tiba-tiba muncul dari dalam tanah. Teknologi sederhana ventilasi agar sirkulasi udara tetap terjaga di bawah tanah, dipadu dengan pengelabuan asap dari dapur darurat, membuat gerilyawan Vietnam dengan mudah menguasai medan perang.

Tetapi Amerika tak habis akal. Setelah tentaranya berjatuhan di dalam hutan, Amerika pilih cara gampang dengan serangan udara. Pesawat-pesawat pengebom memborbardir kawasan Cu Chi. Lubang-lubang besar bekas bom dari udara itu masih bisa dilihat sampai sekarang. Pesawat-pesawat perangnya pun masih ada dan dipajang di War Remnant Museum, sebuah museum berisi benda-benda bekas perang di tengah kota Ho Chi Minh.

Serangan udara itu ternyata tak cukup efektif menumpas gerilyawan Vietnam. Sebab terowongan Cu Chi terdiri dari beberapa level kedalaman. Yang paling dalam bisa mencapai 30 meter di bawah permukaan tanah. Itu membuat mereka cukup aman bahkan dari bom udara sekalipun.

Hutan di kawasan Cu Chi ini masih dipertahankan seperti apa adanya. Yang dibuka untuk umum hanya sebagian saja, sebagian besar lainnya masih dianggap berbahaya, karena terdapat ranjau-ranjau berupa bom darat yang diperkirakan belum meledak.

Di lokasi yang menjadi objek wisata, pengunjung bisa mencoba masuk ke dalam terowongan, meskipun yang dibuka hanya jalur pendek (lebih kurang 25 meter) dan berdiameter cukup lebar. Di salah satu sudut kawasan wisata ini juga terdapat lapangan tembak, di mana pengunjung dapat mencoba merasakan dahsyatnya mengoperasikan senapan AK-47, dengan membayar 30.000 VND per satu peluru.

Kelompok-kelompok turis tampak antusias mendengarkan penjelasan para pemandu wisata, termasuk turis-turis dari Amerika, yang boleh jadi ayah atau kakeknya adalah veteran perang Vietnam. Iseng-iseng saya tanya Nguyen Tanh, apakah orang Vietnam masih dendam atau sakit hati kepada Amerika? Dia menggeleng. “Tak ada alasan lagi bermusuhan. Masa lalu adalah masa lalu,” katanya.

Di sepanjang perjalanan kembali dari Cu Chi menuju Ho Chi Minh City, saya melihat bagaimana warga Vietnam membangun negeri mereka. Sawah-sawah yang menghijau, pertanian modern di kiri-kanan jalan, juga kawasan-kawasan perniagaan yang tampak hidup. “Vietnam benar-benar sedang menuju era modern. Kami terus mengejar ketertinggalan dari negara lain di Asia,” ujar Tanh bersemangat. (bersambung)

Win Dede

Win Dede aka Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, kini bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

You may also like...

Beri Tanggapan (atau pilih komentar via akun media sosial)

1 Response

  1. 25 Agustus 2013

    […] Lalu saya dan Dewa merancang sebuah penjelajahan. Menikmati “wisata perang” di negeri yang pemerintahannya secara absolut dikuasai Partai Komunis ini. (bersambung) […]

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading Facebook Comments ...
  1. […] Lalu saya dan Dewa merancang sebuah penjelajahan. Menikmati “wisata perang” di negeri yang pemerintahannya secara absolut dikuasai Partai Komunis ini. (bersambung) […]