Menyepi di Tengah Hiruk-pikuk

KOK menghilang, ke mana saja? Seorang kawan, tiba-tiba, mengingatkan saya betapa sudah cukup lama blog ini tak tersentuh. Sesekali masih saya kunjungi, tetapi lebih sering tidak. Sibuk? Mungkin iya. Lebih tepatnya sok sibuk.

Beberapa waktu belakangan saya memang larut dalam pekerjaan baru di Jakarta, lantas setiap lepas semua urusan pekerjaan itu, menghabiskan waktu di rumah saja bersama keluarga. Selama Ramadan lalu saja nyaris sebulan penuh berbuka puasa bersama keluarga. Seingat saya hanya dua kali buka puasa di luar, itupun untuk sebuah undangan yang tak mungkin tak dihadiri. Selebihnya, saya benar-benar jadi orang rumahan.

Mestinya, dengan lebih banyak ngendon di rumah justru membuat aktivitas menulis di blog jadi lebih produktif. Tetapi entah kenapa itu tak terjadi. Selain membaca buku (duh, rasanya akhir-akhir ini puas sekali baca buku tiap hari), waktu memang dihabiskan untuk bercengkerama bersama istri dan anak-anak. Dan, tidur tentu saja hehehe. Padahal koneksi internet tersedia 24 jam. Di kantor, di rumah, juga di jalan. Mungkin ini yang disebut sindrom kemalasan. Untuk tak menyebutnya sebagai bosan.

Bosan ngeblog? Ah mestinya sih tak boleh terjadi. Tapi siapapun yang berurusan dengan makhluk bernama blog pasti pernah masuk dalam siklus kemalasan itu. Saya saja sudah merasakannya berkali-kali. Kelewat sering malah.

Memang ada sesuatu yang hilang. Karena sebulan lebih tidak menulis, otak jadi rada buntu juga hahaha. Makanya, posting kali ini biarlah yang ringan-ringan saja. Mungkin tentang anak-anak saya yang sekarang tumbuh besar dan semakin asyik dengan dunianya.

Safa, si sulung, makin cerdas saja. Sudah pandai membaca dan berhitung. Juga menggambar, dan tentu saja main games. Sayang umurnya yang baru 5 tahun pada periode ajaran baru lalu membuat dia ditolak masuk SD. Rambut Safa baru saja dipotong pendek, setelah 5 tahun dibiarkan gondrong. Lucu juga karena terbiasa melihat dia berambut panjang.

Afif, anak saya yang nomor dua, tak kalah pandai. Membaca dan behitungnya semakin lancar. Juga mengaji. Afif sudah Iqro 3 dan Safa sudah Iqro 4. Si ganteng ini gemar sekali menyanyi. Mamanya bilang mungkin bakat artis abahnya yang tak kesampaian menurun ke dia hahaha. Syukurlah kalau begitu, karena bakat si abah sebenarnya masih dan terus ada, hanya tak tersalur saja.

Si bungsu, Alva, sudah 11 bulan sekarang. Sebentar lagi ultah pertama. Giginya sudah 5, mulai belajar jalan dan ngocehnya bikin rumah tak pernah sepi. Kalau sudah main, dua abangnya jadi bulan-bulanan, dan, hebatnya, si abang mau saja. Seolah mengerti bahwa Alva masih bayi.

Bayangkanlah sekarang. Betapa ramai rumah kami. Tiga jagoan itu sungguh membuat hiruk-pikuk Jakarta tak menggoda saya untuk sering-sering keluar rumah. Apalagi, karena belum cukup sering beredar di jagat pergaulan orang kota, saya memang belum punya banyak kawan di metropolitan ini. Beda sekali dengan kehidupan saat di Banjarmasin atau Balikpapan, di mana tiada hari tanpa gaul dengan kawan-kawan. Lucunya, sekarang saya lebih sering keluar rumah justru kalau kawan-kawan dari Banjarmasin atau Balikpapan itu berkunjung ke Jakarta.

Selebihnya, hanya menikmati obrolan dengan blogger yang saya kenal. Sesekali ketemu pakde, paman, atau babeh. Itu pun belum tentu sebulan sekali, karena orang-orang yang saya sebut itu juga bukan sembarang orang yang bisa diajak nongkrong sewaktu-waktu. Harus atur waktu agar dapat jatah ketemu di tengah kesibukan mereka yang bejibun itu.

Yeah, hidup memang tidak selalu harus hiruk-pikuk, bukan?

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

Beri Tanggapan (atau pilih komentar via akun media sosial)

9 tanggapan untuk “Menyepi di Tengah Hiruk-pikuk

  • 6 November 2008 pada 22:36
    Permalink

    Hampir sama bos kondisinya…. sekarang ane sudah jarang nongkrong di luar rumah, dan agak malas ngisi blog, jadi paling-paling ngeliatin blog-blognya orang.

    Paling-paling kalo ada yang nyentil agak keras baru ane ngisi blog….. benar mungkin sindrom malas sekarang sedang menular kemana-mana…he..he..

  • 11 November 2008 pada 16:50
    Permalink

    Jakarta membuat orang gampang berubah dan harus berubah. kalau tidak, akan digilas perubahan yang berjalan sangat cepat. Berubah jadi lebih dekat dengan keluarga adalah kenikmatan yang luar biasa. Sesuatu yang sangat mahal. Tapi nulisnya jangan berhenti dong. Kalau wartawan tidak lagi menulis, apa dong namanya ?

  • 25 November 2008 pada 21:47
    Permalink

    lebih sebulan aku ndk nengok2 ke blog sampeyan..e ternyata baru satu postingan hehehe..wah jagoannya udh mulai keliatan cakepnya ya..

  • 26 November 2008 pada 14:03
    Permalink

    wah…cakepna nurun sapa mas, kok ga’ ada mirip miripnya…hehehehe

  • 10 Januari 2009 pada 21:53
    Permalink

    Garis mata anak-anak mirip abah-nya.
    Menurut saya, Safa mirip sekali dengan abah-nya. Lekukan sudut bibir atas yang menyatu dengan garis dari pinggir cuping hidung ke bawah saat dia menarik senyum (saya tidak pandai mendeskripsikannya) khas banget kayak abah-nya. 
    Afif, dari foto kelihatan ekspresif. Mungkin dia lebih lincah dan jahil juga.Betul,kah?
    Alva, kawaii! 
    Ibu-nya ngewarisin apa,ya?

    Baju, waktu kecil masih dipilihin ortu jadi bisa diseragamin sama saudara (warna atau pola).
    Ntar agak gedean, mau-nya milih sendiri dengan selera masing2 (pengalaman pribadi hehehe..).

  • 8 Juni 2011 pada 09:52
    Permalink

    Excellent blog here! Also your site loads up very fast! What web host are you using? Can I get your affiliate link to your host? I wish my website loaded up as quickly as yours lol

  • 6 September 2011 pada 20:35
    Permalink

    I simply included your current Rss in my Really simply syndication reader, it is so great to learn your website.,,

Komentar ditutup.

Loading Facebook Comments ...
Loading Disqus Comments ...

No Trackbacks.