Robekan Kitab Pembungkus Putu

Pembungkus kue putu itu...

INI bukan soal kue putu, yang dijajakan keliling kampung dengan suara khas suling panjang dari uap dandang pengukus itu. Kue hijau bertabur parutan kelapa ini hanya menjadi semacam pengingat betapa peradaban manusia terus berubah, berganti wajah, bermetamorfosis. Bukan karena lezatnya rasa kue itu, namun karena bungkusnya yang unik.

Suatu malam, yang dingin sehabis hujan, suling panjang dari dandang penjaja putu memecah hening suasana rumah. Istri bergegas membuka pintu dan memanggil penjaja kue beraroma harum ini. “Enak nih mengudap yang hangat-hangat.” Setelah menunggu sesaat, empat potong kue bergula merah itu terhidang di atas meja.

Informasi dari pembungkus kue putu...Yang bikin surprised memang bukan rasanya, sebab kue putu ya di mana-mana seperti itulah. Bungkusnya itu yang bikin geleng-geleng kepala: robekan halaman Yellow Pages, kitab sakti pemberi informasi alamat dan nomor telepon. Buku telepon? Seberapa penting benda ini di zaman gegap gempita internet sekarang?

Dulu, ya kira-kira 10 tahun lalu, setiap rumah dan kantor yang punya telepon pasti berlangganan (atau dilanggani gratis) buku telepon. Sekarang, benda ini masih ada, tapi tingkat ketergantungan kita kepadanya sudah semakin berkurang. Kitab berkertas kuning ini masih bisa diandalkan untuk mencari informasi apa saja. Dari nomor telepon pribadi sampai perusahaan, yang disusun dengan indeks berdasarkan kategori-kategori. Tapi, Yellow Pages bukan satu-satunya referensi. Pilihan lain sudah banyak, lebih praktis pula.

Iklan-iklan spesifik dan segmented yang dulu hanya bisa dilihat di Yellow Pages, kini sudah mampir langsung ke ponsel-ponsel pribadi, menyelinap di antara lembar tagihan bulanan kartu kredit, atau tersebar di web-web korporat di internet. Kalau mau yang lebih praktis kita bisa telepon layanan informasi, cukup beberapa detik untuk sekadar mendapatkan nomor telepon dan alamat.

Konon, Yellow Pages pula yang menginspirasi Larry dan Sergey membangun mesin pencari Google, yang kini sudah jadi demam peradaban dunia hari ini. Seluruh penduduk bumi telah mengandalkan Google untuk memperoleh informasi tentang apapun, siapapun, kapanpun, di mana pun, sepanjang punya koneksi internet.

Yellow Pages online versi Indonesia.Di Amerika, tempat Google berasal, Yellow Pages sudah beralih layanan ke versi online, itupun sekadar untuk melayani orang yang perlu tambahan mesin pencarian di luar Google. Orang semakin lelah dengan fisik kertas, juga kerepotan membalik-balik halaman. Di Indonesia, buku telepon digital sudah pula ada, tapi tampaknya belum cukup populer.

Banyak yang mengajarkan bahwa hakekat hidup adalah pencarian jawaban. Itu sebabnya mesin-mesin “pencari jawaban” diciptakan sejak zaman dulu. Dari sekadar petuah bijak para resi, buku-buku ilmu pengetahuan, perpustakaan, hingga bank data dan gudang-gudang pengarsipan. Begitu banyak misteri, pertanyaan demi pertanyaan, yang harus selalu dijawab meski sekadar untuk memuaskan rasa ingin tahu.

Tentu menyedihkan melihat fakta bahwa lembaran buku telepon yang berisi informasi berharga akhirnya hanya menjadi pembungkus kue, meski boleh jadi ini juga dirobek dari kitab lama yang sudah kedaluarsa. Lagi pula, nasib serupa bukan hanya dialami Yellow Pages. Dari pasar-pasar tradisional, pedagang sayur dan penjaja kue, kita kerap mendapatkan bungkus dari kertas lain yang tak kalah berharganya. Dari lembaran skripsi mahasiswa sampai copy faktur pajak perusahaan ternama.

Ketika masih bekerja di koran harian di Kalimantan, saya pernah ditegur seorang kerabat, karena suatu hari koran yang saya tangani memuat gambar seorang ulama besar yang jadi panutan semua orang di kampung kami. Kerabat ini bilang, jangan lagi memuat gambar si ulama di koran, karena tak ada yang tahu kertas koran itu kelak akan diperlakukan seperti apa. “Bisa jadi lap lantai yang dikencingi bayi, bungkus kacang, atau diinjak-injak, padahal di situ ada gambar orang yang dihormati.”

Saya membatin, repot juga ya jadi ulama, sampai gambarnya di koran pun harus dijaga dari perlakuan menjadi bungkus atau lap. 😀 😛

Kembali ke soal pencarian jawaban, di tengah beragam kemudahan peradaban, pertanyaan-pertanyaan takkan pernah habis, meski tersedia sedemikian besar database jawaban di jagat maya. Ya. Bukankah setiap jawaban sesungguhnya adalah pertanyaan baru? Itu sebabnya informasi bisa tersedia bukan hanya di web-web mesin pencari internet, tetapi juga di tempat-tempat tak terduga; termasuk bungkus kue yang seolah tak berharga. ***

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

Beri Tanggapan (atau pilih komentar via akun media sosial)

12 tanggapan untuk “Robekan Kitab Pembungkus Putu

  • 11 Juli 2008 pada 21:00
    Permalink

    itulah hebatnya pak kalau beriklan di media koran dan majalah, biar lama sekalipun terbitannya, masih bisa di baca orang pak seperti yelow pages itu, coba kalau media yang lain, lewat begitu saja….

  • 12 Juli 2008 pada 21:53
    Permalink

    tetepp..di antara sajian gambar2 di atas kue poutu itu yg paling menarik, oh.. putu putu kapan kau bisa lewat depan rumahku…*sambil ngelap ileran*

  • 13 Juli 2008 pada 10:02
    Permalink

    terakhir kali memakai yellow pages minggu lalu di jogja. nyari nomer telepon travel 😀

  • 13 Juli 2008 pada 18:26
    Permalink

    robekan kitab?? hehehe judulnya eyechat…
    mungkin suatu saat robekan kitab suci (qur’an, bible, dll) akan jadi pembungkus putu juga bang.. :(( dunia sudah berubah memang…

  • 13 Juli 2008 pada 19:23
    Permalink

    Seandainya duit seratus ribuan yang jadi bungkus putu, bagaimana? Itu berarti si tukang putu yang buram matanya…, hehehehe…

  • 14 Juli 2008 pada 19:38
    Permalink

    itu tanda hari kiamat….piss sampai ketemu di akhirat

  • 17 Juli 2008 pada 13:15
    Permalink

    setidaknya itu masih yellow pages …. yg kertasnya tipis dan ga penuh warna

    lha disini (Dubai), majalah model Architecture Mid East (ya model Architectural Digest tapi kalah jauh), gitu, dibagiin gratis kemana mana …. udahlah kertasnya tebel, dan berwarna … bukan soal banyak duit dan borosnya … ya masalah lingkungannya aja …. (apalagi karna disini padang pasir, ga ada pohon gede … ) … hehehehe …

    Btw, numpang baca, salam kenal ya……. tulisannya bagus bagus….. 🙂

  • 22 Juli 2008 pada 21:02
    Permalink

    Saat ini tulisan dalam bentuk hard copy (buku), telah mulai ditinggalkan. Digital era telah datang dan bisa jadi generasi datang, yang dipenuhi produk digital dan bisa jadi akan tiba saat dimana : Buku matematika, IPA atau IPS akan menjadi koleksi sebagai “Barang Antik”. Jadi kita pada hakekatnya tinggal menunggu waktu itu saja.

  • 2 Agustus 2008 pada 17:17
    Permalink

    menurutku buku itu cuma selembar kertas. Jadi kalau memang sudah tak terpakai dan dipakai untuk bungkus roti ya ndak apa-apa.
    Masih lebih baik toh bisa berguna daripada hanya sekedar dihancurkan atau digeletakkan berdebu tak berguna?

  • 13 Agustus 2008 pada 12:00
    Permalink

    tak ada daun …. akar pun jadilah. salah yaa!!!

  • 22 September 2013 pada 16:55
    Permalink

    jadi pengen makan putu,sepertinya sudah ada 3 tahun tidak makan putu

Komentar ditutup.

Loading Facebook Comments ...
Loading Disqus Comments ...

No Trackbacks.