Menikmati “Indonesia” yang Lain

SILAKAN ribut soal kenaikan harga BBM, kontroversi Ahmadiyah dan SKB menteri, atau juga FPI beserta pasukannya – dan tentu saja sang panglima yang sempat buron lalu akhirnya menyerahkan diri. Ributlah terus dan berdebatlah terus, karena ternyata tak semua orang pusing dengan hal itu.
Seperti suatu malam di sebuah sudut di kawasan Kemang, Jakarta, anak-anak muda asyik dengan dunia mereka sendiri; hang out, dating, nongkrong, bercanda penuh tawa seolah Indonesia memang sedang baik-baik saja.
Anak-anak muda itu, sebagian bertampang pribumi dan sebagian yang lain jelas sekali anak-anak dari kalangan ekspatriat, membincangkan urusan mereka sendiri di bawah gemerlap lampu-lampu café, iringan musik R&B, dengan segelas martini atau champagne di tangan dan percakapan dalam bahasa Inggris yang mengesankan. Sesekali mereka berjalan, mondar-mandir, seakan hendak menyebar harum wangi tubuh mereka berkat parfum-parfum kualitas tinggi.
Di tempat itu, malam itu, saya bersama dua kawan bersengaja hendak menikmati Indonesia yang lain, yang jauh dari cerita kesusahan rakyat karena miskin, konflik politik anggota parlemen, perebutan kekuasaan pascapilkada, juga debat kusir tokoh-tokoh agama.
Saya tak bisa memarkir sendiri mobil yang saya kemudikan. Harus pakai jasa valet service karena begitulah kebiasaan pengunjung di sana – kecuali mereka yang datang diantar sopir pribadi dan sang sopir menunggu majikannya di parkiran dengan kepala berat karena mengantuk.
Tempat yang kami kunjungi berkonsep café taman, terbuka dengan pemandangan langit dan bintang. Duduk di kursi-kursi berbahan besi yang minimalis sekali, kami kemudian memesan senampan kentang goreng, sewadah chicken basket, dan ngobrol sekadarnya sambil terus berkomentar mengenai gaya anak-anak muda itu.
Mereka modis-modis, sadar fashion sekali tampaknya. Yang wanita memakai gaun malam seksi, short dress warna terang dan sepatu high heels, membiarkan betis-betis mereka jadi pemandangan (setidaknya pemandangan bagi kami), dengan bahu yang terbuka tersapu dingin malam – juga tersapu mata-mata jelalatan tiga orang kampung yang kesasar ini. Yang lelaki memakai paduan jeans, t-shirt dan sepatu kets, tampak macho dengan tubuh bentukan body building di gym.
Salah seorang pengunjung café itu, gadis awal 20an tahun, berwajah sangat Indonesia, begitu percaya diri memakai baju motif batik berbahan tipis yang dalam pandangan mata orang kampung seperti saya lebih mirip baju tidur. Lengannya, kiri dan kanan, penuh tato, dan sepertinya memang tato itulah yang hendak dia perlihatkan dengan memakai baju berukuran minim itu. “Kalau di kampung kita, pasti sudah dituduh perempuan yang bukan-bukan kalau dandanannya begini,” celetuk kawan saya.
Kami tertawa. Mungkin menertawakan betapa batas-batas logika dan kelaziman bisa ditabrak oleh apa yang disebut sebagai trend, modernitas, kosmopolit, life style atau apapun yang bagi orang Indonesia kebanyakan mungkin dianggap sebuah keanehan. Sebagai orang kampung yang kebetulan sedang tinggal di Jakarta, sisi kekampungan saya masih menganggap Indonesia itu ya sebuah kampung besar yang, betapapun telah tercemar juga oleh perkembangan peradaban dunia, tetap punya native culture berupa adat-adat ketimuran: sesuatu yang lebih bisa dirasakan di daerah daripada di kota sesibuk dan sekejam Jakarta.

Meja-meja di café taman itu tetap penuh anak-anak muda sampai hari berganti melewati pukul 00.00. Di sudut lain ada lapangan futsal yang sepertinya hanya buka hingga batas waktu lumrahnya orang berolahraga (mungkin 22.00?), kemudian sebuah bangunan berbentuk kotak persegi di seberangnya, mirip kontainer, dengan musik berdentum-dentum dari dalam. “Diskotek, hanya members yang bisa masuk,” kata security yang berjaga di depan pintu masuknya.
Kami bertahan hingga pukul 01.30 dinihari, ketika sebagian pengunjung juga mulai meninggalkan tempat. Beberapa yang keluar dari diskotek tampak penuh peluh dan berjalan agak sempoyongan. Entah kepuasan macam apa yang baru saja mereka rasakan dari ruangan bermusik keras di dalam sana.
Sembari menunggu mobil diambil petugas valet, kami menyaksikan beberapa orang berpasang-pasangan yang baru datang. Dandan mereka mirip orang mau ke pesta. Pada dini hari macam itu, tampak sekali mereka seperti baru keluar rumah, masih segar dan wangi, dan langsung masuk ruang diskotek di bangunan kotak persegi tadi.
Banyak soal di negeri ini yang selalu saja jadi pusat perhatian, bahkan meski soal itu remeh temeh sekali, sampai-sampai kita terkadang lupa, ada “Indonesia” yang lain di sekitar kita: anak-anak muda yang tak pusing dengan perdebatan agama, konflik para penguasa, apalagi sekadar ribut-ribut harga BBM naik.
Apakah mereka memang sedang membangun “Indonesia” mereka sendiri?
