(Di)sumpah(i) Pemuda

 

DUNIA milik anak muda. Begitulah yang sering kita dengar. Dulu, Soekarno bahkan pernah berujar; “berikan padaku sepuluh pemuda, aku akan mengguncang dunia.”

Masalahnya, pemuda dalam terminologi usia saja tentu tak cukup. Soekarno punya kriteria dan syarat-syarat. Mereka haruslah orang bersemangat, cinta sepenuh jiwa pada tanah air, dan kata Soekarno lagi; “yang hatinya terus berkobar.” Bapak Proklamasi percaya sekali, hanya pemuda yang bisa memenuhi kriteria dan syarat semacam ini.

Perjalanan sejarah republik kemudian mencatat peran luar biasa anak-anak muda bangsa ini. Selain Soekarno sendiri, yang menjadi proklamator sekaligus presiden pertama Indonesia di usia 44 tahun, pada masa itu tersebutlah nama-nama seperti Adam Malik, Soetomo, Sjahrir, Natsir dan juga Hatta.

Tetapi anak-anak muda pula yang kemudian menggulingkan Soekarno lewat pergerakan 1966, memaksanya turun tahta dan melahirkan sebuah orde di mana Soeharto, yang lepas dari kontroversi sejarah Supersemar, tampil sebagai pemimpin bangsa di usia 46 tahun. Sejarah lantas berulang ketika para pemuda Indonesia menjadi garda terdepan dalam gerakan reformasi menumbangkan Soeharto – bersama tirani dan kroninya, di saat Bapak Pembangunan sudah begitu uzur 32 tahun kemudian.

Para pemuda, pada zaman dan caranya masing-masing, selalu tampil mengukir sejarah, mendobrak kelaliman, menabrak kemapanan, memaksa tirani lewat pergerakan yang sering lebih dahsyat dari kediktatoran dan represi sejahat apa pun. Bukan saja dalam catatan perjalanan negeri ini, tetapi juga negeri-negeri lain di belahan manapun di bumi. Seperti para biksu muda yang berusaha melawan junta di Burma, atau para pejuang intifadah yang masih saja harus memanggul senjata demi mempertahankan tanah air mereka di Palestina.

Tetapi zaman berubah. Tak perlu menunggu satu kurun untuk menyaksikan fakta betapa dunia ternyata tak selalu menjadi milik anak muda. Bisa karena orang-orang tua berusaha menunjukkan dominasi, entah karena merasa hebat atau memang tak dapat berharap banyak pada yang muda, bisa pula karena anak mudanya masih hanyut dalam kesenangan masa kekanak yang tersisa.

Dalam banyak sejarah, pergerakan pemuda memang kerap dipicu oleh masalah besar yang dilakukan kaum tua. Di saat kegelisahan berjodoh dengan gelora muda yang meledak-ledak, terjadilah apa yang kemudian disebut revolusi, reformasi, people power, dan entah apa lagi. Orang muda bisa lebih mudah bergerak secara massif untuk menghadapi musuh yang sama. Sebab merekalah yang dengan gampang digerakkan emosi dan militansinya untuk melakukan apa yang disebut sebagai perlawanan.

***

Apa kabar pemuda kita hari ini? Ketika (sepertinya) tak ada sesuatu yang harus didobrak, semua lena dalam diam. Tak ada gelora, apalagi “hati yang berkobar” seperti pemuda impian Soekarno. Hidup seperti berlangsung biasa-biasa saja, rutin, tanpa pergerakan, sebab dunia memang (seakan-akan) sedang damai dan baik-baik belaka.

Malah ada kekhawatiran, di zaman serba instan sekarang, fase hidup tak lagi harus seperti ini: bayi, anak-anak, remaja, pemuda, dewasa, tua, tetapi bisa langsung melompat dari bayi menjadi remaja, lantas tua dan mati. Banyak orang kehilangan masa muda bukan saja karena sepertinya tiba-tiba tua, tetapi juga tertipu oleh masa di mana rentang ke-(pe)muda-an harus dilalui tanpa ada sesuatu yang luar biasa, bahkan untuk sekadar dikenang.

Anak muda hari ini adalah generasi MTV, play station, gadget pemutar musik, ponsel berkamera 3 megapiksel, SMS, MMS, bluetooth, nongkrong, dan clubbing. Tubuh-tubuh ranum dengan tas ransel berisi laptop, menyusur sudut-sudut mal mencari akses WiFi gratisan, berselancar di ketidakterbatasan ruang maya dalam koneksitas dunia tanpa tepi; chatting, friendster, dan tentu saja, blogging.

Kampus-kampus sepi dari diskusi, kecuali perkuliahan monoton yang lebih sering membosankan. Organisasi mahasiswa sibuk dalam entah aktivitas apa. LSM-LSM ribut dengan urusannya sendiri. Selebihnya, adalah organisasi, lembaga dan yayasan yang didirikan dengan semangat tipu-tipu hanya untuk menadah kucuran jatah dana bantuan pemerintah.

Sementara pejabat dan kaum elite berpesta dengan duit APBD yang dihambur-hamburkan, rakyat kebanyakan masih belum berhenti berteriak tentang harga sembako yang mahal, sulitnya air bersih, repotnya mencari kerja – dan itu berarti meledaknya angka pengangguran, juga krisis listrik berkepanjangan yang entah sampai kapan. Kalaupun ada anak muda di kursi parlemen, tingkahnya (ternyata) tak lebih baik dari wakil rakyat uzur berumur senja. Sungguh tak istimewa.

Indonesia pernah mengalami apa yang tampak seperti sekarang, ketika di era pascarevolusi anak-anak muda di sekeliling Soekarno ternyata silau oleh kedudukan. Mantan aktivis pergerakan yang sebelumnya galak berteriak soal rakyat tiba-tiba berubah borjuis begitu menjadi pejabat. Meminjam istilah Soe Hok Gie; para hipokrit pengkhianat revolusi.

Hal serupa berulang ketika Soeharto mengambil alih kekuasaan. Aktivis-aktivis angkatan 66 yang masuk kabinet akhirnya menjadi penyokong tiran orde baru, yang dalam banyak hal justru jauh lebih korup dari para pejabat yang dulu mereka gulingkan. Dan terus saja begitu, seperti siklus yang berputar senantiasa; selalu lahir generasi anak-anak muda baru yang mendobrak kemapanan generasi tua. Kelak, anak-anak muda pendobrak itu akan menjadi mapan juga, lantas didobrak generasi berikutnya, ”disumpahi” para pemuda yang sungguh sumpahannya tak ada hubungan apapun dengan Sumpah Pemuda yang melegenda.

Maka patutlah kita bersedih ketika sekarang, generasi anak-anak muda pendobrak itu tak kunjung lahir hingga satu dekade berlalu. Setelah reformasi bergulir, dan para aktivis yang garang-garang dulu itu kini mulai menikmati nyamannya menjadi ”orang dewasa”, yang sebagian terduduk ngantuk di kursi empuk kekuasaan, tak segera lahir kelompok muda baru yang mestinya mengawal agar sejarah buruk siklus konflik generasi tua dengan generasi muda tak lagi terjadi.

Bukankah kita tak perlu mengulang kebodohan yang sama, seperti ketika perlawanan terhadap orde baru akhirnya baru disadari setelah terlanjur berumur 32 tahun? Perlu ada kesadaran bahwa segalanya harus dikawal sejak belum menjadi persoalan. Dan itu, mestinya, memang urusan anak-anak muda. 

***

Di saat tak ada anak muda yang tampil, maka jagat politik pun kini didominasi orang-orang tua. Tengoklah, misalnya, bursa kandidat bakal calon kepala daerah di banyak tempat, yang ternyata dihiasi wajah para kakek yang sebentar lagi harus kita gelari moyang. Tokoh-tokoh tua yang bukan saja umurnya telah (atau hampir) expired, tetapi juga sudah terlalu banyak makan asam-garam politik, sehingga, ibarat daging sapi, mungkin sudah masuk kategori dendeng.

Di level nasional situasinya sami mawon. Para veteran politik, termasuk bahkan mantan presiden, masih menyorong diri untuk maju sebagai capres. Entah karena stok orang hebat dan layak memimpin semakin terbatas, atau memang kita kehilangan figur pemuda yang istimewa.

Tak ada yang salah atau patut dipersalahkan, sebenarnya. Sebab, toh politikus mudanya juga tak ada yang moncer. Sehingga pada saatnya kelak rakyat harus pasrah memilih figur presiden atau kepala daerah yang umurnya rata-rata sudah menjelang tiga perempat abad. Dalam istilah guru saya, ibarat seorang dari generasi televisi hitam putih harus memimpin orang-orang dalam peradaban modern dengan kecanggihan televisi plasma.

Lagi pula, masih ada satu alasan lagi; jangan kira yang tua selalu kalah gesit. Sepanjang kerjanya baik, tidak korup, prorakyat dan menghasilkan kebaikan-kebaikan, maka setua apa pun masih akan lebih baik bagi rakyat tinimbang seorang pemuda yang, katakanlah agresif, tapi bodoh. Dalam situasi semacam itu, biarlah dunia tetap didominasi orang-orang tua, yang setiap ditanya umur selalu merasa masih (pe)muda.

***

Mungkin tak ada seremoni yang menarik, di hari di mana Sumpah Pemuda mestinya dikenang seperti hari ini. Sebagian anak muda zaman ini bahkan boleh jadi lupa kalau pernah ada inisiatif hebat anak-anak muda di zaman perjuangan kemerdekaan 79 tahun silam, untuk mencikalbakali persatuan Indonesia yang penuh ragam – sehingga sebagai salah satu contoh saja, hari ini kita bisa menikmati betapa dahsyatnya bahasa Indonesia menjadi jalan keluar komunikasi bagi ratusan suku dengan ribuan bahasa berbeda di Nusantara. 

Pemuda memang selalu jadi pemilik dunia, meski lelakunya berbeda pada setiap masa. Pemuda hari ini mungkin ngepop, hi-tech, berpikiran sedikit agak bebas dan cenderung kurang risau pada soal-soal kekuasaan. Entah bagaimana kelak mereka menyambut tongkat estafet dari generasi tua yang mau tak mau harus tergantikan. Yang pasti, sejarah memberi bukti selalu ada cara dan jalan untuk apa pun soalan.

Selamat Hari Sumpah Pemuda, untuk kita semua, baik yang masih muda dalam pengertian sebenar-benarnya, maupun yang muda dalam pengertian yang dibuat-buat.  🙂 😛 :-D  ***

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

Beri Tanggapan (atau pilih komentar via akun media sosial)

12 tanggapan untuk “(Di)sumpah(i) Pemuda

  • 29 Oktober 2007 pada 20:56
    Permalink

    … Tak ada yang salah atau patut dipersalahkan, sebenarnya. Sebab, toh politikus mudanya juga tak ada yang moncer …

    Lanjutannya: Bagaimana agar yang muda yang ‘bicara’? Jangan sampai, begitu yang muda bicara yang tua tidur.

  • 29 Oktober 2007 pada 21:15
    Permalink

    Soekarno mungkin akan menangis jika melihat tingkah polah anak muda jaman sekarang…..

  • 30 Oktober 2007 pada 09:40
    Permalink

    Bahkan untuk sekedar mengenang hari sumpah pemudapun, pemuda sudah tak lagi punya banyak waktu. Tanyakansaja..apakah mereka masih ingat isi sumpah pemuda?

  • 30 Oktober 2007 pada 19:46
    Permalink

    Nak Windede masih muda tapi sudah mengemuka. Itu yang selalu saya ingat tentang sampeyan.

  • 31 Oktober 2007 pada 22:47
    Permalink

    Pak Win kan termasuk pemuda juga. Tapi, ga kaya seperti pemuda yang di tulis kok. Kalau saya baru berumur 6 tahun layaknya anak kecil yang baru masuk SD, he he he. Karena umur yang sudah lewat, saya belum sempat belajar banyak.

  • 1 November 2007 pada 14:05
    Permalink

    Dalam dunia pendidikan, guru muda datang dengan idealisme dan pandagan segar….tapi, kemudian dipaksa melebur dalam budaya para “leluhur”…sampai akhirnya berujung menjadi guru “penunggu” kenaikan golongan semata.

  • 9 November 2007 pada 11:40
    Permalink

    Seandainya Soekarno masih hidup, bisa jadi dia akan meralat ucapannya dan menggantinya ucapannya: “berikan padaku sepuluh pemuda seperti (Bos) Erwin, maka aku akan mengguncang dunia.”
    Luar biasa…

  • 9 November 2007 pada 12:34
    Permalink

    Hampir tak terasa usia ku sudah menjelag 41 tahun, lalu xxxxxxx(ku) yang jadi trend orang muda di Banjarbaru, sekarang telah berusia 46-47 tahun. Sementara hampir tidak terjadi perubahan apa-apa, di lingkungan ku, dan lingkungan yang lebih besar, jadi benar kiranya kekhawatiran bos Erwin tetang regenerasi, kecuali di lingkup Kaltim Post dan goupnya…ha..ha..

  • 21 Januari 2008 pada 20:30
    Permalink

    Menurut saya,bangsa ini terlalu percaya dengan produk/ideologi pemikiran Barat. (Tidak salah Jambrud menciptakan lagu Asal British). Bangsa kita yang mayoritas muslim memperjuangkan sesuatu yang bukan hukum Allah.Memperjuangkan kesetaraan Gender, Nasionalisme, HAM, Demokrasi, dan lain sebagainya. Ideologi inilah yang membuat bangsa ini semakin terpuruk. Seandainya bangsa ini memperjuangkan untuk tegaknya hukum Allah yang ada di dalam Al-Qur’an,saya optimis bangsa Indonesia bisa Sejahtera.
    udah baca buku “mengenal Hizbut Tahrir”?Asik tu, sambil belajar ilmu politik

  • 27 Oktober 2008 pada 21:34
    Permalink

    bukannya sombong!! tapi sbg slh stu pmudi INA, bkn sj Pak Soekarno akn mnangis, aQ pun saat ini sdih & kecewa mlihat gnerasi-gnerasi stingkatQ spt saat ini, jauh dr hakekat dasar sumpah pemuda !!

  • Pingback: Blog Karisma » Pemuda Islam dan Energinya

Komentar ditutup.

Loading Facebook Comments ...
Loading Disqus Comments ...

No Trackbacks.