Lebih Percaya Changi daripada Soekarno-Hatta

Bekerja di luar negeri, dapat penghasilan hingga lima kali lipat dari gaji di negeri sendiri, membuat tenaga kerja wanita (TKW) Indonesia di Hong Kong sejahtera dari sisi materi. Tapi, mereka sering trauma ketika harus pulang kampung. Kenapa?

Mau kirim paket ke tanah air? Di sini tempatnya...

HARI belum terlalu siang. Kira-kira pukul 10 waktu Hong Kong. Senin itu, sepekan yang lalu, kantor perwakilan BCA Hong Kong di Dragon Rise Building, Causeway Bay, tampak lengang. Hanya ada dua atau tiga nasabah. Suasana serupa terlihat di kantor Bank Mandiri, di gedung yang sama.

“Memang sepi. Biasanya yang ramai sekali kalo hari Minggu,” kata Haryati, seorang TKW asal Blitar yang hari itu datang ke BCA untuk mengirim uang ke orangtuanya di kampung.

Bank-bank Indonesia yang membuka perwakilan di Hong Kong memang beroperasi lebih lama pada hari Minggu. Maklum, pada akhir pekan inilah TKW-TKW Indonesia libur dan berkesempatan melakukan transaksi perbankan. Kebanyakan mereka mengirimkan uang ke rekening keluarga. Setor dengan mata uang HKD (Hong Kong Dollar) dan bisa diterima hari itu juga oleh keluarga di Indonesia, sudah dalam mata uang rupiah.

Dengan lebih dari 100 ribu TKW Indonesia di Hong Kong saat ini, bank-bank nasional memang melirik pasar besar yang bukan main-main di negeri bekas koloni Inggris itu. BNI misalnya, berkantor di sebuah gedung mewah di Wanchai, kawasan premium yang menghadap Victoria Harbour, selat yang membelah Hong Kong Island dan Kowloon.

Poster konser Ungu dan Team LoBank-bank juga berebut pasar dengan membuat paket-paket dan program menarik. Bank Mandiri misalnya, memasang sebuah spanduk besar di Causeway Bay, berisi tawaran bagi TKW untuk membuka rekening dengan iming-iming tiket gratis nonton konser Band Ungu dan Team Lo, yang akan digelar di Queen Elizabeth Stadium, 23 September ini. Cukup dengan membuka tabungan dengan saldo 1.000 HKD (lebih kurang Rp 1,2 juta) atau transfer ke Tanah Air sejumlah 2.000 HKD (2,4 juta), sudah dapat tempat duduk VIP, gratis.

Setiap hari, bank-bank ini juga mendisplay tingkat konversi atau kurs mata uang, baik antara HKD dengan USD maupun HKD dengan IDR (rupiah). Saat saya berada di Hong Kong, Bank Mandiri memasang kurs Rp 1.203 per 1 HKD, sementara BCA Rp 1.209 per 1 HKD. Selisih kurs ini tentu menarik bagi TKW yang hendak transfer dana ke Indonesia. Sementara untuk rekening tabungan, nasabah juga bisa memilih hendak menabung dalam mata uang HKD atau rupiah.

Bagi TKW di Hong Kong, pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga tidaklah terlalu jadi persoalan. Meski untuk ukuran Hong Kong ada beberapa di antara mereka yang sebenarnya masih underpaid (menerima gaji di bawah standar upah minimum setempat), bila dibandingkan Indonesia gaji di Hong Kong terbilang besar. Dengan 6 hari kerja seminggu, seorang TKW di Hong Kong minimal menerima 4.000 HKD (lebih kurang Rp 4,8 juta). Lima kali lipat standar UMR buruh pabrik di Indonesia.

Meski begitu, para TKW memulai hidup di Hong Kong dalam keadaan prihatin. Sebab ada aturan, 7 hingga 9 bulan pertama bekerja, seluruh gajinya harus disetor kepada agen PJTKI yang memfasilitasi keberangkatan ke Hong Kong. Setelah lewat masa itu, ada lagi hitung-hitungan fee untuk agen antara 20 hingga 40 persen dari gaji per bulan selama dua tahun. “Ya masih wajarlah, kalau nggak dibantu agen kan nggak bisa kerja di Hong Kong,” kata Sri Ningsih, seorang TKW yang bekerja di kawasan North Point.

Poster tawaran konser yang lain...

Setelah bertahun-tahun bekerja, para TKW kebanyakan bisa punya tabungan yang lumayan dan ketika pulang kampung pasti dianggap orang kaya. Nah, uniknya, urusan pulang kampung itu sedikit merepotkan mereka, karena kerap harus berhadapan dengan calo-calo dan oknum di Bandara Soekarno-Hatta. “Banyak yang rese kalo di Cengkareng,” kata Sunarti, TKW asal Tegal Jawa Tengah.

Saat ditemui di dekat kantor KJRI Hong Kong di Keswick Street, Sunarti yang hendak pulang kampung itu menunjukkan tiket pesawat SQ Airlines dengan tujuan Hong Kong-Singapura. “Lebih enak ke Singapura dulu. Nanti dari Singapura naik pesawat lanjutan ke Solo. Repot di Cengkareng, banyak yang gangguin,” kata dia.

Cerita TKW diperas atau dipereteli perhiasannya ketika mendarat di Bandara Soekarno-Hatta memang kerap kali terdengar. Sebuah potret memalukan yang jadi momok bagi TKW kita, yang untuk memperoleh harta yang diperas itu, harus bekerja penuh keringat bertahun-tahun di negeri orang.

Maka, para TKW tak habis akal. Kalau pulang kebanyakan mereka memilih lewat bandara Changi Singapura atau Kuala Lumpur International Airport di Malaysia. Nanti, kembali ke Hong Kong baru lewat Soekarno-Hatta. “Kalau pas dari kampung kembali ke Hong Kong lagi kan sudah tidak bawa apa-apa. Mau diperas apanya,” kata Sunarti, lantas tertawa. ***

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

Beri Tanggapan (atau pilih komentar via akun media sosial)

9 tanggapan untuk “Lebih Percaya Changi daripada Soekarno-Hatta

  • 17 September 2007 pada 17:36
    Permalink

    Sebuah realita yang acapkali membuat hati ini panas dan sekaligus merih.. say anggak ngerti kok tega-teganya para kampret berseragam di bandara Cengkareng (Soekarno-Hatta) masih saja melakukan praktek kotor seperti itu. harus diakui bahwa TKI-TKI itu adalah juga expat nasional yang harus di hormati layaknya para bule2 yang datang..

  • 19 September 2007 pada 03:56
    Permalink

    di sini jua kakawalan ulun yg rata2 urang jawa munnya bulik mulai maambil pesawat jurusan ke singapore, trus lanjut ke solo.. jar buhannya mang supaya menghindari preman2 dan kroni2 nya di jakarta..

  • 19 September 2007 pada 04:01
    Permalink

    eh ada yg ketinggalan, munnya transit di singapore biasanya lawas n ada yg antar jemput buat istirahat di hotel (gratis), tapi mang harga tiketnya agak mahal ketimbang yg langsung ke jkt 😀

  • 19 September 2007 pada 11:37
    Permalink

    Gondok rasanya dengar tulisan mas Erwin, tapi mo gimana lagi, sudah jadi mafia yang kait berkait sangat kompleks dan sulit untuk di berantas kecuali dengan mekanisme “BOOOM aja Cengkareng” ha..ha..

  • 19 September 2007 pada 14:58
    Permalink

    Iya..ada pengalaman buruk juga di sana, Ibu mertua pulang dari Belanda, buka stand berjualan di pasang Tongtong…sampe Jakarta, raib semua arta benda…ada gak ya upaya pemerintah untuk menciptakan rasa aman?

  • 21 September 2007 pada 03:18
    Permalink

    wah, baca blognya jadi merasa baca koran. keren! 😀

    mas, aku sih belom tau gimana para kampret2 bandara itu bekerja. belom pernah pulang soalnya…

    tapi dari yang aku denger, emang mengerikan!
    dan, gag ada upaya apa2 dari pemerintah.

    aku lagi cari2 info tentang kampret2 bandara itu sih, takut semua oleh2ku di embat mereka

  • 15 Desember 2007 pada 19:03
    Permalink

    iya..gk profesional bgt tuch bandara intl’ kita palagi dibagian imigrasinya…..bener2 memuakkan..malah kemaren gw hampir lolos dari imigrasi di SHIA pdhl gw harus dpt cap arrivalnya tuch…klo ky gini terus ya bakal bnyk yg lolos penyelundup-penyelundup bertampang indonesia..itupun waktu di imigrasi gw inisiatif ja..kenapa gk distempel..bru dach mereka ngeh…sial..

  • 29 Juni 2008 pada 12:31
    Permalink

    pengin cari teman dari hongkong nih

  • 23 Februari 2009 pada 12:43
    Permalink

    tulisannya bagus mas…
    sedih juga ya ngeliat perlakuan yang harus diterima ama pahlawan devisa kita.
    sampe kapan pemerintah mau tutup mata?
    Kayanya petugas KPK harus mulai pasang target ke sana….
    Kita tunggu sambil berdo’a kepada Tuhan aja….  

Komentar ditutup.

Loading Facebook Comments ...
Loading Disqus Comments ...

No Trackbacks.