Nasionalis Penipu

WACANA Kalimantan Merdeka kembali mengemuka. Meski geliatnya tak sedahsyat isu separatisme separatisisme di Maluku atau Papua, kegelisahan orang-orang Borneo boleh dibilang terus menggelinding bersama macam-macam pengalaman pahit tentang, misalnya, porsi pembagian keuangan yang tak kunjung adil – paling kurang bagi daerah dengan sumber kekayaan lebih dari memadai seperti Kaltim.

Pernyataan-pernyataan bernada ancaman terselip di antara pidato sejumlah pejabat daerah. Ada yang terang-terangan, lebih banyak lagi yang malu-malu. “Nanti, kalau kita minta merdeka, baru kelabakan tuh orang pusat,” begitu salah satu pernyataan pejabat itu, ketika berkomentar soal ancaman dihapusnya DAU. Pendapat saling-silang. Pro dan kontra mengemuka. Timbul-tenggelam bersama ragam perdebatan lain yang tak kalah serunya.

Sejauh ini, kecuali sebagian wilayah utara yang jatuh ke tangan Malaysia, sejarah memang tak mencatat pengalaman perjuangan (atau pemberontakan?) separatis rakyat di tanah Borneo. Orang-orang Kalimantan terlalu baik hati, sehingga wacana mengenai merdeka atau mendirikan negara sendiri selalu dianggap sebagai mimpi yang mengada-ada.

Tetapi, seperti juga konflik perebutan wilayah meledak di banyak tempat di muka bumi, problem ekonomi memang mujarab memicu kegelisahan politik. Ekonomi pula yang selalu melecut pertikaian antarbangsa dalam sejarah kelam perang manusia. Motif-motif kekayaan, perebutan sumberdaya alam, adalah juga latar belakang sekian banyak perang modern hari ini; Afghanistan dan Irak yang dijajah Amerika, atau Palestina yang diobrak-abrik Israel.

Berbeda dengan Timtim yang perjuangan kemerdekaannya lebih karena buaian romantisme romantisisme sejarah, di mana pengalaman Lorosae bersama Republik Indonesia memang pasang-surut, Aceh dan Papua adalah contoh dalam negeri yang meledak tersebab ketimpangan ekonomi. Buahnya adalah status otonomi khusus. Tak jadi merdeka, tapi kewenangan sekaligus jatah uang diperbesar.

Selesaikah persoalan? Tidak juga. Bibit separatisisme kemudian bergeser dari masalah ketimpangan ekonomi ke soal-soal politik yang rumit. Survei LSI di Aceh pascadamai RI-GAM, hanya 56 persen warga Tanah Rencong yang bangga menjadi bagian dari Indonesia. Selebihnya tidak. Menurut LSI, warga Aceh yang mengidentifikasi diri sebagai Indonesia bahkan hanya 45,6 persen. Sisanya lebih senang tampil dengan identitas Aceh atau agama.

Dalam beberapa kesempatan ke luar negeri saya sering mengaku sebagai orang Kalimantan. Setelah ditanya di manakah gerangan Kalimantan itu, barulah saya jawab Indonesia. Bukan karena saya tidak bangga jadi orang Indonesia. Tapi karena (barangkali) saya “lebih bangga” jadi orang Kalimantan.

Rasa bangga (atau tidak bangga) menjadi penduduk suatu negeri memang tidak selalu berhubungan dengan kadar nasionalisme seseorang, karena nasionalisme tak bisa diukur dari sekadar ungkapan. Cinta Tanah Air adalah sesuatu yang realistik, bukan cita-cita atau janji. Nasionalisme diukur dari perbuatan – apa faedah hidupmu untuk bangsamu.

Tengoklah penjahat-penjahat negara yang berkedok suci itu. Mereka dalam keseharian tampil bersahaja, menjunjung tinggi simbol-simbol negara, bicara tentang kebangkitan nasional dan kesejahteraan masyarakat, mengurai visi masa depan bangsa yang lebih baik. Tapi di balik topeng kebaikan itu mereka korupsi, menjarah kekayaan negeri untuk urusan perut sendiri. Nasionalisme mereka tipu-tipu, sungguh, tipu-tipu! Merekalah, orang-orang sok nasionalis itu, yang sesungguhnya merusak dan menggerogoti kewibawaan republik ini. Membuat orang Indonesia malu menjadi Indonesia.

Apakah yang pantas dibanggakan dari negeri yang ranking korupsinya masih di tiga besar dunia? Para pemimpinnya sibuk berkelahi? Hukumnya mudah dibeli? Wakil rakyatnya lebih banyak jalan-jalan daripada bekerja? Korupsi telah menjadi budaya, dimaklumi karena biasa, tak bisa diberantas karena yang mau memberantas terlibat juga!

Tentu ada motif sejarah kalau sampai hari ini, sebagian warga Aceh tidak bangga menjadi Indonesia – seperti halnya sebagian orang di Maluku atau Papua. Tetapi cobalah bertanya kepada penduduk Indonesia di sudut yang lain. Di Kalimantan, misalnya. Masihkah mereka bangga – dengan sebenar-benarnya bangga?

***

Tetapi, merdeka pun bukanlah jalan keluar. Banyak yang lebih penting dari sekadar menjadi Negara Republik Kalimantan, misalnya. Apalagi secara ekonomi, dunia hari ini telah melepas sekat-sekat antarbangsa. Kedaulatan negara secara politik tidak selalu berarti kedaulatan negara secara ekonomi. Misalnya, Indonesia bisa bangga punya (atau seolah-olah punya) perusahaan telekomunikasi yang hebat-hebat. Padahal saham perusahaan telekomunikasi itu milik orang Singapura.

Hidup nyaman masih jauh lebih penting tinimbang apapun juga. Orang ingin tidur nyenyak di malam hari, bangun segar pada pagi hari, bebas melewati siang dengan aktivitas memakmurkan bumi, membangun keluarga sehat dan berinteraksi dengan masyarakat yang ramah. Dalam situasi seperti itu politik wilayah sungguh akan menjadi nomor seratus sekian.

Lagi pula, lucu juga sebenarnya. Di saat gerakan separatis bermunculan di negeri ini karena problem ekonomi yang parah, negara-negara di belahan bumi lain malah berhimpun menjadi “kelompok negara”, bersatu demi sebuah kekuatan uni-state yang dahsyat. Menyatukan mata uang dan bahasa. Melepas batas-batas negara dan menghilangkan sekat-sekat. Mungkin karena negara-negara itu sudah sama-sama makmurnya.

Indonesia masih harus disibukkan dengan isu-isu separatisisme karena belum makmur. Jakarta terlalu maju sementara di pelosok Papua dan Kalimantan masih ada rakyat yang hidup dalam keseharian nyaris primitif. Otonomi yang hampir sepuluh tahun ini pun masih dalam proses yang entah kapan stabilnya. Orang daerah menyalahkan pusat karena pembagian keuangan dianggap belum memadai. Sebaliknya orang pusat menuding daerah terlalu kemaruk duit, sehingga, meski digerojok anggaran triliunan rupiah, hasilnya belum kelihatan kecuali satu hal; pejabat-pejabat di daerah bergiliran masuk penjara KPK.

Maka, kalau orang Borneo sampai hari ini enggan mengibar bendera sebagai penanda ingin merdeka, itu belum tentu karena kurang nyalinya. Tetapi lebih karena ada kekhawatiran besar; jangan-jangan, memerdekakan diri itu hanya untuk membuat lebih banyak lagi pejabat lokal korupsi. Lha dikasih otonomi dengan jatah duit sedikit lebih gede saja sudah pada mabuk harta. Apalagi menjadi pengelola negara.

***

Alkisah, seorang Aceh dari kabupaten Bieruen menulis surat kepada anaknya, yang sedang mendekam di penjara Nusa Kambangan karena dituduh terlibat GAM. Isi surat itu: “Nak, bapakmu ini sudah tua, sekarang sedang musim tanam jagung dan kamu ditahan di penjara pula. Siapa yang mau bantu bapak mencangkul kebun jagung ini?”

Si anak membalas surat itu beberapa pekan kemudian. “Demi Allah, jangan cangkul itu kebun, saya tanam senjata di sana.”

Ternyata surat itu disensor pihak rumah tahanan. Keesokan harinya, setelah si bapak menerima surat balasan, datang satu peleton tentara dari Banda Aceh. Tanpa banyak bicara para tentara itu segera ke kebun jagung dan sibuk seharian mencangkuli tanah di kebun tersebut. Setelah mereka pergi, kembali si bapak menulis surat ke anaknya.

“Nak, bapak sudah terima surat balasanmu. Tapi tiba-tiba datang satu peleton tentara mencari senjata di kebun jagung kita. Tak ada ditemukan satu pun senjata itu. Apa yang harus bapak lakukan sekarang?”

Si anak kembali membalas; “Sekarang bapak mulai tanam jagung saja, kan kebunnya sudah dicangkul sama tentara. Jangan lupa ngucapin terima kasih sama mereka.” ***

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

27 tanggapan untuk “Nasionalis Penipu

  • 16 Juli 2007 pada 00:47
    Permalink

    Ha … ha … provokatif analitik. Ini esai serius bos, mencerahkan, jujur, dan sedikit mengancam. Yang paling smart, ya itu, Jerman bersatu, Vietan bersatu … Uni Eropa. Biasalah, kuala pikir kita memang selalu ketinggaln.

    Oh ya, pernah juga lho, di Kalimantan barat, Gerakan PARAKU. Tapi itu tidak penting, message tulisannya itu yang penting. Kita belum bisa tidur nyenyak dengan pikiran tenang ketika bangun. Lauar biasa.

    Selamat menulis buku.

    Balas
  • 17 Juli 2007 pada 04:45
    Permalink

    kalo kalimantan pisah ma indo entar saya kerepotan dunk bos bolak balik kalimantan-jawa kudu ngurus paspor ma visa dulu yahh..oh tidakkkk..

    btw, tu cerita paling bawah lucuuu jg hahahha..

    Balas
  • 19 Juli 2007 pada 14:32
    Permalink

    Wah mulai bangkit nich kedaerahan bos Erwin, .ngomong-ngomong dasar bujur jua terlalu besar ketimpangangan antara Jawa dan Kalimantan, tapi kalau dana yang dikucurkan ke Kalimantan lebih besar, kawa jua kah kita-kita mengelolanya, jangan-jangan kena tenaganya di import dari luar Kalimantan lagi ha…ha…

    hahaha… kalo nanti merdeka, situ kuusung jadi perdana menteri pertama :p

    Balas
  • 21 Juli 2007 pada 10:12
    Permalink

    repot bung, bisa-bisa rencana kelotok wisata di sungai arut, kalteng yang rencananya dijalankan pamanku -orang kalteng- untuk tambahan ekonomi bakal terganjal.

    aku jawa, istri banjar, adalah fakta bahwa anak-anakku : orang indonesia tulen…. yang di dalam jiwa raganya mengalirkan aliran sungai kalimantan di atas kerasnya pegunungan kapur jawa.

    orang jawa bukan orang jahat, yang jahat itu adalah ‘siluman monyet-monyet jawa’ yang berwajah manusia.

    tapi bukankah hal seperti itu ada di mana-mana, kalau kita percaya bahwa there is a good and bad in everyone.

    Balas
  • 23 Juli 2007 pada 12:35
    Permalink

    Sebenarnya kalo Kalimantan merdeka pasti jadi lebih sejahtera. Tapi saya repot kalau pulang kampung ke Jawa harus pakai paspor ha3x.

    Balas
  • 23 Juli 2007 pada 23:05
    Permalink

    Makasih komentarnya di blog saya.
    Ni tulisan senada antara tulsian ini dengan tulisan saya tentang Diskriminasi dalam pendidikan. Nah Kalimantan juga banyak dikecewakan memang. tapi sayang – kata seorang kawan, masa yangmuncul dari Kalteng itu itu saja. Apa nggak ada yang lain. Nah!
    Yang lain ke mana. Seperti Tulisan EWA, awalnya di Banjar juga susah cari penulis. Sekarang sudah banyak. Di Pangkalan Bun sekarang ada surat kabar, juga redaksinya kesulitan cari penulis. Kemana orang-orang ini.
    Ternyata orang-orang di sebagian Kalimantan bukannya tidak ada, tapi masih tidur di bawah timbunan kayu hutan, dibawah timbunan emas, di bawah timbunan zirkon. Apalagi yang mau jadi petani saat ini bingung. Modal untuk membuka lahan tidak ada, mau bakar lahar dilarang. Kitaa memang produsen asap. Tapi terpikirkah oleh mereka bahwa modal kita dulu dibawa ke Belanda. Banyak sekali dan kita baru sekejab membina nak bangsa. Celakanya sebgian anak bangsa seperti kata Windede ini, korupsi. Sudah terjajah begitu lama, dikorupsi lagi. Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Memprihatinkan nian nasib anak-anak Indonesia ini. Susu anaknya dihisap oleh bapaknya. Tinggal bau rokoknya.

    Balas
  • 24 Juli 2007 pada 02:32
    Permalink

    Hehehe… Kalimantan mau merdeka ya…?

    Btw, cerita tahanan orang Acehnya asli? Mirip cerita Abu Nawas… 😀

    hmm… begitu banyak cerita begini beredar, sehingga sudah semakin anonim sumbernya hehehe… saya sendiri dapat di internet juga kok :p —- windede

    Balas
  • 2 September 2007 pada 18:03
    Permalink

    Ketimpangan dalam dunia yg fana ini wajar, manusiawi , ketidak adilan “”” manusia adalah sutradara yg jempolan “” Batas hitam putih , benar salah merupakan hal yg relatif akhlak/ilmu/hati kecil kita yang mengambil keputusan

    ahh tinggal bagaimana kita berjalan ,, mau ikut edan edanan atau kita ikuti kata hati kecil dengan jujur,,, setiap orang ,, penjahat , pemimpin , koruptor , pelacur,, atau apa saja setiap akan berbuat buruk, atau mencheng hati kecilnya akan menolak keputusan hati kecilnya didasari akhlak. ilmu, pendidikan, pengalaman hidup ,,, tinggal nalar dan logika dan kondisi yang mengambil keputusan tuh hati kecil di turuti atau tidak.

    menyikapi ketidak adilan , ketimpangan, yg notabene terjadi di Kalimantan tercinta , pendapat macem macem yang kontra produktif ilangi aja dari hati kita ,, membuat ahti kita ,kotor teracuni, terprovokasi, berfikirlah yang bersih ,, dan ngaca apa kita sudah bener, apa kita bersih , kita nih manusia yang tak lepas dari salah.

    santai sajalah, berlakulah , yang benar, adil , bukan adil dari tolok ukur aturan, norma yang bisa dipelintir outputnys sesuai dengan keinginan kita tapi jujur dari hati kecil kita, yang didasari, dibasahi oleh ajaran Agama .

    Kuncinya bimbinglah orang orang yang kamu pimpin ,, anak , istri ,, kalo lo jadi suami,,,, diatambah bawahan kalo lo jadi pemimpin,,,, ke arah yang benar (relatif) ajarkan mereka untuk belakusesuai dengan kata hati kecil,, nggak muna/ munafik .

    Kata ” salam persatuan orang Sakit hati ” ,, siapapun yang menulis di hati kecilnya pasti berkata ,, sakit hati tidak perlu dipelihara hanya mengotori hati kita, iklaskan saja

    Ramadhan sudah dekat Allah , hanya akan ada di hati orang yang bersih

    Ubahlah , Bangunlah Kalimantan dari lingkungan yg terkecil , dari diri kamu sendiri ,, keluarga ,, tetangga,, lingkungan kerja ,, kalau gak bisa jangan sakit hati cukup di lingkungan diri sendiri dan keluraga udah cukup

    Balas
  • 12 September 2007 pada 10:32
    Permalink

    Bung Erwin… wah, kayaknya ide kalimantan merdeka tuh bukan sebuah ide yang ‘saleable’.. aneh juga sih, padahal dari sekian banyak daerah, kalimantan (bagiannya Indonesia) yang paling hancur-hancuran dieksploitasi dan paling lambat merasakan pembangunan.. Kira-kira kenapa ya, ide kalimantan merdeka kok ngak pernah menjadi ide yang mampu mengemuka?

    Balas
  • 14 September 2007 pada 02:22
    Permalink

    hahhhaa,…………………kalau kalimantan mereka rakyat makamur ya ,tambang nya banyak ,

    kalimantan merdeka yesssssssssss……

    indonesia hanya negri yang penuh bualan bleka ,alis tukang bohong …

    apa nya yang untung ikut indonesia ….. yang di bangun hanya pulau jawa doang

    konsep indonesia dulu dan sekarang beda ,dulu benar indonesia …..

    sekarang indonesia , harus jawa ,non jawa budak aja ya hhhhhh

    ngak boleh jadi pejabat pusat …toh di jawa banyak orang nya …dan mo sekolah harus kejawa ya ,kalau ngak kejawa ngak sah….

    KALIMANTAN HARUS MERDEKA BIAR BISA NINGKATKAN MUTU RAKYAT KALIMANTAN

    “BUKAN HARTA KALIMANTAN YANG UNTUK PEMBIAYAI ORANG JAWA ,HARUS ORANBG KALIMANTAN “

    Balas
  • 15 September 2007 pada 16:16
    Permalink

    Kita orang Kalimantan tak pernah mengharap apa-apa dari orang lain. Yang kita tahu hanya berusaha mencari uang untuk hidup. Setiap hari badan dikucuri keringat. Luntang- lantung mencari uang walaupun sampai ke negara tetangga. Didera,diperlakukan tidak senonoh, diusir pun tak jarang menimpa diri hingga banyak mengundang iba warga negara tetangga untuk menolong saudaranya sendiri yang perlakukan miring oleh saudaranya sendiri.”Mereka itu adalah saudara kita sendiri yang sama suku bangsa, tanah yang kita pijak pun sama, kita hanya dibedakan oleh negara”. Itu yang tersirat dibenak mereka ungkapkan.Semoga saja begitu….

    Sudah lama kita berada dalam kesengsaraan yang membelenggu jiwa dan raga sejak Indonesia merdeka. Orang Kalimantan hanya dimamfaatkan oleh orang- orang yang lebih pintar. Tanpa disadari kekayaan yang ada di dalam tanah Borneo diangkut ke pusat. Kebodohan hanya menjadi orang Kalimantan leka. Karena itu yang mereka mau.

    Kini impian kita untuk mencapai cita- cita tidak sia- sia. Berkat cucuran keringat dan deraian air mata bunda.Pengalaman buruk yang dialami punah layaknya mimpi buruk di siang hari. Berjuta orang kalimantan kini tegak berdiri membawa laungan ingin maju jaya seperti negara tetangga.

    Ya Allah rupanya masih banyak keinginan keinginan mereka untuk Merdeka bebas dari belenggu kesengsaraan.Rupanyaa aku tidak sendirian. Terus laungkanlah kemerdekaan mu untuk Kalimantan/Borneomu walaupun dengan ungkapan hatimu.
    Terus maju jaya Kalimantan/ Borneo………

    Balas
  • 18 Oktober 2008 pada 00:59
    Permalink

    menarik sekali tulisannya….. tapi klo di pikir, sayang klo semua minta merdeka sendiri – sendiri karena kesalahan sebagian orang, nanti gak ada lagi Republik Indonesia… klo menurut saya sih…. benerin mulai dari diri kita sendiri, koreksi diri, emang…. gampangan liat kesalahan orang lain sih…(halaaah… banyakan ngomong nih!!). Pokok nya Indonesia mesti Bersatu kita buang “sampah sampah” yang bikin kotor nama Indonesia!!!! bukan nya merdeka sendiri-sendiri… iya gak?!!

    Balas
  • 1 November 2008 pada 21:23
    Permalink

    Mungkin ide Kalimantan Merdeka harus di siarkan lebih luas. agar pusat dapat melihat gejolak ketidak adilan terhadap orang kalimantan (sebenarnya bukan hany aorang kalimantan haja). Harus diakui bahwa skill dan knowledge dari jawa lebih baik dan lebih banyak tapi hal itu bukan alasan bahwa orang jawa (pusat) merasa berhak untuk mengekploitasi (baca: mengeruk) kekayaan dari pulau jawa.
    Setiap dari usaha ekploitasi kekayaan tidak diimbangi dengan pembagian yang adil terhadap pusat,daerah dan masyarakat setra alam sekitarnya. Untuk urusan ini kepada LSM-LSM daerah dapat memantaunya, jangan malah ikut2an

    Balas
  • 23 November 2008 pada 14:55
    Permalink

    Asalamualaikum.. Saya setuju, seharusnya kalimantan merdeka saja!! Allah hu akbar!! Kalimantan sudah terlalu banyak yg dijual, merdeka atau mati? Separatis, adalah sebutan dari penjajah untuk jajahannya yg suka memberontak…

    Balas
  • 2 Desember 2008 pada 10:17
    Permalink

    nasionalis…sungguh kata yang simple untuk diucap. tapi mustahil untuk diimplementasikan dan direalisasikan. aku pernah mendengar dari salah satu partai pengusung asas nasionalis yang di ucapkan di dialog di salah satu stasiun TV (metro TV). salah satu anggota dari partai itu mengatakan presiden harus orang jawa.  apanya yang nasionalis. apakah indonesia ini hanya milik orang jawa saja. apa fungsi demokrasi yang di banggakan diindonesia, apa arti nasionalis yang menjadi paham partai mereka, kalau saja presiden yang disyaratkan saja harus orang jawa. terus kita orang yang diluar jawa ini dianggap apa? apa demokrasi hanya milik orang jawa saja. apa setiap menyangkut kekuasaan di NKRI itu harus orang jawa saja. tidak heran kalau papua, maluku, aceh (GAM) ingin merdeka dan melepaskan diri dari NKRI……!!!!!!

    Balas
  • 2 Desember 2008 pada 10:27
    Permalink

    aku sarankan diindonesia presidennya orang Amerika saja… biar jelas dan tampak yang memimpin INDONESIA adalah orang amerika. dari pada yang tampak dari pandangan kita adalah orang indonesia namun pemikiran dan hatinya kapitalis dan imperialis yang berbentuk Abstrak. Nasionalis……!!!!!!, sungguh mustahil di terapkan bila pemikiran pemimpinnya kapitalis dan imperialis.

    Balas
  • 1 Januari 2009 pada 14:39
    Permalink

    Salam kenal semua bubuhan Borneo dimana saja berada…
    dihimbau, dan disarankan baca dulu buku2 TAN MALAKA, tentang perjuangan bisa di search dulu di google,kata kunci MADILOG nanti banyak karya2 bagus perjuangan disana,,
    semoga bermanfaat,..

    kalau sudah satu visi, kita rapatkan barisan,.
    Pemuda2 Borneo segera bersatu,..
    yg mancongkong dan sudah alumni UI, IPB, UGM sudah banyak nah, nang sudah kaluar negeri juga sudah banyak.

    Balas
  • 2 Maret 2009 pada 10:35
    Permalink

    sejutu boss ..saatnya orang2 borneo berpikiran bahwa boneo belum lepas dari belenggu penjajahan pusat….ntar orang luar kalimantan yang nyari duit di borneo harus ke pajakyang besar hahah buat pembangunan di borneo..jangan bangun2 jembatan, jalan layang dll di jakarta atau di jawa aja yang di pakai duit dari borneo salah satunya keenakan bener

    Balas
  • 3 Mei 2009 pada 09:15
    Permalink

    Salam Merdeka Borneo!!.aku setuju ikut gabung demi tegaknya Negara Borneo Kalimantan.jangan tunggu apa lagi.mari kita perjuangkan hak milik orang Banua.haram manyarah waja sampai kaputing.jangan takut pda orang jawa.kalau bisa detik ini kita saatnya di mulai..hidup Kalimantan Borneo!!

    Balas
  • 18 Juni 2009 pada 14:56
    Permalink

    Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.  Kalo borneo ‘merdeka’ , ini sebuah tanda kematian dari persatuan umat. Persis seperti perpecahan negeri-negeri di bawah kekhilafahan Ottoman di Istanbul, Turki, 1924 silam. Ya Allah persatukan kami dalam kekuatan akidah, dalam naungan pemerintahan yang ramah & barakah. Amin ya rabbal’alamin.

    Balas
  • 16 Januari 2010 pada 16:03
    Permalink

    akhirnya…banyak juga yang seide dengan saya…semoga kita bisa rapatkan barisan perjuangan untuk kemerdekaan Borneo dalam wadah yang tersusun rapi dan modern.
    buat mbak mia saya mengerti jalur pikiran anda dari Hizbut Tahrir Indonesia…tapi jangan lupa mba bahwa rakyat yang kesusahan dan miskin serta kelaparan butuh makan hari ini bukan esok atau menunggu khilafah berdiri. banyak yang tidak bisa kuliah berbeda dengan kebanyakan anggota HTI yang ada di tanah Borneo yang bisa kuliah bahkan berikhtilath di kampus tidak beraniu keluar dari kampusnya padahal bagian dari syariat juga. justru pemikiran2 HTI banyak di dapat dari dalam kampus. saya juga mengamati kebanyakan syabab HTI di borneo termasuk juga muslimahnya banyak yang menjadi PNS pemerintah RI, apakah mba bisa merasakan bagaimana pahitnya ketika kita kelaparan tapi pekerjaan susah di dapat, ketika mau kuliah biaya mahal, ketika bekerja aturan yang ada hanya berpihak pada yang kaya, apakah mereka yang berada dalam lingkungan PNS bisa merasakan susahnya mencari uang.
    jika anda ingin kesejahteraan maka anda juga perlua aksi nyata membantu kemiskinan rakyat saat ini jangan hanya peduli denga n perkuliahan pribadi dan pekerjaan pribadi..aksi nyatamu mba…tolong mereka yang tidak bisa kuliah, tolong mereka yang tidak mendapatkan pekerjaan layak, tolong mereka yg kelaparan…kalau menunggu khilafah mba…mba sendiri ga akan tahu kapan berdirinya…sementara mba ga pernah kesulitan uang, kesulitan pendidikan anak, kesulitan biaya kuliah …
     
    Borneo Merdeka!!!
     

    Balas
  • 16 Januari 2010 pada 16:07
    Permalink

    ide mba Mia hanya melihat dari 1 sisi yakni persatuan di bawah khilafah. yang dengan khilafah maka kesejahteraan akan terwujud.akan tetapi mba Mia lupa akar keinginan untuk merdeka adalah kesejahteraan yang ingin diraih saat ini bukan suatu saat nanti. orang2 sekarang perlu penyelesaian segera bukan nanti tapi saat ini. mana aksi nyata anda mba mia….jangan cuma teriak2 khilafah aja tapi adem ayem di rumah dengan makanan yang cukup dan pekerjaan yang layak…lihatlah penderitaan orang lain…

    Balas
  • 4 Februari 2010 pada 14:29
    Permalink

    Listrik di kalimantan sering mati …
    Cari kerja susah …
    hukum tidak adil dan hanya berpihak kepada orang2 kaya dan penguasa …
    mau jadi PNS, Polisi dan tentara mesti menyogok dan nepotisme …
    harga serba mahal sering naik …
    mau jualan cari modal susah …
    mau dagang dikejar Pol PP …
    semua teman-teman aq jadi PNS lewat cara sogok dan nepotisme …
    inilah Indonesia … inilah nasib Borneo selama di bawah Jawa …
    hanya satu cara bagi yang tertindas … Lawan dan Merdeka … NKRI Bukan harga Mati tapi Harga Mati bagi Tentara Jawa

    Balas
  • 27 Juni 2011 pada 09:37
    Permalink

    MERDEKA ITU TIDAK MUDAH SAUDARAKAU,PERTUMPAHAN DARAH SUDAH PASTI,SEMUA PADA HANCUR LEBUR SI A,B,C DAN SETERUSNYA,BAIK KITA GALANG RAKYAT BERSATU HANCURKAN PARA PEMIMPIN YANG DZOLIM,HAKIM YANG NAKAL,WAKIL RANYAT YANG KORUP…………

    Balas
  • 19 September 2011 pada 14:23
    Permalink

    Minta merdeka kan tidak mesti berdarah jika orang Jawa itu bijak. dngan diplomasi akan leih baik sebenarnya, namun jika Jawa nya garang dan ngotot mau perang dan membunuh, ya terpaksa kita ladeni.
    ita bisa minta kemerdekaan dengan cara baik-baik. Lakukan dialog dan bentuk dulu pemeirntahan bayangan di Kalimantan sebagai dasar pemerintahan baru lakukan diplomasi jika ditolak, kita minta kepada PBB dengan alasan-alasan yang akurat dan tepat, ajukan proposal ke badan PBB dan negara-negara NATO untuk mendukung kemerdekaan Borneo lepas dari RI. Jika pemerintahan Jawa tidak setuju dan ngotot perang, ladeni saja sampai titik darah penghabisan, sebab ketika mereka melawan Borneo, diwaktu yang sama pun papua minta merdeka, Aceh kembali begolak, Ambon juga sama, jadi rugi rasanya jika wilayah bagian dari Indonesia tidak memisahkan diri sebab jika masih ingin dijajah Jawa ya silahkan teruskan pemerintahan Indonesia dengan manajemen negarany yang buruk.
    Negara atau pemeirntahan kalau dipegang Jawa tidak bagus, buruk dan sarat korupsi. Ngomong tidak tegas dan sebagainya.
    Anda sekalian bisa mengatakan kemerdekaan Borneo saat ini adalah mimpi, namun jika kenyataannya justeru sebaliknya bahwa Kalimantan merdeka didukung semua negara???????bagaimana??????
    Sumber devisa kami di Borneo melimpah, ada uranium bahan bom atom, ada batubara, batu granit, minyak bumi, nikel, bauksit dan banyak lagi yang lainnya.
    Apakah semua itu kita serahkan ke Jawa? yang mengelolanya orang jawa juga??? dan yang kaya akibat hal itu adalah Jawa juga????????
    MAu kah kalian orang Borneo putih mata melihat orang Jawa dengan kendaraan mewah lalu lalang di depan mata kita? maukah kita melihat orang jawa mempunyai rumah mewa dari hasil bumi Kalimantan ini? rela kah kita??????????
    Saya pribadi tidak rela.

    Balas
  • 18 Mei 2013 pada 09:35
    Permalink

    ui dangsanak aku lawas sudah mamikirakan dimapa caranya biar kalimantan naini mardika, mun kita sapakat aku jangan kada tabuat gasan batampur lawan bubuhan jawa nang banci nintu, mulai sastra sajarah banjar kita di karamputinya umpat jua bubuhan kita nang bungul ti ma inggihakan jua, padahal ulahan jawa, dimana jar banjar suah di jajah majapahit hah bilang kadada sahama-hama jawa ti wani bakalahi, di candi agung ampu jatmika matan keling di padahakan pulang matan jawa, hikayat urang banua bilang kada suah manyambat majapahit napa pulang di hikayat banjar tulisan si jj. ras walanda nintu manulis ada pangaruh majapahit.

    mun tanah saraba tambang, minyak wan nang lalainnya kita ni sudahnya pang di rampuk bubuhannya napa pulang kita handak ranai haja, pamburisit banarkah kitani sudah, dimana kawanian kita urang banjar nang bahari padatuan kita nang pawanian haram manyarah waja sampai kaputing, dalasan wani babantal tumbang pada hidup di parbudak.

    matan bahari sakulah nang harat2 di ulah di jawa supaya buhannya pintar harapan kaina jadi pamimpin, di wadah kita kada di ulah sakulahan nang harat supaya kada kawa basaing lawan buhannya tahulah pian.

    urang jawa ti kadapang harat mun bakalahi banyak pamburisitnya tagal bapulitik (culas) nang harat.

    sadarlah bubuhan kalimantan kita ini sabarataan bahari sama pada dayak lagi balum ba islam tagal di ulah sajarah balain alih urang jawa supaya kita kada basatu.

    mun kaina mardika handak kurupsikah mahai, urap kita jua nang kanyang daripada buhan urang jawa. tapi mun kawa kita makmur jauh pada kurupsi.

    apalagi kalimantan basatu sabarataan tamasuk jua sabah, sarawak wan brunai tambah lapang pikiran kita.

    urang jawa bahari pambantu walanda cuba pian balajar sajarah tapi jangan sajarah ulahan pusat, jawa ti bari jadi KNIL tantara walanda.

    jaman parjuangan sadang haja kita, aceh wan daerah lain mambantu jawa supaya mardika tapi mun sudah sanang inya kalumpanan wan urang nang manulung, mun binatang di haragu di barimakani inya jinak tapi mun jawa inya ma igut kapala ba unggut ikung mahambat damintu pang jawa liat inya ma andak karis di balakang kalu itu artinya mahadang kita khilaf haja apa manyuduk.

    kalimantan mardika… mardika…mardika

    Balas
  • 18 Mei 2013 pada 09:53
    Permalink

    ulun buyut aruah datu antung hasan veteran wan buyut aruah hulubalang datu umar jaman parjuangan, kada rila parjuangan padatuan ulun sia2, mun wahini buhannya minta ganii bajuang malawan jawa ulun jangan kada tabuat, pusaka paninggalan aruah datu ulun masih ada macam camati tumbak karajaan, parang ganal, karis balati wan baju ba rajah, amalan sidin gin ulun salin …

    jawa taliburut walanda bahari makanya jadi KNIL…..

    urang kalimantan labihnya banjar jangan mambari supan….

    mardika kalimantan…mardika kalimantan…mardika kalimantan

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *