Cetak Artikel Ini
Nasionalis Penipu
Ditulis 15/07/07, Kategori Esai.WACANA Kalimantan Merdeka kembali mengemuka. Meski geliatnya tak sedahsyat isu separatisme separatisisme di Maluku atau Papua, kegelisahan orang-orang Borneo boleh dibilang terus menggelinding bersama macam-macam pengalaman pahit tentang, misalnya, porsi pembagian keuangan yang tak kunjung adil – paling kurang bagi daerah dengan sumber kekayaan lebih dari memadai seperti Kaltim.
Pernyataan-pernyataan bernada ancaman terselip di antara pidato sejumlah pejabat daerah. Ada yang terang-terangan, lebih banyak lagi yang malu-malu. “Nanti, kalau kita minta merdeka, baru kelabakan tuh orang pusat,” begitu salah satu pernyataan pejabat itu, ketika berkomentar soal ancaman dihapusnya DAU. Pendapat saling-silang. Pro dan kontra mengemuka. Timbul-tenggelam bersama ragam perdebatan lain yang tak kalah serunya.
Sejauh ini, kecuali sebagian wilayah utara yang jatuh ke tangan Malaysia, sejarah memang tak mencatat pengalaman perjuangan (atau pemberontakan?) separatis rakyat di tanah Borneo. Orang-orang Kalimantan terlalu baik hati, sehingga wacana mengenai merdeka atau mendirikan negara sendiri selalu dianggap sebagai mimpi yang mengada-ada.
Tetapi, seperti juga konflik perebutan wilayah meledak di banyak tempat di muka bumi, problem ekonomi memang mujarab memicu kegelisahan politik. Ekonomi pula yang selalu melecut pertikaian antarbangsa dalam sejarah kelam perang manusia. Motif-motif kekayaan, perebutan sumberdaya alam, adalah juga latar belakang sekian banyak perang modern hari ini; Afghanistan dan Irak yang dijajah Amerika, atau Palestina yang diobrak-abrik Israel.
Berbeda dengan Timtim yang perjuangan kemerdekaannya lebih karena buaian romantisme romantisisme sejarah, di mana pengalaman Lorosae bersama Republik Indonesia memang pasang-surut, Aceh dan Papua adalah contoh dalam negeri yang meledak tersebab ketimpangan ekonomi. Buahnya adalah status otonomi khusus. Tak jadi merdeka, tapi kewenangan sekaligus jatah uang diperbesar.
Selesaikah persoalan? Tidak juga. Bibit separatisisme kemudian bergeser dari masalah ketimpangan ekonomi ke soal-soal politik yang rumit. Survei LSI di Aceh pascadamai RI-GAM, hanya 56 persen warga Tanah Rencong yang bangga menjadi bagian dari Indonesia. Selebihnya tidak. Menurut LSI, warga Aceh yang mengidentifikasi diri sebagai Indonesia bahkan hanya 45,6 persen. Sisanya lebih senang tampil dengan identitas Aceh atau agama.
Dalam beberapa kesempatan ke luar negeri saya sering mengaku sebagai orang Kalimantan. Setelah ditanya di manakah gerangan Kalimantan itu, barulah saya jawab Indonesia. Bukan karena saya tidak bangga jadi orang Indonesia. Tapi karena (barangkali) saya “lebih bangga” jadi orang Kalimantan.
Rasa bangga (atau tidak bangga) menjadi penduduk suatu negeri memang tidak selalu berhubungan dengan kadar nasionalisme seseorang, karena nasionalisme tak bisa diukur dari sekadar ungkapan. Cinta Tanah Air adalah sesuatu yang realistik, bukan cita-cita atau janji. Nasionalisme diukur dari perbuatan – apa faedah hidupmu untuk bangsamu.
Tengoklah penjahat-penjahat negara yang berkedok suci itu. Mereka dalam keseharian tampil bersahaja, menjunjung tinggi simbol-simbol negara, bicara tentang kebangkitan nasional dan kesejahteraan masyarakat, mengurai visi masa depan bangsa yang lebih baik. Tapi di balik topeng kebaikan itu mereka korupsi, menjarah kekayaan negeri untuk urusan perut sendiri. Nasionalisme mereka tipu-tipu, sungguh, tipu-tipu! Merekalah, orang-orang sok nasionalis itu, yang sesungguhnya merusak dan menggerogoti kewibawaan republik ini. Membuat orang Indonesia malu menjadi Indonesia.
Apakah yang pantas dibanggakan dari negeri yang ranking korupsinya masih di tiga besar dunia? Para pemimpinnya sibuk berkelahi? Hukumnya mudah dibeli? Wakil rakyatnya lebih banyak jalan-jalan daripada bekerja? Korupsi telah menjadi budaya, dimaklumi karena biasa, tak bisa diberantas karena yang mau memberantas terlibat juga!
Tentu ada motif sejarah kalau sampai hari ini, sebagian warga Aceh tidak bangga menjadi Indonesia – seperti halnya sebagian orang di Maluku atau Papua. Tetapi cobalah bertanya kepada penduduk Indonesia di sudut yang lain. Di Kalimantan, misalnya. Masihkah mereka bangga – dengan sebenar-benarnya bangga?
***
Tetapi, merdeka pun bukanlah jalan keluar. Banyak yang lebih penting dari sekadar menjadi Negara Republik Kalimantan, misalnya. Apalagi secara ekonomi, dunia hari ini telah melepas sekat-sekat antarbangsa. Kedaulatan negara secara politik tidak selalu berarti kedaulatan negara secara ekonomi. Misalnya, Indonesia bisa bangga punya (atau seolah-olah punya) perusahaan telekomunikasi yang hebat-hebat. Padahal saham perusahaan telekomunikasi itu milik orang Singapura.
Hidup nyaman masih jauh lebih penting tinimbang apapun juga. Orang ingin tidur nyenyak di malam hari, bangun segar pada pagi hari, bebas melewati siang dengan aktivitas memakmurkan bumi, membangun keluarga sehat dan berinteraksi dengan masyarakat yang ramah. Dalam situasi seperti itu politik wilayah sungguh akan menjadi nomor seratus sekian.
Lagi pula, lucu juga sebenarnya. Di saat gerakan separatis bermunculan di negeri ini karena problem ekonomi yang parah, negara-negara di belahan bumi lain malah berhimpun menjadi “kelompok negara”, bersatu demi sebuah kekuatan uni-state yang dahsyat. Menyatukan mata uang dan bahasa. Melepas batas-batas negara dan menghilangkan sekat-sekat. Mungkin karena negara-negara itu sudah sama-sama makmurnya.
Indonesia masih harus disibukkan dengan isu-isu separatisisme karena belum makmur. Jakarta terlalu maju sementara di pelosok Papua dan Kalimantan masih ada rakyat yang hidup dalam keseharian nyaris primitif. Otonomi yang hampir sepuluh tahun ini pun masih dalam proses yang entah kapan stabilnya. Orang daerah menyalahkan pusat karena pembagian keuangan dianggap belum memadai. Sebaliknya orang pusat menuding daerah terlalu kemaruk duit, sehingga, meski digerojok anggaran triliunan rupiah, hasilnya belum kelihatan kecuali satu hal; pejabat-pejabat di daerah bergiliran masuk penjara KPK.
Maka, kalau orang Borneo sampai hari ini enggan mengibar bendera sebagai penanda ingin merdeka, itu belum tentu karena kurang nyalinya. Tetapi lebih karena ada kekhawatiran besar; jangan-jangan, memerdekakan diri itu hanya untuk membuat lebih banyak lagi pejabat lokal korupsi. Lha dikasih otonomi dengan jatah duit sedikit lebih gede saja sudah pada mabuk harta. Apalagi menjadi pengelola negara.
***
Alkisah, seorang Aceh dari kabupaten Bieruen menulis surat kepada anaknya, yang sedang mendekam di penjara Nusa Kambangan karena dituduh terlibat GAM. Isi surat itu: “Nak, bapakmu ini sudah tua, sekarang sedang musim tanam jagung dan kamu ditahan di penjara pula. Siapa yang mau bantu bapak mencangkul kebun jagung ini?”
Si anak membalas surat itu beberapa pekan kemudian. “Demi Allah, jangan cangkul itu kebun, saya tanam senjata di sana.”
Ternyata surat itu disensor pihak rumah tahanan. Keesokan harinya, setelah si bapak menerima surat balasan, datang satu peleton tentara dari Banda Aceh. Tanpa banyak bicara para tentara itu segera ke kebun jagung dan sibuk seharian mencangkuli tanah di kebun tersebut. Setelah mereka pergi, kembali si bapak menulis surat ke anaknya.
“Nak, bapak sudah terima surat balasanmu. Tapi tiba-tiba datang satu peleton tentara mencari senjata di kebun jagung kita. Tak ada ditemukan satu pun senjata itu. Apa yang harus bapak lakukan sekarang?”
Si anak kembali membalas; “Sekarang bapak mulai tanam jagung saja, kan kebunnya sudah dicangkul sama tentara. Jangan lupa ngucapin terima kasih sama mereka.” ***



Ha … ha … provokatif analitik. Ini esai serius bos, mencerahkan, jujur, dan sedikit mengancam. Yang paling smart, ya itu, Jerman bersatu, Vietan bersatu … Uni Eropa. Biasalah, kuala pikir kita memang selalu ketinggaln.
Oh ya, pernah juga lho, di Kalimantan barat, Gerakan PARAKU. Tapi itu tidak penting, message tulisannya itu yang penting. Kita belum bisa tidur nyenyak dengan pikiran tenang ketika bangun. Lauar biasa.
Selamat menulis buku.
kalo kalimantan pisah ma indo entar saya kerepotan dunk bos bolak balik kalimantan-jawa kudu ngurus paspor ma visa dulu yahh..oh tidakkkk..
btw, tu cerita paling bawah lucuuu jg hahahha..
Wah mulai bangkit nich kedaerahan bos Erwin, .ngomong-ngomong dasar bujur jua terlalu besar ketimpangangan antara Jawa dan Kalimantan, tapi kalau dana yang dikucurkan ke Kalimantan lebih besar, kawa jua kah kita-kita mengelolanya, jangan-jangan kena tenaganya di import dari luar Kalimantan lagi ha…ha…
repot bung, bisa-bisa rencana kelotok wisata di sungai arut, kalteng yang rencananya dijalankan pamanku -orang kalteng- untuk tambahan ekonomi bakal terganjal.
aku jawa, istri banjar, adalah fakta bahwa anak-anakku : orang indonesia tulen…. yang di dalam jiwa raganya mengalirkan aliran sungai kalimantan di atas kerasnya pegunungan kapur jawa.
orang jawa bukan orang jahat, yang jahat itu adalah ’siluman monyet-monyet jawa’ yang berwajah manusia.
tapi bukankah hal seperti itu ada di mana-mana, kalau kita percaya bahwa there is a good and bad in everyone.
Sebenarnya kalo Kalimantan merdeka pasti jadi lebih sejahtera. Tapi saya repot kalau pulang kampung ke Jawa harus pakai paspor ha3x.
Makasih komentarnya di blog saya.
Ni tulisan senada antara tulsian ini dengan tulisan saya tentang Diskriminasi dalam pendidikan. Nah Kalimantan juga banyak dikecewakan memang. tapi sayang - kata seorang kawan, masa yangmuncul dari Kalteng itu itu saja. Apa nggak ada yang lain. Nah!
Yang lain ke mana. Seperti Tulisan EWA, awalnya di Banjar juga susah cari penulis. Sekarang sudah banyak. Di Pangkalan Bun sekarang ada surat kabar, juga redaksinya kesulitan cari penulis. Kemana orang-orang ini.
Ternyata orang-orang di sebagian Kalimantan bukannya tidak ada, tapi masih tidur di bawah timbunan kayu hutan, dibawah timbunan emas, di bawah timbunan zirkon. Apalagi yang mau jadi petani saat ini bingung. Modal untuk membuka lahan tidak ada, mau bakar lahar dilarang. Kitaa memang produsen asap. Tapi terpikirkah oleh mereka bahwa modal kita dulu dibawa ke Belanda. Banyak sekali dan kita baru sekejab membina nak bangsa. Celakanya sebgian anak bangsa seperti kata Windede ini, korupsi. Sudah terjajah begitu lama, dikorupsi lagi. Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Memprihatinkan nian nasib anak-anak Indonesia ini. Susu anaknya dihisap oleh bapaknya. Tinggal bau rokoknya.
Hehehe… Kalimantan mau merdeka ya…?
Btw, cerita tahanan orang Acehnya asli? Mirip cerita Abu Nawas…
Ketimpangan dalam dunia yg fana ini wajar, manusiawi , ketidak adilan “”" manusia adalah sutradara yg jempolan “” Batas hitam putih , benar salah merupakan hal yg relatif akhlak/ilmu/hati kecil kita yang mengambil keputusan
ahh tinggal bagaimana kita berjalan ,, mau ikut edan edanan atau kita ikuti kata hati kecil dengan jujur,,, setiap orang ,, penjahat , pemimpin , koruptor , pelacur,, atau apa saja setiap akan berbuat buruk, atau mencheng hati kecilnya akan menolak keputusan hati kecilnya didasari akhlak. ilmu, pendidikan, pengalaman hidup ,,, tinggal nalar dan logika dan kondisi yang mengambil keputusan tuh hati kecil di turuti atau tidak.
menyikapi ketidak adilan , ketimpangan, yg notabene terjadi di Kalimantan tercinta , pendapat macem macem yang kontra produktif ilangi aja dari hati kita ,, membuat ahti kita ,kotor teracuni, terprovokasi, berfikirlah yang bersih ,, dan ngaca apa kita sudah bener, apa kita bersih , kita nih manusia yang tak lepas dari salah.
santai sajalah, berlakulah , yang benar, adil , bukan adil dari tolok ukur aturan, norma yang bisa dipelintir outputnys sesuai dengan keinginan kita tapi jujur dari hati kecil kita, yang didasari, dibasahi oleh ajaran Agama .
Kuncinya bimbinglah orang orang yang kamu pimpin ,, anak , istri ,, kalo lo jadi suami,,,, diatambah bawahan kalo lo jadi pemimpin,,,, ke arah yang benar (relatif) ajarkan mereka untuk belakusesuai dengan kata hati kecil,, nggak muna/ munafik .
Kata ” salam persatuan orang Sakit hati ” ,, siapapun yang menulis di hati kecilnya pasti berkata ,, sakit hati tidak perlu dipelihara hanya mengotori hati kita, iklaskan saja
Ramadhan sudah dekat Allah , hanya akan ada di hati orang yang bersih
Ubahlah , Bangunlah Kalimantan dari lingkungan yg terkecil , dari diri kamu sendiri ,, keluarga ,, tetangga,, lingkungan kerja ,, kalau gak bisa jangan sakit hati cukup di lingkungan diri sendiri dan keluraga udah cukup
Bung Erwin… wah, kayaknya ide kalimantan merdeka tuh bukan sebuah ide yang ’saleable’.. aneh juga sih, padahal dari sekian banyak daerah, kalimantan (bagiannya Indonesia) yang paling hancur-hancuran dieksploitasi dan paling lambat merasakan pembangunan.. Kira-kira kenapa ya, ide kalimantan merdeka kok ngak pernah menjadi ide yang mampu mengemuka?
hahhhaa,…………………kalau kalimantan mereka rakyat makamur ya ,tambang nya banyak ,
kalimantan merdeka yesssssssssss……
indonesia hanya negri yang penuh bualan bleka ,alis tukang bohong …
apa nya yang untung ikut indonesia ….. yang di bangun hanya pulau jawa doang
konsep indonesia dulu dan sekarang beda ,dulu benar indonesia …..
sekarang indonesia , harus jawa ,non jawa budak aja ya hhhhhh
ngak boleh jadi pejabat pusat …toh di jawa banyak orang nya …dan mo sekolah harus kejawa ya ,kalau ngak kejawa ngak sah….
KALIMANTAN HARUS MERDEKA BIAR BISA NINGKATKAN MUTU RAKYAT KALIMANTAN
“BUKAN HARTA KALIMANTAN YANG UNTUK PEMBIAYAI ORANG JAWA ,HARUS ORANBG KALIMANTAN “
Kita orang Kalimantan tak pernah mengharap apa-apa dari orang lain. Yang kita tahu hanya berusaha mencari uang untuk hidup. Setiap hari badan dikucuri keringat. Luntang- lantung mencari uang walaupun sampai ke negara tetangga. Didera,diperlakukan tidak senonoh, diusir pun tak jarang menimpa diri hingga banyak mengundang iba warga negara tetangga untuk menolong saudaranya sendiri yang perlakukan miring oleh saudaranya sendiri.”Mereka itu adalah saudara kita sendiri yang sama suku bangsa, tanah yang kita pijak pun sama, kita hanya dibedakan oleh negara”. Itu yang tersirat dibenak mereka ungkapkan.Semoga saja begitu….
Sudah lama kita berada dalam kesengsaraan yang membelenggu jiwa dan raga sejak Indonesia merdeka. Orang Kalimantan hanya dimamfaatkan oleh orang- orang yang lebih pintar. Tanpa disadari kekayaan yang ada di dalam tanah Borneo diangkut ke pusat. Kebodohan hanya menjadi orang Kalimantan leka. Karena itu yang mereka mau.
Kini impian kita untuk mencapai cita- cita tidak sia- sia. Berkat cucuran keringat dan deraian air mata bunda.Pengalaman buruk yang dialami punah layaknya mimpi buruk di siang hari. Berjuta orang kalimantan kini tegak berdiri membawa laungan ingin maju jaya seperti negara tetangga.
Ya Allah rupanya masih banyak keinginan keinginan mereka untuk Merdeka bebas dari belenggu kesengsaraan.Rupanyaa aku tidak sendirian. Terus laungkanlah kemerdekaan mu untuk Kalimantan/Borneomu walaupun dengan ungkapan hatimu.
Terus maju jaya Kalimantan/ Borneo………