Menunggu Azab dari Bumi yang Marah

 Tiang-tiang listrik di kampung kami...

Andai saja saya hidup di kurun dua atau tiga abad lalu, kebencian semacam ini mungkin tak sampai merusak pikiran; maki-maki tiada arti setiap kali listrik padam. Tak kunjung rampung meredam sakit hati meskipun dengan sangat sadar beginilah sudah kondisinya. Byar pet berselang hari. Kadang-kadang malah sehari tiga kali. Seperti orang minum obat. 

Saya tinggal di Balikpapan sekarang. Kota yang dulu masyarakatnya dengan bangga menyebut Kota Minyak. Sekarang, kebanggaan itu pupus sudah. Bukan saja minyak untuk rumah tangga pun kerap harus antre untuk mendapatkannya, tetapi juga karena keberlimpahan energi itu ternyata tak cukup membuat kota ini sanggup memenuhi kebutuhan energi rakyatnya sendiri.

hmmmDuduklah di pinggiran Teluk Balikpapan. Di salah satu sudut pantai di sebelah barat kota ini, kita dengan mudah menengok kilang-kilang milik Pertamina saling julang. Semburan minyak mengalir ke kilang-kilang itu melalui pipa-pipa besar dari sumur-sumur bor entah di daratan Samboja, Muara Jawa, atau juga rig-rig lepas pantai yang benderang oleh nyala api gas buangan di waktu malam.

Pandanglah dari pinggiran teluk itu ke tengah Selat Makassar, persegi hitam di garis horison yang berjalan pelan; ponton-ponton berisi batubara menggunung diangkut dari pedalaman Mahakam, pelosok Kutai Timur dan Kutai Barat, silih berganti, tiada berhenti. Entah sudah berapa lubang raksasa menganga di tanah Kalimantan karena dikeduk tangan-tangan bermesin itu. Lewat dan lewat lagi. Berlayar menjauh seolah dengan lambaian sombong; “sudah kuambil isi perut bumi di kampungmu, hai orang-orang bodoh!”

Suatu hari, pernah ada cerita. Orang di perkampungan Muara Badak, dekat dengan lokasi eksploitasi gas PT Badak, harus membeli gas elpiji berharga dua kali lipat lebih mahal dari penduduk Jakarta. Padahal elpiji yang dijual di Jakarta itu diambil dari lahan di sebelah rumah mereka.

Itulah pula yang membuat krisis listrik di sebagian besar kota Kalimantan menjadi ironi tak berkesudahan. Batubara dikuras setiap hari di lahan penduduk yang, biasanya, diganti-rugi murah sekali. Truk-truk pengangkut emas hitam itu kemudian melaju di sisi-sisi gubuk kayu orang kampung, merusak jalan negara, mengirim debu beracun ke rumah-rumah. Polusi batubara dihirup orangtua hingga bayi bersama sisa oksigen dari sela-sela ventilasi jendela ruang tidur mereka, yang betapa sangat menyedihkan lagi, lebih sering gelap pada malam hari. Bukan saja karena giliran pemadaman listrik. Tetapi juga karena listriknya sendiri belum tersambung sampai hari ini.

Hidup dengan lilin hampir setiap hari...Seperti juga penebangan kayu yang telah mengubah jutaan hektare hutan menjadi tanah lapang, ribuan ton batubara itu setiap hari meninggalkan perairan laut Kalimantan. Dikirim ke China, Malaysia, Singapura, mengisi ketel-ketel pembangkit listrik tenaga uap di negeri-negeri itu, hingga mereka benderang sepanjang malam. Pada saat yang sama, penduduk di Balikpapan, Samarinda, juga Banjarmasin dan sekitarnya, harus berteman lilin, yang dalam sekejap meleleh dan mengotori lantai, atau obor-obor batang bambu yang sebentar saja telah membuat hidung orang di seisi rumah hitam karena jelaga.

Hebatnya, pemerintah tak melihat ini sebagai masalah. Para punggawa negeri malah dengan bangga bikin jumpa pers, menyebut keberhasilan republik merangsang industri hingga produksi tambang dan migas tumbuh sangat baik, lantas membuat target-target baru yang lebih tinggi lagi. Di kota di mana pertambangan dan eksploitasi migas itu dilakukan, penduduknya harus menanggung banjir bandang, listrik padam, dan mungkin suatu hari azab pedih dari bumi yang marah.

Saya, seperti juga penduduk lain di Kalimantan, mungkin sudah sangat lelah memaki. Sebab menyumpah dengan serapah paling kejam pun ternyata tak cukup mujarab mengobati sakit hati. Adakah yang punya ide lebih baik?

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

Beri Tanggapan (atau pilih komentar via akun media sosial)

16 tanggapan untuk “Menunggu Azab dari Bumi yang Marah

  • 27 Juni 2007 pada 23:35
    Permalink

    Rancak mati juakah lampu di Balikpapan ?… Aku kira di Banjar ja, semalam aku ke Pontianak pina rancak jua listrik…. Berarti se Kalimantan sama ja nasib nya..jangan-jangan ini persoalan se Indonesia…wah gawat….

  • 28 Juni 2007 pada 00:34
    Permalink

    jadi begitu ya..kronologinya..we suffer in order to “light” people out there…
    but u r right in one point, it is very ironic..di tempat yang diambil sumber dayanya kok malah kekurangna..masak sih kita mesti kembali ke zaman batu untuk memodernkan negeri lain..wah aku gak nyangka sebaik itu negara kita..salut buat pemerintah…melabelkan image negara baik di mata negara lain…negara baik atau tolol…wah itu terserah gimana nanggapinnya..hehehhehe…

  • 29 Juni 2007 pada 14:13
    Permalink

    awass..jangan dekat2 keknya anak2 balikpapan lagi emocian neh gara2 byar pet…opst

    sabar ya boss..bos gak sendirian kok *soale dah 3 diary made in balikpapan yg di kunjungi keluhannya sama mate lampu* 😀

  • 29 Juni 2007 pada 20:48
    Permalink

    Ironi dan kesal-urut-dada-dan-mungkin gigit-jari, adalah segenap ungkapan yang mungkin kita lakukan selepas melihat dan mengalami realita ini. dari beragam kesetaraan dan kemiripan fenomena serupa juga terjadi di afrika.. benua yang notabene benar-benar kaya akan sumberdaya malah miskin rakyatnya – satu hal sindroma akut yang terus menghinggapi dari periode pemerintahan satu ke selanjutnya adalah: Abuses dan Bad governance..

    Itulah kenapa harga bisa mencekik dan semua urusan sakit kepala itu tak[pernah] usai dan kunjung datang..

    Semoga tulisan ini bisa mengetuk hati para regulator disana dan mereka juga harus tau bhw anak-cucu mereka juga akan kesusahan akibat kelalaian dan buta-nya mata hati mereka.

  • 1 Juli 2007 pada 01:49
    Permalink

    sds saatnya tumpukan sabar jutaan orang tak ‘kan mampu membendung tumpukan makian yang menjadi marah besar jutaan orang. ini barangkali yang ditunggu pemerintah sebelum tiba azab bumi, tapi yang paling dahsyat bila azab bumi tiba terpadu dengan marah besar manusia penghuni bumi indonesia ini. Kayaknya sih, er zijn tekenen die erop wijzen, dat er spoedig folteringen komt /ada tanda2 yang menunjukan, bahwa azab akan segera datang/ nauzubillah! nggaklah ya.

  • 2 Juli 2007 pada 11:31
    Permalink

    Alhamdullilah kami di Bulungan tidak memiliki problem (jangan sampai dech) dengan mati lampu seperti rakyat kaltim bagian Selatan, semoga didengar sama PLN (biasanya sich nggak).
    Ada teman berseloroh, katanya julukan kota Balikpapan berubah, dari kota Minyak menjadi kota Genset saking seringnya mati lampu

  • 7 Juli 2007 pada 10:25
    Permalink

    ya.. karena bumi dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya adalah milik investor asing..dieksploitasi tanpa henti. Bagaimana nasib anak cucu kita nanti?

  • 13 Juli 2007 pada 16:03
    Permalink

    Sekarang tinggal tunggu Rahmat atau adzab-kah yang akan menimpa negeri ini…wallohualam.
    Mudah2an petinggi negeri kita diberikan hidayah dariNYA, amien.

  • 18 Juli 2007 pada 12:33
    Permalink

    wakakakaka……. sabar2.. memang beginilah kalimantan timur…..

    yang ak tau disangata dan bengalon…orang klo terima duit ga ketulungan banyaknya….(menurut ak loh) itungannya pasti ratusan juta, tapi ak juga ga tau berapa tanah yang dia jual hehe…..

    sampe ada kejadian dibengalon yang menurut ak lucu, ada orang yang setelah terima duit (pembayaran pertama) dia langsung pergi ketempat pelacuran sampe dia di telp untuk pembayaran tahap 2….orang itu bilang…temuin saya disini aja pak…klo bapak mau sekalian aja saya traktir…:D

    mantabs….dia booking itu tempat selama 8 hari….

    klo udah gini apa dong yang datang..?? adzab ato rahmat..???

  • 19 Juli 2007 pada 12:14
    Permalink

    Yg sabar ya mas ^^

    Dulu di pertengahan 2006 isu masalah pembangunan PLTU di Balikpapan ini sempat kedengaran, selain karena emang butuh, jg akan dipakai buat PON 2008.

    Kalau ga salah rencana ini sempat ga disetujui pemerintah, karena menurut Dept Energi, Balikpapan tidak termasuk daerah yg kekurangan listrik 🙁 Padahal tiap minggu pasti ada mati lampu gini ^^

    Barusan sempat cari diinternet, katanya sih rencananya mulai di bangun January 2007 kemaren, tapi ga tau jg statusnya sekarang gimana hehehe… Mungkin kayak gembar-gembor penutupan jalan minyak mulai tgl 1 April 07, yg ternyata sampai hari ini ga jg terlaksana hehehe… 😀

  • 20 Juli 2007 pada 07:14
    Permalink

    ironis banget ya..? sedih jadinya..

  • 13 Agustus 2008 pada 22:05
    Permalink

    saya th “99 tinggal di lampung plnnya mati2 terus jadi kami beli lampu emergency.
    Waktu th 2002di pindah ke samarinda dg gembira lampu2 emergency tsb kami hibahkan karena dikira di smrinda ga ada lampu mati eeeh ternyata…, terpaksa beli lagi lampu2 emgency yang lebih gede. Tahun 2004 kembali kami
    dipindah ke surabaya. Kali ini kami sangat yakin pln gak ingkar janji dan kembali lampu2 tsb dihibahkan kepada sodara. Balik surabaya ya ampuuun…
    mati2 terus juga. Saya musti pindah kemana lagi ? atau pertanyaanya saya musti beli lampu emergency berapa lagi kali ya?

  • 15 Oktober 2009 pada 21:41
    Permalink

    Ìû ïðåäëàãàåì øèðîêèé ñïåêòð óñëóã ïî ðåìîíòó ëåãêîâûõ è ãðóçîâûõ àâòîìîáèëåé, ñåëüõîçòåõíèêè, à òàê æå äîðîæíî-ñòðîèòåëüíîé è ñïåöèàëüíîé òåõíèêè ñàìûõ ðàçíûõ ïðîèçâîäèòåëåé.

    (Vo”gele, Dynapac, Demag, Titan, Volvo, Wirtgen, Hamm, Bomag, Case, Caterpiller, Libher è ìíîãîå äðóãîå.)

Komentar ditutup.

Loading Facebook Comments ...
Loading Disqus Comments ...

No Trackbacks.