…karena Malam Tak Hanya Milik Pelelap

Salah satu sudut tempat nongkrong di Melawai Balikpapan.

SELALU ada tempat untuk nongkrong menikmati malam. Setelah seharian sibuk dengan beragam aktivitas, orang memang sesekali hendak melarutkan diri dalam kenyamanan suasana; bisa dengan hang out di kafe atau pub, menyeruput teh hangat di sebuah kedai, atau sekadar jalan-jalan di tengah keramaian, entah pusat belanja, atau pasar malam. 

Pilihan tak selalu jatuh pada tempat mahal, yang bertitel resto atau lounge, dengan pelayan seksi membawa kertas menu menawarkan paket candle light dinner atau semacam itu, yang kadang-kadang makanannya justru tak mengenyangkan apalagi bila dibandingkan dengan tagihan yang datang menjelang pulang.

Di Banjarbaru, kota di mana saya menghabiskan lebih 6 tahun sebelum kembali ke Balikpapan awal tahun lalu, ada sebuah kawasan bernama Minggu Raya. Semacam sentra jajan yang buka 24 jam, terdiri dari petak-petak warung, menyediakan aneka hidangan lengkap dengan kekhasan gaya tutur dan cengkerama warga kota. Sesekali, orang-orang di kota yang ramah ini bikin acara, entah parade band indie atau tadarus puisi.

Sering ada guyonan, karena tujuan utamanya memang nongkrong, orang-orang duduk di Minggu Raya hanya membelanjakan duit Rp5.000 untuk segelas kopi. Ngobrolnya bisa sampai empat jam. Dari pukul 10 malam sampai jam 2 subuh. Sudah seperti pemilik warung. Kopi diminum seteguk demi seteguk, nggak habis-habis.Cerita saling silang, dari urusan preman mabuk, kelucuan gelandangan sinting, sampai mendiskusikan nasib negara dengan gaya seolah pengamat politik.

Di Jogja(karta) siapapun tahu Malioboro. Ini kawasan melegenda dengan menu gudeg, susu panas, pengamen, pelukis jalanan, dan macam-macam kudapan. Di Surabaya dulu populer kawasan Kedungdoro dan Jembatan Merah, yang khas dengan warung tenda. Sekarang ada Kya-kya Kembang Jepun. Di Jakarta? Hmm… tinggal tunjuk mau pilih yang mana.

Pisang gapit, menu khas di Melawai.Kalau Anda ke Banda Aceh, nongkrong malam sama ramainya dengan nongkrong sore. Dengan trotoar yang lebar-lebar, orang Aceh biasa bersantai di kedai-kedai pinggir jalan sambil minum kopi aceh yang cara pembuatannya khas itu. Di Makassar ada Losari, kawasan ramai tempat jajan di sepanjang garis pantai. Jangan tanya Bali, karena semua sudut di Jimbaran, Legian atau Kuta adalah surganya tempat nongkrong. Atau Mataram yang punya kawasan Senggigi, juga Batam yang punya Nagoya.

Di Singapura, selalu ada tempat makan murah di dekat Esplanade atau Marlion, meskipun, nongkrong di Arab Street atau Litle India juga menarik. Di Kuala Lumpur ada Bukit Bintang yang sangat terkenal. Di Shanghai jejakkanlah kaki di Nanjing Road. Di Bangkok sila mampir ke Suanlum Night Bazar atau kafe-kafe sederhana di pinggiran Sungai Chao Phraya. Kalau kebetulan berada di Jeddah, jangan lupa nikmati sahaja malam di sepanjang pantai Laut Merah.

Saya sering terkenang kota-kota pemilik malam yang indah-indah itu. Yang tak selalu mahal. Yang sering malah secara ajaib selalu dipadati manusia padahal secara selera menu makanannya biasa-biasa saja.

Di Balikpapan, kota tempat saya tinggal sekarang, ada kawasan Melawai, di tepi Teluk Balikpapan, yang lebih tepat disebut dapur rakyat karena tiap malam segala lapisan warga ngumpul di sini untuk makan; dari ikan bakar sampai pisang gapit. Ada tempat lain yang lebih bagus, di pinggir pantai juga, di kawasan Bandar Balikpapan, tapi pengunjungnya menjadi terbatas karena tarifnya sedikit premium.

Di kota atau di kampung, di mana pun, tempat nongkrong malam adalah sebuah fasilitas wajib, kecuali, boleh jadi, beberapa daerah yang entah karena apa membiarkan malamnya menjadi lengang gelap pekat. Sekalinya ada keramaian, tak jauh-jauh dari urusan kebakaran atau maling ketangkap. Betapa menyedihkan sebenarnya, bila malam-malam indah dilewatkan hanya untuk tidur lelap. Karena itu, nikmatilah malam, selagi sempat.

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

14 tanggapan untuk “…karena Malam Tak Hanya Milik Pelelap

  • 21 Juni 2007 pada 17:36
    Permalink

    menggelar tikar di atas rumput depan rumah yang gelap sambil memandangi bintang yang kerlap-kerlip menghiasi angkasa hitam juga memberikan keindahan dan sensasi tersendiri…….

    Balas
  • 21 Juni 2007 pada 18:32
    Permalink

    nikmatilah malam?
    gimana yah… wong saya punya penyakit susah tidur.


    >>> susah tidur? ga masalah… yang masalah kalo penyakitnya susah bangun hehehe… [windede]

    Balas
  • 21 Juni 2007 pada 20:14
    Permalink

    Karena Pelelap tidak harus menunggu malam toh…

    Balas
  • 22 Juni 2007 pada 17:23
    Permalink

    paling seru kalo malem nongkrong sama temen2 deket… bisa ngobrol sampe pagi πŸ˜€

    Balas
  • 22 Juni 2007 pada 19:26
    Permalink

    wahh.. banyak sekali tempat referensinya pak??apa sudah pernah merasakan semua tuh…??

    Balas
  • 23 Juni 2007 pada 18:06
    Permalink

    Sering juga dijumpai orang menghabiskan malam-malam nongkrong di jembatan pasar lama. E, bukan seperti itu ya om?

    Balas
  • 27 Juni 2007 pada 23:28
    Permalink

    Ngomong-ngomong soal nongkrong, saking hobinya sampai pernah diserbu tentara tapi kada jara jua ha..ha…, babila bos ke Banjarbaru kekawanan sudah keganangan nah…

    Balas
  • 1 Juli 2007 pada 21:07
    Permalink

    wah, bagus banget ne blognya. kereeenn…btw, BPP emang bagus deh!bikin kangen pengen ke sana terus, heee…

    Balas
  • 5 Juli 2007 pada 11:26
    Permalink

    tulisan yang bagus…
    lilis seneng berkunjung ke blog ini…
    blog berciri khas

    πŸ™‚

    Balas
  • 13 Juli 2007 pada 16:12
    Permalink

    Jadi teringat dulu…ketika masih jadi seorang penikmat malam.
    nikmati gelapnya malam yang hanya dihiasi kedipan bintang. Sekarang…???

    Balas
  • Pingback:buy auctions line www onyxgroup com austin tx

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.