< Browse > Home / Budaya, Inspirasi / Blog article: …karena Malam Tak Hanya Milik Pelelap

| Mobile | RSS

…karena Malam Tak Hanya Milik Pelelap

21 June 2007 | Ada 14 Komentar | Budaya, Inspirasi

Salah satu sudut tempat nongkrong di Melawai Balikpapan.

SELALU ada tempat untuk nongkrong menikmati malam. Setelah seharian sibuk dengan beragam aktivitas, orang memang sesekali hendak melarutkan diri dalam kenyamanan suasana; bisa dengan hang out di kafe atau pub, menyeruput teh hangat di sebuah kedai, atau sekadar jalan-jalan di tengah keramaian, entah pusat belanja, atau pasar malam. 

Pilihan tak selalu jatuh pada tempat mahal, yang bertitel resto atau lounge, dengan pelayan seksi membawa kertas menu menawarkan paket candle light dinner atau semacam itu, yang kadang-kadang makanannya justru tak mengenyangkan apalagi bila dibandingkan dengan tagihan yang datang menjelang pulang.

Di Banjarbaru, kota di mana saya menghabiskan lebih 6 tahun sebelum kembali ke Balikpapan awal tahun lalu, ada sebuah kawasan bernama Minggu Raya. Semacam sentra jajan yang buka 24 jam, terdiri dari petak-petak warung, menyediakan aneka hidangan lengkap dengan kekhasan gaya tutur dan cengkerama warga kota. Sesekali, orang-orang di kota yang ramah ini bikin acara, entah parade band indie atau tadarus puisi.

Sering ada guyonan, karena tujuan utamanya memang nongkrong, orang-orang duduk di Minggu Raya hanya membelanjakan duit Rp5.000 untuk segelas kopi. Ngobrolnya bisa sampai empat jam. Dari pukul 10 malam sampai jam 2 subuh. Sudah seperti pemilik warung. Kopi diminum seteguk demi seteguk, nggak habis-habis.Cerita saling silang, dari urusan preman mabuk, kelucuan gelandangan sinting, sampai mendiskusikan nasib negara dengan gaya seolah pengamat politik.

Di Jogja(karta) siapapun tahu Malioboro. Ini kawasan melegenda dengan menu gudeg, susu panas, pengamen, pelukis jalanan, dan macam-macam kudapan. Di Surabaya dulu populer kawasan Kedungdoro dan Jembatan Merah, yang khas dengan warung tenda. Sekarang ada Kya-kya Kembang Jepun. Di Jakarta? Hmm… tinggal tunjuk mau pilih yang mana.

Pisang gapit, menu khas di Melawai.Kalau Anda ke Banda Aceh, nongkrong malam sama ramainya dengan nongkrong sore. Dengan trotoar yang lebar-lebar, orang Aceh biasa bersantai di kedai-kedai pinggir jalan sambil minum kopi aceh yang cara pembuatannya khas itu. Di Makassar ada Losari, kawasan ramai tempat jajan di sepanjang garis pantai. Jangan tanya Bali, karena semua sudut di Jimbaran, Legian atau Kuta adalah surganya tempat nongkrong. Atau Mataram yang punya kawasan Senggigi, juga Batam yang punya Nagoya.

Di Singapura, selalu ada tempat makan murah di dekat Esplanade atau Marlion, meskipun, nongkrong di Arab Street atau Litle India juga menarik. Di Kuala Lumpur ada Bukit Bintang yang sangat terkenal. Di Shanghai jejakkanlah kaki di Nanjing Road. Di Bangkok sila mampir ke Suanlum Night Bazar atau kafe-kafe sederhana di pinggiran Sungai Chao Phraya. Kalau kebetulan berada di Jeddah, jangan lupa nikmati sahaja malam di sepanjang pantai Laut Merah.

Saya sering terkenang kota-kota pemilik malam yang indah-indah itu. Yang tak selalu mahal. Yang sering malah secara ajaib selalu dipadati manusia padahal secara selera menu makanannya biasa-biasa saja.

Di Balikpapan, kota tempat saya tinggal sekarang, ada kawasan Melawai, di tepi Teluk Balikpapan, yang lebih tepat disebut dapur rakyat karena tiap malam segala lapisan warga ngumpul di sini untuk makan; dari ikan bakar sampai pisang gapit. Ada tempat lain yang lebih bagus, di pinggir pantai juga, di kawasan Bandar Balikpapan, tapi pengunjungnya menjadi terbatas karena tarifnya sedikit premium.

Di kota atau di kampung, di mana pun, tempat nongkrong malam adalah sebuah fasilitas wajib, kecuali, boleh jadi, beberapa daerah yang entah karena apa membiarkan malamnya menjadi lengang gelap pekat. Sekalinya ada keramaian, tak jauh-jauh dari urusan kebakaran atau maling ketangkap. Betapa menyedihkan sebenarnya, bila malam-malam indah dilewatkan hanya untuk tidur lelap. Karena itu, nikmatilah malam, selagi sempat.

Tulis komentar 1611 views, 3 so far today |

Fatal error: Call to undefined function wp_related_posts() in /home/windede/public_html/wp-content/themes/Digital Statement/single.php on line 35