Menggeser Hujan tanpa Pawang

Teknologi mengubah banyak hal. China, saat ini, sedang gemar mengembangkan rekayasa meteorologi. Tujuannya sungguh muluk; menentukan cuaca sesuai keinginan, dengan cara ilmiah, tanpa mantra-mantra pawang seperti lazimnya di negeri kita.

Jalanan basah di pinggiran Tian An Men Square. Hujan mengguyur seharian.

HUJAN mengguyur Beijing sejak pagi. Jadwal berkunjung ke Tian An Men Square dan Forbidden City tak bisa ditunda. Saya bersama rombongan Indonesia China Business Council (ICBC) akhirnya tetap bergeser dari Capital Hotel di kawasan Qian Men East Street, menuju alun-alun seluas 40 hektare itu, yang legendaris karena tewasnya ribuan mahasiswa yang ditembaki tentara Komunis saat unjuk rasa tahun 1989. 

Hujan sama lebatnya di Tembok China.Apa mau diomong. Hujan tetap tak reda. Menyusuri lapangan Tian An Men hingga Kota Terlarang, dengan hujan yang gerimis sekalipun, pasti membuat basah kuyup. Rombongan akhirnya memutuskan pindah tujuan ke Tembok China, dengan harapan di sana cuaca lebih cerah.

Ternyata, tak jauh berbeda. Sesampai di Great Wall, hujan sama lebatnya. Rencana beberapa anggota rombongan mendaki Tembok China sampai ke benteng ketiga tak kesampaian. Sebab tangganya licin. Acara jalan-jalan di sela business trip itu akhirnya kacau balau. Diputuskan kembali ke hotel, sambil bersiap acara jamuan makan di kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Beijing.

Hari itu, rubrik Weather di koran China Daily memuat ramalan cuaca kota Beijing akan diselimuti mendung berawan (cloudy). Ramalan yang mengutip hasil analisis Central Meteorological Observatory itu, selama ini, benar-benar menjadi rujukan. Tingkat akurasinya nyaris sempurna. Tak heran, kolom ramalan cuaca menjadi rubrik populer di koran-koran China yang memang kerap menghadapi situasi cuaca ekstrem.

Ramalan itu pula, ternyata, yang menjadi rujukan KBRI China menentukan konsep jamuan makan malam bagi rombongan ICBC. “Setelah pagi-pagi baca ramalan cuaca, mendung berawan, saya bilang sama staf, selamat nih, kita bikin barbeque saja di halaman kantor kedutaan. Konsepnya acara di ruang terbuka. Pasti menyenangkan,” kata Dubes RI untuk China, Sudrajat, saat memberi sambutan pada acara makan malam dengan ICBC.

Pegawai KBRI lantas menyiapkan meja-meja prasmanan, tanpa kursi. Halaman terbuka di area tengah kantor KBRI di Distrik Chaoyang No 4 Beijing itu cukup luas untuk jamuan hingga 100 orang. Dengan standing party, undangan memang tak perlu duduk, supaya bisa moving ke sana kemari, saling bercengkerama. Sudrajat, seperti halnya semua orang di Beijing hari itu, sangat percaya bahwa ramalan cuaca “mendung berawan” tak akan meleset, karena selama ini memang terbukti akurat.

Ternyata, hari itu terjadi pengecualian. Awan mendung yang menyelimuti langit sejak pagi rupanya tak sanggup menahan beban air yang hendak tumpah. Sejak pukul sembilan pagi Beijing akhirnya diguyur hujan. Bukan sembarang hujan karena terus turun sepanjang hari, hingga malam.

“Tadinya kami berharap hujan sebentar saja. Ternyata sampai malam tidak berhenti-berhenti,” kata Sudrajat. Akhirnya, jamuan makan malam untuk ICBC dipindah ke aula kantor KBRI, yang cukup dipaksakan untuk dijejali undangan 100 orang. Meja prasmanan tetap di luar, diatapi tenda ala kadarnya.

Gembok-gembok di sepanjang Tembok China. Dipercaya sebagai lambang kesetiaan.Mengapa ramalan cuaca bisa meleset? Dubes Sudrajat punya dugaan. Di hadapan rombongan ICBC ia menyebut mendung berawan yang menjadi hujan itu boleh jadi adalah sebuah kesengajaan.

Kesengajaan? Ia menjelaskan, sebuah tim peneliti di badan meteorologi yang berpusat di Beijing, memang tengah melakukan eksperimen rekayasa cuaca, untuk kepentingan Olimpiade 2008, di mana Beijing menjadi tuan rumahnya. Pemerintah China sungguh khawatir, sebab pembukaan olimpiade yang direncanakan digelar tanggal 8 Agustus 2008 (08-08-08), terancam berantakan. Ramalan cuaca merilis, tepat pada tanggal pembukaan tersebut, Beijing akan diguyur hujan lebat. Sangat lebat.

Maka, dicarilah akal. Teknologi telah memungkinkan hujan digeser-geser; apakah dimajukan atau dimundurkan. Awan-awan pembawa hujan tanggal 8 Agustus 2008 itu rencananya diblokir. Sebelum masuk wilayah Beijing, sejumlah bahan chemical dan campuran kimia lain ditaburkan di atas awan, untuk merangsang agar awan pecah dan hujan segera tumpah, jauh sebelum angin membawa awan-awan itu ke atas Beijing Stadium tempat pembukaan olimpiade digelar.

“Nah, untuk kepentingan ini, eksperimen-eksperimen terus dilakukan. Saya menduga melesetnya ramalan cuaca hari ini karena ulah para peneliti itu. Awan di atas langit Beijing hari ini ditaburi bahan chemical, supaya hujan. Padahal seharusnya hujannya di daerah lain,” kata Sudrajat.

Dengan berseloroh pria berpangkat letnan jenderal ini menyebut, kalau saja China mau minta tolong Indonesia, sebenarnya tak perlu rekayasa teknologi seberat itu. Pawang-pawang hujan kita, dengan aneka mantra dan sesajennya, juga bisa menggeser-geser hujan. “Tingkat akurasinya mungkin tak kalah hebat dengan teknologi ilmiah,” ujar Sudrajat, disambut gelak tawa hadirin. ***

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

3 tanggapan untuk “Menggeser Hujan tanpa Pawang

  • 7 Juni 2007 pada 12:02
    Permalink

    hehehe… tapi nggak, juga, kok, Oom… buktinya, Jakarta rutin banjir, tuh! hehehe

    Balas
  • 13 Juli 2007 pada 16:25
    Permalink

    iya oom… di bogor jg suka tiba-tiba ujan, gk tau dari mana asalnya.. 😀

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *