Tak Harus Jadi Kartini…
Hasil survei sebuah majalah pria membuktikan, 4 dari 5 pria adalah buaya. Tetapi hasil survei di sebuah majalah wanita menyimpulkan bahwa 4 dari 5 wanita adalah penyayang binatang.
***
KARTINI mati muda. Dia baru berumur 25 tahun ketika ajal menjemput. Dunia mengakui ketokohan Kartini bukan hanya karena ide-ide gender dan emansipasi yang ditulisnya lewat surat-surat korespondensi dengan sejumlah sahabat, tetapi juga karena kematiannya disebabkan oleh lambang perjuangan dahsyat seorang wanita; melahirkan buah cinta. Kartini wafat beberapa saat setelah melahirkan anak dari pernikahannya dengan Raden Adipati Joyodiningrat.
Seperti tokoh-tokoh lain yang juga mati muda, sebutlah misalnya Soe Hok Gie atau Chairil Anwar, sang Raden Ajeng melegenda sepanjang masa bahkan melebihi jatah hidupnya di dunia. Door Duisternis tot Licht. Habis Gelap Terbitlah Terang. Kumpulan catatan berbahasa Belanda itu membuat wanita Jawa ini menjadi ikon “perlawanan” kaum wanita terhadap dunia yang waktu itu, juga mungkin sampai sekarang, lebih banyak berpihak kepada kaum pria.
Tak banyak wanita selegendaris Kartini, meskipun banyak tokoh di daerah-daerah, yang juga punya pahlawan wanita, menyebut bahwa Kartini sebenarnya hanyalah wanita Jawa yang kiprahnya sebatas di Rembang dan Jepara – sehingga tidak lebih istimewa dibandingkan, katakanlah, Cut Nyak Dien atau Christina Martha Tiahohu.
Kiprah fisik mungkin iya. Sebab Kartini, seperti gadis-gadis Jawa lain pada masa itu, memang harus hidup dalam kerangkeng kultur bernama pingit. Tetapi ide-ide, yang meskipun hanya ditulis lewat carik-carik kertas surat yang dikirimnya ke Belanda dan sejumlah sahabat di Eropa, membuktikan wanita Jawa ini sesungguhnya adalah pemikir hebat yang ikut mewarnai dunia.
Tengoklah pendapat Kartini dalam bukunya Habis Gelap Terbitlah Terang, mengenai ibu; “Seorang perempuan yang mengorbankan diri untuk orang lain, dengan segala rasa cinta yang ada dalam hatinya, dengan segala asyik yang ada padanya, itulah ibu. Lebih tinggi ibu yang jadi ibu karena hati sanubarinya, daripada ibu yang menjadi ibu hanya karena badannya.”
Bayangkanlah, di zaman di mana pendidikan (apalagi untuk wanita) masih sangat rendah, pemudi seumur Kartini sudah bisa mikir seperti itu. Situasinya tentu berbeda dengan tokoh wanita lain yang juga pahlawan nasional, yang kepahlawanannya lebih disebabkan oleh keberanian, untuk tak menyebutnya kenekatan, memanggul senjata. Lebih berbeda lagi, tentu saja, bila dibandingkan dengan banyak wanita masa kini, yang meskipun sudah berpendidikan tinggi, ternyata masih lebih sering menghabiskan waktunya untuk urusan “modifikasi” bentuk tubuh, memutihkan kulit wajah dan merawat rambut dan kuku, daripada mikirin dunia.
“Dunia kok dipikirin. Itu ‘kan urusan laki-laki.”
Dunia memang milik pria. Begitulah seorang kawan, yang laki-laki tulen, berkata. Tetapi bukan berarti pria harus berkuasa untuk segala hal, termasuk juga berkuasa atas hidup para wanita, meskipun, dalam banyak kejadian, tak sedikit wanita yang memang memasrahkan dirinya dikuasai pria. Mungkin karena tak yakin bisa sintas dalam kemandirian.
Sejarah mencatat wanita-wanita hebat, yang kehebatannya bukan saja melebihi pria di sekelilingnya, tetapi juga telah mengubah dunia. Sejarah juga terus menulis peran dahsyat wanita di balik kisah tokoh-tokoh besar; dari pemimpin negara sampai nabi, yang perannya itu bahkan menjadi penentu ketokohan si tokoh.
Kalaupun masih terdengar ada kasus kekerasan pria terhadap wanita, karena masalah rumah tangga, misalnya, anggaplah pelakunya itu adalah pria yang harus dikutuk, sementara wanita yang menjadi korbannya adalah makhluk yang sedang kurang beruntung. Sebagai pria saya termasuk yang tak setuju bila kasus-kasus begini jadi justifikasi bahwa, seperti lirik sebuah lagu, wanita dijajah pria sejak dulu…
Sehingga, tak cukup alasan, sebenarnya, untuk masih saja menyoal peran wanita yang konon tak seleluasa pria. Ya tergantung wanitanya juga. Mau terlibat dalam porsi seberapa gede, mau berkiprah seberapa luar biasa, tanpa harus meratapi nasib ketika, katakanlah, merasa pria terlalu mendominasi. Bukankah wanita memang tak harus jadi sehebat Kartini untuk membuat hidupnya berguna. ***
