Koruptor Bodoh

Suatu hari diadakan pertemuan koruptor dari seluruh dunia. Mereka saling membanggakan kelebihan masing-masing dalam hal korupsi. Berikut percakapan dalam pertemuan itu:

Koruptor Cina: di negara saya, korupsi dilakukan di bawah meja, sebab kalo ketahuan, pasti digantung.

Koruptor India: di negara saya, korupsi dilakukan di atas meja, sebab sudah bukan hal yang aneh lagi.

Koruptor Amerika: di negara saya, korupsi bisa dilakukan di atas meja atau di bawah meja, tergantung kebijakan politik orang yang sedang berkuasa.

Koruptor Indonesia: kenapa kalian segitu saja bangga, sih? Di negara saya, korupsi bukan lagi di atas meja atau di bawah meja, karena bahkan mejanya pun kami korupsi…!!!

***

ANDAI saja ada mesin yang bisa mengukur tingkat kebosanan seseorang terhadap informasi, maka boleh jadi semua orang Indonesia bakal berada pada posisi kebosanan akut, jika yang diukur adalah informasi mengenai korupsi. Begitu seringnya berita tentang pejabat diperiksa karena kasus korupsi, membuat hal itu sekarang tak lagi bisa disebut sebagai berita menarik; selama para wartawan masih bersepakat bahwa yang disebut “berita menarik” adalah sesuatu yang unik, langka sekaligus baru.

Tak ada unsur keunikan yang bisa dipenuhi, karena korupsi telah menjadi kelaziman. Tak mungkin disebut langka sebab korupsi sudah tabiat sebagian besar orang. Baru? Ini lebih tak cocok lagi karena dalam konteks Indonesia, korupsi adalah penyakit menahun yang tak kunjung sembuh.

Kita bahkan harus berhadapan dengan kenyataan bahwa pemimpin-pemimpin kita di daerah telah menjadi tertuduh korupsi yang, hebatnya lagi, masih saja dianggap sebagai kader terbaik. Pemimpin-pemimpin kita itu lantas beradu pandir dengan menyebut bahwa ada usaha bidik-membidik, politisasi hukum, agenda terselubung, atau yang lebih konyol lagi; sangat-super-yakin-sekali-banget bahwa “sang junjungan” tidak bersalah.

Kasus-kasus korupsi kemudian menjadi tontonan memuakkan yang tersuguh di ruang-ruang keluarga kita, di warung-warung sarapan pagi, juga di tempat-tempat publik di mana televisinya kebetulan sangkut di saluran berita; ketika seorang pejabat dengan wajah tanpa dosa berkoar di depan kepungan kamera televisi bahwa tuduhan korupsi kepadanya adalah fitnah.

Korupsi, dengan aktornya yang disebut koruptor, akhirnya mulai bergeser dari aib menjadi semata-mata kesialan. Mereka yang diperiksa KPK, diseret-seret ke balik jeruji penjara, dijemput dari atas kasur rumah sakit dengan tongkat menopang tubuh dan kantong infus yang selangnya masih mengaliri cairan ke pembuluh di bawah kulit pergelangan, diamini sebagai seorang mujahid yang, hanya karena kesialannya, atau dalam pendapat lain ada yang menyebut justru karena ketinggian maqom (derajat) kemanusiaannya, harus menghadapi ujian berat. Saking beratnya ujian itu sampai-sampai rela berlaku seperti mayit ketika demi melindungi sorotan kamera wartawan, sekujur tubuh ditutup selimut.

Lucunya, seperti logika pembalap yang harus siap mati di jalanan, atau nelayan yang mesti berserah jika sewaktu-waktu samudera menelan, korupsi akhirnya dianggap sebagai risiko lumrah bagi siapapun yang memasrahkan diri menjadi pejabat. Maka, berlomba-lombalah meloloskan diri dari jerat hukum, hanya dengan dua pilihan yang gampang-gampang susah; tidak korupsi sama sekali, atau korupsi tapi hati-hati. Jika ternyata pilihan pertama dan pilihan kedua sama-sama membawa risiko dipenjara, kenapa tidak korupsi saja! Bukankah dibandingkan mereka yang sekarang berurusan dengan KPK, masih lebih banyak koruptor pandai yang bukan saja korupsinya tak ketahuan, tapi juga masih terus korupsi?

Ibarat adu hebat, hanya koruptor bodohlah yang masuk penjara.

***

Konon, di akhirat kelak, setiap negara mendapat sebuah jam khusus. Jam itu sangat istimewa karena bisa menunjukkan tingkat kejujuran pejabat pemerintah suatu negara. Makin jujur, makin lambat pula jalannya jarum jam, demikian pula sebaliknya.

Jam Filipina berputar kencang. Artinya benar saja tuduhan bahwa Marcos banyak korupsi. Demikian juga Kongo, negaranya Mobutu Seseko, yang berputar lebih cepat lagi. Jam untuk sejumlah negara lain bervariasi. Kamerun dan China termasuk cepat. Amerika agak cepat, sementara Iran lebih lambat.

Namun anehnya di situ tak ada jam negara kita, Indonesia. Maka nyeletuklah seseorang: “Lho, jam Indonesia maaana?” tanyanya menyelidik. Sang malaikat pun menjawab dengan tenang dan kalem; “Kami simpan di dapur, sangat cocok dijadikan kipas angin.” (***)

Win Dede

Win Dede aka Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, kini bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

You may also like...

Beri Tanggapan (atau pilih komentar via akun media sosial)

20 Responses

  1. Tajid mengatakan:

    Waduh tulisannya fresh banget, ada sisi entertaintnya juga lagi, kolomnis bukan? apa hobi saja?.. Salut dan sukses..

  2. didats mengatakan:

    dan sedihnya lagi,
    kita cuma bisa menonton!

    entah kapan ini berlangsung….

    selamat datang di indonesia!

  3. unai mengatakan:

    di Indonesia..semuanya dikorupsi.Rugi kalee gak korup..Selamat datang di negeri korup.

  4. Luigi mengatakan:

    Kadang kita yang sedang merantau ini – meneropong dari kejauhan melihat apa yang sedangterjadi disnia sembari menarik nafas panjang dan mengurut dada..

    Mau sampai kapan balada korupsi itu terus berlanjut..?

    Apa nggak sebaiknya seperti di negeri china saja yah- korupsi tembak mati 😀

  5. Togar Silaban mengatakan:

    Namanya juga yang bodoh. Dimana-mana yang bodoh akan menjadi lebih sering dikalahkan.

  6. devie mengatakan:

    katanya jadi koruptor itu pekerjaan bodoh? jadi koruptor yang masuk penjar aitu sebodoh bodohnya orang ya?

  7. ogi fajar nuzuli mengatakan:

    Susah ngomongnya…sulit membedakan mana yang pahlawan mana yang koruptor, apalagi yang mestinya penegak keadilan juga teridikasi melakukan hal yang sama… jadi bingung, apa yang dibersihkan, mana yang dibersihkan kalo hampir setiap sudut negeri ini kotor dengan korupsi

  8. tetangga mengatakan:

    lebih afdhol, yang nulis soal beginian “praktisi”nya langsung. bukan jurnalis atau orang yang berada di luar arena atau “jalanan”. heheh.

    btw, enak mana banjarbaru vs balikpapan, mas?

  9. kampret nyasar mengatakan:

    Boss,

    Sama aja kok dengan kampret-kampret disnii.. satu hal yang mbuat saya sedih adalah restoran favorit makan siang disini akan gulungtikar akibat dah nggak tahan lagi dengan pungli kampret2 bau kelek itu 🙂

  10. Rishag Andiko mengatakan:

    Salam kenal, lucu juga!

  11. Rishag Andiko mengatakan:

    Salam kenal, lucu juga!

  12. Putri mengatakan:

    hahaha bagus bagus! sangat fresh dan ga serius serius bgt.. bisa dibaca oleh semua orang!

  13. paijo mengatakan:

    kasian semua para pembaca yang cuma bisa membaca aja engak bisa menikmati korupsi,
    Doa saya kepada Alloh untuk kaum korupsi semoga cepat sadar dan cepat bertaubat (ingat anak cucu, istri, keluarga yang akan menerima getah pahitnya)
    Wahai kaum korupsi ingatlah siksaKu lebih pedih

  14. da3nk limpo mengatakan:

    ada seorang pejabat indonesia ke cina, didampingi oleh menteri dari philipina melihat pembangunan sebuah kantor yang atapnya sudah jebol padahal baru 3 bulan selesai diresmikan.
    pejabat indonesia : ini gimana? kok baru tiga bulan udah rusak
    menteri philippina : itu karena 30% masuk ke kantong pejabat
    setahun kemudian, menteri itu berkunjung ke indonesia, didampingi pejabat dari indonesia. Melihat bendungan dari sebuah menara didekat lokasi bendungan.
    menteri philippina : bendungannya sebelah mana pak?
    pejabat indonesia : sebelah sono tuh, emang kagak kelihatan pak, soalnya 100% masuk kantong pejabat

  15. Arief mengatakan:

    Mantan PM China, Zhu Rong Ji:
    ”Berikan kepada saya seratus peti mati, sembilan puluh
    sembilan untuk koruptor, satu untuk saya jika saya melakukan hal yang sama.”

    Pejabat Indonesia, Mr. Lobaloba:
    ”Berikan kepada saya seratus peti uang, sembilan puluh
    sembilan untuk sesama teman koruptor, satu untuk saya karena saya akan melakukan hal yang sama.”

  16. xxx mengatakan:

    percuma aja pusing2 mikirin koruptor, jelas aja koruptor2 ga kapok2…

    orang hukumnya juga gak jelas kan?

  17. menk buntung mengatakan:

    wah keren banget,,
    sebenarnya,, saya bercita2 jadi koruptor tersukses,,
    itupun klo saya bs jd pejabat,,
    dan ga da hkuman mati bwt koruptor.

  18. P. M. A. E. mengatakan:

    “tulisan” yang fresh and Brani !
    Lucu !
    moga – moga aj dibaca oleh org “yang melakukan” korupsi alas para Koruptor..
    hehe.. 🙂

  1. 16 April 2007

    […] langsing. Tidak akan ada yang mencurigai anak anak anda lulsan IPDN kelak sebagai koruptor. Karena koruptor itu identik dengan perut […]

  2. 6 Desember 2007

    […] langsing. Tidak akan ada yang mencurigai anak anak anda lulsan IPDN kelak sebagai koruptor. Karena koruptor itu identik dengan perut […]

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Loading Facebook Comments ...
  1. […] langsing. Tidak akan ada yang mencurigai anak anak anda lulsan IPDN kelak sebagai koruptor. Karena koruptor itu identik dengan perut […]

  2. […] langsing. Tidak akan ada yang mencurigai anak anak anda lulsan IPDN kelak sebagai koruptor. Karena koruptor itu identik dengan perut […]