Tabrakan, Cukup dengan “Halas”

Rata-rata penduduk Makkah punya mobil pribadi. Sebagian besar adalah sedan bermerek. Sayangnya, sulit menjumpai mobil mulus di kota suci ini. Pasti ada bagian yang ringsek atau penyok bekas tabrakan.

Seorang pengemudi berurusan dengan polisi Arab Saudi sesaat setelah terjadi kecelakaan.

BUMMM… Suara benturan keras mengagetkan saya. Nasi sarapan yang masih separo saya tinggalkan untuk mencari sumber suara. Ternyata tak jauh dari warung tempat saya makan di kawasan Jarwal, Makkah, dua mobil baru saja tabrakan. Sedan yang di belakang menyeruduk sedan yang di depan. Dua pengemudinya turun, saling adu mulut di tengah jalan.

Dua-duanya adalah sedan mewah. Yang satu Toyota Camry dan satunya lagi Mercedes Benz. Kedua pengemudinya juga sama-sama orang Arab. Saya tak paham apa yang mereka bicarakan. Namun dari nada suara dan gerak tangan yang saling tunjuk pastilah isinya sumpah serapah.

Bagian bemper belakang yang penyok.Tiba-tiba pengemudi sedan belakang, yang tukang tabrak, membalik badan. Kedua tangannya digerak-gerakkan menyilang. Sambil terus nyerocos saya hanya bisa merekam satu kata yang sering diulang pria Arab itu; halas… halas… halas… Arti harfiahnya adalah beres alias selesai.

Begitu saja. Tak ada adu fisik. Usai insiden tabrakan dan percekcokan mulut itu kedua pegemudi sedan ini melanjutkan perjalanan. Toyota Camry ringsek di bemper depan sebelah kiri. Sementara Mercy tampak berantakan di bemper kanan belakang.

Bagi penduduk Arab Saudi, kecelakaan di jalan raya rupanya sudah jadi hal biasa. Mereka terbiasa ditabrak, seperti juga sering menabrak. Jalanan padat kota Makkah setiap hari selalu diwarnai adu mulut, saling sahut klakson dan kebut-kebutan. Jamaah calon haji yang kebanyakan berjalan kaki harus ekstra hati-hati. Itu pun tercatat sudah puluhan orang yang tertabrak atau diserempet mobil.

Tak lama setelah insiden Camry versus Mercy itu, di tempat yang sama saya dikagetkan lagi dengan insiden berikutnya. Kali ini sebuah minibus menyenggol sedan. Sopir minibus melarikan diri, sementara sedan yang jadi korban senggolan berhenti. Pegemudinya turun dan geleng-geleng kepala melihat mobilnya ringsek. Seorang polisi lalulintas menghampiri pengemudi sedan itu. Entah apa yang mereka bicarakan. Yang pasti, tak lama setelah itu sedan melaju dan hilang di tikungan jalan.

Setelah dua kejadian tersebut saya jadi rajin memperhatikan mobil yang lalulalang di kota Makkah. Kesimpulan saya, penduduk Makkah tak begitu hirau dengan kondisi mobilnya. Mobil-mobil mewah dengan body rusak atau tergores tetap dibiarkan. Konon, mereka tak pernah mau memperbaiki kerusakan itu, misalnya dirapikan lantas dideco ulang. Sebab percuma saja diperbaiki kalau nanti ketabrak lagi. Satu-satunya jalan adalah menjual mobil yang sudah beberapa kali ditabrak atau menabrak itu dengan harga murah. Setelah itu beli mobil baru lagi.

Cekcok di jalanan seperti ini sering terjadi.

Makanya, mobil-mobil yang berseliweran di Makkah kondisinya sebagian besar rusak. Nyaris tak ada yang mulus. Bukan cuma di jalan raya mereka mengemudi sembarangan. Saat hendak parkir pun gayanya seperti memarkir gerobak. Kalau tidak menabrak pembatas jalan tidak berhenti. Menyenggol mobil lain yang sudah parkir lebih dulu juga bukan sesuatu yang aneh.

Hal serupa juga dilakukan pengendara sepeda motor. Tak jarang, di tengah kepadatan jamaah yang sedang berjalan kaki ada sepeda motor ngebut sambil membunyikan klakson panjang. Mereka berkendara tanpa menggunakan helm. Tak pernah berhenti di perempatan saat lampu merah, dan terbiasa berboncengan sampai 4 orang. Polisi yang berjaga di jalan-jalan raya tak pernah menegur kelakuan pengendara sepeda motor ini.

“Di sini memang sepeda motor diperlakukan seperti sepeda pancal kalau di tempat kita. Tidak ikut aturan di lampu merah dan dikendarai suka-suka,” kata Ahmadi, mukimin asal Madura yang sehari-hari jadi sopir taksi.

Mungkin karena kondisi lalulintasnya sudah sangat parah, orang yang terbiasa tertib pun akan ikut-ikutan ngawur kalau mengemudi di Makkah. Membunyikan klakson panjang di tengah kemacetan seperti sudah jadi kebiasaan, bahkan meskipun malam hari. Hiruk-pikuk menjadi pemandangan sehari-hari.

Yang hebat, setiap tabrakan kecil seperti menyenggol atau menabrak dari belakang tak pernah menimbulkan keributan panjang. Selalu diselesaikan cukup dengan berkata halas… halas…  maka bereslah sudah.

Sejalan dengan kesemrawutan lalulintas itu, mobil-mobil di Makkah juga kotor. Sepertinya tak pernah dicuci. Berkali-kali naik taksi tak pernah saya menjumpai taksi yang bagian dalamnya bersih apalagi wangi. Saya juga belum sekalipun melihat ada tempat pencucian mobil. Benar-benar pemandangan aneh yang sangat nyata di kota yang jadi dambaan setiap muslim untuk datang.

Tampaknya, khusus untuk lalulintasnya yang semrawut, kebiasaan mengemudi yang ceroboh dan keengganan membersihkan mobil, kita tak perlu mencontoh Makkah. ***

Win Dede

Win Dede a.k.a Erwin D. Nugroho. Anak kampung dari pelosok Kalimantan, bermukim dan beraktivitas di belantara Jakarta. Selain menulis dan memotret, jalan-jalan adalah kegemarannya yang lain.

Beri Tanggapan (atau pilih komentar via akun media sosial)

7 tanggapan untuk “Tabrakan, Cukup dengan “Halas”

  • 26 Februari 2007 pada 15:34
    Permalink

    kalo mobil banyak yang ringsek di makkah gitu jadi keinget sama kek angkot yang lewat depan rumah tuh mas, kalo kena gores di kulit bisa kena tetanus hahaha

  • 28 Februari 2007 pada 00:14
    Permalink

    hehehe… tau halas juga…
    asalnya dari khalas… (pake k)

    hahaha… di kuwait juga gitu mas,
    tapi gag halas halas gitu aja…
    apalagi sama kuwaiti, gag bisa kaya gitu… musti ganti…

    persamaannya,
    mobil lama kebanyakan udah gag kepake lagi,
    dijual…! dan harga mobil second disini jatoh banget… 😉

  • 28 Februari 2007 pada 03:45
    Permalink

    ya amppuunn… mahal2 buat ditabrak2in.. mendingan naik bom2 car deh… halas halaass… 🙂

  • 11 April 2007 pada 15:08
    Permalink

    heee…
    Bener tuh khalas itu kata khalasa artinya selesai..
    Ikhlas juga dari kata yg sama khalasa..
    Arti lain dari ikhlas = selesai.
    Kalau ada masalah harus diikhlaskan, diselesaikan…bukan diatasi atau dibawahi 😀

  • 19 April 2007 pada 22:04
    Permalink

    Iya…begitu yang seharusnya di pelihara
    rukun, damai. karena dengan kepala dingin akan dapat terselesaikan dengan baik

  • 2 Oktober 2007 pada 13:29
    Permalink

    mungkin karena mereka berfikir kl beli mobil murah disana..lagipula orang arab kan kaya-kaya..
    kl soal gak mau nyuci mobil mungkin karena disana air saja agak susah..di hotel aja air harus beli..jadi itu mungkin alasannya..tp soal halas harus ditiru tuh..

  • 7 Mei 2011 pada 16:26
    Permalink

    bos saya dulu yang baru pulang dari arab, kalau pekerjaan sudah selesai, dia bilang halas,.. ooo ternyata artinya beres (selesai)

Komentar ditutup.

Loading Facebook Comments ...
Loading Disqus Comments ...

No Trackbacks.